Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Pengembangan Kapasitas Pengasuh dan Orangtua Daycare Rumah Bahagia Surabaya Kristiani, Reneta; Handayani, Penny; Wolting, Roelofje; Ardani, Aurelia; Franztius, David Nicholas
WARTA LPM WARTA LPM, Vol. 24, No. 2, April 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.563 KB) | DOI: 10.23917/warta.v24i2.12343

Abstract

Daycare Rumah Bahagia (DCRB) memberikan layanan bagi anak-anak buruh agar mendapatkan pemenuhan hak pengasuhan yang optimal selama orang tua mereka bekerja di pabrik. Namun hingga saat ini DCRB belum memiliki pengasuh yang kompeten untuk Anak-Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Pendidikan terakhir sebagian besar pengasuh adalah SMA. Demikian pula dengan orang tua ABK yang kurang memahami kondisi anak mereka karena sulitnya mendapatkan akses layanan kesehatan maupun psikologis, serta terkendala masalah biaya. Oleh karena itu, kegiatan pengembangan kapasitas dilakukan untuk para pengasuh dan orang tua DCRB. Tujuannya agar pengasuh dan orang tua dapat lebih memahami anak-anak berkebutuhan khusus. Kegiatan pengembangan kapasitas ini menyasar langsung orang tua dan pengasuh serta secara tidak langsung demi kesejahteraan anak-anak. Metode kegiatan pengembangan kapasitas: 1) kegiatan konseling individual untuk orang tua; 2) seminar bagi seluruh orang tua dan pengasuh; 3) pembekalan untuk pengasuh mengenai cara stimulasi dan penanganan anak berkebutuhan khusus. Selain itu, diberikan juga alat bantu untuk memetakan anak berkebutuhan khusus. Hasil dari kegiatan ini adalah meningkatnya pemahaman orang tua dan pengasuh mengenai perkembangan dan pendidikan anak berkebutuhan khusus. Orang tua dan pengasuh juga semakin terampil dalam mengasuh dan memberikan stimulasi untuk anak berkebutuhan khusus. Pengasuh kini mampu memantau perkembangan anak dan melakukan deteksi dini ABK sehingga dapat menyusun kurikulum dan program pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan setiap anak. Saran bagi kegiatan pengabdian masyarakat berikutnya agar melakukan analisis kebutuhan pengelolaan daycare dan memberikan pelatihan program pembelajaran individual untuk anak berkebutuhan khusus serta memberikan pelatihan yang lebih mendalam kepada pengelola daycare dan pengasuh mengenai pendidikan inklusi.
ANALISIS KEBUTUHAN DAYCARE UNTUK ANAK BURUH DI KAWASAN BERIKAT NUSANTARA CAKUNG Handayani, Penny; Kristiani, Reneta; Kawatu, Florentina Resa; Sembiring, Weny Pandia; Sutarno, Herman Josep
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni Vol 4, No 2 (2020): Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmishumsen.v4i2.9481.2020

