Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

TEKNOLOGI BUDIDAYA VARIETAS UNGUL BARU PADI SAWAH PADA DUA MUSIM TANAM Ikhwani, Ikhwani
Informatika Pertanian Vol 23, No 1 (2014): JULI, 2014
Publisher : Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (489.093 KB) | DOI: 10.21082/ip.v23n1.2014.p19-28

Abstract

PEMBINAAN KARAKTER MANDIRI ANAK ASUH (Studi Realitas Pembinaan Karakter Mandiri Anak Asuh di Panti Asuhan Putri Muhammadiyah Kecamatan Pekuncen Kabupaten Banyumas) Ikhwani, Ikhwani
Jurnal Tawadhu Vol 4, No 2 (2020): KEPENDIDIKAN ISLAM DAN PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM
Publisher : IAIIG Cilacap

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research has several backgrounds. First, the self reliance is one of the formulations in the goals of national education. Second, the self reliance is a national character that must be built. Third, crisis of self reliance appears in society. Fourth, not all children / adolescents receive adequate care, including fostering self reliance from the family environment. Fifth, orphanages have a significant influence in handling children / adolescents who experience neglect problems. The formulation of the problem posed is how the concept of self reliance developed by the orphanage, how is the self reliance character development process applied to foster children in orphanages, how is the impact of this self reliance character development for orphaned children in orphanages. The approach used is phenomenology approach with analytical descriptive methods. The research was focused on Panti Asuhan Putri Muhammadiyah Kecamatan Pekuncen Kabupaten Banyumas. The data collected using observation techniques and in-depth interviews with the object of research. The research produces several conclusions. First, the foster children showed a good level of self reliance. Second, the efforts of the orphanage in creating the self reliance of foster children. Third, the supporting factors. Fourth, the inhibiting factors. Fifth, the model for developing self-reliance on the orphanages
Gambaran Kadar Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (Sgpt) pada Perokok Aktif di Kabupaten Cirebon Prambudi, Hery; Supenah, Pipin; Ikhwani, Ikhwani
Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol. 2 No. 1 (2023): Jurnal Multidisiplin Indonesia
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jmi.v2i1.146

Abstract

Merokok dapat mengakibatan kesehataan terganggu dengan mengonsumsi rokok terus menerus dapat menimbulkan berbagai penyakit seperti penyakit jantung, gangguan sistem pernafasan, kanker serta fungsi hati. Kandungan pada rokok yang paling dominan untuk menmpegaruhi fungsi hatinya yaitu tar, nikotin dan karbon momoksida (CO). Hati merupakan organ terpenting dalam tubuh manusia yang berfungsi untuk metabolisme dan detoktifikasi tubuh secara alami. Kerusakan pada fungsi hati dapat diketahui dengan salah satu pemeriksaan yaitu dengan meningkatnya kadar Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT) dalam aliran darah. Kerusakan fungsi hati diindikasikan dengan meningkatnya kadar Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT) pada perokok aktif di Kabupaten Cirebon pada usia 17-25 dan mengukur persentase kadar Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT) yang di luar rentang normal pada perokok aktif di Kabupaten Cirebon pada usia 17-25 tahun. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif analitik sedangkan untuk metode pemeriksaan menggunakan metode kinetik-IFCC. Hasil Penelitian ini menunjukan 30 sampel yang di lakukan pemeriksaan kadar Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT) dalam batas normal yang termasuk perokok ringan- sedang. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan gambaran kadar Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT) pada perokok aktif pada usia 17-25 tahun di kabupaten Cirebon dalam kategori perokok ringan – sedang masih dalam batas normal
Sosialisasi Kesehatan : Deteksi Dini Pencegahan Stunting pada Remaja melalui Pemeriksaan Laboratorium Hitung Jumlah Eritrosit Supenah, Pipin; Setiawan, Fiki; Ikhwani, Ikhwani
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 5 (2025): Volume 8 No 5 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i5.19384

