The problems and challenges faced by partners include 2.6% of mothers experiencing baby blues, and 7.9% of mothers with perineal wound infections and low exclusive breastfeeding coverage. One of the contributing factors to these problems in postpartum mothers is the lack of a postpartum mother support group, resulting in a lack of information about the benefits and importance of early detection of postpartum mothers, breast milk for babies, neonatal care, and postpartum care. The results of a preliminary study showed that of the 15 Posyandu cadres interviewed, they did not have in-depth knowledge of early detection of mothers during the postpartum period, correct breastfeeding methods, and forms of support for postpartum mothers. This is expected to increase the knowledge and skills of health cadres about postpartum care, and can disseminate it to the community, especially postpartum mothers and their families, so as to reduce problems and disorders during the postpartum period. All participants participated in the training enthusiastically and were able to perform early detection of complications in postpartum mothers. Analysis of pre-test and post-test data showed a very significant increase in competence. Participants' average pretest score was 56,2 out of 100, reflecting limited general knowledge. After completing the entire training series, the average posttest score jumped dramatically to 86,69. This increase in the average is strong empirical evidence of the high effectiveness of the training method in transferring knowledge and skills. This significant improvement not only reflects technical mastery but also indicates a fundamental shift in mindset among participants. The pretest measured clinical knowledge and general awareness, while the posttest was designed to assess knowledge. The cadre's knowledge score, based on the posttest results after the training, increased from 52.62 to 86.69, representing a 34.07-point increase. ABSTRAK Permasalahan dan tantangan yang dihadapi mitra yakni terdapat 2,6% ibu mengalami baby blues, dan 7,9% ibu dengan infeksi luka perineum dan cakupan ASI esklusif yang rendah. Salah satu faktor pendukung adanya masalah pada ibu nifas ini adalah belum terbentuknya kelompok pendamping ibu Nifas, mengakibatkan minimnya informasi tentang manfaat dan pentingnya deteksi dini ibu nifas, ASI bagi bayi, perawatan neonatus, dan postpartum care. Hasil studi pendahulan menunjukan bahwa dari 15 kader Posyandu yang diwawancarai, mereka belum mengetahui secara mendalam untuk deteksi dini ibu pada masa nifas, cara menyusui yang benar dan bentuk dukungan bagi ibu nifas. Hal ini diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader kesehatan tentang perawatan masa nifas, dan dapat menyebarluaskannya kepada masyarakat khususnya ibu nifas dan keluarganya sehingga mampu mengurangi masalah dan gangguan pada masa nifas. Seluruh peserta mengikuti pelatihan dengan antusias dan mampu untuk melakukan deteksi dini komplikasi pada ibu nifas. Analisis data pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan kompetensi yang sangat signifikan. Nilai rata-rata pretest peserta adalah 52,62 dari skala 100, yang merefleksikan pengetahuan umum yang masih terbatas. Setelah mengikuti seluruh rangkaian pelatihan, nilai rata-rata post-test melonjak drastis menjadi 86,9. Peningkatan rerata ini merupakan bukti empiris yang kuat mengenai tingginya efektivitas metode pelatihan dalam proses transfer pengetahuan dan keterampilan. Peningkatan yang signifikan ini tidak hanya merefleksikan penguasaan teknis, tetapi juga menandakan adanya pergeseran pola pikir fundamental pada peserta. Pre-test mengukur pengetahuan klinis dan kesadaran umum, post-test dirancang untuk menilai pengetahuan dan skor pengetahuan kader dari hasil post test setelah kegiatan pelatihan meningkat dari 52,62 menjadi 86,69 sehingga terjadi kenaikan skor sebanyak 34,07 point.