I Gede Yudha Pratama
Institut Desain Dan Bisnis Bali

Published : 17 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Jurnal Nawala Visual

VIDEO IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI KAUM DIFABEL I Gede Yudha Pratama
Jurnal Nawala Visual Vol 3 No 1 (2021): Jurnal Nawala Visual Mei 2021
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Desain dan Bisnis Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35886/nawalavisual.v3i1.185

Abstract

Setiap Individu mempunyai keinginan serta kemauan tentang suatu hal positif tentang kehidupan mereka agar dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkannya. Namun, seringkali yang terlihat saat ini harapan positif tersebut seakan-akan diterima dan berubah menjadi harapan negatif. Individu yang seringkali mengalami hal tersebut ialah mereka para kaum difabel. Dalam menjalani kesehariannya para kaum difabel tentu merasakan hal berbeda dengan orang normal lainnya. Perbedaan tersebut terlihat jelas terutama pada kemampuan kaum difabel yang dipengaruhi dari berat ringannya kendala cacat fisik dan mental yang dialami. Kaum difabel yang selalu semangat untuk melakukan komunikasi ialah mereka yang manyangdang tuna rungu maupun tuna wicara, tidak sedikit kita temui mereka dapat bergabung dan belajar di dunia pendidikan. Adapun media yang dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan aspirasi dari para kaum difabel kepada masyarakat dengan memanfaatkan media video iklan layanan masyarakat. Untuk memenuhi kebutuhan data yang digunakan sebagai bahan penelitian ini digunakan metode penelitian kualitatif deskriptif untuk mendeskripsikan video iklan layanan masyarakat yang diteliti dengan didasari atas pengumpulan data yang di lakukan melalui observasi, dokumentasi serta studi pustaka. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui efektivitas dari pemanfaatan video iklan layanan masyarakat sebagai media komunikasi dari kaum difable. Dalam video iklan layanan masyarakat memuat aspirasi dari para kaum difabel dengan apa yang mereka rasakan serta harapan mereka dimana mereka ingin merasakan hal yang sama seperti orang lain yang tidak menyandang kebutuhan khusus pada umumnya. Dengan media ini dapat dimanfaatkan dengan baik dan diterima oleh masyarakat sebagai media komunikasi audio visual dari kaum difabel.
REPRESENTASI SEKSUALITAS DALAM MUSIC VIDEO HYUNA LIP & HIP Uzda Nabila Shabiriani; I Gede Yudha Pratama
Jurnal Nawala Visual Vol 4 No 1 (2022): Jurnal Nawala Visual Mei 2022
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Desain dan Bisnis Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35886/nawalavisual.v4i1.349

Abstract

Ketidakadilan representasi perempuan dapat dilihat pada Music Video Hyuna yang berjudul Lip & Hip. Tatapan laki-laki atau male gaze sebagai penonton membangun fantasi terhadap sosok perempuan sesuai dengan selera mereka, sedangkan perempuan sebagai objek seksualitas menempatkan tubuh perempuan yang menciptakan, mengorganisir dan mengekspresikan, serta mengarahkan hasrat. Dalam penelitian ini, peneliti menganalisis gestur tubuh, mimik wajah, ikon yang ditampilkan, serta hal-hal lain yang dapat merepresentasikan seksualitas dengan menggunakan landasan teori male gaze Laura Mulvey. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa di dalam video Lip & Hip terdapat tanda-tanda representasi seksualitas yang mengarah kepada bentuk eksploitasi terhadap perempuan dan sekaligus mencocokkan bentuk-bentuk seksualitas tersebut dengan teori male gaze. Video klip Lip & Hip bertindak sebagai penanda untuk penonton laki-laki, diikat oleh urutan simbolik yang dapat menjadi tempat laki-laki bisa melepaskan fantasi dan obsesinya melalui perintah linguistik (arahan sutradara) dengan menekankannya pada citra HyunA hanya sebagai pembawa makna (wayang) bukan pembuat makna (dalang), sehingga video klip Lip & Hip merupakan bentuk representasi seksualitas yang dijual oleh media untuk kepetingan kapitalisme dan sekaligus objek seksualitas pria (male gaze).