Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perubahan Kawasan Pusat Kota Ubud yang Mencitrakan Ruang Tradisional Bali Ni Luh Putu Sukma Dewi; Ardy Maulidy Navastara
Jurnal Teknik ITS Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.743 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v4i2.10518

Abstract

Perkembangan Ubud yang pesat diikuti oleh semakin meningkatnya jumlah sarana dan prasarana pariwisata menyebabkan pemanfaatan ruang yang berdasarkan pada aturan lokal setempat telah banyak berubah akibat tuntutan ruang untuk kepentingan fasilitas penunjang pariwisata. Fasilitas penunjang pariwisata tersebut menggeser atau menghilangkan ruang bernuansa lokal yang menjadi identitas permukiman setempat dan salah satu daya tarik wisatawan. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan kawasan pusat kota Ubud yang mencitrakan ruang tradisional Bali. Penelitian ini melakukan dua tahapan analisa. Evaluasi perubahan kawasan pusat kota Ubud menggunakan deskriptif kualitatif, dimana faktor-faktor yang mencirikan kawasan pusat kota Ubud antara lain pempatan agung, permukiman, Pura, Puri, natah, wantilan, bale banjar, bale kulkul, dan jaringan jalan. Sementara untuk perumusan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan diperoleh melalui content analysis. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi perubahan kawasan pusat kota Ubud berdasarkan hasil content analysis. Faktor yang mempengaruhi perubahan pada pempatan agung antara lain faktor penunjang kebutuhan wisatawan dan perubahan aktivitas. Faktor yang mempengaruhi perubahan pada permukiman antara lain faktor bertambahnya keturunan dalam satu rumah, bertambahnya penduduk dari luar karena pernikahan, dan faktor penunjang kebutuhan wisatawan. Faktor yang mempengaruhi perubahan pada Pura adalah faktor lemahnya kebijakan dalam mengendalikan fungsi ruang-ruang tradisional. Faktor yang mempengaruhi perubahan pada Puri yakni faktor politik. Faktor yang mempengaruhi perubahan pada natah, wantilan, bale banjar, dan bale kulkul yaitu faktor perubahan aktivitas, sosial budaya dan faktor politik. Dan faktor yang mempengaruhi perubahan pada jaringan jalan antara lain faktor kemajuan teknologi sarana transportasi dan faktor meningkatnya kemampuan masyarakat dalam membeli kendaraan pribadi.
Urban Morphology of European and Asian Cities : A Descriptive Case Study Ardy Maulidy Navastara
Jurnal Penataan Ruang Vol 12, No 1 (2017): Jurnal Penataan Ruang 2017
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (511.124 KB) | DOI: 10.12962/j2716179X.v12i1.5218

Abstract

According to Larkham (2002), urban morphology is an important assessment method in determining the transformation processes of urban contexture, making sense of the historical roots of spatial and functional structure and bringing them to the present day. The purpose of this study is to explore various urban forms in European and Asian cities from its morphological aspects, and construe the distinction between them. To be able construe them based on their city representatives from each continent (Europe and Asia), this study begins with a discussion toward the city of Rome and London as the representative of European city, and city of Singapore and Tokyo as the representative of Asian city. Exploratory approach is used for descriptive case study to deliberate decision in figure out the comparison between two urban form in European and Asian cities based on its morphological aspects. The result of this study shows that history, road patterns, and city’s architecture strongly influence the morphological changes of the cities that discussed in this paper. Lastly, this paper also discuss the main comparation between european and asian cities based on the morphological characteristic. Keyword: European and asian cities, urban form, urban morphology
Pengembangan Kebun Bibit Herbal Organik Sebagai Unit Pendukung Konsep Agrowidyawisata di Desa Oro-Oro Ombo, Kota Batu, Malang Nurul Jadid; Kristanti Indah Purwani; Tutik Nurhidayati; Ardy Maulidy Navastara; Dini Ermavitalini; Wirdhatul Muslihatin; Marsudi
JURPIKAT (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Vol 1 No 2 (2020)
Publisher : Politeknik Dharma Patria

