Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Identifikasi Bakteri Endofit Asal Tanaman Belimbing Wuluh Risa Nursanty; Iqbar Iqbar
Biologi Edukasi: Jurnal Ilmiah Pendidikan Biologi Vol 5, No 1 (2013): Biologi Edukasi: Jurnal Ilmiah Pendidikan Biologi
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (29.475 KB)

Abstract

Isolat bakteri endofit DB2dan BUB2hasil isolasi dari tanaman belimbing wuluh memiliki kemampuan antijamur terhadap Candida albicans. Isolat DB2 memiliki kemampuan menghambat yang lebih luas dibandingkan dengan isolat BUB2. Hasil karakterisasi fisiologi menggunakan MICROBACTTM GNB 24E (OXOID) menunjukkan kedua isolat memiliki karakterisasi fisiologi yang berbeda. Hasil analisis gen 16S rRNA menunjukkan isolat DB2memiliki kemiripan sebesar 99% dengan Pseudomonas montelli.
DIPTEROCARPACEAE INVENTORY AT KETAMBE RESEARCH STATION, GUNUNG LEUSER NATIONAL PARK Essy Harnelly; Iqbar .; Fauziah .; Agus Sara; Nir Fathiya; Rizky Amelia
Jurnal Silvikultur Tropika Vol. 7 No. 3 (2016): Jurnal Silvikultur Tropika (Suplemen Desember)
Publisher : Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor (IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/j-siltrop.7.3.S83-S85

Abstract

This research was about Dipterocarpaceae inventory at Ketambe Research Station, Gunung Leuser National Park. The research was done on July 2015. Determination of sampling plot was using purposive sampling. The parameter observed was species as well as number of species. The result showed that there were 5 species of Dipterocarpaceae found in the sampling plot. All the species found were belongs to tribe of Shoreae namely; Shorea johorensis, Shorea parvifolia, Hopea dryobalanoides, Shorea lepidota, and Parashorea lucida.Key words: Dipterocarpaceae, inventory, Gunung Leuser National Park
KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN BERHABITUS POHON DI STASIUN SORAYA EKOSISTEM LEUSER Iqbar Iqbar
Prosiding Seminar Nasional Biotik Vol 3, No 1 (2015): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOTIK III 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Biotik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.434 KB) | DOI: 10.3126/pbio.v3i1.2681

Abstract

Stasiun Soraya adalah stasiun penelitian di dalam Kawasan Ekosistem Leuser. Stasiun penelitian ini diduga memiliki keanekaragaman tumbuhan yang tinggi termasuk tumbuhan yang berhabitus pohon. Untuk mendapatkan data yang akurat tentang keanekaragaman tumbuhan maka perlu dilakukan penelitian Keanekaragaman Tumbuhan Berhabitus Pohon yang bertujuan untuk mengetahui Kekayaan Spesies, Suku, Nilai Penting, dan Indeks Keanekaragaman Tumbuhan di lokasi tersebut. Metode Transek Berpetak (Belt Transect) telah digunakan untuk mendata tetumbuhan di stasiun ini pada area cuplikan (sampling) seluas 2 hektar (Ha). Ada 108 spesies tetumbuhan yang merupakan anggota dari 80 marga dan 38 suku. Suku yang memiliki spesies yang dominan adalah Euphorbiaceae (12 spesies) dan Dipterocarpaceae (11 spesies). Beberapa suku lainnya juga memiliki spesies yang relatif banyak yaitu Lauraceae dan Meliaceae (masing-masing 8 spesies), dan Moraceae (7 spesies). Tetumbuhan yang terbatas spesiesnya ada 17 suku yaitu hanya memiliki 1 spesies tumbuhan dalam area 2 Ha. Spesies tumbuhan yang memiliki Nilai Penting tertinggi adalah Streblus elongatus (Damli atau Tempinis) yaitu 29,35 sehingga tumbuhan ini memberi peranan penting di lokasi tersebut. Tumbuhan yang memiliki Nilai Penting terendah adalah Acacia pennata (akar rambut galang) yaitu 0,23 sehingga spesies ini harus menjadi perhatian untuk dikonservasi. Dua belas spesies tercantum dalam daftar merah IUCN dengan kategori critically endangered, vulnerable, dan low risk. Indeks keanekaragaman spesies tumbuhan di lokasi ini adalah 4,0 sehingga dapat disimpulkan bahwa kondisi hutan di lokasi ini masih cukup baik dan memiliki keanekaragaman yang tinggi.
AKTIVITAS HARIAN ORANGUTAN SUMATERA (Pongo abelii) REINTRODUKSI DI STASIUN REINTRODUKSI ORANGUTAN JANTHO, KABUPATEN ACEH BESAR Ilham Fonna; Dalil Sutekad; Iqbar Iqbar
Prosiding Seminar Nasional Biotik Vol 3, No 1 (2015): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOTIK III 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Biotik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.118 KB) | DOI: 10.3126/pbio.v3i1.2626

