Andi Sitti Chairunnisa Mappangara
Departemen Teknik Perkapalan Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Tarif Pelayanan Pandu pada PT Pelindo IV (Persero) Cabang Parepare Rahmawati Djunuda; Syamsul Asri; Andi Sitti Chairunnisa Mappangara
Jurnal Penelitian Enjiniring Vol 21 No 1 (2017)
Publisher : Center of Techonolgy (COT), Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.916 KB) | DOI: 10.25042/jpe.052017.12

Abstract

Jasa pemanduan diberikan sewaktu kapal memasuki alur pelayaran menuju dermaga untuk menjaga keselamatan kapal dan muatannya ketika memasuki alur pelabuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan tarif pelayanan pandu di pelabuhan Parepare jika ditinjau dari sisi operator. Data dianalisis dengan metode RFR (Requered Freight Rate). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tarif variabel pelayanan pandu yang berlaku sekarang sudah layak. Dari hasil perhitungan didapatkan tarif minimal yaitu Rp. 8,38 per GT/gerakan lebih kecil dari tarif yang berlaku sekarang yaitu Rp. 76,78 per GT/gerakan. Ini berarti bahwa tarif yang berlaku sekarang sudah mampu menutupi biaya operasional. Sedangkan tarif tetap pelayanan pandu yang berlaku dianggap belum layak. Karena dari hasil perhitungan diperoleh tarif minimal Rp. 251.797 per gerakan lebih besar dari tarif yang berlaku sekarang yaitu Rp. 175.175 per gerakan, yang berarti bahwa tarif tetap yang berlaku sekarang belum mampu menutupi biaya operasional. Tarif ini bisa dinaikkan oleh pihak operator dengan lebih meningkatkan pelayanan kepada pengguna jasa.
Kajian Tarif Angkutan Laut Trayek Kota Makassar – Pulau Barrang Lompo Pada Saat Pandemi Covid-19 Welsy Kristianto; Wihdat Djafar; Andi Sitti Chairunnisa; Misliah Idrus; Abdul Haris Djalante; Rifkah Fitriah
Zona Laut : Jurnal Inovasi Sains Dan Teknologi Kelautan Volume 4, Number 2, July 2023 Edition
Publisher : Departemen Teknik Kelautan Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62012/zl.v4i2.26090

Abstract

The Covid-19 pandemic has caused the Indonesian government to restrict the movement of communities to prevent the spread of the Corona Virus. This regulation has been enforced by the local government of Makassar City as well. The restriction affects the community's economy, which includes business activities related to population movement. Similarly, the restriction impacts the sea transportation in Makassar City, particularly the Makassar-Barrang Lompo route. The limitation of the passenger-carrying capacity to 50% of the maximum ship carrying capacity and the limitation of working hours have caused a decrease in the productivity of sea transportation on this route. In addition, the population movement on the Makassar – Barrang Lompo route has declined, causing the demand for sea transportation to decrease as the number of service frequencies decreases. It directly affects the revenue of sea transportation. As the tariff applied during the pandemic RP. 25,000, this study aims to determine the minimum tariff for operating ships so that it can be seen with the decreasing productivity and number of ships frequency, whether the applied tariff can cover the operational costs of the ships. Determination of the minimum tariff using the Required Freight Rates (RFR) method. RFR is the minimum rate that can cover the expenditures related to ship operational activities. The result shows that the minimum tariffs for the six ships operating during the Covid-19 pandemic were Rp. 11582 – Rp. 32,486. This indicates that the minimum tariffs of some operating ships are still higher than the applied tariff. Therefore, the ship fares on the Makassar-Barrang Lompo route need to be reviewed if the policy of restricting people's movements is reenforced.
Analisis Kinerja Pelabuhan Depapre Sebagai Simpul Tol Laut Dalam Mendukung Distribusi Logistik Di Kabupaten Jayapura Febriyanti Karimba Pangadongan; Muhammad Asdar; Andi Sitti Chairunnisa
Zona Laut : Jurnal Inovasi Sains Dan Teknologi Kelautan Volume 4, Number 2, July 2023 Edition
Publisher : Departemen Teknik Kelautan Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62012/zl.v4i2.26527

