Refisrul Refisrul
Unknown Affiliation

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

EKSISTENSI TARI GANDAI PADA MASYARAKAT MUKOMUKO Refisrul Refisrul
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1406.644 KB) | DOI: 10.36424/jpsb.v4i1.96

Abstract

Tari gandai merupakan seni tradisi yang terdapat pada masyarakat Mukomuko di Provinsi Bengkulu, dengan karakteristiknya perpaduan unsur tari, pantun, dan musik, serta aneka ragam gerakan yang mewarnainya. Tari gandai sebagai tarian khas masyarakat Mukomuko memiliki beberapa unsur yang biasa terdapat dalam seni tradisional meliputi gerak, pola lantai, iringan, penari, tempat dan waktu pertunjukan. Kajian ini bertujuan untuk mengungkapkan bagaimana eksistensi tari gandai pada masyarakat pendukungnya (Mukomuko). Pentingnya kajian ini karena tari gandai merupakan tari yang masih eksis dalam kehidupan masyarakat pendukungnya, dan selalu ditampilkan pada waktu pelaksanaanupacara perkawinan (bimbang). Metode yang digunakan adalah metode kualitatif melalui studi kepustakaan, wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tari gandai berhubungan dengan legenda Malin Deman dan Puti Bungsu, dan gerakan-gerakan tarinya merefleksikan kisah cintakeduanya. Sekarang, tari gandai menjadi salah satu icon budaya di Kabupaten Mukomuko.
MAIRIAK : Tradisi Masa Panen Padi di Minangkabau Refisrul Refisrul
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 1, No 2 (2015)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.935 KB) | DOI: 10.36424/jpsb.v1i2.93

Abstract

Mairiak merupakan aktifitas memisahkan bulir padi dari tangkainya dengan menggunakan kaki (manusia). Mairiak ini menjadi cara yang lazim dilakukan oleh masyarakat Minangkabau dahulunya, ketika memanen padi disawahnya dan dikerjakan secara bersama kerabat. Setiap orang berkewajiban membantu ketika salah satu keluarganya punya hajat mairiak, dan begitupun ketika dia punya hajat yang sama, keluarga itu akan ikut berpartisipasi. Hal itu menunjukkan bahwa tradisi mairiak padamasyarakat Minangkabau pada hakikatnya tidak semata-mata aktifitas bersama ketika memanen padi, tetapi juga mengandung kesetiakawanan sosial dalam masyarakat Minangkabau, karena semakin mendekatkan hubungan sosial dalam suatu kerabat dan masyarakat sekitartnya. Kajian/penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih jauh tentang keberadaan tradisi mairiak pada masyarakat Minangkabau dan fungsi sosial budaya yang dikandungnya. Kajian tentang tradisi mairiak ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif, yang biasa dilakukan dalam penelitian kebudayaan (antropologis). Pengumpulan data dan informasi dilakukan melalui studi kepustakaan (literature), wawancara(interview) dan pengamatan (observation). Dari pengkajian itu, diketahui bahwa tradisi mairiak telah mewarnai kehidupan sosial masyarakat Minangkabau sejak dahulu dan menjadi tradisi khas masyarakatMinangkabau pada masa panen padi. Pada hakikatnya, kebersamaan atau kesetiakawanan sosial itu tidak saja pada masa panen melainkan juga ketika mulai “kesawah” yang dibantu oleh kaum kerabat. Hanya saja, tradisi ini mulai ditinggalkan ketika digalakkannya modernisasi di bidang pertanian oleh pemerintah pada dekade 1980-an, bahkan sekarang tidak diketahui lagi oleh generasi muda Minangkabau. Tradisi mairiak sebagai aktifitas budaya masyarakat Minangkabau ketika masa panen padi telah menjadi kenangan masa lampau bahwa orang Minangkabau dahulu punya tradisi memanen padi yang juga menjadi wahana perkuatan hubungan social ditengah masyarakatnya. Dapat dikatakan, tradisi mairiakmerupakan cerminan adanya pertukaran sosial dalam kehidupan masyarakat Minangkabau sejak dahulu.
TARI TOGA DAN PEWARISANNYA DI NAGARI SIGUNTUR KABUPATEN DHARMASRAYA Refisrul Refisrul
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (775.927 KB) | DOI: 10.36424/jpsb.v3i1.117

