Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Perencanaan Sistem Daur Ulang Air Buangan Proses di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Teritip Kota Balikpapan Abi Asmara Qurba; Alfan Purnomo
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.63676

Abstract

Ketersediaan air baku masih menjadi salah satu masalah di Kota Balikpapan. IPA Teritip merupakan satu-satunya yang menggunakan sumber air baku dari Waduk Teritip dan baru beroperasi tahun 2019 sebagai pemenuhan penyediaan air minum untuk sebagian besar wilayah Kecamatan Balikpapan Timur. Sehingga untuk mengatasi ketersediaan air baku yang tidak menentu yaitu dengan melakukan daur ulang dari air buangan pada proses pengolahan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Teritip. Perencanaan pengembangan ini menggunakan metode penyesuaian dengan prinsip dan kriteria perencanaan SPAM. Analisis dilakukan secara mendalam pada penggunaan air dalam unit proses, debit air buangan proses dan membandingkan efisiensi pengolahan. Sebelum menentukan sistem daur ulang air buangan, dilakukan pengumpulan data primer dan data sekunder. Data primer didapatkan secara langsung pada survey lapangan dan analisis air buangan di laboratorium. Data sekunder dihimpun melalui arsip PDAM dan penelitian terdahulu. Setelah itu dilakukan pengolahan data dan perencanaan sistem daur ulang berdasarkan kriteria desain dan prinsip pengolahan air minum. Hasil dari pengolahan data dan perencanaan sistem daur ulang berupa jumlah debit air buangan yang dapat digunakan kembali sebesar 574,67 m3/hari, Detail Engineering Design (DED) yang meliputi perhitungan desain dan gambar detail unit ekualisasi (5,3 m x 5,3 x 2 m), unit sedimentasi (8,8 m x 2,2 m x 3 m) dan Sludge Drying Bed (5,3 m x 2,6 m x 1,5 m) dengan volume Bill of Quantity (BOQ) sejumlah 843 m3, Rencana Anggaran Biaya (RAB) sebesar Rp 405.970.000 dan biaya pengoperasian dan pemeliharaan sistem pengolahan daur ulang air buangan sebesar Rp. 56.834.064/tahun serta analisis kondisi eksisting pengolahan air minum terhadap pengolahan air buangan kembali yang dilakukan pada unit koagulasi dan flokulasi, unit sedimentasi dan unit filtrasi IPA Teritip.
Penurunan Ion Besi (Fe) dan Mangan (Mn) dalam Air dengan Serbuk Gergaji Kayu Kamper Istifiarti Mandasari; Alfan Purnomo
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (585.802 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i1.15113

Abstract

Air tanah mengandung berbagai mineral, antara lain besi dan mangan. Besi dan mangan yang berlebihan dalam air memerlukan pengolahan. Salah satu pengolahan yang sesuai adalah adsorpsi. Serbuk gergaji kayu memiliki kemampuan sebagai adsorben karena mengandung selulosa. Serbuk gergaji kayu diaktivasi terlebih dahulu dengan variasi pencucian akuades dan aktivasi kimia (HCl-NaOH). Masing-masing larutan Fe dan Mn sebanyak 75 ml dikontakkan dengan adsorben teraktivasi dengan dosis 6 gr/L dalam waktu 15; 30; 45; 60; 75; 90; 105; dan 120 menit. Diperoleh kapasitas adsorpsi terbesar Fe 0,179 mg/g dan Mn 0,095 mg/g dengan adsorben teraktivasi kimia pada waktu 15 menit. Adsorben dikontakkan dengan larutan Fe konsentrasi 2,6; 2,8; 3,0; 3,2; dan 3,4 mg/L selama 15 menit dan diperoleh kapasitas adsorpsi maksimum terbesar 0,182 mg/g dengan rata-rata efisiensi removal 22,13% pada adsorben teraktivasi kimia. Adsorben dikontakkan dengan larutan Mn konsentrasi 5; 6; 7; 8; dan 9 mg/L selama 15 menit dan diperoleh kapasitas adsorpsi maksimum terbesar 1,698 mg/g dengan rata-rata efisiensi removal 98,51% pada adsorben teraktivasi kimia. Adsorben dengan aktivasi kimia menunjukkan kapasitas adsorpsi terbesar dalam menurunkan kadar Fe dan Mn.
Perbandingan Kemampuan Kitosan dari Limbah Kulit Udang dengan Aluminium Sulfat untuk Menurunkan Kekeruhan Air dari Outlet Bak Prasedimentasi Ipam Ngagel 2 Cecilia Dwi Triastiningrum; Alfan Purnomo
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.366 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.16964

