This Author published in this journals
All Journal Hemera Zoa
Simon He
Unknown Affiliation

Published : 17 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Pengaruh getah papaya (Carica papaya) terhadap infektivitas telur ascaridia galli pada ayam Endang Purwati; Simon He
Hemera Zoa Vol. 74 No. 3 (1991): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.231 KB)

Abstract

Ascaridiosis yang disebabkan oelh Ascaridia galli merupakan penyakit parasitik internal yang penting pada peternakan unggas. Di Amerika Serikat, cacing in merupakan parasit yang sangat banyak menyerang ternak ayam (Wehr, 1972). Di Bogor penyakit ini menduduki urutan ke 6 dari penyakit unggas (Gordon dan Poernomo, 1974) dan di Indonesia sendiri kejadiannya sebanyak 14.3% (Ginting, 1986).Penularan penyakit umumnya terjadi secara langsung yaitu dengan menelan telur cacing  yang infektif (Tugwell & Ackert. 1952). Perkembangan dari infeksi A. galli dipengaruhi oleh nutrisi, mineral dan suhu (El Tomi, Aziz, Kader dan Wahab, 1974, Reddy dan Ratman, 1985).
Pengaruh getah papaya (Carica papaya) terhadap infektivitas telur ascaridia galli dewasa in vitro Endang Purwati; Simon He
Hemera Zoa Vol. 74 No. 3 (1991): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.571 KB)

Abstract

Indonesia sangat kaya akan sumber daya obat yangberasal dari alam yang sampai saat ini belum seluruhnya diteliti dengan tuntas untuk dapat memenuhi berbagai persyaratan dan kriteria bahan obat yang dapat menjamin kebenaran khasiat, keamanan dan mutu obat yang dapat digunakan untuk pengendalian penyakit baik untuk manusia ataupun ternak.Soekaryo (1989) berpendapat sampai saat ini kebanyakan pemanfaatan obat bahan alam di Indonesia masih tradisional alam arti pemakaiannya terutama sebagai obat tradisionil atau jamu yang masih jarang dan belum diterima oleh para tenaga kesehatan dan institusi kesehatan sebagai obat pada pelayanan kesehatan formal.
An estimate of meat production loss in native chicken in Bogor and its surrounding districts due to gasterointestinal helminthiasis Simon He; Vici E.H.S. Susilowati; Endang Purwati; Risa Tiuria
Hemera Zoa Vol. 74 No. 3 (1991): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (749.264 KB)

Abstract

Among 78 native chicken from Bogor and its surrounding districts, only  4 (5.1%) with mean dressing weights of 1250 ± 29 g were free from parasiric worms. The other 74 chicken found infected with nematodes [mean nematode numbers (mn) = 24]. Cestodes (mc = 45) and trematodes (mt = 7). Single parasite class infections of nematode (mn = 18) and of trematode (mt = 96) were each one sample (1.3% with mws 1250 and 1180 g, respectively); single parasite class infections of cestode (mc = 47) were 15 (19.2% wit mw = 1145 g). Total single parasite class infections were 17 (21.8%). Mixed nermatode (mn = 29) + castode (mc = 50) were 41 (52,6%; mw = 1056 g), nematode (mn = 4) + trematode (mt = 28) were 2 (2.6% mw = 1225 g) and cestode (mc = 44) + trematode (mt = 6 - were 2 (2,6%; ws = 975 g). Total two parasite class infections were 45 (57.7%). Mixed infections of nematode (mn - 45) + cestode (mc = 44) + trematode (mt = 27) were 12 (15,4%; mw = 1034 g).
Gasterointestinal helminthiasis in dairy cows in Bandung and Garut, West Java, Indonesia and its effect on milk production Simon He; Dwi Sakti Nusantara; Anang Sujana; R. Yati Suwarti
Hemera Zoa Vol. 74 No. 3 (1991): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1127.945 KB)