Abstract

Penelitian tentang “Aktivitas Harian Orangutan Sumatera (Pongo abelii) Reintroduksi” telah dilakukan di Stasiun Reintroduksi Orangutan Jantho, Kabupaten Aceh Besar mulai April hingga Desember 2014. Penelitian ini bertujuan untuk mengumpulkan data aktivitas harian orangutan sumatera (Pongo abelii) reintroduksi. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode Focal Animal Sampling. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif yang ditampilkan dalam bentuk tabel dan gambar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada delapan individu orangutan sumatera reintroduksi yang berhasil diikuti, yaitu dua individu jantan remaja, tiga individu betina remaja, satu individu jantan pradewasa dan dua individu betina dewasa. Persentase aktivitas makan orangutan sumatera reintroduksi sebanyak 45,08%, bergerak 13,76%, istirahat 40,43% dan bersarang 0,73%. Penggunaan waktu harian untuk makan yang tertinggi dilakukan oleh kelompok umur jantan remaja sebanyak 50,10% dan yang terendah oleh jantan pradewasa 30,92%. Kelompok umur jantan pradewasa memanfaatkan lebih besar waktu hariannya untuk melakukan pergerakan, istirahat dan bersarang dibandingkan kelompok umur lainnya.
TUMBUHAN BERGUNA DI LEMBAH SEULAWAH, PROVINSI ACEH Iqbar Iqbar; Masykur Masykur; Rindayu Putri
Prosiding Seminar Nasional Biotik Vol 4, No 1 (2016): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOTIK IV 2016
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Biotik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.933 KB) | DOI: 10.3126/pbio.v4i1.2537

Abstract

Lembah Seulawah berada di Pegunungan Seulawah yang memiliki keanekaragaman hayati khususnya tumbuhan yang tinggi. Kekayaan jenis tumbuhan ini berpeluang dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar kawasan untuk berbagai keperluan. Oleh sebab itu dipandang perlu dilakukan studi tentang tumbuhan berguna di Kecamatan Lembah Seulawah. Metode studi yang digunakan adalah Participatory Rural Appraisal (PRA) dengan mencuplik secara disengaja sebagian masyarakat sebagai responden dan metode Survey Exploratif untuk mendapatkan koleksi jenis-jenis tumbuhan yang dimanfaatkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 146 jenis tumbuhan dari 57 suku yang dimanfaatkan oleh masyarakat Kecamatan Lembah Seulawah. Tumbuh-tumbuhan yang dimanfaatkan ini 66,44% diperoleh dari kawasan pemukiman, 31,51 % diperoleh di kawasan hutan, dan sisanya 2,05% diperoleh dari kedua lokasi tersebut. Berbagai jenis kegunaan tumbuhan di Lembah Seulawah adalah untuk obat tradisional (34,27%), bahan makanan/minuman (29,03%), sumber pendapatan (13,30%), bahan bangunan/perabotan (10,48%), kayu bakar (5,64%), pestisida nabati (2,01), pakan ternak (2,41%), adat istiadat/keagamaan, pewarna alami (1,20%), dan indikator keberadaan air (0,80%). Tumbuhan yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Lembah Seulawah adalah anggota dari suku Fabaceae dan Euphorbiaceae dengan jenis tumbuhan masing-masing 12 jenis.
TREES VEGETATION DIVERSITY IN PT ARUN NGL HOUSING, LHOKSEUMAWE, ACEH PROVINCE Iqbar Iqbar
Jurnal Natural Volume 16, Number 1, March 2016
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.898 KB) | DOI: 10.24815/jn.v16i1.4359

