Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

EKSISTENSI KAUM DIFABEL DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN Khairunnas Jamal; Nasrul Fatah; Wilaela Wilaela
Jurnal Ushuluddin Vol 25, No 2 (2017): July - December
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v25i2.3916

Abstract

Keberadaan kaum penyandang cacat tidak dapat dinafikan dan merupakan bagian dari kehidupanmenusia. Berdasarkan teori ilmu sosial secara umum penyandang cacat dapat dikelompokkan menjaditiga, yaitu fisik, non fisik, dan ganda. Semua kelompok penyandang cacat ini bermuara kepadaketidakmampuan dan tidak berfungsinya organ-organ fisik (panca indra) maupun non fisik. Padatataran realita para penyandang cacat masih sering mendapatkan perlakuan diskriminasi dan stigmanegatif dari beberapa pihak. Tulisan ini berusaha untuk melihat bagaimana al-Qur’an berbicaramengenai penyandang cacat serta eksistensinya dalam tatanan hukum dan sosial. Terminologi yangdigunakan al-Qur’an untuk menunjukkan keberadaan penyandang cacat adalah adalah a’ma, akmah,bukm, dan shum. Terdapat 38 ayat yang tersebar dalam 26 surat dalam al Qur’an. Dari jumlahyang cukup banyak tersebut hanya ada lima ayat yang berbicara mengenai cacat fisik dan selebihnyaberbicara mengetani cacat non fisik. Dari tulisan ini dapat diketahui bahwa penyandang cacat menurutal-Qur’an orang yang memiliki kecacatan fisik dan teologis. Dari segi keberadaannya, mereka adalahsama dengan individu normal lainnya, baik dalam aspek hukum maupun sosial. Meskipun dalambeberapa hal dan kondisi memiliki kekhususan sebagai bentuk perlindungan.
Upgrading Keterampilan Pemulasaran Jenazah Bagi Jamaah Mushalla Mutiara Hikmah Kubang Jaya Kampar Nasrul Fatah; Hasan Hasan; Trimono Trimono
Jurnal Pengabdian West Science Vol 5 No 06 (2026): Jurnal Pengabdian West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jpws.v5i06.3578

Abstract

Mushalla Mutiara Hikmah, yang terletak di kawasan perumahan baru, tidak memiliki kapasitas internal untuk mengelola upacara pemakaman Islam dan bergantung pada lembaga eksternal. Situasi ini menunjukkan perlunya memperkuat keterampilan masyarakat dalam memenuhi kewajiban fardhu kifayah. Program ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman peserta mengenai hukum Islam terkait pemakaman serta mengembangkan keterampilan praktis dalam memandikan, menyelimuti, mendoakan, dan menguburkan jenazah. Program ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Partisipatif (PAR), yang terdiri dari beberapa tahap: mengamati kondisi masyarakat, mengidentifikasi kebutuhan, merencanakan tindakan, memberikan pelatihan teoritis dan praktis, serta melakukan evaluasi partisipatif. Kuliah interaktif, demonstrasi, dan praktik kelompok secara langsung digunakan untuk memastikan transfer pengetahuan dan keterampilan yang efektif. Dua puluh peserta mengikuti pelatihan dan menunjukkan peningkatan yang jelas baik dalam pengetahuan maupun keterampilan praktis, terutama dalam memandikan dan mengkafani jenazah. Terlihat peningkatan kepercayaan diri dan kesiapan untuk berpartisipasi dalam pengelolaan pemakaman, yang mengarah pada pembentukan Tim Pengelolaan Pemakaman internal. Pelatihan ini memperkuat kapasitas sosial-keagamaan masyarakat dan mengurangi ketergantungan pada layanan eksternal. Pelatihan ini secara efektif membekali peserta untuk melaksanakan ritual pemakaman yang esensial dan mendukung pembentukan pengelolaan internal yang berkelanjutan untuk kebutuhan di masa depan.
Mitoni Tradition: Between Local Wisdom and Maqashid Shari'ah View Nasrul Fatah; Syarifah Laili
Jurnal Multidisiplin West Science Vol 5 No 07 (2026): Jurnal Multidisiplin West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jmws.v5i07.3548

Abstract

Indonesian society is very thick with various traditions in their daily lives. Among the traditions that are still maintained and carried out is the mitoni tradition. This tradition is practiced by Javanese people or Javanese descendants, whether in Java or outside Java and across religions.  It is not uncommon for the implementation of various traditions to be clashed with Islamic law, whether it is considered appropriate or not. So this paper tries to elaborate the mitoni tradition as local wisdom with the maqashid shari'ah approach. Using a qualitative-narrative research method, this research is based on literature data. This study found that the mitoni tradition historically originated from religious practices outside Islam with its various rituals. However, in the modern era, its implementation has undergone many changes and is identical to Islamic rituals, such as the recitation of Qur'anic verses, shalawat and Islamic versions of salvation prayers.  In the perspective of maqashid shari'ah, this tradition can be accommodated in sharia as long as elements that have the potential to contain shirk are not implemented and replaced with more Islamic ones. This is because there are values of preserving religion, life, integrity and property that are in accordance with maqashid.