Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search
Journal : eProceedings of Engineering

Analisis Perancangan Perbaikan Tata Letak Untuk Meminimasi Waste Transportasi Pada Produksi Kain Poliester Divisi Dyeing Dan Finishing Di Pt Xyz Dengan Pendekatan Konsep Lean Manufacturing Raden Muhammad Goumelar; Agus Alex Yanuar; Meldi Rendra
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Waste merupakan segala bentuk aktivitas yang tidak bernilai tambah terhadap proses produksi, salah satu jenis waste adalah transportasi. Setelah melakukan observasi pada divisi dyeing dan finishing khususnya proses produksi kain Poliester, ditemukan beberapa penyebab keterlambatan pengiriman kain Poliester kepada konsumen. Untuk menghindari permasalahan tersebut, dilakukan minimasi waste yang teridentifikasi dengan menggunakan konsep lean manufacturing. Penelitian dimulai dengan mengumpulkan data terkait waste, mengetahui aliran produksi dari kain Poliester dengan menggambarkan Value Stream Mapping, mengidentifikasi aktivitas teridentifikasi waste melalui Process Activity Mapping, mengetahui penyebab munculnya waste terpilih yaitu waste transportasi dengan diagram fishbone. Setelah mengetahui penyebab munculnya waste transportasi karena terdapat backtracking, dilakukan analisis perencanaan usulan berupa perancangan tata letak dengan menggunakan software WinQSB dengan metode CRAFT serta SLP untuk mencari alternatif terbaik diantara keduannya. Kata kunci : waste transportasi,lean manufacturing,value stream mapping,process activity mapping,fishbone,tata letak Abstract Waste is any form of activity that is not worth adding to the production process, one type of waste is transportation. After making observations on the division of dyeing and finishing especially Polyester fabric production process found some causes of delay in delivery of Polyester fabric to consumers. to avoid the problem, waste that is identified by using lean manufacturing concepts. The research begins with collecting waste related data, knowing the flow of production from Polyester fabric by depicting Value Stream Mapping, identifying identified the activity of waste through Process Activity Mapping, knowing the cause of the emergence of selected waste that is waste transportation with fishbone diagram. After knowing the cause of the emergence of waste transportation because there is backtracking, done planning proposal analysis in the form of layout design using WinQSB software with CRAFT and SLP method to find alternative best among the two. Keywords: waste transportation, lean manufacturing, value stream mapping, process activity mapping, fishbone, layouting
Usulan Perbaikan Penyebab Defect Floating Pada Proses Produksi Kain Grey Di Workstation Inspeksi Pada Pt. Buana Intan Gemilang Winta Pingkan; Marina Yustiana Lubis; Agus Alex Yanuar
eProceedings of Engineering Vol 4, No 2 (2017): Agustus, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kualitas merupakan elemen penting yang harus di penuhi oleh perusahaan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menjamin setiap permintaan konsumen terhadap hasil produksi dapat terpenuhi sesuai dengan spesifikasi maupun jumlah. Dalam memenuhi permintaan konsumen terhadap hasil produksi, perusahaan perlu menjaga kualitas produk agar sesuai dengan spesifikasi yang diharapkan oleh konsumen demi mencapai customer satisfaction (kepuasan konsumen). Kain grey merupakan kain setengah jadi yang belum melalui proses pewarnaan. Pada tahun 2016, tercatat bahwa perusahaan tidak dapat memenuhi target produksi hampir di sepanjang periode Januari-Oktober 2016. Diketahui selama periode Januari-Oktober 2016 jumlah defect telah melebihi batas toleransi perusahaan sebesar 10% dan defect floating merupakan defect dengan presentase tertinggi. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini akan berfokus untuk meminimasi defect floating menggunakan metode Six Sigma. Adapun DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control) sebagai pendekatan dalam metode Six Sigma. Usulan perbaikan tersebut berupa menentukan interval pemeliharaan mesin Jacquard pada proses weaving, pembuatan checksheet pemeliharaan mesin dan penggunaan penjepit untuk tali pada kartu pola. Kata kunci : Kain Grey, defect floating, Six Sigma, proses weaving, CTQ, Preventive Maintenance
Perancangan Alat Bantu Untuk Meminimasi Defect Pada Proses Pembuat Cetakan Komponen Coupling Head Dengan Metode Six Sigma Di Pt Pindad Elvan Pratama; Marina Yustiana Lubis; Agus Alex Yanuar
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PT. Pindad adalah perusahaan manufaktur yang memproduksi produk militer dan komersial di Indonesia. Salah satu produk yang diproduksi adalah air brake system. Air brake system adalah sistem pengereman kereta api yang memiliki banyak komponen dan salah satunya adalah komponen coupling head. Tahun 2018 PT. Pindad memproduksi komponen coupling head sejumlah 24.709 dan memiliki 1.245 komponen yang defect. Dengan persentase defect sebesar 5,2% dan batas toleransi defect perusahaan sebesar 2,04% menjadikan komponen coupling head sebagai obyek penelitian ini. Penelitian ini menggunakan metode six sigma untuk meminimasi defect pada komponen coupling head dengan tahapan DMAIC. Diawali dengan define, yaitu tahap identifikasi masalah dan menemukan pada proses pembuat cetakan yang mengakibatkan defect berupa geser dan inklusi pasir. Dilanjutkan dengan tahap measure, yaitu tahap yang digunakan untuk mengukur stabilitas dan kapabilitas proses, dan mengetahui proses yang berada diluar batas kendali dan mengetahui DPMO sebesar 6639 dan level sigma sebesar 3,97. Proses yang diluar batas kendali kemudian akan ditentukan akar penyebab masalah dan usulan perbaikan yang tepat pada proses analyze dengan menggunakan identifikasi fishbone diagram dan FMEA. Selanjutnya dilakukan tahap improve untuk memberikan usulan yang tepat berdasarkan akar masalah yang didapatkan untuk mengurangi defect geser dan inklusi pasir. Usulan yang diberikan berdasarkan faktor mesin, manusia, dan metoda sebagai penyebab defect geser dan inklusi pasir. Usulan perbaikan yang tepat berupa alat bantu pengukuran pada model cetakan untuk mengukur diameter pada baut pein pelurus model cetakan, dan juga alat bantu pengecekan pada cetakan pasir dan model untuk mengetahui diameter lubang pein pelurus pada cetakan pasir dan diameter pein pelurus pada model serta penambahan peringatan berupa poster agar operator menjadi lebih waspada dengan harapan tidak ditemukan defect kedepannya dan dapat meningkatkan kualitas. Kata kunci : Pindad, Defect, Six sigma, DMAIC, Coupling head
Perancangan Usulan Perbaikan Proses Persiapan Bahan, Pemotongan Bahan, Dan Sewing, Pada Produksi Celana Jeans Di Pt Xyz Dengan Metode Six Sigma Saskia Latifah Choir; Marina Yustiana Lubis; Agus Alex Yanuar
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Dalam pelaksanaan produksi celana jeans, sejumlah produk cacat ditemukan yang mengakibatkan tidak tercapainya target jumlah produksi. Dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengidentifikasi dan mengalisis penyebab terjadi produk cacat tersebut. Dengan menggunakan metode six sigma dengan tahapan DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control), pada tahap define, diketahui CTQ produk dan dilakukan observasi di tahap proses produksi, hingga ditemukan proses yang bermasalah, penyebab terjadinya 14 jenis cacat pada produk cacat. Proses yang bermasalah yang akan