Abstract

PDAM Surya Sembada Surabaya menggunakan air dari Kali Surabaya sebagai sumber air baku utama. Koagulan yang digunakan untuk mengolah air baku tersebut adalah aluminium sulfat. Penggunaan aluminium sulfat dapat mempengaruhi pH air dan menyebabkan kerugian baik dalam sisi lingkungan maupun kesehatan konsumen. Di lain hal, terdapat pula masalah peningkatan jumlah limbah kulit udang yang berpotensi namun belum dimanfaatkan secara optimal. Dari masalah-masalah tersebut muncul ide untuk mencari alternatif koagulan yang ramah lingkungan, efektif, efisien dan sekaligus dapat memanfaatkan limbah kulit udang. Kitosan yang terdapat di kulit udang dapat dijadikan alternatif karena sifatnya tidak beracun, mudah terdegradasi dan bahan bakunya mudah didapatkan. Kitosan adalah senyawa polimer dengan ion positif yang diperoleh dari proses hidrolisis kitin menggunakan basa kuat sehingga terjadi deasetilasi gugus asetamida (NH-COCH3) menjadi gugus amino (NH2). Kitosan diperoleh dari serbuk kulit udang yang melalui proses deproteinasi dengan NaOH 6%, proses demineralisasi dengan HCL 1,1 N, dan proses deasetilasi dengan NaOH 50%. Kitosan yang dihasilkan kemudian di cek kualitasnya dengan melakukan uji kelarutan menggunakan CH3COOH 1% dan pengecekan derajat deasetilasi dengan metode titrasi asam basa. Efektifitas dan efisiensi kitosan diuji dengan metode jar test menggunakan sampel air yang berasal dari outlet bak prasedimentasi IPAM Ngagel 2. Aspek yang diuji adalah kekeruhan dan pH dengan variabel berupa dosis koagulan dan kekeruhan air. Dari sisi biaya, yang akan dibandingkan adalah biaya pemakaian koagulan per hari, per jam dan per m3. Penelitian ini membandingkan kemampuan kitosan dengan aluminium sulfat 17% dan 45% untuk menurunkan kekeruhan air dari outlet bak prasedimentasi IPAM Ngagel 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aluminium sulfat lebih efektif dari kitosan, namun aluminium sulfat tidak lebih efisien dari kitosan. Dari segi biaya, pemakaian aluminium sulfat 17% dan 45% memakan biaya yang jauh lebih sedikit dibandingkan dengan pemakaian kitosan. PDAM Surya Sembada Surabaya menggunakan air dari Kali Surabaya sebagai sumber air baku utama. Koagulan yang digunakan untuk mengolah air baku tersebut adalah aluminium sulfat. Penggunaan aluminium sulfat dapat mempengaruhi pH air dan menyebabkan kerugian baik dalam sisi lingkungan maupun kesehatan konsumen. Di lain hal, terdapat pula masalah peningkatan jumlah limbah kulit udang yang berpotensi namun belum dimanfaatkan secara optimal. Dari masalah-masalah tersebut muncul ide untuk mencari alternatif koagulan yang ramah lingkungan, efektif, efisien dan sekaligus dapat memanfaatkan limbah kulit udang. Kitosan yang terdapat di kulit udang dapat dijadikan alternatif karena sifatnya tidak beracun, mudah terdegradasi dan bahan bakunya mudah didapatkan. Kitosan adalah senyawa polimer dengan ion positif yang diperoleh dari proses hidrolisis kitin menggunakan basa kuat sehingga terjadi deasetilasi gugus asetamida (NH-COCH3) menjadi gugus amino (NH2). Kitosan diperoleh dari serbuk kulit udang yang melalui proses deproteinasi dengan NaOH 6%, proses demineralisasi dengan HCL 1,1 N, dan proses deasetilasi dengan NaOH 50%. Kitosan yang dihasilkan kemudian di cek kualitasnya dengan melakukan uji kelarutan menggunakan CH3COOH 1% dan pengecekan derajat deasetilasi dengan metode titrasi asam basa. Efektifitas dan efisiensi kitosan diuji dengan metode jar test menggunakan sampel air yang berasal dari outlet bak prasedimentasi IPAM Ngagel 2. Aspek yang diuji adalah kekeruhan dan pH dengan variabel berupa dosis koagulan dan kekeruhan air. Dari sisi biaya, yang akan dibandingkan adalah biaya pemakaian koagulan per hari, per jam dan per m3. Penelitian ini membandingkan kemampuan kitosan dengan aluminium sulfat 17% dan 45% untuk menurunkan kekeruhan air dari outlet bak prasedimentasi IPAM Ngagel 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aluminium sulfat lebih efektif dari kitosan, namun aluminium sulfat tidak lebih efisien dari kitosan. Dari segi biaya, pemakaian aluminium sulfat 17% dan 45% memakan biaya yang jauh lebih sedikit dibandingkan dengan pemakaian kitosan.
Perbandingan Kemampuan Kitosan dari Limbah Kulit Udang dengan Aluminium Sulfat untuk Menurunkan Kekeruhan Air dari Outlet Bak Prasedimentasi IPAM Ngagel II Cecilia Dwi Triastiningrum; Alfan Purnomo
Jurnal Teknik ITS Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.774 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v5i2.18968

