Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Penerapan Ergonomi Total Untuk Meningkatkan Produktivitas Kerja Perajin Permata M. Yusuf
Journal Industrial Servicess Vol 1, No 1 (2015): Oktober 2015
Publisher : Fakultas Teknik Jurusan Teknik Industri Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/jiss.v1i1.307

Abstract

Akhir-akhir ini cincin batu permata terutama jenis akik ramai di pasaran. Produksi batu permata ini biasanya dilakukan pada industri kecil atau industri rumah tangga. Permasalahan yang terjadi pada proses produksi di industri kecil ini adalah sikap kerja yang tidak alamiah seperti duduk jongkok dan bersila, menggunakan gerinda tangan tanpa menggunakan alat pengaman/pelindung diri, menggosok batu permata dengan cara manual menggunakan tangan sehingga produktivitas tidak optimal dan menyebabkan banyak keluhan pada para pekerja. Untuk menurunkan keluhan yang ada dan meningkatkan produktivitas kerja para perajin perlu dilakukan penerapan ergonomi toal pada industri kecil produksi batu permata. Penelitian ini dilakukan secara eksperimen dengan rancangan group within – treatment (sama subyek) terhadap 12 perajin permata di Desa Subagan, Karangasem, Bali. Subjek diberikan dua perlakuan yaitu P0 melakukan pekerjaan seperti biasa seperti sebelumnya dan P1 melakukan pekerjaan dengan cara baru yang sudah mendapat intervensi ergonomi. Beban kerja diukur dari denyut nadi kerja sedangkan produktivitas kerja diukur dengan jumlah produksi dibagi beban kerja dan waktu kerjanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara P0 dan P1 (p<0,05). Antara P0 dan P1 terjadi penurunan beban kerja sebesar 27,4% dan peningkatan produktivitas kerja sebesar 422,80%. Disimpulkan bahwa penerapan ergonomi total pada perajin batu permata di Karangasem Bali dapat menurunkan beban kerja dan meningkatkan produktivitas kerja. 
Effect of Heat Radiation on Work Load and Gamelan Crafts Productivity I Ketut Gede Juli Suarbawa; M. Yusuf
Logic : Jurnal Rancang Bangun dan Teknologi Vol 21 No 1 (2021): March
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31940/logic.v21i1.2448

Abstract

The production process of making gamelan in Tihingan Village still uses the traditional way, namely using prapen with an open flame both for the melting process and in the formation process. This causes the workload of craftsmen to be quite heavy due to exposure to radiant heat and dust. The results of microclimate measurement of the work environment obtained an average dry temperature of 33.2oC, an average wet temperature of 24oC. The average ball temperature was 33oC, WBGT 26.3oC and the mean humidity (RH) was 59.0%. The average light intensity at work reaches 319.2 lux. The average temperature of the furnace at low heat is 340oC and during the combustion process it reaches 860 oC. The results of measurements of air quality in the workplace include levels of NO2 17.00 µg /m3 (increased by 112.50%), SO2 5.33 µg/m3 (increased by 45.23%), CO 407.16 µg/m3 (increased by 217, 99%), oxidants (Ox) 61.00 µg/m3 (increased by 1.67%) and dust 48.50 µg/m3 (increased by 125.58%). The mean pulse of the nguwad workers reached 125.81±1.35 beats/minutes (including heavy workload). This causes the productivity of craftsmen to be low due to the increase in musculoskeletal disorders and craftsmen fatigue. To overcome this condition, the workings of the craftsmen need to be improved immediately through the application of appropriate technology in the form of furnace repair so that the flames and dust produced can be removed from the workplace, then exposure to hot air and combustion dust will no longer expose the craftsmen.
Design of Arrangement of Working Time to Increase Productivity of the Workers by Using Flat Iron at Garment “A” I Made Anom Santiana; M. Yusuf
Logic : Jurnal Rancang Bangun dan Teknologi Vol 20 No 1 (2020): March
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (527.731 KB) | DOI: 10.31940/logic.v20i1.1788

