Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Vegetation analysis and plant diversity in Pinus Jantho Forest (PJF) nature reserve, Aceh Besar HILMINA ITAWAMERNI; SAIDA RASNOVI; ZUMAIDAR ZUMAIDAR
Jurnal Natural Volume 21 Number 1, February 2021
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.482 KB) | DOI: 10.24815/jn.v21i1.18417

Abstract

Pinus Jantho Forest (PJF) Nature Reserve has unique characteristics and distinctive ecosystem that plays an important role in the preservation of germplasm and the protection of natural resources. The sustainability of the PJF Nature Reserve is strongly determined by vegetation of its constituents. Therefore, an effort is needed to help its management properly, one of which is by knowing the diversity of plants that make up the community in PJF Nature Reserve. The purpose of this research is to analyze the composition and diversity of plant species in PJF Nature Reserve. Data collection and sampling were done using multiple square method. The plots were laid out by systematic sampling. PJF Nature Reserve composed of 111 species from 46 family. The seedling and understorey have the highest number individuals (1028 in total). Then there are 240 individuals at sapling level, 108 individuals at pole, and 72 individuals for tree.  The Euphorbiaceae family has the largest number of species (11 species). The highest Important Value Index (IVI) for seedlings and understorey, sapling and pole, and tree respectively were Chloranthus elatior (11.09%), Piper aduncum (21.90% and 19.32%), and Pinus merkusii (25.52%). The Diversity Index indicates a high level of plant species diversity (3.25-3.63).
Vegetation analysis and plant diversity in Pinus Jantho Forest (PJF) nature reserve, Aceh Besar HILMINA ITAWAMERNI; SAIDA RASNOVI; ZUMAIDAR ZUMAIDAR
Jurnal Natural Volume 21 Number 1, February 2021
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jn.v21i1.18417

Abstract

Pinus Jantho Forest (PJF) Nature Reserve has unique characteristics and distinctive ecosystem that plays an important role in the preservation of germplasm and the protection of natural resources. The sustainability of the PJF Nature Reserve is strongly determined by vegetation of its constituents. Therefore, an effort is needed to help its management properly, one of which is by knowing the diversity of plants that make up the community in PJF Nature Reserve. The purpose of this research is to analyze the composition and diversity of plant species in PJF Nature Reserve. Data collection and sampling were done using multiple square method. The plots were laid out by systematic sampling. PJF Nature Reserve composed of 111 species from 46 family. The seedling and understorey have the highest number individuals (1028 in total). Then there are 240 individuals at sapling level, 108 individuals at pole, and 72 individuals for tree.  The Euphorbiaceae family has the largest number of species (11 species). The highest Important Value Index (IVI) for seedlings and understorey, sapling and pole, and tree respectively were Chloranthus elatior (11.09%), Piper aduncum (21.90% and 19.32%), and Pinus merkusii (25.52%). The Diversity Index indicates a high level of plant species diversity (3.25-3.63).
Pemberdayan Melalui Pengembangan Potensi Lokal Berbasis Jeruk Nipis Menjadi Produk Turunan Guna Meningkatkan Perekonomian Masyarakat Desa Kuta Makmue Fajri, Maulidil; Putri, Nhyra Kamala; Itawarnemi, Hilmina; Hadianto, Wira; Ariska, Nana; Putra, Iwandikasyah; Latif, Abdul
Jurnal Mandala Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2025): Jurnal Mandala Pengabdian Masyarakat
Publisher : Progran Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpm.v6i1.582

Abstract

Desa kuta makmue berlokasi di Kecamatan Kuala Kabupaten Nagan Raya merupakan salah satu desa dengan potensi pertanian yang tinggi, dengan komoditas utamanya jeruk nipis. Selama ini komoditas jeruk nipis hanya dimanfaatkan sebagai hasil bumi yang dijual dalam kondisi segar oleh masyarakat setempat tanpa diolah. Oleh karenanya perlu pengembangan Agroindustri lebih lanjut untuk mengelola sumber daya yang ada. Upaya pemberdayaan masyarakat agar mampu secara mandiri memanfaatkan potensi daerahnya salah satunya dengan pengetahuan dan keterampilan mengenai wirausaha dan teknologi tepat guna proses pembuatan sabun cuci piring dan sirup. Pendekatan yang diterapkan dalam merealisasikan program ini melalui metode participatory action research (PAR). Pelaksanaan kegiatan meliputi sosialisasi kewirausaahan dan penciptaan produk turunan, demonstrasi langsung pembuatan sabun cuci piring dan sirup jeruk nipis, pengemasan, hingga pemasaran.  Hasil menunjukkan bahwa kegiatan ini dapat (1) meningkatkan motivasi usaha, kesadaran, pengetahuan dan ketrampilan masyarakat melalui penerapan teknologi tepat guna untuk mengolah komoditas lokal (jeruk nipis) menjadi produk sabun cuci piring dan sirup jeruk nipis, (2) mengenalkan kepada masyarakat mengenai peluang dan analisis kelayakan usaha sabun cuci piring dan sirup rumahan. dan mampu menggerakkan produk inovasi di Desa Kuta Makmue.
Studi Etnofarmakologi Tumbuhan Aren (Arenga Pinnata (Wurmb.) Merr.) oleh Masyarakat Lokal Kabupaten Aceh Tengah Itawarnemi, Hilmina; Iqbar, Iqbar; Masykur, Masykur
Biosfer : Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi Vol. 10 No. 1 (2025): BIOSFER: Jurnal Biologi dan Pendidikan Biologi
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP Unpas,