di berikan usulan perbaikan yaitu pengecekan kelayakan bahan, pemotongan bahan, dan sewing III. Pada tahap measure dilakukan perhitungan kapabilitas proses dengan hasil 3.92 sigma dan DPMO 7764. Tahap analyze, akar penyebab pada proses yang bermasalah diindentifikasi dengan menggunakan fishbone diagram dan FMEA untuk menentukan prioritas kegagalan potensial. Sehingga di tahap improve, diberikan usulan perbaikan untuk mengatasi kegagalan tersebut yaitu pemasangan lampu led panel kotak di mesin inspeksi bahan, pembuatan display visual pengingat pengecekan kondisi mesin potong, penambahan proses set up mesin sebelum mulai menjahit dan penambahan pelindung pada area jarum di mesin jahit. Kata Kunci : Six sigma, DMAIC, Level sigma, CTQ, Celana jeans Abstract In the implementation of jeans production, a number of defective products were found that resulted in not achieving the target production amount. Further research is needed to identify and calculate the cause of the defective product. Using the method Six Sigma with the stage DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control), in the Define phase, known CTQ products and performed observations at the stage of the production process, and found the problematic process, the cause of the occurrence of 14 types Defects in defective products. The problematic process is the material preparation, material cutting, and sewing III. In the measure, calculation of process capability with the result of 3.92 Sigma and DPMO 7764. The Analyze stage, the root cause of the problematic process is identified by the Fishbone diagram and FMEA to determine the priority of potential failures. So in the improvement phase, given the design improvement to overcome the failure are installation of the LED panel panels in the Machine inspection materials, the manufacture of visual display reminder to checking condition of cutting machine, the addition of the process set up machine in sewing process and additional protective on needle area in sewing machine. Keywords : Six Sigma, DMAIC, Level sigma, CTQ, Jeans
Perancangan Alat Bantu Untuk Meminimasi Defect Pada Proses Peleburan Komponen Coupling Head Dengan Metode Six Sigma Di Pt Xxx Nino Setyo Utomo; Marina Yustiana Lubis; Agus Alex Yanuar
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu produk PT XXX adalah Air Brake System untuk kereta api. Selanjutnya pada penelitian ini apabila disebutkan Air Brake System maka yang dimaksud adalah sistem pengereman angin untuk kereta api. Tidak semua komponen Air Brake Sytem dibuat oleh PT XXX. Menurut data produksi komponen air brake system yang diproduksi Divisi Tempa dan Cor tahun 2018 produk coupling head menempati urutan pertama rata-rata defect terbanyak yaitu sebesar 26.49 produk atau sebanyak 1245 produk dari 24079 produk yang di produksi. Maka dari itu pada penelitian ini berfokus pada perbaikan proses produksi coupling head. Penelitian ini juga lebih difokuskan lagi pada perbaikan proses peleburan, karena menjadi sumber defect terbanyak yaitu sebanyak tiga jenis defect berupa beku dini (BD), blow hole (BH) dan inklusi terak (IT). Untuk menentukan usulan perbaikan penelitian ini menggunakan metode six sigma. Pada tahap pendahuluan untuk mementukan akar permaslahan menggunakan tahap Define, Measure, dan Analyze. Seperti yang sudah diketahui di atas, pada tahap define ditemukan bahwa proses peleburan adalah proses yang paling bermasalah. Lalu pada tahap measure didapat DPMO sebesar 6639 dengan level sigma sebesar 3,97. Sehingga pada tahap analayze dicari tahu akar permaslahan menggunakan fishbone diagram untuk selanjutnya dibuat prioritas menggunakan FMEA. Selanjutnya adlah tahap improve. Dimulai dari nilai RPN yang didapatkan pada FMEA. Sehingga didapat usulan berupa, Menyediakan alat pengukur suhu (termometer infrared) dan membuat percobaan berapa lama waktu pemanasan yang dibutuhkan hingga ladle mencapai suhu 800°C, meleburkan logam cair hingga ketitik maksimal (1550°C) dan menambah suhu ladle hingga 900°C, menyediakan ladle kecil yang ukurannya sesuai dengan satu kali penuangan cetakan coupling head, membuat penyangga untuk ladle saat penuangan. menyediakan fasilitas kaca mata safety dengan kaca berwarna hitam. Kata kunci: XXX, Coupling head, Defect, Improvement , Six sigma
