Cepi Irawan
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Kontinuitas dan Perubahan Sawer Panganten dalam Upacara Perkawinan Adat Sunda Kontemporer Irawan, Cepi
Journal of Urban Societys Arts Vol 12, No 2 (2012): Oktober 2012
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami peristiwa saweran yang terjadi dalammasyarakat Sunda kontemporer. Penelitian dilakukan dengan pengamatan terlibatpada upacara perkawinan yang berlangsung dalam masyarakat Sunda yang tinggaldi kota. Peristiwa nyawer atau sawer dilaksanakan pada waktu upacara perkawinanadat Sunda setelah akad nikah. Upacara ini dilengkapi dengan benda-benda simbolikyang mempunyai nilai ritual seperti mantera atau rajah. Sawer yang bentukaktivitasnya berupa penyampaian nasihat kepada mempelai melalui lagu-lagu yangdinyanyikan oleh juru sawer dengan seni mamaos sebagai sarananya. Sawer ataunyawer mempunyai arti air jatuh memercik, sesuai dengan praktek juru sawer yangmenabur-naburkan perlengkapan nyawer seolah-olah memercikkan air kepadamempelai serta kepada semua yang hadir dan ikut menyaksikan di sekelilingnya.Acara seperti ini disebut nyawer karena dilakukan di panyaweran atau taweuranatau cucuran atap. berdasarkan pengamatan, dapat disimpulkan bahwa pada saatini telah terjadi perubahan-perubahan, baik dari segi tempat pertunjukan, waktupelaksanaan, materi lagu yang dibawakan, dan juru sawer yang melaksanakannya.Meskipun demikian, acara sawer ini sampai sekarang masih terus dilaksanakan olehmasyarakat Sunda kontemporer. Continuity and Change of Sawer Art in the Sundanese Tradition WeddingCeremony. The sawer art is a kind of song that has a free meter, accompanied by themusical instruments of kacapi (both the kacapi indung and the kacapi rincik) and eitherthe flute or the rebab (a two-stringed musical instrument). One of the functions of thisart is to become a part of the ceremonial activities in the Sundanese wedding ceremony.It is performed after the marriage ceremony. In this case, the sawer art is carried out byusing a technique served with beverage refreshment (ditambul) or songs sung withoutany musical accompaniments. Marriage is considered to be sunnah (optional) and it isdetermined by human beings based on the spiritual and physical needs. The marriageceremony is the most vital part in the process. After the marriage ceremony is over,there are other ceremonies to be carried out. These extra ceremonies do not belong tothe religious rule, instead they are parts of the old Sundanese customs which exist untilthe present time and perpetuated by many Sundanese people. They include the saweror nyawerthrough which an activity is done by giving a message to the newly-marriedcouple through songs presented by the jurusawer. From time to time, the sawer art stillexists with its strong tradition and it spreads throughout West Java, especially Priangan. Some people have this art as their profession. There have been some changes in theSundanese wedding tradition, i.e. those concerning time, place, equipment and thepeople organizing it.
KESENIAN GLIPANG RHODAT DI DESA NGUTER KECAMATAN PASIRIAN LUMAJANG JAWA TIMUR DALAM PERSPEKTIF ETNOMUSIKOLOGIS Denny Bhagus Syahroni; Supriyadi Supriyadi; Cepi Irawan
SELONDING Vol 18, No 2 (2022): : September 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sl.v18i2.7718

Abstract

Glipang Rodhat merupakan jenis pertunjukan kesenian tradisional. Dalam kesenian tersebut terlihat unik, sehingga peneliti ingin memahaminya lebih dalam, yakni bagaimana struktur penyajian musik Glipang Rodhat serta bagaimana penggabungan antara kesenian Glipang dengan kesenian Tari Rodhat.Untuk memahami kesenian tersebut, peneliti menggunakan pendekatanEtnomusikologi. Konsep teks seni pertunjukan dari Marco DeMarinisdigunakan untuk mengupas aspek tekstual, sedang aspek kontekstual menggunakan teori hybrid dari Homi K. Bhabha. Pemaparan secara deskriptif analitik dipakai dalam penelitian kualitatif ini.Hasil yang ditemukan, kesenian Glipang Rodhat merupakan perpaduan kesenian lokal Jawa, Madura dengan kesenian dari Turki. Kesenian lokal sebagai bentuk perlawanan yang berwujud mimicry sekaligus mockery. Sedangkan kesenian dari Turki bernuansa religi yang tampak khususnya dalam simbol-simbol instrumen musik yang digunakan serta lantunan tembang dan parikan yang dimainkan sarat dengan nilai-nilai keislaman.
BAND ETNIS DALAM IBADAH MINGGU DI GEREJA HKBP YOGYAKARTA Lumbantobing, Ehud Yohada; Irawan, Cepi
SELONDING Vol 20, No 2 (2024): : SEPTEMBER 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sl.v20i2.12444

