Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

HAMBATAN CAKUPAN IMUNISASI PADA ANAK DI KABUPATEN ACEH UTARA Safrina Edayani; Ida Suryawati
Idea Nursing Journal Vol 10, No 3 (2019): Idea Nursing Journal
Publisher : Fakultas Keperawatan-Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52199/inj.v10i3.19759

Abstract

Program imunisasi merupakan salah satu upaya untuk memberikan perlindungan kepada penduduk terhadap penyakit tertentu dan diberikan kepada populasi yang dianggap rentan terjangkit penyakit menular, salah satunya bayi. Program imunisasi dapat mencegah 2-3 juta kematian setiap tahunnya dari penyakit infeksi seperti TBC, difteri, tetanus, hepatitis B, pertusis, campak, rubella, polio, radang selaput otak, dan radang paru-paru. Universal Child Immunization merupakan indikator untuk menilai keberhasilan pelaksanaan imunisasi dengan target 2018 adalah 80%, capaian Aceh 48% dan Kabupaten Aceh Utara 46%. Tujuan penelitian untuk mengekplorasi hambatan cakupan imunisasi dasar pada anak di Kabupaten Aceh Utara. Jenis penelitian yang digunakan adalah fenomenologi. Partisipan adalah ibu-ibu yang mempunyai anak usia dibawah 24 bulan dengan status imunisasi dasar tidak ada/tidak lengkap sebanyak 14 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara mendalam. Analisa data dilakukan secara manual dengan melakukan analysis conten pada transkrip wawancara dan lembaran catatan, menggunakan metode analisis Giorgi. Penelitian ini menemukan hambatan cakupan imunisasi yaitu keyakinan individu, dampak fisik, dampak psikologis, ketersediaan vaksin, ketersediaan waktu, jarak kelahiran anak, riwayat penyakit sebelumnya, kurang informasi. Petugas kesehatan diharapkan untuk lebih aktif dalam memberikan informasi terkait imunisasi melalui penyuluhan kepada masyarakat, khususnya keluarga yang mempunyai bayi, tentang pentingnya imunisasi, efek samping, dan komposisi dari vaksin.Kata Kunci: hambatan imunisasi, anak ABSTRACTThe immunization program is an effort to provide protection to the population against certain diseases and this is aimed at populations that are considered vulnerable to contracting infectious diseases, one of which is infants. This immunization program can prevent 2-3 million deaths each year from several infectious diseases such as tuberculosis, diphtheria, tetanus, hepatitis B, pertussis, measles, rubella, polio, inflammation of the lining of the brain, and pneumonia. Universal child organization is an indicator to assess the success of the immunization program with a target in 2018 of 80%, Aceh's achievement of 48% and the target of achievement in the North Aceh district of 46%. The purpose of this study was to explore the barriers to basic immunization coverage for children in North Aceh Regency. The type of research used is phenomenology. Participants are mothers who have children under the age of 24 months with no basic / incomplete immunization status, totaling 14 people. Data collection is done by in-depth interview method. Data analysis was performed manually by analyzing content on interview transcripts and note sheets, using the Giorgi analysis method. This study found barriers to immunization coverage included individual beliefs, physical impact, psychological impact, vaccine availability, time availability, child birth spacing, previous disease history, lack of information. Health workers are expected to be more active in providing information related to the immunization program through counseling to the community, especially families who have babies, about the importance of immunization, side effects, and the content of vaccines.Keywords: immunization barriers, children.
Perilaku Pencegahan Stunting Menggunakan Health Promotion Model Edayani, Safrina; Muhazir, Rahmat; Mauliana, Riska
Journal of Language and Health Vol 5 No 3 (2024): Journal of Language and Health
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v5i3.5403