Abstract

Koagulan yang digunakan IPAM Ngagel II untuk mengolah air baku adalah aluminium sulfat. Penggunaan aluminium sulfat yang tidak sesuai dapat mempengaruhi pH air dan menyebabkan kerugian baik dalam sisi lingkungan maupun kesehatan konsumen. Di lain hal, terdapat pula masalah peningkatan jumlah limbah kulit udang yang berpotensi namun belum dimanfaatkan secara optimal. Dari masalah-masalah tersebut munculah ide untuk mencari alternatif koagulan yang ramah lingkungan, efektif, efisien dan sekaligus dapat memanfaatkan limbah kulit udang. Kitosan yang terdapat di kulit udang dapat dijadikan alternatif karena sifatnya tidak beracun, mudah terdegradasi dan bahan bakunya mudah didapatkan. Kitosan adalah senyawa polimer dengan ion positif yang diperoleh dari proses hidrolisis kitin menggunakan basa kuat sehingga terjadi deasetilasi gugus asetamida (NH-COCH3) menjadi gugus amina (NH2). Kitosan diperoleh dari serbuk kulit udang yang melalui proses deproteinasi dengan NaOH 6%, proses demineralisasi dengan HCl 1,1 N, dan proses deasetilasi dengan NaOH 50%. Kitosan yang dihasilkan kemudian di cek kualitasnya dengan melakukan uji kelarutan menggunakan CH3COOH 1% dan pengecekan derajat deasetilasi dengan metode titrasi asam basa. Efektifitas dan efisiensi kitosan diuji dengan metode jar test menggunakan sampel air yang berasal dari outlet bak prasedimentasi IPAM Ngagel 2. Aspek yang diuji adalah kekeruhan dan pH dengan variabel berupa dosis koagulan dan kekeruhan air. Dari sisi biaya, yang akan dibandingkan adalah biaya pemakaian koagulan per hari dan per jam. Penelitian ini membandingkan kemampuan kitosan dengan aluminium sulfat 45% untuk menurunkan kekeruhan air dari outlet bak prasedimentasi IPAM Ngagel 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aluminium sulfat 45% lebih efektif dari kitosan, namun kitosan lebih efisien dari aluminium sulfat. Dari segi biaya, pemakaian aluminium sulfat 45% memakan biaya yang jauh lebih sedikit dibandingkan dengan pemakaian kitosan.
Studi Kehilangan Air Komersial (Studi Kasus: PDAM Kota Kendari Cabang Pohara) Iis Puspitasari Taini; Alfan Purnomo
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.728 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.25181