Perancangan Usulan Perbaikan Pada Proses Welding Dan Recoiling Produk Full Hard 0.2 X 914 Mm Pt. Xyz Menggunakan Metode Six Sigma Yumna Sabila; Marina Yustiana Lubis; Agus Alex Yanuar
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak PT. XYZ adalah perusahaan BUMN yang bergerak di bidang industri baja. Penelitian dilakukan di Plant Cold Rolling Mill. Pada plant ini memproduksi gulungan baja dengan salah satu produk yang diproduksi yaitu Full Hard dengan ukuran 0.2 x 914 mm. Full Hard 0.2 x 914 mm adalah produk populer karena mempunyai target produksi yang tinggi dibandingkan dengan ukuran lainnya sebesar 111,976 ton. Berdasarkan data historis produksi produk Full Hard 0.2 x 914 mm tahun 2018 menghasilkan jumlah produksi 121,637 ton dengan persentase produk defect 16 %. Fokus penelitian di mill Continous Tandem Cold Mill (CTCM) karena mill yang paling banyak menghasilkan defective sebesar 19,404 ton. Terdapat 6 proses produksi yang dilakukan, penelitian ini berfokus pada proses recoiling dan welding. Jenis cacat pinch mark terjadi pada proses welding, dan mandrel kink, telescope coil terjadi pada proses recoiling dengan 6 buah CTQ. Diketahui bahwa nilai DPMO sebesar 28,604 dan nilai sigma sebesar 3.432 dari hasil perhitungan tersebut dapat diidentifikasi bahwa kapabilitas proses yang terjadi masih dibawah 6 sigma. Dengan melakukan tools analisis diagram sebab-akibat dapat diketahui faktor penyebab terjadinya proses yang bermasalah. Menentukan prioritas perbaikan menggunakan FMEA. Usulan perbaikan yang dilakukan andon display visual, SOP, pemeliharaan rutin, dan lembar pemeliharaan. Kata Kunci: Full Hard 0.2 x 914mm, CTQ, DPMO, Welding, Recoiling, Interval waktu kerusakan, Pokayoke, SOP. Abstract PT. XYZ is a state-owned company engaged in the steel industry. The research was conducted at Plant Cold Rolling Mill. At this plant produces steel coils with one of the products produced, namely Full Hard with a size of 0.2 x 914 mm. Full Hard 0.2 x 914 mm is a popular product because it has a high production target compared to other sizes of 111.976 tons. Based on historical data, the production of Full Hard 0.2 x 914 mm products in 2018 produces a total production of 121.637 tons with a percentage of defect products of 16%. The focus of the research is on the Continuous Tandem Cold Mill (CTCM) mill because the mill with the most defective yield is 19.404 tons. There are 6 production processes carried out, this study focuses on the process of recoiling and welding. The type of defect pinch mark occurs in the welding process, and the mandrel link, telescope coil occurs in the recoiling process with 6 CTQ pieces. It is known that the DPMO value of 28.604 and the sigma value of 3.432 from the results of these calculations can be identified that the process capability that occurs is still below 6 sigma. By doing causal diagram analysis tools can be known the factors causing the problematic process. Determine priorities for improvement using FMEA. Proposed improvements made by andon display visuals, SOPs, routine maintenance, and maintenance sheets. Keywords: Fullhard 0.2 x 914mm, CTQ, DPMO, Welding, Recoiling, Damage Time Interval, Andon, SOP.
