Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

IDENTIFIKASI MIKROFILARIA PADA PENDERITA FILARIASIS PASCA PENGOBATAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS RUM BALIBUNGA Rony Puasa
Jurnal Kesehatan Vol. 9 No. 2 (2016): Jurnal Kesehatan
Publisher : UPPM Poltekkes Kemenkes Ternate

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32763/4zzh8335

Abstract

Latar belakang ; Filariasis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi parasit nematoda yang tersebar di Indonesia. Penyakit ini jarang terjadi pada anak karena manifestasi klinisnya timbul bertahun-tahun kemudian setelah infeksi. Gejala pembengkakan kaki muncul karena sumbatan mikrofilaria pada pembuluh limfe yang biasanya terjadi pada usia di atas 30 tahun setelah terpapar parasit selama bertahun-tahun. Program eliminasi dilaksanakan melalui pengobatan massal dengan Diethylcarbamazine Citrate (DEC) dan Albendazol setahun sekali selama 5 tahun. Indonesia akan melaksanakan eliminasi penyakit kaki gajah secara bertahap dimulai pada tahun 2002 di 5 kabupaten percontohan. Jika ditemukan mikrofilaril rate ≥ 1% pada satu wilayah maka daerah tersebut dinyatakan endemis dan harus segera diberikan pengobatan secara masal selama 5 tahun berturut-turut. Dari data Kemeterian Kesehatan tahun 2010 Provinsi Maluku Utara termasuk pada daerah yang memiliki angka kesakitan akibat mikrofilaria patut menjadi perhatian, karena penyakit ini merupakan penyakit menular. Salah satu daerah di Provinsi Maluku Utara yang harus menjadi perhatian akibat kesakitan filariasis adalah Kota Tidore Kepulauan. Pada tahun 2011 Kota Tidore menjadi daerah endemis filariasis dengan miccrofilarial ratediatas ≥ 1%, angka standar nasional menggambarkan daerah endemis filariasis. Tujuan ; tujuan penelitian adalah ; untuk memberikan gambaran mikrofilaria yang ditemukan pada sediaan darah penderita filariasis pasca pengobatan di Wilayah Kerja Puskesmas Rum Balibunga Kecamatan Tidore Utara Kota Tidore Kepulauan. Metode ; penelitian ini merupakan penelitian Deskriptif, dimana hasil dari identifikasi mikrofilaria pada penderita filariasis pasca pengobatan di Wilayah Kerja Puskesmas Rum Balibunga akan digambarkan dalam bentuk jumlah orang dan presentase spesies. Hasil ; pemeriksaan mikrofilaria pada penderita filariasis pasca pengobatan diwilayah kerja Puskesmas Rum Balibunga Kecamatan Tidore Utara Kota Tidore Kepulauan, dari 20 sampel darah responden yang diidentifikasi tidak ditemukan mikrofilaria didalam darahnya. Kesimpulan ; dari hasil penelitian dapat dikatakan akan terjadi penurunan kasus filariasis, hal ini disebabkan sumber penularan atau penderita filariasis tidak ditemukan mikrofilariasis.
IDENTIFIKASI TELUR SOIL TRANSMITTED HELMINTH PADA FECES ANAKANAK MENGGUNAKAN METODE FLOTASI DI DESA NUSLIKO KECAMATAN WEDA KABUPATEN HALMAHERATENGAH Wahyuni Asdar; Rony Puasa; Samad Hi Husen
Jurnal Kesehatan Vol. 12 No. 2 (2019): Jurnal Kesehatan
Publisher : UPPM Poltekkes Kemenkes Ternate