Abstract

A port is said to have a good level of service if the time required for loading and unloading activities is shorter than the specified schedule. In order to smooth the flow of goods, increase the effectiveness of port operational performance, it is necessary to use service performance standards as a benchmark to determine the level of service that can be provided to service users. Depapre Port is one of the ports that plays an important role in the process of progressing economic growth in Papua Province. The availability of facilities and infrastructure at Depapre Port greatly influences the smooth distribution of logistics in the Papua Province region, specifically in areas on the T-19 Route, namely Merauke – Kokas – Sorong – Biak/Korido – Depapre/Jayapura – Sorong – Merauke. Port performance is analyzed using the Decree of the Director General of Sea Transportation Number HK.103/2/18/DJPL-16. This research will discuss the performance of Depapre Port in distributing logistics in the Jayapura Regency area. In addition, this study also identified the factors that influence the performance of Depapre Port by conducting interviews and direct observation of several informants who understand and are involved in port activities, which are divided into 5 categories: Humans, Ship Service Facilities, Environment, Material and Methods and will explained in more depth using cause and effect diagrams. The results of this study will then be evaluated so that an improvement effort can be determined so that the performance of the Depapre port can run normally like other ports in Indonesia.
Kebutuhan Kapal pada Lintasan Penyeberangan Ketapang – Lembar sebagai Alternatif Distribusi Logistik Jawa Timur – Pulau Lombok Abdy Kurniawan; Edward Marpaung; Teguh Pairunan Putra; Kadek Irma Paramita; Misliah Idrus; Andi Chairunnisa Mappangara
Warta Penelitian Perhubungan Vol. 34 No. 2 (2022): Warta Penelitian Perhubungan
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/warlit.v34i2.2063

Abstract

Pulau Lombok dan Jawa Timur memiliki hubungan perdagangan yang membutuhkan dukungan transportasi untuk distribusi logistik antar kedua wilayah. Dukungan transportasi yang umum digunakan adalah angkutan penyeberangan Ferry Ro-Ro (Roll-on/Roll-off) pada lintasan existing Ketapang - Gilimanuk - Padangbai - Lembar. Muatan kendaraan barang berukuran besar mayoritas akan melalui Pulau Bali dan sangat berpotensi menimbulkan kerusakan jalan dan biaya trucking yang tinggi. Sebagai tindak lanjut pemecahan permasalahan tersebut diinstruksikan untuk mengoperasikan lintasan penyeberangan Ketapang – Lembar melalui Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 308 tahun 2020. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan jumlah kapal yang ideal untuk beroperasi di lintasan penyeberangan Ketapang – Lembar untuk memenuhi demand logistik masyarakat Pulau Lombok. Sebuah trayek lintasan baru membutuhkan beberapa input terkait kebutuhan demand dan kebutuhan armada penyeberangan. Analisis penentuan demand dan kebutuhan armada dilakukan pada beberapa rangkaian analisis dengan data dukung dari potensi hinterland dan kinerja simpul transportasi existing. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan tahapan yang diawali dengan analisis indeks konsumsi, forecasting potensi demand konsumsi masyarakat, analisis produksi simpul transportasi, dan analisis operasi kapal. Hasil analisis menunjukkan selisih nilai antara kebutuhan demand Pulau Lombok dengan throughput cargo dari masing-masing simpul transportasi sebagai potensi demand sebesar 170.766 per tahun yang belum terlayani sehingga bisa diskenariokan sebagai market tersendiri untuk lintasan Ketapang - Lembar tanpa mengintervensi lintasan penyeberangan existing. Hal ini juga sinkron dengan opini responden pengguna jasa (operator truk) yang menyatakan bahwa lintasan Ketapang - Lembar lebih efektif dan efisien dibandingkan lintasan penyeberangan existing. Analisis kebutuhan armada dilaksanakan dengan mempertimbangkan aspek waktu operasional kapal yang terkait dengan pelayaran dan aktifitas di pelabuhan. Rekomendasi kebutuhan armada optimal untuk lintasan penyeberangan Ketapang - Lembar adalah maksimal 5 unit dengan tonase 2000 GT. Untuk mengoptimalkan pemenuhan demand melalui distribusi cargo, maka lintasan Ketapang - Lembar dapat difokuskan untuk muatan kendaraan barang dan armada yang dibutuhkan pada lintasan ini dapat menggunakan kapal Ferry Ro-Ro dari lintasan lain.