Abstract

Kehilangan air merupakan salah satu masalah yang sering dialami oleh PDAM di Indonesia. Menurut data resmi PDAM Kota Kendari tahun 2015, rata-rata kehilangan air PDAM Kota Kendari Cabang Pohara mencapai 57,99% yaitu sebesar 3.041.257 m3. Tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi komponen kehilangan air komersial dan menetapkan strategi penurunan kehilangan air komersial pada PDAM Kota Kendari Cabang Pohara. Penelitian ini menggunakan metode neraca air yang didapatkan dari data primer dan sekunder yaitu konsumsi resmi dan kehilangan air. Analisis perhitungan neraca air digunakan agar dapat mengetahui komponen kehilangan air komersial pada PDAM secara lebih spesifik. Tingkat kehilangan air yang diperoleh dari hasil perhitungan neraca air yaitu kehilangan air fisik sebesar 54,23% dan kehilangan air komersial sebesar 3,76%. Kehilangan air komersial ini setara dengan 197.302 m3 per tahun dengan kerugian sebesar Rp 2.261.825.700,- per tahun.
Analisis Air Baku Prioritas Skala Kota (Studi Kasus: PDAM Surya Sembada Surabaya) R. Cipta Anugerah Persada; Alfan Purnomo
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (726.807 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i1.29323

Abstract

Pasokan air baku Kali Surabaya sebesar 20 m3/detik masih belum mencukupi kebutuhan air rata-rata. Penambahan pasokan air baku dari air mata Umbulan sebesar 1 m3/detik diperkirakan hanya mencukupi hingga tahun 2017. Padahal semakin tahun pertumbuhan penduduk semakin naik dan kebutuhan air baik domestik maupun non domestik akan naik pula. Maka dari itu perlunya penambahan sumber air baku untuk memenuhi kebutuhan air tersebut. Padahal jatah debit Kali Surabaya yang diperoleh dari PT Jasa Tirta hanya 10,5 m3/detik. Analisa penelitian ini dimulai dari mencari tahu kebutuhan air domestik maupun non domestik, kemudian dibandingkan dengan pasokan air dari PDAM Surya Sembada Surabaya. Dari analisa tersebut, akan diketahui apakah pasokan air tersebut sudah memenuhi kebutuhan air Kota Surabaya dalam jangka waktu tertentu. Kemudian bila terjadi defisit, maka akan dicari sumber air-sumber air potensial yang nantinya bisa digunakan untuk sumber air baru.  Pemilihan sumber air baku yang berpotensi dipilih berdasar beberapa kriteria yaitu kualitas, kuantitas, kontinuitas, dan keterjangkauan.
PERENCANAAN SISTEM DISTRIBUSI AIR MINUM ZONA PELAYANAN GRESIK UTARA Alfan Purnomo
Envirotek : Jurnal Ilmiah Teknik Lingkungan Vol 11 No 2 (2019): Envirotek : Jurnal Ilmiah Teknik Lingkungan
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.188 KB) | DOI: 10.33005/envirotek.v11i2.10

Abstract

Saat ini zona pelayanan PDAM Kabupaten Gresik terbagi menjadi zona pelayanan Gresik Kota, Gresik Tengah dan Grsik Selatan. Dalam Rencana Induk SPAM (RISPAM) Kabupaten Gresik akan dilakukan pengembangan zona pelayanan yaitu dengan menambahkan zona pelayanan Gresik Utara dan Pulau Bawean. Daerah pelayanan Gresik Utara belum terlayani dengan sistem perpipaan dari PDAM. Selama ini kebutuhan air di daerah pelayanan Gresik Utara dilayani melalui HIPPAM dan program – program penyediaan air berbasis masyarakat. Pelayanan air bersih diharapkan dapat dijangkau oleh masyarakat dengan mudah. Tujuan dari perencanaan ini adalah untuk mempermudah masyarakat dalam mengakses air bersih dengan memasang sambungan rumah melalui pipa primer dan sekunder. Pada perencanaan kali ini digunakan aplikasi EPANET 2.0 untuk memodelkan sistem jaringan distribusi. Selain itu perencanaan ini juga bertujuan untuk mengetahui rencana anggaran biaya yang dibutuhkan untuk melakukan perencanaan sistem distribusi air minum di Zona Pelayanan Gresik Utara. Pada perencanaan kali ini digunakan metode geometri untuk memproyeksikan penduduk hingga tahun 2030. Dari hasil proyeksi didapatkan kebutuhan air rata – rata pada wilayah perencanaan pada tahun 2030 sebesar 206,7 L/detik dengan jumlah penduduk terlayani sebanyak 38.188 jiwa. Sumber air baku yang digunakan berasal dari Bendung Gerak Sembayat dengan debit 450 L/detik. Dari hasil analisis EPANET 2.0 didapatkan pada jaringan distribusi diameter pipa yang digunakan antara 63 mm hingga 900 mm. Tekanan terendah pada pipa primer sebesar 18,80 m dan pada pipa sekunder sebesar 15,14 m. Dan total biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan sistem penyediaan air minum ini sebesar Rp. 146.067.508.642.
Kajian Instalasi Pengolahan Air Limbah Domestik Terpusat di Indonesia Cathrine Gabriela Bakkara; Alfan Purnomo
Jurnal Teknik ITS Vol 11, No 3 (2022)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v11i3.90486

