Sebagian besar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia dikelola dalam konteks usaha berbasis keluarga, sehingga kualitas komunikasi antar anggota keluarga menjadi faktor penting dalam keberlangsungan usaha. Komunikasi yang tidak efektif sering memicu konflik internal, ketegangan emosional, dan hambatan koordinasi kerja yang berdampak pada kinerja usaha. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas komunikasi asertif dalam keluarga sebagai fondasi bagi keberlanjutan UMKM berbasis keluarga. Kegiatan dilaksanakan pada Komunitas Rumah Hasanah Bandung dengan melibatkan 20 peserta yang terdiri atas perempuan dan anggota keluarga yang terlibat langsung dalam pengelolaan usaha rumahan. Metode pelaksanaan meliputi psikoedukasi mengenai gaya komunikasi (pasif, agresif, dan asertif), latihan komunikasi asertif melalui teknik I-statement dan active listening, serta diskusi reflektif berbasis kasus usaha keluarga. Evaluasi dilakukan menggunakan preāpost-test berbasis skala Likert untuk mengukur pemahaman dan kemampuan peserta dalam menerapkan komunikasi asertif. Hasil menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta, dengan rata-rata skor meningkat dari sekitar 7 pada pre-test menjadi sekitar 13 pada post-test, atau naik sekitar 85,7%. Temuan ini menunjukkan bahwa penguatan komunikasi asertif dalam keluarga berperan penting dalam menciptakan hubungan kerja yang lebih harmonis dan mendukung keberlanjutan UMKM berbasis keluarga.