Usulan Perbaikan Proses Pencetakan Core Dan Proses Molding Untuk Meminimasi Defect Keropos Pada Proses Produksi Part Body Casing Produk Meteran Air Dengan Pendekatan Six Sigma Di Pt. Multi Instrumentasi Ivan Ganika Biyantoro; Agus Alex Yanuar; Meldi Rendra
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

manufaktur yang bergerak dalam bidang linflow produksi meteran air. Pada pembuatan produk meteran air, terdiri beberapa proses diantaranya adalah proses pemanasan material, proses pencetakan, proses pemotongan, proses shortblast, proses penghalusan, proses pengecatan serta proses pengujian. Berdasarkan data historis perusahaan periode Januari-Desember 2018 pada proses pencetakan di mesin cetak, diidentifikasi bahwa masih terdapat jumlah cacat yang melebihi toleransi yang diberikan perusahaan yaitu sebesar 2% untuk setiap bulannya dengan cacat terbesar disebabkan oelh hasil pencetakan yaitu keropos. Untuk mengatasi masalah perusahaan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan metode six sigma. Metode ini terdiri dari beberapa tahap yang disebut DMAI yang terdiri dari define, measure, analyze dan improve. Pada tahap define akan dilakukan penentuan CTQ (Critical to Quality) dengan pemetaan produksi menggunakan diagram SIPOC. Pada tahap measure dilakukan perhitungan stabilitas dan kapabilitas proses dengan rata-rata nilai DPMO dan rata-rata nilai level sigma. Pada tahap analyze dilakukan analisa mengenai akar penyebab cacat dengan menggunakan diagram fishbone dan 5 Why’s. selanjutnya menentukan prioritas perbaikan tersebut menggunakan analisis FMEA. Pada tahap improve, diusulkan perbaikan berupa pembuatan alat bantu yaitu pencuci material dan pembuatan display visual mengenai aturan dalam melakukan pengaturan proses pencetakan core. Kata Kunci : CTQ, Six Sigma, Proses Pencetakan, DMAI, Fishbone, 5 Why’s, FMEA Abstract PT. Multi Instrumentasi is a manufacturing company engaged in the field of water meter production flow. In making water meter products, it consists of several processes including the process of heating the material, the printing process, the cutting process, the shortblast process, the refining process, the painting process and the testing process. Based on the company's historical data from January 2018 to December 2018 in the printing process in the printing press, it was identified that there were still a number of defects that exceeded the tolerance given by the company, namely 18% -21% for each month with the largest defects caused by porous printing. To overcome the company's problems, this study uses the Six Sigma method approach. This method consists of several stages called DMAI which consists of define, measure, analyze and improve. The define phase will be carried out by determining CTQ (Critical to Quality) with production mapping using a SIPOC diagram. In the measure stage, calculation of process stability and capability is calculated by averaging DPMO values and average sigma level values. In the analyze stage, the analysis of the root causes of defects is carried out using a fishbone diagram and 5 Why's. Next, determine the priority of these improvements using FMEA analysis. In the improve phase, proposed improvements in the form of making tools that are material washers and making visual displays of the rules in regulating the core printing process Keywords: CTQ, Six Sigma, Printing process, DMAI, Fishbone, 5 Why’s, FMEA
Perancangan Alat Bantu Untuk Meminimasi Defect Pada Proses Finishing Komponen Coupling Head Dengan Metode Six Sigma Di Pt Xxx Andwi Wulansari; Marina Yustiana Lubis; Agus Alex Yanuar
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PT XXX merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang salah satu produk yang dihasilkan yaitu Air Brake System. Air Brake System adalah sistem pengereman pada gerbong kereta api. Terdapat 12 komponen Air Brake System yang diproduksi PT XXX. Pada penelitian ini, komponen yang akan diteliti yaitu komponen Coupling Head. Berdasarkan data historis perusahaan, terdapat masalah rata-rata defect komponen Coupling Head sebesar 26.49%. Untuk mengetahui faktor penyebab variasi proses yang menyebabkan defect dan usulan perbaikan digunakan metode six sigma dengan pendekatan DMAI. Pertama, tahap define menghasilkan product dan process requirement yang tidak terpenuhi yang menyebabkan permasalahan pada proses peleburan, pembuatan cetakan, dan finishing. Pada