Abstract

The protection and fulfillment of children's rights are the responsibility of the father and mother. However, for parents who work as laborers, this is difficult to do because of long working hours, working shift systems, heavy workloads, dual role conflicts of women workers, economic pressure, weak social support from extended families, and family conflicts. APSAI, ISBS, LPM-UAJ, and the Workers Union Organization built a collaboration to provide quality daycare services for child workers in industrial areas. The Cakung Bonded Zone (KBN) was chosen as the pilot project. KBN Cakung was chosen as an area where it is important to have daycare facilities because the majority of workers are women. Based on the results of this study, it is hoped that the need for daycare establishment at KBN Cakung can be identified. It is hoped that KBN Cakung will become the first industrial area to support efforts to fulfill children's rights with quality through a daycare in industrial areas. The data collection design used was a mixed-method (quantitative and qualitative) to produce a broader understanding of the needs and patterns of early childhood care in KBN, Cakung. Questionnaire and FGD guide instruments were used to identify the context of patterns and needs of early childhood care for workers in KBN. Based on the results of the needs mapping of 12 child participants in the target age range of beneficiaries, 11 parents who work in factories and 11 parents who do not work in the factory but live around KBN Cakung, the following results are obtained: (1) There is a need for the availability of child care service facilities. early, but facilities are not yet available, (2) Parents care about child caregivers and are ready to contribute a maximum of IDR 500,000 per month (including food), (3) Potential beneficiary children want a safe, spacious, simple environment, and caregivers that can make children comfortable and can be invited to play, (4) The necessary care for children is what can make children: smart, healthy, safe and independent. Perlindungan dan pemenuhan hak anak menjadi tanggung jawab ayah dan ibu. Namun pada orangtua yang berprofesi sebagai buruh, hal ini sulit dilakukan karena jam kerja yang panjang, bekerja dengan sistem shift, beban kerja yang berat, konflik peran ganda buruh perempuan, tekanan ekonomi, lemahnya dukungan sosial dari keluarga besar, serta konflik keluarga. APSAI, ISBS, LPM-UAJ, dan Organisasi Serikat Pekerja membangun kerjasama untuk menyediakan layanan daycare berkualitas bagi anak-anak pekerja di kawasan industri. Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Cakung dipilih sebagai pilot project. KBN Cakung terpilih sebagai kawasan yang penting memiliki fasilitas daycare adalah jumlah pekerja yang mayoritas perempuan. Berdasarkan hasil kajian ini diharapkan dapat diketahui kebutuhan pendirian daycare di KBN Cakung. Diharapkan KBN Cakung menjadi kawasan industri yang pertama mendukung upaya pemenuhan hak anak yang berkualitas dengan adanya daycare di kawasan industri. Desain pengambilan data yang digunakan adalah mixed method (kuantitatif dan kualitatif) untuk menghasilkan pemahaman yang lebih luas tentang kebutuhan dan pola pengasuhan anak usia dini di KBN, Cakung. Instrumen kuesioner dan panduan FGD digunakan untuk mengidentifikasi konteks pola dan kebutuhan pengasuhan pada anak usia dini pada pekerja di KBN. Berdasarkan hasil pemetaan kebutuhan terhadap 12 partisipan anak rentang usia target penerima manfaat, 11 orangtua yang bekerja di pabrik dan 11 orangtua yang tidak bekerja di pabrik namun tinggal di sekitar KBN Cakung, didapatkan hasil sbb: (1) Ada kebutuhan tersedianya fasilitas layanan penitipan anak usia dini, tetapi fasilitas belum tersedia, (2) Orangtua peduli dengan pengasuh anak dan siap berkontribusi maksimum Rp 500.000 per bulan (sudah termasuk makanan), (3) Anak-anak calon penerima manfaat ingin ada lingkungan yang aman, luas, sederhana, dan pengasuh yang dapat membuat nyaman serta bisa diajak bermain, (4) Pengasuhan anak yang dibutuhkan adalah yang dapat membuat anak : pintar, sehat, aman dan mandiri.
Hubungan antara Parenting Self-Efficacy dan Dukungan Sosial pada Ibu yang Mengalami Kekerasan Seksual di Masa Kanak-kanak Madya Dame, Ilona Gok; Shanti, Theresia Indira; Kristiani, Reneta
Sosio Konsepsia Vol 10 No 3 (2021): Sosio Konsepsia
Publisher : Puslitbangkesos Kementerian Sosial RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33007/ska.v10i3.2064

