Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

SIFAT ANATOMI ROTAN TOHITI (Calamus inops Beccari) DI KAWASAN HUTAN LINDUNG GUNUNG PAPALIA DESA MATA WOLASI KECAMATAN WOLASI KABUPATEN KONAWE Anatomy Nature Tohiti Rattan (Calamus inops Beccari) in Protected Forest Area Of Papalia Mountain Mata Wolasi Village, Wolasi District, Sout Wolasi Nurhayati Hadjar; Niken Pujirahayu; Istia Sitia Warni
Jurnal Ecogreen Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Haluoleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.731 KB)

Abstract

ABSTRACTThe purpose of this study was to determine the nature of anatomy Tohiti Rattan (Calamus inops Beccari) that is in Protected Forest Area Mountain Springs Village Papalia Wolasi District of Wolasi Konsel.  This research method using descriptive and anatomical measurements using standard IAWA (International Association Of Wood Anatomically, 2008).  Vascular bundles at Rattan Tohiti network file consists of a collection vessel (metaxylem, protoxylem and phloem) and the fiber bundle. The average diameter metaxylem 233,74μm and the average diameter protoxylem 37,87μm. The proportion of cells rattan Tohiti, obtained the proportion of parenchymal cells, fiber bundle 48,93%, 39,02% metaxylem, phloem protoxylem 4,98% and 2,63%. Based on measurements of fiber dimensions Tohiti rattan, known fiber length very long 1956,52μm, classified as moderate 13,55μm fiber diameter, the average diameter of the lumen 5,62μm and an average wall thickness 4,27μm.  Keywords: Rattan Tohiti, Structural Anatomy, Fiber Dimensions.                     
KERAGAMAN JENIS BAMBU (Bambusa sp.) DI KAWASAN TAHURA NIPA-NIPA KELURAHAN MANGGA DUA Nurhayati Hadjar; Niken Pujirahayu; Eko Fitriono
Jurnal Ecogreen Vol 3, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Haluoleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.366 KB)

Abstract

Kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Nipa-nipa memiliki kekayaan jenis yang perlu di eksplore, penelitian ini mencoba mengidentifikasi keragaman jenis-jenis bambu yang terdapat pada Kawasan Tahura Nipa-Nipa Kelurahan Mangga Dua.  Sampel ditentukan dengan  menggunakan metode purposive sampling yaitu ditunjuk secara langsung spot-spot keberadaan bambu.  Luas kawasan Tahura kelurahan mangga dua sebesar 40 Ha, jumlah sampel yang diambil sebanyak 50 plot yang berukuran 20 m x 20 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada Kawasan Tahura Nipa-nipa kelurahan mangga Dua terdapat 3 marga bambu yaitu Gigantochloa, Bambusa dan Dendrocalamus yang terdiri dari jenis-jenis bambu Ater (Gigantochloa atter), bambu Apus  (Gigantochloa apus), bambu Cina (Bambusa multiplex Lour.), bambu Betung (Dendrocalamus asper), dan bambu Kuning (Bambusa vulgaris). Jenis bambu yang memiliki Indeks Nilai Penting tertinggi adalah bambu Ater (Gigantochloa atter) dengan jumlah INP sebesar 162.99%. Sedangkan yang terendah adalah bambu Betung (Dendrocalamus asper) 19.69%.  Keanekaragaman jenis bambu di kawasan Tahura Nipa-Nipa Kelurahan Mangga Dua masih tergolong rendah yaitu 0.548. Kata kunci : Jenis Bambu, Indeks Nilai Penting (INP) Bambu, Keanekaragaman Bambu, Tahura Nipa-Nipa.
ANALISIS KADAR AIR DAN KADAR HMF PADA MADU HUTAN (Apis dorsata Binghami) DI KECAMATAN ASINUA KABUPATEN KONAWE niken pujirahayu; zakiah uslinawaty; Nurhayati Hadjar
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 5 No. 1 (2024): Celebica Jurnal Kehutanan Indonesia
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jc.v5i1.81

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar Air dan Kadar HMF madu hutan Apis dorsata binghamii dari Kecamatan Asinua, Konawe. Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap, yaitu tahap preparasi sampel, tahap ekstraksi, dan tahap pengujian. Penyiapan sampel dilakukan di Laboratorium Kehutanan Universitas Halu Oleo, Ekstraksi dilakukan di laboratorium mikrobiologi BPOM Kendari dan Laboratorium Biokimia FMIPA Universitas Hasanuddin. Pengujian madu hutan Apis dorsata mengikuti Standar Nasional Indonesia (SNI) 8664-2018, meliputi kadar air dan kadar HMF dan uji organoleptik bau, rasa dan warna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air madu sebesar 15,18 %b/b dan kadar HMF tidak terdeteksi, sedangkan sifat fisik warna, bau dan rasa menunjukkan sifat khas madu, hasil pengujian ini memenuhi persyaratan SNI 8664- 2018.
UJI KADAR AIR TITIK JENUH SERAT BEBERAPA JENIS KAYU PERDAGANGAN DI KABUPATEN KONAWE SELATAN zakiah uslinawaty; Niken Pujirahayu; Nurhayati Hadjar; abigael kabe; Nurnaningsih Hamzah
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 5 No. 1 (2024): Celebica Jurnal Kehutanan Indonesia
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jc.v5i1.83

Abstract

Penelitian bertujuan untuk menguji kadar air titik jenuh serat bebrapa jenis kayu perdagangan dikabupaten konawe selatan. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium kehutanan fakultas kehutanan dan ilmu lingkungan universitas halu oleo, berlangsung selama kurang lebih satu bulan yakni september sampai oktober 2019, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai kandunag kadar air yang terdapat pada beberapa jenis kayu perdagangan yang ada dikabupaten konawe selatan, dan ini manfaat dari penelitian ini yaitu sebagai dasar untuk membuat jadwal pengeringan kayu perdagangan yang berada di kabupaten konawe selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai kadar air kondisi titik jenuh serat (KA-TJS) untuk Jabon putih (Neoleamarckia cadamba) memiliki nilai rata-rata 30,86%, kayu Akasia mangium (Acacia mangium), 27,74%, kayu Jati Lokal (Tectona grandis L.F) 15,16%, dan kayu Jabon Merah (Neoleamarckia macrophyllus)30,06%. Nilai-nilai ini mendekati nilai pustaka yang dijadikan rujukan meskipun cenderung lebih rendah. Dengan demikian maka rata-rata nilai KA-TJS pada ke-lima jenis kayu perdagangan Indonesia yang diteliti khususnya Jabon putih, kayu Akacia, kayu Jati Lokal, Kayu Jabon Merah ternyata dibawah 30%..