Abstract

ABSTRAK Stunting yang merupakan masalah gizi jangka panjang, masih menjadi masalah besar di Indonesia. Kekurangan nutrisi di usia muda terutama di kalangan remaja perempuan, dapat meningkatkan risiko stunting pada generasi berikutnya. Dengan menghitung jumlah eritrosit, anemia yang sering dikaitkan dengan stunting dapat dideteksi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran jumlah eritrosit sebagai deteksi dini stunting pada remaja putri. Metode kuantitatif purposive sampling digunakan dalam penelitian ini. Sampel penelitian terdiri dari 48 remaja putri sekolah menengah atas. Data dikumpulkan melalui pengisian kuesioner dan metode Neubauer yang ditingkatkan untuk menghitung jumlah eritrosit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar remaja putri 85% memiliki jumlah eritrosit dalam batas normal; namun 13% remaja putri mengalami anemia (jumlah eritrosit yang rendah), dan 2% memiliki jumlah eritrosit yang tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara menghitung jumlah eritrosit dan kemungkinan terkena stunting. Jumlah eritrosit yang dihitung secara berkala pada remaja putri sangat penting untuk deteksi dini dan intervensi yang tepat karena anemia dapat menjadi tanda awal risiko stunting. Kata Kunci: Stunting, Remaja, Hitung Jumlah Eritrosit ABSTRACT Stunting, a long-term nutritional problem, remains a major issue in Indonesia. Malnutrition at a young age, especially among adolescent girls, can increase the risk of stunting in the next generation. By counting the number of erythrocytes, anemia that is often associated with stunting can be detected. The purpose of this study was to determine the relationship between erythrocyte count and the likelihood of stunting in adolescent girls. Quantitative purposive sampling method was used in this study. The study sample consisted of 48 high school adolescent girls. Data were collected through questionnaire completion and the improved Neubauer method for calculating erythrocyte count. The results showed that most of the adolescent girls 85% had erythrocyte counts within normal limits, but 13% of the adolescent girls were anemic (low erythrocyte counts), and 2% had high erythrocyte counts. The results showed that there is a relationship between erythrocyte count and the possibility of stunting. Regular checking of erythrocyte counts in adolescent girls is essential for early detection and appropriate intervention as anemia can be an early sign of stunting risk. Keywords: Stunting, Adolescent, Erythrocyte Count
Hukum Safar Wanita Tanpa Mahram Menurut Pandangan Ulama Ikhwani, Ikhwani
Ameena Journal Vol. 3 No. 1 (2025): Ameena Journal
Publisher : Yayasan Madinah Al-Aziziyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63732/aij.v3i1.157

Abstract

Setiap syariat Islam pasti bertujuan mendatangkan maslahat dan menolak mudarat. Dalam salah satu aturan syariat, Allah Ta’ala memberikan sebuah aturan bersafar yang khusus ditujukan untuk wanita, yaitu harus bersama mahram ketika bersafar. Namun, melihat zaman dan kondisi hari ini yang berbeda dengan zaman dulu, banyak para wanita yang masih dilema keraguan mengenai status hukum safar wanita tanpa mahram. Untuk itu para ulama berbeda pendapat terkait ‘illah larangan wanita bersafar tanpa mahram. Kajian ini termasuk kajian studi kepustakaan (library research) Adapun hasil dari kajian ini, para ulama terbagi menjadi dua pandangan terkait hukum wanita bersafar tanpa mahram; sebagian berpendapat bahwa ‘illah-nya adalah safar tanpa mahram itu sendiri. Sehingga berkonsekuensi haramnya safar bagi wanita tanpa mahram, baik dalam kondisi safar wajib, sunnah maupun mubah. Sedangkan, sebagian yang lain berpendapat bahwa ‘illah, larangan safar bagi wanita tanpa mahram adalah keamanan untuk bersafar. Hal ini berkonsekuensi pada bolehnya safar baik dalam kondisi safar wajib, sunnah ataupun mubah. Adapun safar yang ditujukan untuk keharaman, maka jelas hukumnya adalah haram.
Skrining Bank Darah untuk Pemeriksaan Hepatitis C di Kelurahan Tukmudal Kecamatan Sumber Ikhwani, Ikhwani; Setiawan, Fiki; Prambudi, Hery
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 6 (2024): Volume 7 No 6 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i6.14945