Abstract

Abstrak: Kekerasan seksual yang pernah dialami ibu pada masa kanak-kanak dapat berdampak negatif pada kehidupannya, terutama dalam menjalankan peran pengasuhan anak. Individu yang mengalami kekerasan seksual umumnya merasa kurang aman dan kurang mampu dalam mengendalikan lingkungannya.  Pada ibu, dampak psikologis ini berkaitan dengan keyakinan bahwa ia dapat memberikan pengasuhan yang baik untuk anak-anaknya, yang disebut dengan parenting self-efficacy. Dukungan sosial dibutuhkan untuk mengurangi dampak negatif dari pengalaman masa lalu tersebut. Tujuan penelitian ini untuk meneliti hubungan antara parenting self-efficacy dan dukungan sosial pada para ibu yang mengalami kekerasan seksual saat masa kanak-kanak. Penelitian ini menggunakan 36 pertanyaan Self-Efficacy for Parenting Tasks Index dan 40 pertanyaan Interpersonal Support Evaluation List untuk menguji korelasi antarkedua hal tersebut. Hasil tes korelasi menunjukkan hubungan yang signifikan antara parenting self-efficacy dan dukungan sosial pada para ibu yang mengalami kekerasan seksual pada masa kanak-kanak (r=0.709; p=0.000, L.o.S 0.01). Hasil menunjukkan bahwa para ibu yang mengalami kekerasan seksual masa kanak-kanak membutuhkan dukungan sosial berkelanjutan untuk dapat mengasuh anak-anaknya dengan parenting self-efficacy yang tinggi. Oleh karena itu, dukungan sosial bagi para ibu, penyintas kekerasan seksual, sangat penting karena berdampak pada masa depan penyintas tersebut dan juga individu lain yang dipengaruhi oleh penyintas tersebut. Kata kunci: ibu, parenting self-efficacy, kekerasan seksual masa kanak-kanak, dukungan sosial  
PSIKOEDUKASI REMAJA: KETIKA PINTAR SAJA TIDAK CUKUP Lita Patricia Lunanta; Reneta Kristiani; Aurelia Ardani
Jurnal Pengabdian Masyarakat Ilmu Keguruan dan Pendidikan (JPM-IKP) Vol 4, No 1 (2021): Jurnal Pengabdian Masyarakat (JPM-IKP)
Publisher : FKIP Universitas Trilogi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31326/jmp-ikp.v4i1.877

Abstract

Situasi pandemi turut memberikan dampak bagi remaja. Melalui kegiatan psikoedukasi terhadap remaja ini diharapkan dapat membantu remaja menggali kekuatan dan keterampilan yang bisa mereka terapkan dalam menyesuaikan diri dengan situasi pandemi. Kegiatan psikoedukasi ini membahas mengenai tantangan, kesempatan serta pilihan-pilihan yang dapat dilakukan remaja. Kegiatan dilakukan dalam bentuk seminar online dan diskusi dalam kelompok-kelompok kecil. Materi seminar online mencakup bahan mengapa remaja adalah generasi yang harus diselamatkan serta hal-hal yang mempengaruhi kehidupan remaja, antara lain kecerdasan emosi, proses pengambilan keputusan, serta bagaimana remaja dapat menjadi individu yang membawa pengaruh positif. Dalam diskusi kelompok kecil dibahas mengenai kondisi kepuasan hidup partisipan saat ini, sumber daya yang mereka miliki agar mereka dapat menjadi tangguh. Dari hasil evaluasi, sebagian besar peserta memberikan respon yang positif terhadap kegiatan psikoedukasi ini dengan rata-rata tingkat kepuasan 90,38%. Saran sebaiknya melakukan kegiatan psikoedukasi dengan topik mengenai remaja kepada orangtua dan guru. Untuk remaja dapat diberikan kegiatan psikoedukasi dengan topik yang berbeda, seperti manajemen stres, keterampilan untuk memasuki jenjang pendidikan berikutnya, serta proses penerimaan diri sendiri, baik dari segi fisik, emosi dan sosial.     
PELATIHAN KERAJINAN TANGAN DAN PEMBUKUAN KEUANGAN SEDERHANA PADA PARA IBU KOMUNITAS PEMULUNG TAMAN INDIRA Reneta Kristiani; Penny Handayani; Vella Adrivioneta; Dyah Ayu Permatasari; Meyrin Meyrin; Maria Imaculata Merviani; Dara Aprilia Christianty
Jurnal Pengabdian Masyarakat Ilmu Keguruan dan Pendidikan (JPM-IKP) Vol 3, No 1 (2020): Jurnal Pengabdian Masyarakat (JPM-IKP)
Publisher : FKIP Universitas Trilogi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31326/jmp-ikp.v3i1.607