Abstract

The garments businesses in Bali grow quickly in line with the growth of tourism industry. These are proven by presence of many garment businesses in big scale investment with hundreds of workers or small -scale investments of home industries. However, the level of awareness and the failure of the business managers to seek for comfort, health, and safety for their workers remains very low. One of many problems that important in garment business for the workers in flat iron is musculoskeletal disorder. Generally, the working position is in the standing position for long time, and the hot temperature of environment resulted in the flat iron radiation. Workers that use flat iron work 9 hours per day including the lunch break and 7 day a weak, except for the big holidays or when there is less order. They start working at 08.00 a.m. until 17.00 p.m. with lunch break at 12.00 until 13.00 p.m. Arrangement for the working time and the break time, holiday, working shifts, are one of the many aspects in organization that needs to be paid attention because by arranging the working time, it may make them comfortable, safe, healthy, so it can increase the work productivity. Increasing the working time will cause the accumulating fatigues and in turn, it will decrease the productivity. Therefore, to solve that problems, this research has been done experimentally by arranging the working time, namely by providing 10 minute-breaks every two hours of working time while drinking tea. This research was conducted to 12 female workers who used flat iron in “A” garment, of Tabanan Regency, Bali, with treatment by subject design. The indicated workload was measured by heart rate with pulse meter. Musculoskeletal disorder was predicted by Nordic Body Map questionnaire. Data were analyzed by t test on 5% significant. The result of analysis showed that there was a decrease of workloads and the subjective disorders significantly before and after treatment as well as the increase of the working productivity significantly (p<0,05).
Pembangkit Mikrohidro untuk Mendukung Ekowisata di Desa Munduk, Buleleng, Bali M. Yusuf; I Ketut Gde Juli Suarbawa; I Made Suarta
ABDI: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 7 No 3 (2025): Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/abdi.v7i3.1298

Abstract

Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, merupakan kawasan ekowisata yang masih menghadapi keterbatasan akses energi listrik dari jaringan PLN. Kondisi ini menjadi kendala bagi pengembangan wisata dan aktivitas ekonomi masyarakat. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan menyediakan energi terbarukan melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) dengan target kapasitas 300 W. Metode pelaksanaan meliputi survei debit dan tinggi jatuh air, perhitungan kapasitas daya, perancangan kincir air tipe undershot, fabrikasi komponen, instalasi sistem transmisi, serta pengujian output selama tujuh hari dengan variasi beban. Hasil implementasi menunjukkan kapasitas terpasang sebesar 70 W, lebih rendah dari target awal akibat debit air yang fluktuatif, efisiensi turbin yang terbatas, serta kerugian pada sistem transmisi. Meski demikian, listrik yang dihasilkan telah dimanfaatkan untuk penerangan jalan wisata, fasilitas charging ponsel di kios, dan penerangan rumah warga sekitar. Dampak nyata ini mendukung kenyamanan wisatawan, meningkatkan keamanan lokasi wisata, serta memberdayakan masyarakat desa. Keterbatasan utama kegiatan ini adalah perbedaan signifikan antara target dan realisasi daya. Oleh karena itu, pengembangan selanjutnya disarankan untuk mengoptimalkan desain turbin, meningkatkan efisiensi generator, serta mengintegrasikan PLTMH dengan energi surya agar kapasitas lebih besar dan stabil. Dengan demikian, PLTMH sederhana terbukti dapat menjadi solusi awal menuju kemandirian energi dan penguatan citra ekowisata berkelanjutan di Desa Munduk.
Model Sistem Pengolahan Pupuk Organik untuk Mendukung Ekowisata di Desa Munduk Kecamatan Banjar Kabupaten Buleleng I Made Anom Adiaksa; I Wayan Marlon Managi; I Ketut Gde Juli Suarbawa; I Putu Gede Sopan Rahtika; M. Yusuf
ABDI: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 7 No 3 (2025): Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/abdi.v7i3.1305

Abstract

Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat Desa Munduk melalui pengolahan limbah pertanian dan peternakan menjadi pupuk organik, serta mendukung pengembangan ekowisata berbasis pertanian. Model sistem pengolahan pupuk organik yang diterapkan melibatkan pembuatan pupuk kompos padat dari kotoran sapi dan pupuk organik cair dari batang pisang, menggunakan aktivator EM4. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pupuk kompos dengan EM4 dapat diproduksi dalam waktu 20 hari, lebih cepat dibandingkan dengan metode konvensional yang membutuhkan 40 hari. Pupuk cair (POC) yang dihasilkan siap digunakan dalam waktu 7–14 hari dan terbukti meningkatkan jumlah bunga dan buah pada tanaman cabai sebesar 18% lebih banyak dibanding kontrol. Kegiatan ini memberikan dampak positif dalam aspek ekonomi, dengan pengurangan biaya pembelian pupuk kimia sebesar ±30% dan potensi usaha pupuk organik lokal. Dalam aspek sosial, masyarakat memperoleh keterampilan baru dalam pengolahan limbah dan membentuk kelompok tani yang mandiri. Selain itu, integrasi pengolahan pupuk organik dengan ekowisata edukatif memberikan kontribusi pada penguatan daya tarik wisata desa dan edukasi lingkungan. Kebaruan program ini terletak pada pendekatan inovatif yang menggabungkan pengolahan pupuk organik dengan pengembangan ekowisata berbasis pertanian berkelanjutan. Ke depan, model sistem ini dapat dikembangkan lebih lanjut dengan meningkatkan skala produksi pupuk organik, memperkenalkan diversifikasi produk, serta mengintegrasikan energi biogas dari limbah ternak, untuk mendukung keberlanjutan ekonomi dan lingkungan Desa Munduk.