Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGELOLAAN SUMBER DAYA GENETIK KABUPATEN MAMASA: KARAKTERISTIK CABAI LOKAL PANA’ LIPPAK-LIPPAK Marthen P. Sirappa; Religius Heryanto; Nurdiah Husnah
Jurnal Ilmiah Maju Vol 2 No 2 (2019): Jurnal Ilmiah Maju Vol.2 No.2 Juli - Desember 2019
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Sulawesi Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (593.964 KB)

Abstract

Keanekaragaman hayati memegang peranan penting dalam pembangunan nasional, baik sebagai sumberdaya hayati, sumber gen dalam program persilangan maupun sebagai sistem penyangga kehidupan. Karakterisasi merupakan salah satu bagian penting dalam pengelolaan sumber daya genetik untuk mendapatkan data karakter tanaman sebagai penciri dan pembeda dengan jenis lainnya. Kegiatan ini dilakukan melalui survei, observasi dan karakterisasi terhadap sumber daya genetik lokal spesifik. Data karakterisasi tanaman dituangkan dalam formulir pendaftaran varietas yang diajukan kepada Pemerintah Daerah untuk ditandatangani, dan selanjutnya dikirim ke Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PPVTPP) secara online untuk mendapatkan tanda daftar sertifikat. Hasil survei dan karakterisasi menunjukkan bahwa Sulawesi Barat memiliki sumber daya genetik yang beragam, termasuk cabai lokal Pana’ Lippak-Lippak Kabupaten Mamasa. Jenis cabai lokal tersebut mempunyai potensi dan peluang pasar yang cukup baik. Pana’ Lippak-Lippak telah didaftarkan oleh Pemerintah Daerah sebagai SDG tanaman lokal milik kabupaten Mamasa dengan adanya “Tanda Daftar Varietas Tanaman” yang dikeluarkan oleh PPVTPP, dengan Nomor 792/PVL/2018, tanggal 12 November 2018. Dengan terbitnya Tanda Daftar Varietas Tanaman tersebut menunjukkan bahwa Pana’ Lippak-Lippak menjadi milik masyarakat Mamasa dan telah tercatat dalam Daftar Umum Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) serta diumumkan dalam Berita Resmi PVT. Tindak lanjut yang perlu dilakukan adalah pelepasan varietas cabai lokal Mamasa sebagai varietas unggul local untuk dapat dimanfaatkan secara luas.
KAJIAN POTENSI DAN HASIL JAGUNG LOKAL YANG DITANAM SECARA TUMPANGSARI DENGAN KACANG TUNGGAK LOKAL PADA LAHAN KERING DI MALUKU: Study on The Potential and Yield of Local Corn Intercropped with Local Cowpea on Dry Land in Maluku Jurnal Agrotan; Marthen P. Sirappa
Jurnal Agrotan Vol. 2 No. 1 (2016): Jurnal Agrotan
Publisher : Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian, Peternakan, dan Kehutanan Universitas Muslim Maros

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian terhadap pertumbuhan dan hasil jagung lokal yang ditanam secara tumpangsari dengan kacang tunggak lokal pada lahan kering dengan pengelolaan tanaman terpadu dilakukan di Maluku Tengah tahun 2013. Tujuan kajian adalah untuk mengetahui pertumbuhan dan hasil jagung lokal yang ditanam secara tumpangsari dengan kacang tunggak lokal dengan penerapan inovasi teknologi pengelolaan tanaman terpadu. Perlakuan yang dikaji ada tiga, yaitu (A) tumpangsari jagung dengan kacang tunggak dimana jagung sebagai tanaman utama (4 baris jagung dan 4 baris kacang tunggak), (B) tumpangsari jagung dengan kacang tunggak dimana kacang tunggak sebagai tanaman utama (4 baris kacang tunggak dan 2 baris jagung, dan (C) Monokultur jagung. Jarak tanam jagung adalah75 cm x 40 cm(2 tanaman/lubang) dan jarak tanam kacang tunggak 40 cm x 20 cm(2 tanaman/lubang). Teknologi budidaya lainnya berdasarkan konsep pengelolaan tanaman terpadu, antara lain pemupukan berimbang, pupuk organik 2 ton per ha, sedangkan pengendalian hama penyakit berdasarkan konsep PHT. Luas petak percobaan 8 m x 10 m. Perlakuan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok yang diulang 3 kali. Parameter yang diamati dalam kajian ini adalah komponen pertumbuhan dan hasil tanaman jagung dan kacang tunggak lokal. Hasil kajian menunjukkan bahwa pola tumpangsari jagung dengan kacang tunggak lokal dengan tanaman utama kacang tunggak memberikan hasil setara jagung yang lebih tinggi (7,21 t/ha) dibandingkan dengan monokultur jagung atau tumpangsari jagung dengan kacang tunggak dengan tanaman utama jagung lokal. Kata Kunci: tumpangsari, tanaman utama, jagung lokal,kacang tunggak lokal, pengelolaan tanaman terpadu.