Abstract

Stunting merujuk pada gagalnya pertumbuhan fisik anak usia dibawah lima tahun karena kekurangan gizi secara kronis serta terjadinya infeksi pada anak sehingga balita menjadi pendek. Stunting pada balita perlu mendapatkan perhatian khusus karena berkaitan dengan peningkatan risiko morbiditas dan mortalitas, penurunan kapasitas fisik, gangguan perkembangan dan fungsi kondisi motorik dan mental anak. Stunting provinsi Aceh tahun 2022 menduduki peringkat 5 dari 34 provinsi di Indonesia dengan persentase angka 31,2%, sedangkan Kota Lhokseumawe prevalensi stunting sebesar 28,1%. Salah satu faktor yang mempengaruhi stunting adalah makanan sehari- hari yang diberikan oleh orang tua, sehingga peran perilaku orang tua, terutama ibu sangat penting dalam pencegahan stunting. Teori Health Promotion Model menganalisis faktor-faktor yang memperngaruhi perilaku kesehatan pada balita, terutama faktor ibu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi bagaimana perilaku pencegahan stunting menggunakan health promotion model pada 10 ibu yang mempunyai balita di Kota Lhokseumawe. Desain penelitian kualitatif, jenis fenomenologi deskriptif. Pengumpulan data dengan metode wawancara dan observasi. Data di analisa menggunakan analysis content. Hasil analisa didapatkan tiga tema yaitu masa hamil, masa menyusui, masa tumbuh kembang anak. Kesimpulan perlu adanya peningkatan dalam upaya pencegahan stunting di masyarakat, baik oleh keluarga, masyarakat, maupun tenaga kesehatan, serta pemerintah.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU MASYARAKAT DALAM PENCEGAHAN COVID-19 Safrina Edayani; Rita Zahara; Nurul Fadhilah
Jurnal Assyifa: Jurnal Ilmu Kesehatan Lhokseumawe Vol. 7 No. 1 (2022): Juni2022
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Public awareness of prevention at the individual level is also still low. There are still many people who neglect to wash their hands using soap and clean running water. Even many of them after leaving the house without washing their hands properly. The purpose of the study was to determine the relationship between age, education and knowledge with community behavior in preventing Covid-19. The design of this research is analytic, with a cross sectional approach. The population in this study is the entire community, amounting to 225 people. The number of samples as many as 69 respondents was determined by using accidental sampling technique. This research was conducted on July 12 to July 17, 2021. The analysis was carried out using a computerized process through the chi-square test. Based on the results of the study, it was found that the age group was in the 26-45 year category by 39.1%. Education is in the middle category of 42.1%. Public knowledge about Covid-19 prevention is in the high category of 43.5%. Community behavior in preventing Covid-1 is in the good category at 58.0%. The results of the p-value < = 0.05, this proves that there is a relationship between age, education and knowledge with community behavior in preventing Covid-19.
Kekerasan Fisik dan Verbal pada Perawat yang Bekerja di Rumah Sakit di Aceh Safrina Edayani; Rahmat Muhazir
Jurnal Ners Vol. 9 No. 4 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i4.48781

Abstract

Violence against nurses refers to incidents in which nurses are harassed, threatened, or assaulted in relation to their professional duties, including during commutes to and from work, impacting their safety, well-being, and health. Alleged acts of violence against nurses have been committed by various members of society, ranging from ordinary citizens to local government officials. The most commonly reported forms of violence include verbal abuse (54.3%), bullying (28.6%), physical assault and threats (each 19%), sexual harassment (11.4%), and other forms of abuse (8.6%). The majority of perpetrators were identified as patients' family members (63.5%). Such violence affects not only the physical health of nurses but also their mental well-being, potentially reducing their productivity, straining relationships with colleagues, lowering job satisfaction, and increasing turnover rates—all of which negatively impact patients, nurses, and healthcare institutions. This study aimed to explore in depth the physical and verbal violence experienced by nurses working in hospitals across Aceh. A qualitative phenomenological design was employed. Data were collected through interviews and observations, and analyzed using content analysis. The findings revealed six main themes: forms of violence, perpetrators, contributing factors, nurses’ responses to violence, coping mechanisms, and the support systems available during violent incidents. Keywords: Physical Violence, Verbal Violence, Nurses
Persepsi masyarakat tentang stunting Muhazir, Rahmat; Edayani, Safrina
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.2984

