Saidul Amin
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : An-Nida'

Konflik Sosial Dalam Masyarakat Akibat Ibadah-Ibadah Sunnah Abu Bakar; Abd Ghofur; Afrizal M; Saidul Amin; Saleh Nur
An-Nida' Vol 45, No 1 (2021): January - June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v45i1.16532

Abstract

Artikel ini membahas tentang konflik sosial yang terjadi di tengah-tengah masyarakat akibat ibadah-ibadah sunnah. Konflik sosial ini sudah terjadi semenjak lama, dalam bahasa agama dikenal istilah  khilafiyah. Konflik antar masyarakat Islam tentang masalah ibadah sudah pernahterjadi pada masa Rasulullah Saw. Namun  pertikan  yang terjadi dapat ditanyakan langsung kepada Rasulullah Saw, dengan demikian masalahnya selesai. Akan tetapi  setelah Rasulullah wafat. Pertikan tersebut berlanjut pada masa khulafaurrosidin dan  pada masa tabi’ tabi’in kemudian  sampai pada masa imam-imam mazhab. Bahkan berlanjut sampai saat ini dan bahkan dimungkinkan sampai akhir zaman. Adapun masalah perselisihkan dikalangan sebahagian  masyarakat islam adalah, masalah membaca basmalah  pada awal surah al-fatihah dalam Sholat. Masalah Qunut  pada sholat Subuh,  Zikir setelah sholat  fardhu, dilakukan secara  berjama’ah atau secara individu, berdo’a  secara berjamaah atau  individu setelah Shalat Fardhu dan membaca yasin di rumah orang meninggal. Masalah yang ibdah Wajib boleh dikatakan  mereka sepakat atau  tidak bertentangan, karena ada petujuk  yang jelas menurut mereka. Kemudian yang diperselisihkan masalah sunah yang sifatnya furu’iyah.
Minoritas Dalam Masyarakat Plural dan Multikultural Perspektif Islam Masyhuri Masyhuri; Ali Akbar; Saidul Amin
An-Nida' Vol 43, No 2 (2019): July - December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v43i2.12322

Abstract

Kelompok minoritas di Indonesia sering kali kehilangan hak-haknya sebagai warga negara bukan diakibatkan oleh perlakuan mayoritas semata, melainkan juga kerap dilakukan oleh negara. Hak kaum minoritas yang acap kali tidak bisa dipenuhi di negeri ini adalah hak untuk bebas beragama dan berkeyakinan serta kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan keyakinan tersebut. Dalam konteks pendidikan Islam upaya untuk memahami realitas perbedaan dalam beragama, lembaga-lembaga pendidikan Islam diharapkan bisa menanamkan kepedulian komunitas agama lain dengan saling bekerjasama dan membangun dialog melalui pendidikan multi kultural. Kesadaran multikulturalisme bukan sekadar memahami keberbedaan, namun juga harus ditunjukkan dengan sikap konkrit bahwa sekalipun berbeda keyakinan, namun sama-sama sebagai manusia yang mesti diperlakukan secara manusiawi. Pendekatan dialogis yang mengarah pada budaya saling toleransi,  membuang kebencian dan permusuhan, kemampuan untuk   saling  mendengar, sikap akomodatif, dan saling tukar informasi untuk mencapai kesepahaman bersama. Pendekatan yang ditawarkan oleh Waleed el-Ansary dan Mashood Baderin cukup memberikan solusi bagi konflik antar umat beragama yang diakibatkan oleh kedangkalan dan kesenjanagan pemahaman dalam memahami ajaran agama masing-masing.
PEMBAHARUAN DALAM PEMBAHARUAN Saidul Amin
An-Nida' Vol 36, No 2 (2011): July - December 2011
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v36i2.300

Abstract

Egypt and India are the two centers of world civilization that gave birth to philosophical thought and tamaddun. These two areas have ecperienced ups and downs and ups and downs, both when standing alone or when colonized by foreign nations. Such conditions would have different impacts, both positive and negative. Negative aspects of giving birthor in children’s mental colony complex lander. While the positive aspects of growing patriotic souls among his people. It is natural that these two regions spemd a lot of great characters, among them Muhammad ‘Abduh and Ahmad Khan. Both these figures are considered a corner stone for the renewal of Islam in their respective continents. There are similarities but also many differences in principle between the two thoughts. Event intellectuals often assume both the Muslims and the west are at a parallel. Is it true? So this study tries to analyze the two men thought of the aspects of similarities and differences to answer all the doubts and confusion that ever existed.