Abstract

Sebagian besar warga di Komunitas Taman Indira Pondok Ranji bekerja sebagai pemulung. Kurangnya sumber pemasukan keuangan menjadi keluhan para ibu di komunitas tersebut. Intervensi ini dilakukan dengan memberikan pelatihan kerajinan tangan, yaitu membuat barang-barang yang layak jual dari barang-barang bekas. Selain itu, diberikan juga pelatihan pencatatan pembukuan keuangan sederhana agar para ibu dapat mengelola keuangan mereka dengan baik. Kegiatan intervensi ini dilakukan dengan melibatkan metode partisipasi anggota komunitas (citizen participation) yang didasari pada metode pembelajaran Kolb, yaitu concrete experience, reflective observation, abstract conceptualization, serta active experimentation. Hasil pelatihan menunjukkan para ibu mampu membuat kerajinan tangan dari barang bekas serta mampu membuat pencatatan keuangan sederhana. Hasil tambahan, para ibu menjadi lebih peduli terhadap sesamanya.
Pengembangan Kapasitas Pengasuh dan Orangtua Daycare Rumah Bahagia Surabaya Reneta Kristiani; Penny Handayani; Roelofje Wolting; Aurelia Ardani; David Nicholas Franztius
WARTA LPM WARTA LPM, Vol. 24, No. 2, April 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/warta.v24i2.12343

Abstract

Daycare Rumah Bahagia (DCRB) memberikan layanan bagi anak-anak buruh agar mendapatkan pemenuhan hak pengasuhan yang optimal selama orang tua mereka bekerja di pabrik. Namun hingga saat ini DCRB belum memiliki pengasuh yang kompeten untuk Anak-Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Pendidikan terakhir sebagian besar pengasuh adalah SMA. Demikian pula dengan orang tua ABK yang kurang memahami kondisi anak mereka karena sulitnya mendapatkan akses layanan kesehatan maupun psikologis, serta terkendala masalah biaya. Oleh karena itu, kegiatan pengembangan kapasitas dilakukan untuk para pengasuh dan orang tua DCRB. Tujuannya agar pengasuh dan orang tua dapat lebih memahami anak-anak berkebutuhan khusus. Kegiatan pengembangan kapasitas ini menyasar langsung orang tua dan pengasuh serta secara tidak langsung demi kesejahteraan anak-anak. Metode kegiatan pengembangan kapasitas: 1) kegiatan konseling individual untuk orang tua; 2) seminar bagi seluruh orang tua dan pengasuh; 3) pembekalan untuk pengasuh mengenai cara stimulasi dan penanganan anak berkebutuhan khusus. Selain itu, diberikan juga alat bantu untuk memetakan anak berkebutuhan khusus. Hasil dari kegiatan ini adalah meningkatnya pemahaman orang tua dan pengasuh mengenai perkembangan dan pendidikan anak berkebutuhan khusus. Orang tua dan pengasuh juga semakin terampil dalam mengasuh dan memberikan stimulasi untuk anak berkebutuhan khusus. Pengasuh kini mampu memantau perkembangan anak dan melakukan deteksi dini ABK sehingga dapat menyusun kurikulum dan program pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan setiap anak. Saran bagi kegiatan pengabdian masyarakat berikutnya agar melakukan analisis kebutuhan pengelolaan daycare dan memberikan pelatihan program pembelajaran individual untuk anak berkebutuhan khusus serta memberikan pelatihan yang lebih mendalam kepada pengelola daycare dan pengasuh mengenai pendidikan inklusi.
Program Intervensi Layanan Bimbingan Konseling melalui Kampanye Media Sosial Instagram untuk Siswa-siswi SMA X Jakarta Reneta Kristiani; Aurelia Ardani; Amelia Kristofani; Clarissa Alverina; Debbie Fiona; Santiara; Zellaphro Andrea
JKI (Jurnal Konseling Indonesia) Vol. 6 No. 2 (2021): Jurnal Konseling Indonesia
Publisher : Universitas Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21067/jki.v6i2.4854

