Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Promotif kesehatan melalui edukasi Keluarga Berencana (KB) Sitti Fatimah; Musni Musni; Desi Heriyana
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 3 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i3.3143

Abstract

Background: Family planning (FP) is an effort undertaken by married couples to regulate the number, spacing, and timing of their children through the use of contraceptive methods to create a healthy, prosperous, and quality family. According to the World Health Organization (WHO), family planning is an action that enables individuals and couples to anticipate and achieve the desired number of children and determine the spacing and timing of births through the use of safe and effective contraceptive methods. The Family Planning (FP) program is not merely an effort to regulate the number of children, but rather a preventive health strategy proven to reduce maternal and infant mortality, improve the quality of family life, and support sustainable development. Family planning education shifts the societal paradigm from "many children, much fortune" to "fewer children, healthy, and prosperous." This is an effective promotive-preventive effort to improve maternal and child health, particularly in rural areas such as Palongki Village. Purpose: To increase public knowledge about family planning (FP). Method: This community service activity was held on Sunday, February 1, 2026, at 10:00 a.m. WITA (Central Indonesian Time) at the Palongki Village Office. The primary goal was to optimize knowledge about family planning among couples of childbearing age and pregnant women. Thirty-eight respondents, supported by village officials and local health workers, participated in the activity. The activity employed an educational, counseling, and participatory approach, employing a one-group pre-test and post-test design. The educational materials were based on the guidelines of the National Population and Family Planning Board (BKKBN) and the Ministry of Health of the Republic of Indonesia, and adapted to the local context. The materials were delivered through interactive lectures. Evaluation was conducted by analyzing the pre-test and post-test results, calculating the difference in the respondents' average knowledge scores and presenting them descriptively to assess changes in their knowledge levels after the educational activity. Results: The average age of respondents was 31.87 years with a standard deviation of ±6.53 years. The majority of respondents were in the 20-30 age range (50.0%). The majority of respondents (84.2%) accepted family planning (FP), and the majority (84.2%) also believed that education about family planning was very beneficial. Furthermore, the level of knowledge of respondents about family planning before the educational activity was 5 (13.2%) in the good category, 10 (26.3%) in the adequate category, and 23 (60.5%) in the poor category. Meanwhile, the level of knowledge of respondents after the educational activity was 30 (78.9%) in the good category and 8 (21.1%) in the adequate category. Conclusion: The educational intervention activity was proven effective in increasing mothers' knowledge about family planning (FP) and encouraging positive changes in attitudes and behaviors regarding contraceptive choice. Increasing mothers' knowledge also directly contributes to improving public health through pregnancy planning and appropriate birth spacing. Suggestion: Integrated Health Posts (Posyandu) are expected to conduct regular monitoring and actively empower cadres to provide knowledge about family planning, so that programs can be effectively implemented in the wider community. Keywords: Contraception; Couples of reproductive age; Family planning; Health education; Reproductive health Pendahuluan: Keluarga berencana (KB) adalah upaya yang dilakukan oleh pasangan suami istri untuk mengatur jumlah anak, jarak kelahiran, dan waktu kelahiran melalui penggunaan metode kontrasepsi guna mewujudkan keluarga yang sehat, sejahtera, dan berkualitas. Menurut World Health Organization (WHO), family planning adalah tindakan yang memungkinkan individu dan pasangan untuk mengantisipasi dan mencapai jumlah anak yang diinginkan serta menentukan jarak dan waktu kelahiran melalui penggunaan metode kontrasepsi yang aman dan efektif. Program Keluarga Berencana (KB) bukan hanya sekedar upaya pengaturan jumlah anak, melainkan strategi kesehatan preventif yang terbukti menurunkan angka kematian ibu dan bayi, meningkatkan kualitas hidup keluarga serta mendukung pembangunan berkelanjutan. Edukasi KB mengubah paradigma masyarakat dari “banyak anak banyak rezeki” menjadi “sedikit anak, sehat, dan sejahtera”. Ini adalah upaya promotif–preventif yang efektif untuk meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak, khususnya didaerah pedesaan seperti Desa Palongki. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan tentang keluarga berencana (KB) pada masyarakat. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada hari Minggu 1 Februari 2026, pukul 10.00 WITA di Kantor Desa Palongki. Dengan sasaran utama adalah optimalisasi pengetahuan tentang keluarga berencana pada pasangan usia subur dan ibu hamil. Melibatkan 38 responden dan dukungan perangkat desa dan kader kesehatan setempat. Kegiatan dilakukan dengan pendekatan edukatif, konseling, dan partisipatif, menggunakan pre-test dan post-test one group design. Materi edukasi berdasarkan pedoman BKKBN dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, serta disesuaikan dengan konteks lokal. Materi disampaikan melalui ceramah interaktif. Evaluasi dilakukan dengan menganalisa hasil pre-test dan post-test yaitu menghitung selisih nilai rata-rata pengetahuan responden dan disampaikan secara deskriptif untuk melihat perubahan tingkat pengetahuan responden setelah kegiatan edukasi. Hasil: Menunjukkan bahwa rata-rata usia responden adalah 31.87 tahun dengan standar deviasi ±6.53 tahun dan mayoritas responden berada di rentang usia 20-30 tahun yaitu sebesar 50.0%. Sebagian besar responden merupakan akseptor KB yaitu sebesar 84.2% dan sebagian besar juga responden berpendapat bahwa edukasi tentang KB sangat bermanfaat yaitu sebesar 84.2%. Sedangkan tingkat pengetahuan responden tentang KB sebelum kegiatan edukasi adalah sebanyak 5 (13.2%) dalam kategori baik, sebanyak 10 (26.3%) dalam kategori cukup dan sebanyak 23 (60.5%) dalam kategori kurang. Sedangkan tingkat pengetahuan responden setelah kegiatan edukasi menjadi sebanyak 30 (78.9%) dalam kategori baik dan sebanyak 8 (21.1%) dalam kategori cukup. Simpulan: Kegiatan intervensi edukasi terbukti efektif meningkatkan pengetahuan ibu tentang Keluarga Berencana (KB) serta mendorong perubahan positif pada sikap dan perilaku pemilihan alat kontrasepsi. Peningkatan pengetahuan ibu tentang juga berkontribusi langsung dalam menciptakan kesehatan masyarakat melalui perencanaan kehamilan dan mengatur jarak kelahiran dengan tepat. Saran: Diharapkan kepada Posyandu untuk melakukan pemantauan secara rutin dan secara aktif memberdayakan kader dalam memberikan pengetahuan tentang KB, agar penerapan program-program dapat dilaksanakan dengan baik di masyarakat yang lebih luas.
Hubungan Pengetahuan dengan Sikap Ibu Nifas terhadap Pijat Oksitosin Sebagai Terapi Komplementer: Studi Cross-Sectional di Kabupaten Bone, Indonesia Desi Heriyana; Sitti Fatimah; Musni Musni
Jurnal Promotif Preventif Vol 9 No 4 (2026): Agustus 2026: JURNAL PROMOTIF PREVENTIF
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Pancasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47650/jpp.v9i4.2683