Abstract

Tari Toga adalah sebuah tari yang hanya terdapat di Nagari Siguntur Kabupaten Dharmasraya Provinsi Sumatera Barat, yang telah ada semenjak zaman Kerajaan Siguntur dahulunya. Tari ini merupakan tari kerajaan dan menjadi salah satu kesenian tradisional di Minangkabau. Tetap eksisnya tari Toga hingga sekarang tidak bisa dilepaskan dari adanya pewarisan di kalangan masyarakat pengembannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan tentang pewarisan tari Toga pada masyarakat Siguntur dan faktorfaktor yang melatarbelakanginya. Metode yang digunakan dalam pengkajian ini adalah metode kualitatif melalui studi kepustakaan, wawancara dan obeservasi di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tari Toga tetap eksis karena adanya pewarisan, mulai dari zaman Kerajaan Siguntur, penjajahan Belanda, dan masa kemerdekaan yang ditandai dengan adanya upaya revitalisasi tari tari toga oleh pihak keturunan kerajaan, masyarakat dan pemerintah Dharmasraya. Sekarang, tari Toga selalu ditampilkan dalamberbagai kesempatan seperti hari ulang tahun kabupaten, penyambutan tamu, dan lainnya, dan menjadi salah satu icon budaya di Kabupaten Dharmasraya.
UPACARA TABUIK ; RITUAL KEAGAMAAN PADA MASYARAKAT PARIAMAN Refisrul Refisrul
JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA Vol 2, No 2 (2016)
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.768 KB) | DOI: 10.36424/jpsb.v2i2.70

Abstract

Upacara tabuik dilaksanakan oleh masyarakat di Kota Pariaman Provinsi Sumatera Barat, setiap tahun pada tanggal 1-10 Muharam dalam rangka memperingati syahidnya Husein bin Abi Thalib (cucu nabi Muhammad) di Padang Karbela yang ditandai dengan usungan keranda tabuik sebagai simbol jasad Husein. Upacara ini bersifat klosal kerena melibatkan ribuan personil mulai dari tahap persiapan, pelaksanaan dan penyelenggaraanya, mengandung unsur kepercayaan (religi) dan nilai budaya masyarakat pengembannya. Tulisan ini bertujuan mengungkapan tentang upacara tabuik pada masyarakat Pariaman dengan memperhatikan segala hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan upacara mencakup latar dan tujuan penyelenggaraan upacara (sejarah/asal usul), pelaksana teknis, peserta, waktu, tempat, perlengkapan dan persiapan, serta jalannya upacara. Penjaringan data dan informasi bertitik tolak dari metode kualitatif yang merupakan pendekatan yang lazim digunakan dalam penelitian kebudayaan. Dari sifatnya, penelitian ini berbentuk eksploratif-deskriptif yang dimaksudkan berusaha menggambarkan dan mengungkapkan sebuah realitas sosial dalam kehidupan masyarakat. Dari penyelenggaraan upacara tabuik, diketahui bahwa upacara tabuik termasuk ritual keagamaan yang mengandung kearifan lokal dan nilai budaya dari masyarakat Pariaman.
KONSEP TATA RUANG BUDAYA PADA RUMAH GADANG KAJANG PADATI DI KOTA PADANG, SUMATERA BARAT Refisrul Refisrul; ROIS LEONARD ARIOS
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 7, No 1 (2021)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v7i1.185

Abstract

Masyarakat Minangkabau yang mendiami Kota Padang turun temurun memiliki rumah gadang tanpa gonjong pada atapnya, berukuran lebih kecil dari rumah gadang bagonjong di daerah darek (darat) Minangkabau, serta atapnya menyerupai atap (kajang) pedati. Bentuk atapnya yang mirip dengan atap pedati menyebabkan rumah gadang ini lazim disebut dengan rumah Kajang Padati. Dirasakan penting dan menarik untuk mengetahui lebih jauh tentang tata ruang rumah tersebut dan penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui studi kepustakaan, wawancara dan observasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa rumah Kajang Padati merupakan rumah gadang masyarakat Minangkabau yang telah mendiami Kota Padang turun temurun. Dilihat dari arsitektur bangunannya, mendapat pengaruh dari Aceh yang pernah menduduki daerah Padang beberapa abad silam. Ruangan dalam rumah gadang Kajang Padati terdiri dari serambi (beranda), ruang tengah (keluarga), bilik (kamar tidur), ruang dalam, dan dapur. Setiap ruangan mempunyai kegunaan (fungsi) yang mencerminkan kehidupan sosial budaya masyarakat setempat (Padang) sejak dahulu.