Abstract

The research about trees vegetation diversity in PT Arun NGL area had been done in December 2012. The objective of the research was to calculate the trees vegetation diversity index. The data had been collected in nine belt transects by length 400 m and  400 m2  (10 m x 40 m) plots  for each belt transect. The collecting data was  including name of species, family, density, frequency and  dominancy.  The data was analyzed to get important value and diversity index. The result showed that there were 39 tree species belongs to 23 families found in the research area.  There were three dominant species namely; Pterocarpus indicus,  Pithecelobium dulce, dan Leucaena leucocephala which had higher important value than others species that lead  influencing the ecosystem. The trees diversity index in this area was about 3,3 which interpreted this area has high diversity index. Moreover, the plants were planted in PT Arun NGL Housing Area have another function as reducing pollutant material in the air.
MOLECULAR IDENTIFICATION OF SHOREA JOHORENSIS IN KETAMBE RESEARCH STATION, GUNUNG LEUSER NATIONAL PARK Nir Fathiya; Essy Harnelly; Zairin Thomy; Iqbar Iqbar
Jurnal Natural Volume 18, Number 2, June 2018
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (737.158 KB) | DOI: 10.24815/jn.v18i2.10123

Abstract

Shorea johorensis is one of the red meranti plants in Ketambe Research Station, Gunung Leuser National Park, Aceh Tenggara. Currently, Shorea johorensis also is well known as a major source of valuable commercial timber. This research aimed to analyze the phylogenetic of Shorea johorensis based on chloroplast and nuclear DNA in Ketambe Research Station so that it can be known the relationship of Shorea johorensis with other species Dipterocarpaceae in GenBank database. The research was conducted from July 2015 to August 2016 in Ketambe Research Station and Forestry and Forest Genetics Laboratory of Molecular, Bogor Agricultural University. The method used quadrat sampling technique with purposive sampling and experimental laboratory that consisted of DNA extraction, PCR, electrophoresis, and sequencing. The data analysis was done using BioEdit, MEGA6, and BLAST. The results showed that the phylogenetic tree of Shorea johorensis based on the rbcL and matK showed that Shorea johorensis was closely related with some species Hopea; but the phylogenetic tree based on psbA-trnH, 5.8S rRNA, ITS2, and 28S rRNA showed that Shorea johorensis was closely related with Shorea robusta.Keywords: Chloroplast dna, Ketambe Research Station,Nuclear DNA, Shorea johorensis
Studi Etnobotani Tumbuhan Hutan Sebagai Bahan Pangan (Studi Kasus Kecamatan Terangun Kabupaten Gayo Lues) Sartika Sartika; Arif Habibal Umam; Iqbar Iqbar
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 6, No 4 (2021): November 2021
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.016 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v6i4.18376