penelitian ini akan membahas permasalahan proses finishing yaitu gerinda skrap bagian parting line tidak bersih. Kedua, tahap measure, dapat diketahui nilai DPMO sebesar 6639 dan level sigma 3,97. Ketiga, tahap analyze, diperoleh analisa penyebab gerinda skrap bagian parting line tidak bersih yaitu faktor man dengan penyebab kekeliruan operator dalam menentukan dimensi komponen saat proses finishing dengan akar penyebab berupa tidak ada petunjuk menunjukkan dimensi komponen Coupling Head yang sesuai. Sedangkan faktor machines dengan penyebab dudukan coran tidak memadai komponen Coupling Head berdiri stabil memiliki akar penyebab tidak ada perancangan dudukan komponen Coupling Head. Keempat, tahap improve, dengan melakukan perbaikan untuk meminimalkan munculnya penyebab tahap gerinda yang terlalu dalam. Perbaikan meminimasi variasi proses pada komponen Coupling Head yaitu merancangan alat bantu dudukan komponen Coupling Head dilengkapi penahan. Kata kunci: Komponen Coupling Head, Defect Dimensi, Six Sigma (DMAI), proses finishing, alat bantu
Perancangan Usulan Perbaikan Proses Persiapan Aksesoris, Sewing, Dan Finishing, Pada Produksi Celana Jeans Di Pt. Xyz Dengan Metode Six Sigma Arnis Arisma Putri; Marina Yustiana Lubis; Agus Alex Yanuar
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Proses produksi pembuatan celana jeans belum berjalan dengan baik, hal tersebut dibuktikan dengan belum terpenuhinya target produksi selama periode 2018 dikarenakan terdapat produk cacat pada setiap bulannya yang mencapai rata-rata 2027 produk. Untuk itu, dilakukan identifikasi pada tahapan proses produksi untuk mengetahui penyebab permasalahan terjadinya produk cacat. Metode six sigma dengan tahapan DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control) digunakan untuk melakukan perbaikan pada proses produksi, sehingga cacat dapat dicegah. Identifikasi tahapan proses produksi dilakukan pada tahap define dan didapatkan 9 proses bermasalah. Pada penelitian ini akan berfokus pada 5 tahapan proses yaitu persiapan aksesoris, sewing I, sewing II, sewing IV, dan Finishing II. Kapabilitas proses perusahaan berada pada level 3,92 sigma dan pengukuran dilakukan pada tahap measure. Tahap analyze dilakukan dengan bantuan tools fishbone diagram dan FMEA sehingga didapatkan hasil faktor penyebab masalah potensial berupa tidak terdapat prosedur pemeriksaan fungsi zipper, tidak terdapat pengaturan tension benang, tidak terdapat alat bantu untuk membersihkan sekoci dan ruangan rotari, tidak terdapat pengontrolan penggantian jarum, dan tidak ada pengecekan mesin secara rutin. Untuk itu pada tahap improve diberikan usulan berupa penambahan proses inspeksi, perancangan visual control, perancangan alat bantu pembersih, lembar kontrol penggantian jarum, visual display, dan lembar pemeriksaan mesin untuk mengatasi masalah. Kata Kunci: Six Sigma, DMAIC, Celana Jeans, Sewing, Level Sigma Abstract Production process of making jeans has not gone well, as evidenced by the company production target that haven’t been fulfilled during 2018 because there are defect product every month that reach an average of 2027. For that, identification is done at the stages of production process to find the cause of the problem of defect product. Six sigma method with DMAIC stage (Define, Measure, Analyze, Improve, Control) is used to make improvement to the production process, so that defect can be prevented. Identificationof production process stage is carried out in the define stage and 9 problem processes are obtained. In this research focuses on 5 stages of the process, namely preparation of accessories, sewing I, sewing II, sewing III, and finishing II. Process capability of the company at the level of 3,92 sigma and measurement is carried out at the measure stage. Analyze phase is carried out with the help of fishbone diagram and FMEA tools, so that the results of the potensial problems are obtained that there is no inspection of zipper function, there is no thread tension setting, there are no tools to clean sekoci and rotari room, there is no needle replacement control, and there is no routine mavhine checking. So that, in improve stage given a proposal in the form of additional inspection process, design visual control, design cleaning tools, needle replacement control sheets, visual display, and machine inspection sheet to solve the problem. Keyword: Six Sigma, DMAIC, Jeans, Sewing, Sigma Level