Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

SEMIOTIKA FERDINAND DE SAUSSURE PADA SASTRA LISAN KABATA KORA-KORA DESA SELAMON KECAMATAN BANDA LAMUSA , ROMI; WONGSOPATTY, ECA; KASMAWATI
PARADIGMA: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Humaniora Vol 9 No 2 (2023): PARADIGMA : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Humaniora
Publisher : LPPM Universitas Banda Naira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62176/paradigma.v9i2.495

Abstract

Sastra lisan adalah karya sastra yang diwariskan secara turun temurun melalui mulut ke mulut. Saat ini sastra lisan sudah mulai hilang karena ketidaksadaran masyarakat tentang pentingnya nilai-nilai luhur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Semiotik a Ferdinand De Saussure pada Sastra Lisan Kabata Kora-Kora Desa Selamon Kecamatan Banda. Jenis penelitian ini berupa jenis penelitian kualitatif dan lokasi penelitian ini dilakukan di Desa Selamon dari bulan Maret sampai April. Subjek penelitian ini terdiri dari 3 narasumber yaitu tetua adat yang ada di Desa Selamon. Sumber data dalam penelitian ini adalah teks Kabata Kora –Kora Desa Selamon Kecamatan Banda. Data penelitian ini berupa kata dan kalimat yang mengandung semiotika Ferdinand De Saussure dalam Kab ata Kora-Kora Desa Selamon Kecamatan Banda. Teknik pengumpulan data adalah menentukan narasumber, menyiapkan pertanyaan, melakukan wawancara, memeriksa dan membaca kembali hasil wawancara, mengidentifikasi atau menetapkan data sesuai dengan teori penelitia n dan di analisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian dalam semiotika Ferdinand De Saussure pada sastra lisan Kabata Kora-Kora Desa Selamon Kecamatan Banda terdiri dari 5 penanda dan 5 petanda, yakni 2 penanda dan petanda berasal dari aspek material dari bahasa yaitu apa yang dilihat dan didengar, 2 penanda dan petanda yang alamiah yaitu tampak hewan, dan 1 penanda dan petanda yang berasal dari hasil produksi manusia. Secara keseluruhan makna dari Kabata Kora-Kora Desa Selamon yaitu memberi petunjuk yang dihasilkan dari penanda dan petanda tersebut.
DISCOURSE, IDENTITY, AND RITUAL ROLES: PARTICIPANT DYNAMICS IN THE ANRONG BUNTING KARAENG WEDDING TRADITION OF JENEPONTO Kasmawati, Kasmawati; Tajuddin, Maknun; A.B Takko, Bandung; Munira, Hasjim
Jurnal Gramatika Vol 11, No 2 (2025): Autumn Issue (October–March)
Publisher : Universitas PGRI Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22202/jg.2025.v11i2.10288

Abstract

This study investigates the role of participants in the Anrong Bunting Karaeng ritual speechwithin the Jeneponto community’s wedding processions in South Sulawesi, Indonesia. Using an ethnographic approach framed by Duranti’s anthropological linguistics, the research analyzes ritual texts and performances from five ceremonial stages: Akbakra (yellow powder), Appasili (bridal bath), Akkrontigi (girlfriend night), Appantama Baju (wearing the wedding dress), and Appabajikang (uniting). Findings indicate two leading participant roles: internal participants encoded in the ritual texts through pronouns (e.g., proclitics ku- ‘I’, enclitics -na ‘he/she’, -nu ‘you’), and external participants comprising families, relatives, and guests. Beyond the grammatical functions, these pronouns construct social roles, hierarchies, and symbolic authority, with Anrong Bunting Karaeng serving as both animator and mediator between human and spiritual realms. The study highlights that ritual speech encodes power relations and collective identity, positioning participants as actors and carriers of cultural values. However, the analysis remains primarily descriptive; further research should integrate multimodal data (gesture, intonation, performance) and explore generational changes in ritual interpretation. This research contributes to anthropolinguistics by showing how ritual discourse preserves cultural identity while adapting to modernity. It also emphasizes the importance of documenting and analyzing local rituals to sustain intangible cultural heritage in Indonesia and beyond.
Pelatihan Storytelling Partisipan Tradisi Lisan “Buka Kampung” untuk Penguatan Literasi dan Identitas Budaya Remaja di Banda Naira Kasmawati, Kasmawati; Adam, Sarita; Burhima, Nurullailah; Rusdi, Faradifa; Tehuayo, Isti; Sujan, Lestari; Waliwulu, Melati; Samaun, Nurhayati; Dahlan, Abi
Abdimas Galuh Vol 8, No 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ag.v8i1.21986

Abstract

Pelatihan storytelling partisipan yang melibatkan masyarakat khususnya remaja dalam cerita tentang Kebudayaan yang ada di Banda Naira. Tradisi lisan Buka Kampung sebagai bukti nyata peninggalan para leluhur sebagai bentuk penghormatan bagi tamu undangan dan selalu berhati-hati terhadap kejadian pada zaman penjajahan. Pengabdian masyarakat bertujuan untuk terus melestarikan budaya yang ada di Banda Naira khususnya para remaja agar menjaga ketenteraman budaya pada saat perayaan-perayaan, baik perayaan kecil lebih-lebih perayaan besar. Kegiatan pengabdian ini melibatkan para remaja di Banda Naira untuk bercerita tentang asal mula muasal usul muasal dari Buka Kampung dari setiap desa, di antaranya Desa Kampung Baru, Desa Nusantara, Desa Waer, dan Desa Selamon. Melalui pendekatan storytelling yang dilakukan masing-masing remaja sebagai perwakilan maka dapat diketahui cerita rakyat berupa Buka Kampung yang berbeda-beda, namun memiliki persamaan. Hasil pengabdian kepada masyarakat Banda Naira khususnya para remaja menunjukkan adanya makna di setiap cerita rakyat pada saat Buka Kampung. Makna Buka Kampung Desa Kampung Baru mempererat hubungan sosial antarwarga negeri. Makna Buka Kampung Desa Nusantara sebagai ungkapan permohonan keselamatan. Makna Buka Kampung Desa Waer sebagai perjuangan dan untuk menghormati nenek moyang. Makna Buka Kampung Desa Selamon adalah kegigihan masyarakat adat Selamon dalam berkorban melawan penjajahan.