Abstract

Abstrak. Masyarakat suku Gayo sebagian besar memiliki pemahaman tentang pemanfaatan tumbuhan hutan yang dapat dikonsumsi baik untuk bahan pangan maupun sebagai obat-obatan. Atas dasar ini penting diteliti agar dapat memberikan informasi kepada masyarakat maupun pemerintah bahwa terdapat jenis-jenis tumbuhan hutan yang dapat dikonsumsi untuk bahan pangan non pokok yang hidup secara liar dan dikonsumsi oleh suku Gayo yang berdomisili di Terangun. Penelitian ini menggunakan metode wawancara dan observasi. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa terdapat 34 jenis tumbuhan liar yang terdiri dari 22 suku tumbuhan masih dimanfaatkan oleh suku Gayo di Terangun sebagai bahan pangan non pokok. Jenis tumbuhan yang paling banyak digunakan yaitu ranti (rukut) dengan penggunaan sebesar 97,50% sehingga dikategori sangat tinggi. Bagian atau organ tumbuhan hutan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan yaitu buah, batang, daun, tunas dan bunga. Organ tumbuhan yang paling sering digunakan yaitu buah sebanyak 47%. Meskipun penggunaan organ buah paling tinggi dari organ lainnya namun penggunaan organ ini masih masuk ke dalam katergori rendah. Tumbuhan hutan tersebut dimanfaatkan dengan cara dimasak, dikupas lalu dimakan, dimakan secara langsung dan dikeringkan kemudian dimakan. Cara pengolahan tumbuhan yang paling sering dilakukan adalah dengan cara dimasak  dan pengolahan dengan cara ini dilakukan sebesar 45% dari penggunaan lainnya. Penggunaan dengan cara dimasak juga masih termasuk ke dalam kategori  rendah.Abstract. Most of the Gayo people have an understanding of the use of forest plants that can be consumed both for food and as medicine. On this basis, it is important to research in order to provide information to the public and the government that there are forest plant species that can be consumed for non-staple foods that live wild and are consumed by the Gayo tribe who live in Terangun. This research uses interview and observation method. The results of the study indicate that there are 34 types of wild plants consisting of 22 plant tribes that are still used by the Gayo tribe in Terangun as non-staple food. The most widely used plant species is black nightshade with a usage of 97.50% so that it is categorized as very high. Parts or organs of forest plants that can be used as food are fruits, stems, leaves, shoots and flowers. The most frequently used plant organ is fruit as much as 47%. Although the use of fruit organs is higher than other organs, the use of these organs is still in the low category. The forest plants are used by cooking, peeling and then eating, eaten directly and dried and then eaten. The method of processing plants that is most often done is by cooking and processing in this way is carried out for 45% of other uses. The use by cooking is also still included in the low category.
Eksplorasi Tumbuhan Survival di Rainforest Lodge Kedah, Desa Penosan Sepakat, Kecamatan Blangjerango, Kabupaten Gayo Lues Ema Julia Sari; Misdi Misdi; Iqbar Iqbar
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 8, No 1 (2023): Februari 2023
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.733 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v8i1.23293

Abstract

Abstrak.Kemampuan untuk bertahan hidup di alam bebas sangat dipengaruhi salah satunya oleh kemampuan mengenal tumbuhan yang dapat dimakan dalam keadaan darurat (Survival foods). Tumbuhan survival dapat dimanfaatkan oleh manusiakhususnya pecinta alam yang sedang melaksanakan pendakian jika kehabisan bahan makanan.Komunitas pecinta alam memiliki banyak pengetahuan tentang pendakian, seperti bagaimana merencanakan pendakian, bahaya apa yang akan terjadi, dan bagaimana menghadapinya agar dapat mendaki dengan aman dan lancar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis tumbuhan survival, mendapatkan Indeks Nilai Penting (INP) dan keanekaragaman jenis tumbuhan survivalyang terdapat di Rainforest Lodge Kedah Desa Penosan Sepakat, Kecamatan Blangjerango Kabupaten Gayo Lues. Pengamatan tumbuhan survival dilakukan dengan cara berjalan dengan salah seorang pendaki yang berpegalaman pada jalur pendakian dan plot di ketinggian 1.300-1.400 m dpl, 1.400-1.500 m dpl, 1.500-1.600 m dpl setiap jalur dibuat plot berbentuk vertical dengan panjang 100 m dan lebar 5 m kanan dan 5 m kiri (total lebar 10 meter). Jarak untuk ketinggian yaitu 100 m dpl.Hasil pengamatan dari tiga ketinggian terdapat 24  jenis tumbuhan survival yang terdiri dari 14 familia. Tumbuhan survival dari familia Arecaceae memiliki jenis terbanyak yaitu 6 jenis tumbuhan, familia Moraceae 4 jenis ,familia Myrtaceae dan Zingiberaceae terdapat 2 jenis tumbuhan dan  jenis tumbuhan survival familia Myristicaceae, Salicaceae, Poaceae, Athyriaceae, Begoniaceae, Anacardiaceae, Rosaceae, Cucurbitaceae, Cluciaceaedan Phyllathaceae masing-masing terdapat 1 jenis tumbuhan Kata kunci :Familia, Tumbuhan Survival , Rainforester Lodge Kedah.  Abstract. The ability to survive in the wild is strongly influenced by, among other things, the ability to recognize plants that can be eaten in an emergency (survival foods). Survival plants can be used by humans, especially nature lovers who are climbing if they run out of food. The nature lover community has a lot of knowledge about climbing, such as how to plan a hike, what hazards will occur, and how to deal with them so that they can climb safely and smoothly. The purpose of this study was to determine survival plant species, obtain an Important Value Index (IVI) and diversity index of survival plant species found in the Rainforest Lodge Kedah, Penosan Sepakat Village, Blangjerango District, Gayo Lues Regency. Observation of survival plants was carried out by walking with one experienced climber on climbing routes and research plots. Along the observation path at each altitude, 1 transect was made each at an altitude of 1,300 -1,400 m asl, 1,400 -1,500 m asl, 1,500 -1,600 m asl, each route was made a vertical plot with 100 m long and 5 m wide on the left and 5 m on the right (total width of 10 meters), the distance for the height is 100 meters above sea level. Based on observations from three altitudes, there were 24 species of survival plants consisting of 14 families. Survival plants from the Arecaceae family had the most species, namely 6 species, Moraceae family 4 species, Myrtaceae family 2 species and the remaining families Myristicaceae, Salicaceae, Poaceae, Athyriaceae, Begoniaceae, Anacardiaceae, Rosaceae, Cucurbitaceae, Cluciaceae, and Phyllathaceae each with only 1 species.  Keywords: Family, Plant Survival, Rainforester Lodge Kedah
Persepsi Publik Terhadap Kompleksitas Kewisataan di Kampung Wisata Agusen, Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues Sudirman Sudirman; Iqbar Iqbar; Ryan Moulana
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 1 (2020): Februari 2020
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.972 KB) | DOI: 10.17969/jimfp.v5i1.13727