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/biosfer.v10i1.24071

Abstract

Tumbuhan Aren (Arenga Pinnata (Wurmb. Merr) memiliki aktifitas farmakologis dan telah dimanfaatkan sebagai obat diberbagai daerah dengan cara yang beragam. Masyarakat di Kabupaten Aceh Tengah sudah sejak lama memanfaatkan aren sebagai obat tradisional, namun pengetahuan mengenai kegunaannya sebagai obat belum terdokumentasi dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang kegunaan tumbuhan aren sebagai obat oleh masyarakat lokal. Penentuan Lokasi penelitian dan responden dilakukan secara Purposive Sampling, sedangkan untuk kajian etnofarmakologi menggunakan Metode Participatory Rural Appraisal (PRA). Masyarakat Kabupaten Aceh Tengah memanfaatkan tumbuhan aren sebagai sumber obat-obatan untuk menyembuhkan 31 jenis penyakit. Selain penggunaan tujuh bagian tumbuhan, hasil produksi tumbuhan aren seperti air nira dan gula aren juga berkhasiat obat. Bagian tumbuhan yang paling banyak digunakan adalah buah (33,52%), sedangkan untuk hasil produksinya adalah air nira (64,29%).  Teknik pengolahan tumbuhan aren sebagai obat paling banyak digunakan dengan cara direbus (16 penyakit). Cara penggunaan tumbuhan aren paling banyak dikonsumsi secara oral. Tumbuhan aren di kabupaten ini merupakan tumbuhan liar yang populasinya saat ini menurun drastis akibat ditebang (61,73%) dan serangan beruang (38,27%).
Optimalisasi Potensi Lokal melalui Inovasi Sabun Cuci Piring Berbasis Jeruk Nipis (Krut Nipeh) (Citrus Aurantifolia) di Desa Pasi Janeng Girda Sepriani; Mawar A; Hilmina Itawarnemi; Mimi Mauliza; Farhan Priyoga; Taufik Hidayat; Muhammad Naziri; Fitriani Fitriani
Pemberdayaan Masyarakat : Jurnal Aksi Sosial Vol. 2 No. 3 (2025): September : Pemberdayaan Masyarakat : Jurnal Aksi Sosial
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/aksisosial.v2i3.2122

Abstract

The Community Service Program (KKN) of Universitas Teuku Umar for the 2025/2026 academic year, conducted in Desa Pasi Janeng, Woyla Timur Subdistrict, West Aceh Regency, focuses on the innovative use of lime (Krut nipeh) as a raw material for the production of environmentally friendly dish soap. This local resource, which has traditionally been used for domestic purposes, has not been fully exploited as a source of economic value. The program follows the POAC methodology (Planning, Organizing, Actuating, Controlling), which encompasses community outreach, soap-making workshops, hands-on production practices, and sustainability evaluations. The outcomes of this initiative include the development of an eco-friendly dish soap product, enhanced technical skills among community members, and active participation from housewives and young mothers. In the medium term, the program has succeeded in raising entrepreneurial awareness within the community, with the expectation that it will foster the establishment of micro, small, and medium enterprises (MSMEs) based on local resources, thus contributing to sustainable development. Furthermore, the program aligns with the achievement of several Sustainable Development Goals (SDGs), particularly Goals 1 (No Poverty), 8 (Decent Work and Economic Growth), and 12 (Responsible Consumption and Production), making a meaningful contribution to community service in accordance with the Tri Dharma of Higher Education.
KEANEKARAGAMAN DAN DISTRIBUSI JENIS JAMUR MAKROSKOPIK DI TAMAN HUTAN RAYA POCUT MEURAH INTAN, ACEH, INDONESIA Kusuma, Hendrix; Harnelly, Essy; Thomy, Zairin; Itawarnemi, Hilmina
Biotik Vol 13 No 2 (2025): JURNAL BIOTIK
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/biotik.v13i2.31617