Abstract

ABSTRAK Transfusi darah adalah bagian paling penting bagi pelayanan kesehatan bila digunakan dengan baik dengan alasan menyelamatkan jiwa. Transfer darah membawa risiko penularan penyakit menular yang ditularkan melalui darah seperti hepatitis C, serta risiko transfusi darah lainnya yang dapat mengancam jiwa. Efek penyakit menular lewat transfusi darah bergantung pada banyak faktor, misalkan pravelensi penyakit di masyarakat, efektifitas skrining yang digunakan, kekebalan tubuh penerima dan jumlah donor tiap unit darah. Kegiatan PKM ini bertujuan membantu puskesmas Watubelah dalam mendata warga Keluahan Tukmudal yang sehat dan bebas dari virus hepatitis C. Teknik pengupulan data menggunakan pedoman wawancara dan observasi dengan lembar kuisioner untuk pemeriksaan lebih lanjut. Hasil skrining bank darah di dapatkan rata-rata hemoglobin 13,69 g/dl pada wanita dan 14,15 g/dl pada laki-laki sedangkan rata-rata pada keseluruhan yaitu 13,59 g/dl, persentase golongan darah A 31% dengan jumlah 15 orang, golongan darah B 34% dengan jumlah 16 orang, golongann darah O 33% dengann jumlah 16, golongan darah AB 2% dengan jumlah 1 orang. Pemeriksaan imuneserologi yang meliputi pemeriksaan HIV, HCV, HBsAg, sifilis dengan hasil non-reaktif pada 48 responden. Kata Kunci: Skrining Bank Darah,Tranfusi Darah, Hepatitis C, HCV  ABSTRACT Blood transfusion is the most important part of health services if used properly for the reason of saving lives. Blood transfers carry the risk of contracting blood-borne infectious diseases such as hepatitis C, as well as other risks of blood transfusions that can be life-threatening. The effect of a disease transmitted by blood transfusion depends on many factors, such as the prevalence of the disease in the community, the effectiveness of the screening used, the immunity of the recipient, and the number of donors per unit of blood. This PKM activity aims to help the Watubelah Health Center by recording data on residents of the Tukmudal Village who are healthy and free from the hepatitis C virus. The data collection technique used interview and observation guidelines with questionnaire sheets for further examination. Blood bank screening results showed an average hemoglobin of 13.69 g/dl in women and 14.15 g/dl in men while the overall average was 13.59 g/dl, the percentage of blood group A was 31% with a total of 15 people, blood type B 34% with a total of 16 people, blood group O 33% with a total of 16, blood type AB 2% with a total of 1 person. Immunoserology examination which includes examination for HIV, HCV, HBsAg, and syphilis with non-reactive results in 48 respondents. Keywords: Blood Bank Screening, Blood Transfusion, Hepatitis C, HCV
Skrining Bank Darah untuk Pemeriksaan Golongan Darah di Kelurahan Tukmudal Kecamatan Sumber Supenah, Pipin; Ikhwani, Ikhwani; Setiawan, Fiki
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 1 (2024): Volume 7 No 1 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i1.12186

Abstract

ABSTRAK Untuk memastikan keamanan dan keberhasilan transfusi darah, pemeriksaan golongan darah dalam bank darah sangat penting. Artikel ini membahas skrining bank darah untuk menentukan golongan darah pendonor dengan tepat, mengurangi risiko reaksi transfusi, dan memastikan kompatibilitas yang optimal. Sistem ABO adalah metode utama yang dianalisis selama proses pemeriksaan golongan darah [1]. Telah dilakukan penelitian tentang antibodi yang ada di dalam serum golongan darah A, B, dan O. Reaksi serum golongan darah dengan antigen ditunjukkan dengan aglutinasi.   Penelitian ini mengolah data secara statistik menggunakan metode statistik non parametrik Kruskal Wallis. Hasilnya menunjukkan bahwa serum golongan darah A, B, dan O dapat digunakan sebagai pengganti reagen anti A, anti B, dan anti AB untuk menentukan golongan darah. Pemeriksaan golongan darah ABO dan Rhesus (Rh). Ini penting untuk mencegah inkompabilitas golongan darah dan menentukan kemungkinan seorang wanita mengalami ketidakcocokan rhesus dengan janinnya. Reaksi transfusi imunologis, yang dapat menyebabkan anemia hemolisis, gagal ginjal, syok, dan kematian, dapat terjadi karena transfusi darah dari golongan darah yang tidak kompatibel. Hasil dari skrining bank darah dari 48 responden didapatkan golongan darah A 31% sebanyak 15 orang, golongan darah B 34% sebanyak 16 orang, golongan darah O 33% sebanyak 16 orang, golongan darah AB 2% sebanyak 1 orang. Kesimpulannya pada kegiatan pengabdian ini yakni terlaksana dengan baik dan lancar[2]. Kata Kunci: Golongan Darah, Skrinning Bank Darah, Sistem ABO ABSTRACT To ensure the safety and success of blood transfusions, blood group screening within the blood bank is essential. This article discusses blood bank screening to correctly determine the donor's blood type, reduce the risk of transfusion reactions, and ensure optimal compatibility. The ABO system is the main method analyzed during the blood group screening process [1]. Research has been conducted on the antibodies present in the serum of blood groups A, B, and O. The reaction of blood group serum with antigen is indicated by agglutination. This study processed data statistically using the Kruskal Wallis non-parametric statistical method. The results show that blood group A, B, and O serum can be used as a substitute for anti-A, anti-B, and anti-AB reagents to determine blood type. ABO and Rhesus (Rh) blood group examination. This is important to prevent blood group incompatibilities and determine the possibility of a woman having a rhesus incompatibility with her fetus. Immunological transfusion reactions, which can lead to hemolysis anemia, renal failure, shock, and death, can occur due to blood transfusions of incompatible blood groups. The results of the blood bank screening of 48 respondents obtained blood type A 31% as many as 15 people, blood type B 34% as many as 16 people, blood type O 33% as many as 16 people, blood type AB 2% as many as 1 person. In conclusion, this service activity was carried out well and smoothly [2].  Keywords: Blood Type, Blood Bank Screening, ABO System