Abstract

Air limbah domestik ialah air limbah yang berasal dari usaha atau kegiatan pemukiman, rumah makan, perkantoran, perniagaan, apartemen, dan asrama. Idealnya air limbah tersebut harus diolah sebelum dibuang ke badan air agar memenuhi baku mutu yang telah ditetapkan oleh pemerintah dalam Peraturan Mentri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 68 Tahun 2016. Namun, kenyataannya seringkali air limbah domestik tidak diolah terlebih dahulu karena belum diketahui teknologi pengolahan yang sesuai dengan karakteristik air limbah domestik yang dihasilkan sehingga badan air menjadi tercemar. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, dikumpulkan data kualitas air limbah domestik di berbagai kab/kota di Indonesia kemudian membaginya menjadi 3 (tiga) kategori kualitas yaitu air limbah domestik dengan kadar pencemar rendah, sedang, dan tinggi. Dari setiap kategori kadar pencemar air limbah domestik dapat di rekomendasikan jenis-jenis teknologi yang sesuai dengan kebutuhan dengan mempertimbangkan kemampuan terknologi untuk meremoval bahan pencemar di dalamnya. Selain itu, turut mempertimbangkan kebutuhan lahan, biaya investasi serta biaya operasionalnya. Dari data kualitas air limbah domestik di 59 kab/kota di Indonesia, air limbah domestik dengan kadar pencemar rendah direkomendasikan menggunakan alternatif 1 dan 3. Apabila memiliki lahan yang cukup luas, dapat menggunakan alternatif 2 untuk mendapatkan effluent total coliform yang lebih baik. Untuk air limbah domestik dengan kadar pencemar sedang direkomendasikan diolah dengan alternatif 1 jika lahan yang tersedia terbatas. Apabila lahan yang tersedia cukup luas dapat menggunakan alternatif 5 untuk mendapatkan effluent total coliform yang lebih baik. Untuk air limbah domestik dengan kadar pencemar tinggi direkomendasikan dengan alternatif 1 jika lahan yang tersedia terbatas. Apabila lahan yang tersedia cukup luas dapat menggunakan alternatif 4 untuk mendapatkan effluent total coliform yang lebih baik.
Perencanaan Instalasi Pengolahan Air Limbah Industri Alkohol di Desa Bekonang Pandu Wijaya; Alfan Purnomo
Jurnal Teknik ITS Vol 11, No 3 (2022)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v11i3.90983