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37339/jurpikat.v1i2.324

Abstract

Pergeseran pola hidup di dalam masyarakat yang saat ini cenderung back to nature menyebabkan semakin meningkatnya permintaan obat herbal organik. Namun demikian, budidaya tanaman obat secara organik dan pengelolaannya secara professional masih jarang dilakukan. Kota Batu, Malang Jawa Timur terkenal sebagai agropolitan. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mengembangkan kebun bibit herbal organik yang berfungsi sebagai area pembibitan tanaman herbal dan agrowidyawisata di Desa Oro-Oro Ombo Kota Batu, Malang. Pengabdian masyarakat dilakukan bersama mitra Kelompok Tani Hutan (KTH) Panderman. Adapun metode yang dilakukan berupa penggalian informasi lokal dan pendampingan pengembangan kebun bibit herbal. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa Desa Oro-Oro Ombo, Kota Batu Malang merupakan kawasan potensial untuk budidaya tanaman herbal. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini, partisipasi masyarakat desa terhadap pengembangan budidaya herbal organik semakin meningkat. Sehingga hal ini dapat berdampak positif pada peningkatan ekonomi masyarakat desa.
Faktor yang Memengaruhi Konsumsi Energi Listrik Rumah Tangga pada Masa Pandemi COVID-19 (Studi Kasus: Rusunawa di Jakarta Timur) Talitha Naura Faza; Ardy Maulidy Navastara
Jurnal Teknik ITS Vol 11, No 2 (2022)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v11i2.92329

Abstract

Pandemi COVID-19 mengubah perilaku masyarakat akibat adanya penerapan kebijakan pembatasan sosial dari pemerintah berdampak terhadap peningkatan demand konsumsi energi listrik sektor rumah tangga. Tanpa adanya pengurangan yang signifikan dalam permintaan listrik dan peningkatan efisiensi energi menyebabkan sulitnya menurunkan emisi karbon dioksida (CO2) dan mengurangi risiko perubahan iklim global. Program Jakarta Green Building dengan target penghematan energi listrik sebesar 3.785 GWh pada tahun 2030 menjadi salah satu pertimbangan bagaimana rumah susun pemerintah sebagai salah satu bentuk bangunan vertikal berkontribusi dalam pemenuhan demand energi. Di satu sisi, adanya pandemi juga memberikan dampak perekonomian yang berpotensi mempengaruhi ability to pay konsumsi listrik rumah tangga sehingga belum diketahui apakah terdapat pengaruh yang berbeda dalam perilaku konsumsi energi listrik selama pandemi ini. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi konsumsi energi listrik rumah tangga rusunawa di Jakarta Timur. Dalam mencapai tujuan tersebut, penulis melakukan 2 tahap analisis. Tahap pertama menentukan tipologi cluster dari 15 rusunawa yang terdapat di Jakarta Timur dan menentukan sampel rusunawa yang diambil untuk dilakukan penyebaran kuesioner penghuni. Tahap kedua peneliti menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi energi listrik rumah tangga dengan metode regresi linear berganda. Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa dari 15 rusunawa yang tersebar di Jakarta Timur, hanya terdapat 2 jenis tipologi rusunawa yaitu rusunawa 6 lantai berbentuk blok beton dengan jumlah 10 rusunawa dan 16 lantai berbentuk tower semi-apartemen dengan jumah 5 rusunawa. Meskipun terdapat perbedaan jenis rusunawa, namun kedua kelompok rusunawa tersebut masing-masing memilik faktor signifikan konsumsi energi listrik rumah tangga yang sama, yaitu jumlah penghuni dan jumlah kepemilikan alat listrik.
Arahan Pengembangan Jalur Pejalan Kaki Ramah Disabilitas di Kota Surabaya (Studi Kasus Koridor Mayjend Sungkono) Sri Nurkhalishah Rachmi Dewi; Ardy Maulidy Navastara
Jurnal Teknik ITS Vol 11, No 2 (2022)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v11i2.90976