Abstract

Data on the diversity of macroscopic fungi in Tahura Pocut Meurah Intan is still not widely available, resulting in a gap in basic data that is essential for conservation, area management, and exploration of biological potential. This study aims to identify the diversity of macroscopic fungal species found in PMI National Park and analyze their distribution based on substrate type and habitat conditions. An exploration survey method was used by following existing hiking trails. Fungal samples found in the field were documented, collected, preserved, and then analyzed morphologically. Data analysis was performed using descriptive qualitative methods, presenting species distribution according to habitat conditions, substrate type, and differences between the rainy and dry seasons. Each category was presented as a percentage of the total identified species. 123 macroscopic fungal species were found, with a dominance of the order Agaricales (39%). A total of 28 species have the potential as alternative food sources, while 17 species have the potential as medicine. The highest diversity was found in habitats with heterogeneous vegetation (85.37%), followed by homogeneous forests (21.95%) and agricultural areas (16.26%). Weathered wood was the main substrate where fungi grew (56%), and the number of species was higher in the rainy season than in the dry season. These findings indicate that the PMI Nature Reserve is an important habitat for macroscopic fungi with variations in distribution influenced by differences in substrate and environmental conditions. Keyword: diversity of species, macrofungi, Tahura Pocut Meurah Intan, fungal composition
Optimalisasi lahan melalui integrasi usaha tani kelapa dan budidaya lele untuk meningkatkan keberlanjutan dan diversifikasi pendapatan petani Ulhaq, Riza; Weihan, Rayhan Amadius; Nasution, Anisah; Andriani, Dewi; Setyowati, Mita; Putri, Nhyra Kamala; Itawarnemi, Hilmina; Jasmi; Lestari, Rachmatika
Jurnal Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (JP2M) Vol. 6 No. 4 (2025)
Publisher : Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/jp2m.v6i4.23824

Abstract

Program pengabdian ini bertujuan meningkatkan produktivitas dan stabilitas ekonomi petani melalui penerapan sistem pertanian terintegrasi antara budidaya kelapa dan ikan lele di Desa Bubuhan, Kabupaten Simeulue. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh rendahnya hasil produksi kelapa dan belum optimalnya pemanfaatan sumber daya lokal. Metode yang digunakan adalah pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) dan Community Development, yang dilaksanakan dalam tiga tahap: (1) sosialisasi konsep budidaya terpadu; (2) pendampingan praktik lapangan mencakup integrasi budidaya kelapa dan lele serta pemanfaatan limbah kolam menjadi pupuk organik cair; dan (3) evaluasi partisipatif dan sumatif. Hasil evaluasi partisipatif menunjukkan bahwa pemahaman awal petani terhadap konsep integrasi dan pengolahan limbah masih rendah, namun 95% menyatakan optimisme tinggi terhadap potensi peningkatan pendapatan. Setelah pelaksanaan kegiatan, evaluasi sumatif menunjukkan peningkatan signifikan, sebanyak 87% petani memahami sistem integrasi, 100% mampu memfermentasi limbah lele menjadi POC, dan seluruh peserta termotivasi menerapkan sistem secara mandiri. Selain itu, 80% responden mengakui adanya peluang diversifikasi ekonomi. Program ini terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan semangat kemandirian petani. Implementasi sistem pertanian terintegrasi berbasis sumber daya lokal memiliki kontribusi strategis dalam mendukung ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat pedesaan.
Pendampingan Implementasi Integrated Crops Management (ICM) untuk Meningkatkan Produktivitas Kelompok Wanita Tani "Hasil Sepakat" di Gampong Ranub Dong, Aceh Barat : Pengabdian Siregar, Mawaddah Putri Arisma; Itawarnemi, Hilmina; Hayuningtyas, Afwa; Emyrtha, Zhuan Anses; Hasibuan, Emrizal Sultana
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 2 (October 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i2.3866