Abstract

This research discussed an intervention program for guidance counseling to reduce stigma of guidance counseling service on X School Jakarta high school students. Guidance counseling is a service provided by schools to help students grow optimally. This research aimed to see the effectiveness of social media campaigns to reduce the stigma that high school students of X School Jakarta has towards the service of guidance counseling. It also aimed to increase awareness towards the importance of mental health. This research used the approach of quantitative and qualitative analysis methods. Intervention program was a social media campaign that had been done using the feature of Instagram, such as polling and question box. The participants of this study were high school students of X School Jakarta. The result from six days of intervention showed that social media campaigns reduced the stigma towards the service of guidance counseling amongst the participants. The conclusion was that a decrease of stigma towards the guidance counseling service on high school students of X School Jakarta could be done by mental health campaigns through social media, especially Instagram.
KECEMASAN MAHASISWA DI MASA PANDEMI COVID-19 Laurentius Purbo Christianto; Reneta Kristiani; David Nicholas Franztius; Sebastian Darren Santoso; Winsen; Aurelia Ardani
Jurnal Selaras : Kajian Bimbingan dan Konseling serta Psikologi Pendidikan Vol. 3 No. 1 (2020): Mei 2020
Publisher : Program Studi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/Jsvol2iss1pp1

Abstract

ABSTRACT There have been many changes after the Covid-19 pandemic hit Indonesia. Universities has also changed. Various changes create uncertainty. This uncertainty has an impact on student anxiety. Several previous studies have shown that anxiety is related to student academic achievement. When student academic achievement becomes one of the benchmarks for higher education success, student anxiety becomes a matter of concern. It is important to look at student anxiety during the Covid-19 pandemic. The purpose of this study was to see a picture of the student's anxiety level and identify the things that cause anxiety in students. The results showed that hypothetically 74.8% of students had low anxiety, 20.7% of students had moderate anxiety, and 4.5% of students had high anxiety. Empirically most of the research subjects had moderate anxiety; the percentage of students who have high anxiety is greater than those who have low anxiety. Other results show that online lectures and friendship are two things that cause the most anxiety. Keyword: anxiety, student, Covid-19 pandemic ABSTRAK Banyak terjadi perubahan setelah pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Dunia pendidikan, khususnya perguruan tinggi juga mengalami perubahan. Pelbagai perubahan memunculkan ketidakpastian. Ketidakpastian ini akan berdampak pada kecemasan mahasiswa. Beberapa penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa kecemasan terkait dengan prestasi akademik mahasiswa. Saat prestasi akademik mahasiswa menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan perguruan tinggi, kecemasan mahasiswa menjadi hal yang perlu diperhatikan. Penting untuk melihat kecemasan mahasiswa selama pandemi Covid-19. Tujuan penelitian ini adalah melihat gambaran tingkat kecemasan mahasiswa dan mengidentifikasi hal – hal yang menimbulkan kecemasan pada mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara hipotetik 74,8% mahasiswa mengalami kecemasan rendah, 20,7% mahasisa memiliki kecemasan sedang, dan 4,5% mahasiswa memiliki kecemasan yang tinggi. Secara empirik sebagian besar subjek penlitian memiliki kecemasan sedang; persentase mahasiswa yang memiliki kecemasan tinggi lebih besar daripada yang memiliki kecemasan rendah. Hasil lain menunjukkan kuliah daring (online) dan relasi pertemanan adalah dua hal yang paling sering ditulis mahasiswa menimbulkan kecemasan. Kata Kunci: kecemasan, mahasiswa, pandemi Covid-19
INTERVENSI KOMUNITAS SABANGMERAUKE DENGAN COMPETENCY BASED INTERVIEW Penny Handayani; Reneta Kristiani; Naomi Hanalisa; F. Resa Kawatu; Linda Benita; Karina Lois; Katherine Katherine
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol 3, No 1 (2020): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.607 KB) | DOI: 10.24912/jbmi.v3i1.8049