Abstract

Pemberian ASI eksklusif memerlukan dukungan berkelanjutan dari ibu, keluarga, dan tenaga kesehatan. Pengetahuan mengenai perawatan komplementer dapat membentuk sikap ibu selama masa nifas. Penelitian ini menganalisis hubungan tingkat pengetahuan dengan sikap ibu nifas terhadap pijat oksitosin sebagai terapi komplementer. Penelitian kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional dilaksanakan pada Oktober–Desember 2025 di Kelurahan Majang, Kabupaten Bone. Seluruh 30 ibu nifas dalam populasi terjangkau diikutkan melalui total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan dan sikap. Karena beberapa frekuensi harapan kurang dari lima, hubungan dianalisis menggunakan uji exact Fisher-Freeman-Halton. Sebanyak 17 responden (56,7%) memiliki pengetahuan baik, sembilan (30,0%) cukup, dan empat (13,3%) kurang. Sikap positif ditemukan pada 26 responden (86,7%). Pengetahuan berhubungan bermakna dengan sikap (p exact=0,016; V Cramer=0,513). Ibu dengan pengetahuan lebih baik cenderung memiliki sikap lebih positif. Edukasi berbasis bukti dapat memperkuat penerimaan yang terinformasi, sedangkan penelitian lanjutan diperlukan untuk menilai hubungan kausal dan luaran menyusui.