Abstract

Ninety seven faecal samples from lactating and nonlactating dairy cows in Bandung and Garut, West Java, were collected and examined for gasterointestinal worm eggs, in the period from August 1988 untill March 1989. At the same time of faecal collection, the daily milk production of the cows were recorded, only 5 cows (5,15%) were clean from worm eggs while the other 92 (94.85%) were found infected with one, two or three parasitic helminht classes. Three samples (3,09%) were harbouring single nematode class infections, another 3 samples (3,09%) with single cestode class infections, 23 (23,71%) single trematode class infections. Hence 29 samples (29.90%) were infected with single class helminth parasites. Two samples (2.06% ) were harbouring mixed nematode and cestode infections, 17 (17.53%) with mixed nematode and trematode and 30 (30.93%) mxed cestode and trematode infections to make up 61 samples (62.89%) harbouring two helminth class infections. Fourteen cows (14.43%) harboured mixed infections of nematode, cestode and trematode.
Sistisekrosis pada Babi di Bali Nyoman Sadra Dharmawan; Emir A.A. Siregar; Simon He; Krisna M. Hasibuan
Hemera Zoa Vol. 75 No. 3 (1992): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7677.81 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian terhadap 5630 ekor babi yang dipotong di Rumah Potong Hewan Denpasar. Tujaun penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi sistiserkosis dan beberapa aspek epidemiologi yang mendukung kejadian tersebut.Dari hasil penelitian didapatkan bahwa tujuh ekor (0.012%) babi terinfeksi Cysticercus cellulosae. Infeksi ini hanya ditemukan pada babi-babi lokal yang dipelihara secara tradisional. Sedangkan C. tenuicollis ditemukan pada 932 ekor babi (16.5%), Infeksi ini terdapat baik pada babi-babi lokal persilangan maupun pada babi-babi yang berasal dari Jawa. Prevalensi pada babi asal Bali (18.1%) sangat nyata lebih tinggi (P < 0.01) dibandingkan dengan prevalensi pada babi asal Jawa (6.3%). Prevalensi pada babi-babi lokal persilangan asal Bali (19.42%) juga berbeda sangat nyata (P< 0.01) dengan prevalensi pada babi ras asal Bali (8.77%).Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa faktor epidemiologi lainnnya yang berpengaruh terhadap kejadian tersebut adalah akibat sistem pemeliharaan ternak dan sanitasi lingkungan asal babi yang terinfeksi masih kurang baik. 
Berbagai siput sebagai inang antara cacing trematoda Echinostoma revalutum di Bogor, Jawa Barat: 1. Lymnaea rubiginosa Lili Zalizar; Simon He; Supan Kusumamihardja; Arie Budiman
Hemera Zoa Vol. 75 No. 3 (1992): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4289.738 KB)

Abstract

Infeksi mirasidia Echinostoma revolutum pada siput Lymnaea rubiginosa yang dipelihara di Laboratorium menghasilkan larva iinfektif metaserkaria. Demikian juga dari  siput Lymnaea rubiginosa yang diambil dari sawah di desa Sindang Barang Bogor diperoleh larva infektif metaserkaria. Kecocokan siput Lymanea rubiginos sebagai inang antara Echinostoma revolutum berturut-turut mencapai 83.33% pada kondisi laboratorium dan 50.78% pada kondisi alamiah.Metaserkaria asal infeksi laboratorium maupun alamiah yang dikumpulkan dari siput Lymanaea rubiginosa dan diinfeksikan pada ayam, menghasilkan cacing dewasa Echinostoma revolutum. Rataan infektivitas metaserkaria tersebut pada ayam mencapai 35.80% dengan metaserkaria hasil infeksi laboratorium dan 19% dengan metaserkaria infeksi alamiah.
Infeksi Alamiah Toxocara vitulorum pada anak sapi perah di Bayong bong, Garut Simon He; Syahril H.
Hemera Zoa Vol. 75 No. 2 (1992): Jurnal Hemera Zoa
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

One hundred and two diary calves of 1-12 montha old at Bayonghong, Garut, West Java were examined  for toxacara vitulorum eggs in their feces.