Abstract

This research aims to explore the issues of volunteer engagement faced by the SabangMerauke Community that affect the level of voluntary self-belonging to the community. This research is a type of descriptive research with a descriptive research method approach. Determination of research subjects using purposive sampling techniques. Based on this technique, the subjects of this study were all administrators and volunteers of the SabangMerauke Community and the participants involved such as the SabangMerauke Brother, Sister and Family. Data collection techniques used were interviews and questionnaires online. Interventions given to the SabangMerauke community are interventions in the process of recruiting volunteers using competency-based interview techniques. The conclusion from the series of interventions provided is that the provision of training for trainers to the SabangMerauke Community is appropriate and targets what they need. This is based on the group's assessment of the success indicator checklist that was designed before the training for trainers took place. Apart from the indicators of success, there is concrete evidence that shows the success of this intervention, namely the response and activeness of the two respondents present. Besides listening, they also asked a number of questions and actively confirmed their knowledge to the group by discussion. The community also asked the group to be able to follow up the community recruitment process the following year. Although in terms of interventions classified as successful, but there are some obstacles experienced by groups such as interventions that can only be done once because it follows the schedule of the community administrator.ABSTRAK:Penelitian ini bertujuan untuk menggali permasalahan volunteer engagement yang dihadapi Komunitas SabangMerauke yang mempengaruhi tingkat self-belonging relawan terhadap komunitas. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan metode penelitian deskriptif. Penentuan subjek penelitian menggunakan teknik purposive sampling. Berdasarkan teknik tersebut, subjek penelitian ini adalah seluruh pengurus dan relawan Komunitas SabangMerauke serta para peserta yang terlibat seperti Kakak, Adik dan Famili SabangMerauke. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dan penyebaran kuesioner online. Intervensi yang diberikan untuk komunitas SabangMerauke adalah intervensi dalam proses perekrutan relawan dengan teknik competency-based interview. Kesimpulan dari rangkaian intervensi yang diberikan adalah pemberian training for trainers kepada Komunitas SabangMerauke sudah tepat dan menyasar pada apa yang mereka butuhkan. Hal ini didasari atas penilaian kelompok terhadap checklist indikator keberhasilan yang telah dirancang sebelum training for trainers berlangsung. Selain dari indikator keberhasilan, terdapat bukti nyata yang menunjukkan keberhasilan intervensi ini yaitu respon dan keaktifan dari kedua responden yang hadir. Selain mendengarkan, mereka juga melontarkan beberapa pertanyaan serta secara aktif mengkonfirmasi pengetahuan mereka kepada kelompok dengan berdiskusi. Pihak komunitas juga meminta kelompok untuk dapat menindaklanjuti proses rekrutmen komunitas di tahun berikutnya. Walaupun dari segi intervensi tergolong berhasil, namun terdapat beberapa kendala dialami oleh kelompok seperti intervensi yang hanya dapat dilakukan satu kali karena mengikuti jadwal dari pengurus komunitas.
PEMBERIAN MODUL DAN PELATIHAN KONSELING VOLUNTEER KOMUNITAS RUMAH BELAJAR SENEN TERHADAP PENDAMPINGAN REMAJA Penny Handayani; Reneta Kristiani; Therese Arnesthy Danupratista; Novela Clara; Caecilia Anggita; Arifa Dwiratri; Nindita Naura Ramadhan
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol 2, No 2 (2019): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.698 KB) | DOI: 10.24912/jbmi.v2i2.7250

Abstract

Rumah Belajar Senen merupakan komunitas sosial yang peduli terhadap anak-anak jalanan di kawasan Senen, Jakarta Pusat. Komunitas ini menaungi anak-anak jalanan dari berbagai macam usia. Rumah Belajar Senen (RBS) berada di kawasan yang kumuh dan ditempati oleh masyarakat kaum marjinal. Anak-anak remaja yang berada di RBS memiliki lingkungan yang tidak kondusif, mereka tidak memiliki dukungan sosial yang baik mulai  dari lingkup keluarga, teman, tetangga, bahkan sekolah. Tidak adanya dukungan sosial membuat anak-anak remaja RBS tidak memiliki sosok untuk bercerita, sehingga mereka sering memendam masalahnya sendiri. Dengan demikian, intervensi ini bertujuan untuk memberikan pelatihan konseling melalui modul untuk kakak pendamping di RBS agar dapat menjadi sosok yang bisa memberikan dukungan kepada remaja RBS dimulai dari sebagai tempat bercerita. Data-data yang dikumpulkan menggunakan metode observasi dan wawancara terhadap beberapa kakak pendamping dan juga beberapa remaja di RBS. Intervensi dilakukan dengan cara memberikan pelatihan cara pengaplikasian modul konseling yang sudah disusun sebelumnya. Hasil yang didapatkan dari aspek kognitif, para pendamping sudah menguasai materi. Namun untuk aspek behavior dan afeksi, para pendamping belum menguasai dengan baik. Hal ini disebabkan karena waktu yang terbatas dalam melatih kemampuan konseling sehingga behavior dan afeksi belum terlatih dengan baik.