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32763/fmwfr971

Abstract

Kecacingan merupakan masalah kesehatan yang tersebar luas baik di daerah tropis maupun subtropis. Prevalensi cacingan di Indonesia pada umumnya sudah menyebar secara luas, baik di daerah pedesaan maupun di daerah perkotaan, terutama pada golongan penduduk yang kurang mampu, dengan sanitasi buruk. Spesies utama yang banyak menginfeksi masyarakat adalah cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing cambuk (Trichuris trichiura) dan cacing kait (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale). Desa Nusliko, Kecamatan Weda Kabupaten Halmahera Tengah merupakan daerah yang penduduknya masih memiliki pengetahuan tentang kesehatan yang rendah, sehingga memungkinkan untuk terjadi penularan penyakit kecacingan. Tujuan Penelitian ;untuk mengidentifikasi telur Soil Trasmitted Helmither menggunakan Metode Flotasi pada anak – anak usia 6 – 12 tahun. Metode Penelitian : penelitian Deskriptif, dengan menggunakan metode pemeriksaan Flotasi, dengan jumlah sampel feces 40. Hasil : positif telur cacing Soil transmitted Helmith pada 12 anak (30%) dan 28 anak (70%) negatif, sedangkan distribusi berdasarkan spesies pada anak yang positif yakni ; Ascaris lumbricoides 6 anak (50 %), Trichuris trichiura 3 anak (25 %), Mix (Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura ) 2 anak (17 %) dan Mix (Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura dan hookwoom ) 1 anak ( 8%).Kesimpulan : positif telur cacing Soil transmitted Helmith pada 12 anak (30%) dan 28 anak (70%) negatif.
Kemampuan Garam Konsumsi Sebagai Larutan Flotasi Untuk Deteksi Telur Nematoda Usus Rony Puasa; Dhini Dwiardanti
Jurnal Kesehatan Vol. 15 No. 2 (2022): Jurnal Kesehatan
Publisher : UPPM Poltekkes Kemenkes Ternate

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32763/4tw6wz32

Abstract

Latar belakang ; Flotasi atau pengapungan merupakan salah satu metoda untuk mendeteksi telurcacing nematoda usus. Metoda ini lebih baik dalam mendeteksi telur nematoda usus dibandingkanmetoda langsung. Penggunaan metoda flotasi sering digunakan peneliti untuk mendeteksi telurcacing baik secara langsung dari feses ataupun pada makanan yang diduga mengalami pencemarantelur cacing nematoda usus. Umumnya larutan flotasi yang digunakan peneliti adalah NaCl (pa) atauNaCl murni. Peneliti memodifikasikan larutan NaCl (pa) dengan menggantinya menggunakan duamerek larutan garam konsumsi yang sering digunakan oleh masyarakat. Tujuan ; Mengidentifikasitelur cacing nematoda usus menggunakan metode flotasi pada dengan garam konsumsi konsentrasi27% dan 28%. Metode ; Penelitian ini menggnakan metode eksperimen laboratorium denganpendekatan deskriptif. Hasil ; Konsentrasi 27% dan 28% garam konsumsi merek M dan R terjadi flotasi telur cacing Trichiuris trichiura dan Ascaris lumbricoides sedangkan untuk control NaCl (pa)terjadi flotasi telur telur cacing Trichiuris trichiura, Ascaris lumbricoides dan Hookworm.Kesimpulan ; Garam konsumsi merek M dan R dengan konsentrasi 27% dan 28% hanya dapatmengapungkan spesises Trichiuris trichiura dan Ascaris lumbricoides.
PENDAMPINGAN PENGGUNAAN GARAM KONSUMSI UNTUK MENGIDENTIFIKASI TELUR NEMATODA USUS DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN PUTRA BAHARI TERNATE Rony Puasa; Hikmawati Ali; Nur Fita Adistianingsih Naser
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 2 (2023): martabe : jurnal pengabdian kepada masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v6i2.624-630