Abstract

This community service activity aims to enhance the knowledge and skills of the “Hasil Sepakat” Women Farmers Group (KWT) in implementing the Integrated Crop Management (ICM) system in rice cultivation. The methods used included outreach, training, mentoring, and demonstration plots. The results showed an improvement in participants’ understanding of sustainable rice cultivation techniques, as evidenced by their active participation in discussions and their ability to apply the practical steps for producing botanical pesticides. In addition, an agricultural technology assistance package was provided to support the implementation of ICM. This activity contributed to the empowerment of women farmers and supported the regional food security program, increasing rice productivity to 8.5 tons/ha..
Pembangunan dan Pemanfaatan Awal Greenhouse sebagai Sarana Pembibitan Tanaman di Gampong Gunong Panyang Isnaini Shona Simangunsong; Novia Dirma; Japaruddin Japaruddin; Hilmina Itawarnemi; Nurlailisa Nurlailisa; Jamalia Jamalia; Felista Fransiska Fahik; Ahmad Dhaman Huri; Festi Sasabillah; M. Aidil Fitryansyah
Jurnal Masyarakat Madani Indonesia Vol. 4 No. 4 (2025): November
Publisher : Alesha Media Digital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59025/1tvekx19

Abstract

Pembibitan tanaman di Gampong Gunong Panyang mengalami kendala akibat cuaca yang tidak menentu, curah hujan yang tinggi, serta metode tradisional yang menyebabkan bibit rentan rusak dan pertumbuhan akar kurang optimal. Untuk mengatasi hal ini, dilakukan pembangunan greenhouse sebagai sarana pembibitan yang terlindung dan terorganisir dengan melibatkan aktif masyarakat dalam setiap tahap pelaksanaan, mulai dari persiapan lahan, pembangunan fisik, hingga penataan bedengan dan rak bibit. Greenhouse berfungsi menjaga suhu dan kelembapan, melindungi bibit dari hujan deras maupun sinar matahari berlebih, serta menyediakan fasilitas perawatan yang lebih baik. Pada tahap pemanfaatan awal, bibit yang telah disemai dipindahkan ke dalam greenhouse dan dirawat sampai siap tanam di lahan. Kegiatan ini juga bertujuan sebagai media edukasi bagi masyarakat agar mampu mengadopsi teknologi pertanian sederhana secara berkelanjutan. Secara deskriptif, program ini berhasil meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam proses pembangunan dan pemanfaatan greenhouse serta menjadi langkah awal yang positif dalam memperbaiki proses pembibitan dan pengelolaan pertanian secara lebih teratur dan berkelanjutan di daerah tersebut.
Analisis Struktur Vegetasi dan Keanekaragaman Gulma pada Agroekosistem Kacang Panjang (Vigna unguiculata) di Aceh Barat Rayhan Amadius Weihan; Hilmina Itawarnemi; Chairudin Chairudin; Putri Mustika Sari; Zulia Ananda
Agroteknika Vol 9 No 3 (2026): TERBITAN AKAN DATANG
Publisher : Green Engineering Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55043/agroteknika.v9i3.683

Abstract

Persaingan gulma dengan tanaman budidaya merupakan faktor pembatas utama dalam produksi kacang panjang (Vigna unguiculata) di lahan gambut, khususnya di wilayah dengan fluktuasi iklim yang dinamis seperti Aceh Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi komposisi jenis dan menganalisis struktur komunitas gulma pada lahan budidaya kacang panjang di Desa Ujung Tanoh Darat, Meureubo, Aceh Barat. Penelitian dilaksanakan pada November hingga Desember 2025 dengan metode kuadrat melalui peletakan 10 plot sampel secara acak berukuran 0,5 m × 0,5 m pada fase vegetatif tanaman (4 hingga 6 MST). Hasil identifikasi menunjukkan terdapat delapan spesies gulma yang terbagi dalam tiga kelompok: berdaun lebar (5 spesies), rerumputan (2 spesies), dan teki-tekian (1 spesies). Berdasarkan analisis vegetasi, Ludwigia octovalvis dan Fimbristylis littoralis ditemukan sebagai spesies dominan dengan nilai Summed Dominate Ratio (SDR) masing-masing sebesar 23,05% dan 22,71%. Dominansi ini didukung oleh kondisi iklim tipe A (Sangat Basah) dengan ketiadaan bulan kering yang memicu pertumbuhan gulma hidrofit dan sub-hidrofit pada lahan gambut dengan drainase buruk. Nilai indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H’ = 1,576) dan kemerataan (E = 0,758) berada pada kategori sedang, sementara indeks kekayaan spesies Margalef (Dmg = 1,268) tergolong rendah. Struktur komunitas gulma yang belum stabil dan didominansi oleh spesies kompetitif menuntut penerapan strategi Pengelolaan Gulma Terpadu melalui kombinasi pengendalian mekanis dan kultur teknis untuk menjaga produktivitas kacang panjang di lahan gambut secara berkelanjutan.