Abstract

Keadilan spasial dalam suatu kota dapat diwujudkan dengan melakukan penyediaan akses terhadap infrastruktur yang bersifat universal salah satunya infrastruktur jalur pejalan kaki. Kota Surabaya merupakan kota dengan tingkat perkembangan jalur pejalan kaki yang sangat pesat namun pada kenyataanya belum mampu mendukung seluruh lapisan masyarakat meliputi masyarakat rentan penyandang disabilitas salah satunya pada Koridor Mayjend Sungkono. Oleh karena itu, penelitian ini dibuat untuk memberikan arahan pengembangan jalur pejalan kaki ramah disabilitas di Kota Surabaya dengan studi kasus pada Koridor Mayjend Sungkono. Penelitian dilakukan dengan melakukan survei primer melalui observasi, penyebaran kuesioner kepada 60 penyandang disabilitas dan wawancara kepada pakar sedangkan survei sekunder dilakukan melalui studi literatur. Dengan analisis AHP berdasar hasil kuisioner, didapatkan ranking prioritas variabel pengembangan jalur pejalan kaki ramah disabilitas yaitu, 1) Ukuran Dasar Ruang, 2) Konflik Pejalan Kaki, 3) Tekstur dan Permukaan, 4) Kebersihan, 5) Jalur Pemandu, 6) Convenience, 7) Ramp, 8) Gaya Alam dan Iklim, 9) Partisipasi Masyarakat, 10) Keindahan, 11) Penerangan Jalan, 12) Tangga, 13) Tingkat Kebisingan, 14) Vegetasi dan 15) Resting Area. Dengan pendekatan triangulasi, didapatkan beberapa arahan utama pengembangan jalur pejalan kaki ramah disabilitas di Koridor Mayjend Sungkono yaitu pelebaran jalur pejalan kaki menjadi minimal 2 meter, penyediaan bollard sesuai dimensi khususnya bagi pengguna kursi roda dan penggantian material jalur pejalan kaki menjadi beton atau paving.
Assessment of the Perception of Security Based on CPTED in Bundaran HI TOD Siti Nurlaela; Sugiono Sugiono; Nadhila Alda Ismiralda; Ardy Maulidy Navastara; Ema Umilia; Arwi Yudhi Koswara
TATALOKA Vol 23, No 4 (2021): Volume 23 No. 4, November 2021
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.23.4.536-552

Abstract

CPTED studies has been popular since 1960-1970s, however studies in Indonesian city context showed limited references. This paper identified the need of CPTED study followed a massive MRT network development in Jakarta City, as the need for re-design and city beautification to fit with the vibrant TOD urban lifestyle may create moments as well to promote CPTED implementation. The perception survey was developed to understand the perceived crime risk level among the MRT users of Bundaran HI Station. The survey conducted in two scopes of context, i.e. the TOD precinct, an area of 800 radius from the station, and inside the station itself. Finding from the TOD context showed that the maintenance and information have been the most significant but often mostly ignored. These two component may lead to under-rated other CPTED components, weaken the territorial reinforcement and natural surveillance. Out of 56 parameters, 26 parameters or almost halve have rated below 3, alarmed for a more comprehensive design and intervention at the TOD neighbourhood level that emphasizes on the implementation of CPTED principles. Finding from the Bundarin HI station context showed that under the Likert scale 1 (the lowest risk) to 5 (the highest risk), most of the CPTED rated from 4 – 5. There were a variation in the perceived security among different respondents based on gender, time pattern, location pattern, and mode chosen for station access. However, these rating differences were not significant according to the ANOVA and the t-test statistics. The chi-square test found no association between the perceived securities with the type of mode uses for station access. These preliminary findings suggested that the Bundaran HI TOD station is secured from crime risk according to perception of MRT users; therefore little variation in the rating of perceived security gave little information to draw any association with other important variables such as the mode choice for station access. However, taken the measures on wider context at the TOD precinct, the rating of CPTED consistently lower in all components, suggested the urban design and land use zoning-and transportation intervention that consider CPTED principles to be emphasizing at wider area to support the security of the station.
Aplikasi Eco Enzyme Sebagai Bahan Pembuatan Sabun Antiseptik Nurul Jadid; Adillatul Lathiifatun Jannah; Bagas Prakoso Wicaksono Putra Handiar; Tutik Nurhidayati; Kristanti Indah Purwani; Dini Ermavitalin; Wirdhatul Muslihatin; Ardy Maulidy Navastara
Sewagati Vol 6 No 1 (2022)
Publisher : Pusat Publikasi ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (786.591 KB) | DOI: 10.12962/j26139960.v6i1.168