Abstract

Latar belakang ; Penggunaan NaCl 99,8% (pa) dibidang parasitologi adalah untuk identifikasi telur cacing nematoda usus metode flotasi atau pengapungan. Metode flotasi adalah merupakan salah satu tekhnik untuk identifikasi telur cacing nematoda usus berdasarkan berat jenis  (BJ) telur cacing, dimana bila BJ telur cacing lebih rendah dari BJ suspensi NaCl, maka  telur cacing akan mengapung. BJ telur cacing nematoda usus kisaran 1,12 sampai 1,15.  Umumnya metode flotasi menggunakan NaCl (pa) 33% atau NaCl jenuh. Semua jenis garam dapat digunakan untuk melakukan pemeriksaan laboratorium metode flotasi,  namun dengan volume yang berbeda. Untuk metode flotasi dalam mengidentifikasi telur Nematoda Usus digunakan NaCl jenuh. Garam konsumsi mudah didapat dipasaran dengan kandungan NaCl 94%. Tujuan : Untuk menambah wawasan siswa Sekolah Menengah Kejuruan  tentang Modifikasi Metoda Flotasi dalam  mendeteksi telur nematoda usus. Manfaat : Menambah wawasan keilmuan bidang Parasitologi khususnya modifikasi metode identifikasi telur cacing Nematoda usus dengan menggunakan garam konsumsi dapat diterap dibangku pendidikan dan dunia kerja. Metode : Penyampaian materi/ diskusi, Praktikum (Demonstrasi dan Redemonstrasi) dan Evaluasi. Hasil : berdasarkan hasil evaluasi diperoleh Peningkatan pemahaman dan ketrampilan dari siswa SMK tentang teknik modifikasi metode pemeriksaan telur cacing Nematoda usus menggunakan bahan alternatif yakni garam konsumsi rumah tangga.
The Effect of Sample Volume Variation on Blood Glucose Measurements Using POCT Devices within the Context of Public Health Services Rony Puasa; Aan Yulianingsih; Febrianti Jakaria; Nikma Nikma
Media Kesehatan Politeknik Kesehatan Makassar Vol 20 No 2 (2025): Media Kesehatan
Publisher : Direktorat Politeknik Kesehatan Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/medkes.v20i2.1798

Abstract

Blood glucose testing is a crucial step in the detection and monitoring of diabetes mellitus, especially within the context of public health services. The use of Point-of-Care Testing (POCT) devices has become a practical choice due to their speed and ease of use. However, the accuracy of the test results can be influenced by various factors, one of which is the volume of the blood sample utilized. This study aims to evaluate blood glucose measurements using variations in sample volume on a POCT device. The research employed a laboratory experimental design with a within-subject approach. A total of 55 respondents participated in the study. The blood sample volume variations tested were 0.3 µl, 0.5 µl, and 0.7 µl. The measurements were carried out using the Easy Touch POCT device, and the results were compared with a standard laboratory control instrument. The study findings indicate that a blood sample volume of 0.7 µl produced glucose values most consistent with the standard laboratory results, where, based on SPSS analysis, the p-value was > 0.05 (0.137 > 0.05), indicating no significant difference between the POCT measurements and the standard laboratory instrument at this volume. In contrast, sample volumes of 0.3 µl and 0.5 µl showed significant differences compared to the reference values (p < 0.05), which could affect the accuracy of the measurements and potentially impact the accuracy of diagnosis and patient monitoring. Based on these results, it can be concluded that the volume that yields the highest accuracy for glucose testing using the Easy Touch POCT device is 0.7 µl. This study highlights the importance of standardizing blood sample volume in the use of POCT to enhance the accuracy of test results, particularly in primary healthcare settings such as community screening programs or public health centers (puskesmas).
Kajian Kebijakan Strategi Pelaksanaan Program Eliminasi Malaria di Kabupaten Halmahera Selatan Sumiati Tomia; Kartini M Ali; Rony Puasa; Husen Alhadar
Jurnal Sehat Mandiri Vol 19 No 1 (2024): Jurnal Sehat Mandiri, Volume 19, No.1 Juni 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33761/jsm.v19i1.1320

Abstract

Eliminating malaria through reviewing government policies and implementing effective prevention programs has become a major focus in efforts to reduce the burden of this disease. The aim of this research is to examine the implementation of Minister of Health Decree No. 293 of 2009 concerning malaria elimination policies including understanding, implementation, commitment, innovation and sustainability. This research design uses a qualitative design with a descriptive research type using an interview method using a questionnaire. Researchers conducted theme analysis using qualitative data. This research was conducted at 7 Community Health Centers in South Halmahera Regency. The population in this study were people who worked in community health centers, with the sample being the head of the community health center, malaria program manager and laboratory staff. Research shows 85.8% of malaria elimination requirements in South Halmahera Regency, with several requirements that do not comply with assessment standards, and positive cases of malaria reported by community health centers. In conclusion, to achieve malaria elimination status in districts/cities, three conditions must be met: API rate <1 per thousand population, positivity rate <5%, and no local transmission in the last 3 years. Advice to policy holders is to carry out regular monitoring and evaluation of activities to increase community participation, improve communication and maintain control programs.