Abstract

Industri alkohol skala rumah tangga yang berada di Desa Bekonang Kabupaten Sukoharjo merupakan industri alkohol yang sudah lama ada dan sudah turun temurun dari generasi ke genarasi. Proses produksi alkohol di Desa Bekonang dilakukan dengan cara distilasi dengan bahan baku utama tetes tebu. Air limbah hasil distilasi ini memiliki warna coklat pekat dan berbau sedikit menyengat. Air limbah ini juga memiliki nilai COD, BOD, TSS dan nutrien yang tinggi sehingga perlu diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke lingkungan. Oleh karena itu akan direncanakan instalasi pengolahan air limbah untuk mengolah air limbah hasil produksi alkohol di Desa Bekonang. Perencanaan ini dilakukan dengan melakukan pengambilan data primer melalui survey dan uji laboratorium serta data sekunder dengan melakukan tinjauan pustaka. Dari tinjauan pustaka didapat kriteria desain yang kemudian digunakan untuk perhitungan unit pengolahan. Dari hasil perhitungan kemudian dilakukan penggambaran sesuai kaidah gambar teknik. Berdasarkan hasil dari perencanaan, didapat debit air limbah rata-rata sebesar 5,88 m3/hari dan debit air limbah maksimum sebesar 9,408 m3/hari. Air limbah dari masing-masing industri diangkut menuju IPAL dengan menggunakan mobil bak. Teknologi pengolahan yang digunakan adalah saringan, bak ekualisasi, anaerobik baffled reaktor, moving bed bioreactor, dan clarifier. Kualitas air limbah hasil pengolahan didapat sebesar TSS 74 mg/L, COD 193 mg/L, BOD 84 mg/L. Luas lahan yang diperlukan untuk pembangunan IPAL sebesar 246 m2 dengan total biaya investasi sebesar Rp208.103.096,43.
PENGENDALIAN KEHILANGAN AIR MELALUI PEMBENTUKAN DMA DI PERUMDA AIR MINUM TIRTA RAHARJA KABUPATEN BANDUNG. (STUDI KASUS : WILAYAH PELAYANAN KUTAWARINGIN DAN SODONG-SOREANG) Hidyawan Fariza; Adhi Yuniarto; Bustami Bustami; Alfan Purnomo
JURNAL DARMA AGUNG Vol 31 No 2 (2023): APRIL
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Darma Agung (LPPM_UDA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46930/ojsuda.v31i1.3007

Abstract

Permasalahan kehilangan air pada pendistribusian air bersih harus ditangani sehingga meningkatkan jumlah ketersedian air untuk dikonsumsi, pemanfaatan sumber air baku lebih optimal, menurukan biaya operasi serta melindungi kesehatan masyarakat karena menurunnya kualitas air akibat adanya kebocoran pipa. SPAM Kutawaringin dan Sodong-Soreang merupakan wilayah pelayanan Perumda Air Minum Tirta Raharja. Pada tahun 2021, area pelayanan ini memiliki angka kehilangan air masing-masing sebesar 31% dan 31,9%.NRW merupakan salah satu penyebab buruknya kinerja perusahaan air minum (Tommy dan Arya, 2016). NRW yang tinggi menyebabkan biaya operasional yang semakin tinggi untuk produksi, pemeliharaan, dan perbaikan (Heston dan Pasawati, 2016). Pembentukan DMA berdasarkan kriteria ideal merupakan salah satu strategi dalam mengendalikan kehilangan air terutama pada kehilangan air fisik. Pengendalian tekanan pada jaringan distribusi di DMA terpilih menjadi prioritas dalam menurunkan kehilangan air fisik sebelum DMA tersebut dioperasikan. Penggunaan PRV untuk manajemen tekanan pada sistem distribusi air dapat mengurangi kebocoran (Monsef dkk, 2018). Dalam penelitian ini dilakukan pengendalian tekanan berupa penempatan ulang Bak Pelepas Tekan (BPT), penempatan dan pengaturan ulang Pressure Reducing Valve (PRV), menunjukkan hubungan penurunan kehilangan air secara signifikan. Pada DMA Parung Serab, Pada DMA Parung Serab , melalui pengaturan ulang batasan tekanan pada PRV (alternatif 1) tingkat kehilangan air dapat menurun sebesar 1,6%. Pada Alternatif 2 melalui melalui pekerjaan penempatan ulang posisi satu PRV eksisting dan pengaturan batasan tekanannya dapat menurunkan tingkat kehilangan air sebesar 6,11%. Pada alternatif 3 melalui melalui pekerjaan penempatan ulang posisi satu PRV eksisting dan pengaturan batasan tekanannya dapat menurunkan tingkat kehilangan air sebesar 6,49%. Pada DMA Blok I, pada alternatif 1 melalui modifikasi sistem input sistem tingkat kehilangan air daapat menurun sebesar 2,34%. Alternatif 2 dilakukan melalui pemindahan Bak Pelepas Tekan (BPT) penurunan kehilangan air didapatkan sebesar 4,47%. Sedangkan pada Alternatif 3, melalui pemindahan BPT dan pemasangan 2 unit PRV, kehilangan air dapat menurun sebesar 6,36%.