Abstract

Background: Stunting is defined as the failure of physical growth in children under five years of age due to chronic malnutrition and infection, resulting in short stature. Stunting in toddlers can cause various problems, such as impaired physical growth, mental development, and health status, requiring special attention. Several factors contribute to stunting, including malnutrition during pregnancy, cessation of breastfeeding before 6 months, insufficient feeding frequency, incomplete vaccinations, and parental height. Purpose: To explore public perceptions of stunting. Method: This qualitative, descriptive phenomenological study was conducted in Lhokseumawe City. The sample consisted of 10 participants (mothers of toddlers). The sample was selected using a purposive sampling technique, and data collection was conducted through in-depth interviews. Data analysis was conducted using content analysis of interview transcripts and notepads using the Giorgi analysis method. Results: The analysis yielded three themes: the meaning of stunting, which consists of three categories: failure to thrive, malnutrition, and growth disorders; The factors causing stunting are divided into 12 categories, including child malnutrition, breastfeeding practices, incomplete immunization, genetic factors, malnutrition during pregnancy, child physical activity, socioeconomic status, education and knowledge, exposure to cigarette smoke, environmental factors, and stress. The impacts of stunting include an increased risk of degenerative diseases, parental anxiety disorders, impaired growth and development, and low self-confidence. Conclusion: Public perception of stunting is relatively good, but needs to be further improved by increasing the active role of health workers in providing information related to stunting, thereby preventing and reducing the incidence of stunting in the community. Suggestion: Health workers are expected to be more active in providing information about stunting, its meaning, influencing factors, and its impact. This information can be provided through community outreach, particularly to young couples and families with infants and toddlers.   Keywords: Public Perception; Stunting; Toddlers.   Pendahuluan: Stunting didefinisikan sebagai kegagalan pertumbuhan fisik pada anak di bawah usia lima tahun akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi, yang mengakibatkan perawakan pendek. Stunting pada balita dapat menyebabkan berbagai masalah, seperti gangguan pertumbuhan fisik, perkembangan mental, dan status kesehatan pada anak, sehingga memerlukan perhatian khusus. Beberapa faktor penyebab stunting terjadi sejak kehamilan karena kekurangan gizi selama periode tersebut, penghentian pemberian ASI <6 bulan, frekuensi pemberian makan yang tidak mencukupi, dan tidak lengkapnya vaksinasi serta tinggi badan orang tua. Tujuan: Untuk mengeksplorasi persepsi masyarakat mengenai stunting. Metode: Penelitian kualitatif fenomenologi deskriptif, dilaksanakan di kota Lhokseumawe. Sampel dalam penelitian ini adalah 10 partisipan (ibu yang mempunyai anak balita). Pemilihan sampel menggunakan teknik purposive sampling dan pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam. Analisis data dilakukan dengan analysis conten pada transkrip wawancara dan lembaran catatan dengan menggunakan metode analisis Giorgi. Hasil: Analisis menghasilkan tiga tema, yaitu makna stunting yang terdiri dari 3 kategori, meliputi gagal tumbuh, kekurangan gizi, dan gangguan pertumbuhan; faktor-faktor penyebab stunting, terdiri dari 12 kategori, meliputi kekurangan gizi pada anak, praktik pemberian ASI, imunisasi tidak lengkap, faktor genetik, kekurangan gizi selama kehamilan, aktivitas fisik anak, status sosial ekonomi, pendidikan dan pengetahuan, paparan asap rokok, lingkungan, dan stres; dan dampak stunting terdiri dari peningkatan risiko penyakit degeneratif, gangguan kecemasan orang tua, gangguan pertumbuhan dan perkembangan, dan rendahnya kepercayaan diri. Simpulan: Persepsi masyarakat tentang stunting relatif baik, tetapi perlu ditingkatkan lebih lanjut melalui peningkatan peran aktif petugas kesehatan dalam memberikan informasi terkait stunting, sehingga mencegah dan mengurangi kejadian stunting di masyarakat. Saran: Petugas kesehatan diharapkan untuk lebih aktif dalam memberikan informasi terkait stunting, makna stunting, faktor-faktor yang memengaruhi stunting serta dampak stunting. Pemberian informasi dapat dilakukan melalui penyuluhan kepada masyarakat, khususnya bagi pasangan muda dan keluarga yang mempunyai bayi dan balita.   Kata Kunci: Anak di Bawah Lima Tahun; Persepsi Masyarakat; Stunting.