Abstract

Indonesia merupakan negara tropis dan agraris dengan biodiversitas tumbuhan terbesar kedua di dunia, setelah Brazil. Kondisi iklim tropis dan suburnya tanah menjadikan wilayah Indonesia sebagai salah satu Kawasan pertanian yang diperhitungkan di wilayah asia tenggara. Salah satu sentra agribisnis di Jawa Timur adalah kota Batu, Malang. Kota ini dikenal sebagai Kawasan Agropolitan dengan tanaman hortikultura sebagai komoditas unggulan. Industri pertanian dan perkebunan di wilayah tersebut berhasil menopang ekonomi masyarakat sekitar. Namun demikian, permasalahan limbah pertanian organik sebagai produk samping dari pengembangan industri pertanian di kota Batu menjadi hal yang harus diperhatikan bersama. Salah satu alternatif pengelolaan limbah atau sampah organik tersebut adalah pengembangan eco-enzyme. Kegiatan pengabdian masyarakat ini berupa pembuatan sabun antiseptic berbasis eco-enzyme. Sabun antiseptic ini mengambil nama Mizella yang berasal dari kata Mizu dan Ella. Mizu dalam Bahasa Jepang berarti Air dan Ella dalam Bahasa Prancis berarti kecantikan dan keindahan. Berdasarkan hasil survei didapatkan hasil sebagai berikut, sebanyak 80% responden menyatakan aroma, busa, kelembapan, kesegaran, pada sabun organik sudah sangat baik, sebanyak 73.3% responden menyatakan warna, penampilan, busa pada sabun organik Eco-Enzyme sudah sangat baik, sebanyak 76.7% responden menyatakan kualitas pembersihan dan kekesatan pada sabun organik Eco-Enzyme sudah sangat baik, sebanyak 83.3% responden menyatakan kehalusan pada sabun organik Eco-Enzyme sudah sangat baik.
Penilaian Kesesuaian Fungsi Ekologi Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Inti Kraton Yogyakarta Safira Salsabila; Ardy Maulidy Navastara
Jurnal Teknik ITS Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v12i1.93794

Abstract

Keberadaan vegetasi pada ruang terbuka hijau di daerah perkotaan memiliki manfaat dalam memperbaiki kualitas lingkungan dan kualitas udara. Seiring berkembangnya Kota Yogyakarta, terjadi perubahan pada vegetasi yang ada pada ruang terbuka hijau. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai kecenderungan fungsi ekologi pada Kawasan Inti Kraton Yogyakarta. Untuk mengetahui kriteria penilaian dilakukan penyebaran kuesioner Delphi, sedangkan penilaian tersebut dilakukan melalui pendekatan in depth interview menggunakan metode Content Analysis untuk melihat kecenderungan fungsi terkait kesesuaiannya pada setiap RTH di Kawasan Inti Kraton Yogyakarta yang terbagi menjadi tiga zona yaitu RTH pada Alun-alun Utara, Alun-alun Selatan, dan Komplek Kraton Inti. Penelitian ini menghasilkan 5 kriteria penilaian fungsi ekologi yaitu pengatur suhu/peneduh, penyerap polutan gas, penahan angin, kontrol kelembaban udara, dan penjerap partikel. Penelitian ini juga menghasilkan penilaian berupa kecenderungan fungsi setiap lokasi yang dinilai berdasarkan kriteria-kriteria tadi, dimana pada ketiga zona sudah memiliki kecenderungan fungsi ekologi yang cukup sesuai, kecuali pada pengatur suhu/peneduh pada ruang tengah Alun-alun Utara maupun Selatan yang kurang sesuai dan penyerap polutan gas pada Komplek Kraton Inti yang tidak signifikan karena tidak terdapat sumber polutan pada area tersebut.