Abstract

Abstrak, Kabupaten Gayo Lues memiliki keanekaragaman objek wisata yang meliputi air terjun, bukit-bukit dan lembah dengan kondisi alam yang masih asri dengan keberadaan hutan yang belum terjamah. Kondisi alam yang indah dan masih asri tersebut dapat dimanfaatkan dalam bentuk pengelolaan ekowisata. Ekowisata merupakan salah satu kegiatan strategis bagi implementasi konservasi sumberdaya alam dan lingkungan. Program ini dapat meningkatkan fungsi ekologi, sosial dan ekonomi masyarakat setempat. Beberapa aktivitas wisata di Gayo Lues yang sudah berjalan dengan arah wisata alam/ ekowisata, diantaranya yaitu Kampung Wisata Agusen. Untuk menjamin keberhasilan program ini maka diperlukan pengelolaan yang berkelanjutan. Oleh karena itu penelitian ini berjtujuan untuk memberikan gambaran kualitas maupun kuantitas dari komleksitas kewisataan di Kampung Wisata Agusen berdasarkan persepsi publik. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan tahapan observasi, wawancara, pengisian kuisioner, dan studi kepustakaan. Informan dalam penelitian ini terbagi menjadi tiga kelas yaitu dinas pariwisata, masyarakat setempat dan pengunjung dengan jumlah responden sebanyak 83 responden. Kompleksitas kewisataan di Kampung Wisata Agusen dilihat dari persepsi responden hanya fasilitas dan keramahan masyarakat yang cukup baik, sementara keorganisasian pengelolaan, aksesibilitas dan promosi wisata masih kurang baik dimana dari hasil persentase yang didapat di bawah 50%.Public Perceptions of the Complexity of Tourism in Agusen Tourism Village, Blangkejeren District, Gayo Lues RegencyAbstract, Gayo Lues Regency has a diversity of attractions that include waterfalls, hills and valleys with natural conditions that are still beautiful in the presence of untouched forest. These beautiful and beautiful natural conditions can be utilized in the form of ecotourism management. Ecotourism is one of the strategic activities for the implementation of conservation of natural resources and the environment. This program can improve the ecological, social and economic functions of the local community. Some tourist activities in Gayo Lues that have been going in the direction of nature / ecotourism tourism, including the Agusen Tourism Village. To guarantee the success of this program, sustainable management is needed. Therefore this study aims to provide an overview of the quality and quantity of the tourism complexities in Agusen Tourism Village based on public perception. This study used a descriptive qualitative method with stages of observation, interviews, questionnaire filling, and literature study. The informants in this study were divided into three classes, namely the tourism office, the local community and visitors with 83 respondents. The complexity of tourism in the Agusen Tourism Village can be seen from the respondents' perceptions only that the facilities and hospitality of the community is quite good, while the organizational management, accessibility and promotion of tourism are still not good where the percentage of results obtained is below 50%.