Abstract

Masuknya para Missionaris Kristen ke Tanah Batak, jemaat diwajibkan untuk dapat bernyayi yang diiringi alat musik gereja atau organ dan melarang seluruh aktivitas masyarakat yang bersifat animism, termasuk penggunaan Gondang. Setelah para Misionaris pulang ke negaranya masing-masing, ibadah kebaktian yang hanya menggunakan organ gereja, telah digabungkan dengan alat musik tradisional Batak seperti sulim, taganing, hasapi, garantung dan sebagainya, karena jemaat menganggap akan merasakan kedekatannya dengan Tuhan jika alat musik gereja dipadukan dengan alat musik tradisonal dalam Ibadah Kebaktian. Hal ini dapat ditemukan pada Gereja HKBP Yogyakarta, menggunakan permainan Band Etnis yang merupakan penggabungan instrument etnis batak seperti sulim dan taganing dan instrument non batak yaitu lokal brass band seperti seperti keyboard, drum, bass, dan lain-lain. Penggabungan band etnis (instrument etnis batak dan lokal brass band) ini memainkan lagu-lagu kebaktian yang bertangga-nada diatonis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk penyajian ansambel Band Etnis, menganalisis dan mengetahui fungsi Band Etnis dalam tata kebaktian minggu gereja HKBP Yogyakarta. Penelitian ini mengkaji pementasan Band Etnis yang dilakukan dalam ibadah kebaktian HKBP Yogyakarta  31 Oktober 2021 dan juga secara live streaming di Platform Youtube HKBP JOGJA MULTIMEDIA dengan tahapan secara terstuktur, sehingga pengklarifikasian dari data yang didapatkan mempermudah peneliti dalam menganalisis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnomusikologis. Tehnik pengumpulan data melalui observasi secara langsung, berpartisipasi secara langsung, wawancara, dan dokumentasi.
GONDANG UNING-UNINGAN GRUP RAP OLO DALAM UPACARA PERKAWINAN ADAT BATAK TOBA DI YOGYAKARTA Samosir, Joshua Kristopel; Yulaeliah, Ela; Irawan, Cepi
SELONDING Vol 21, No 2 (2025): September 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sl.v21i2.12446

Abstract

Gondang Uning-uningan merupakan ansambel yang digunakan pada upacara perkawinan adat Batak Toba termasuk di Yogyakarta. Sampai saat ini Gondang Uning-Uningan masih menjadi bentuk solusi dalam mengiringi musik disetiap prosesi upacara perkawinan berlangsung. Ansambel Gondang tidak lepas dari siapa yang memainkannya. Salah satu grup musik Gondang Uning-uningan yang ada di Yogyakarta adalah Grup Musik Rap Olo.Grup Musik Rap Olo merupakan salah satu Grup musik etnis Batak Toba yang sampai saat ini masih eksis khususnya di Yogyakarta. Grup musik Rap Olo sering terlibat mengiringi musik Gondang Uning-uningan pada upacara perkawinan adat Batak Toba di Yogyakarta. Dalam Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana betuk penyajian Grup Musik Rap Olo dan fungsi Gondang Uning-uningan dalam upacara Perkawinan Batak Toba. Metode yang dingunakan yaitu penelitian kualitatif dan pendekatan etnomusikologis yang dibagi menjadi tekstual dan kotekstual. Berdasarkan hasil pengamatan tekstual dari lagu Sitappar Api merupakan lagu satu bagian yang terdiri dari frase tanya jawab dan motif tanya jawab, sementara itu kajuan kontekstual fungsi Gondang Uning-uningan dalam upacara perkawinan adat Batak Toba di Yogyakarta yaitu sebagai, fungsi hiburan, komunikasi, pengungkapan emosional, norma soial, kesinambungan budaya, dan pengintergrasian masyarakat
Kesenian Badud dalam Upacara Panen di Desa Margacinta Kecamatan Cijulang Kabupaten Pangandaran Prayogo Pangestu; Cepi Irawan
Jurnal Mebang: Kajian Budaya Musik dan Pendidikan Musik Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Program Studi Etnomusikologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/mebang.v6i1.286

Abstract

This research aims to reveal the symbolic meanings contained in the Badud performing art during the harvest ceremony in Margacinta Village, Cijulang District, Pangandaran Regency. The focus of the study is directed toward the musical elements, dance, costumes, and ritual sequence that shape the structure of the Badud performance as part of the agrarian traditions of the local community. This study employs a qualitative method with an ethnomusicological approach, which integrates musical analysis with socio-cultural contexts to understand function, structures, and meaning of Badud I community life. Data were collected through direct observation of the Badud performance, audio-visual recording, and in-depth interviews with cultural figures, artists, and community leaders. The data analysis technique uses the interactive model of Miles and Huberman (data reduction, data display, and conclusion drawing), strengthened by Roland Barthes semiotic theory to explore denotative, connotative, and mythical meanings within the symbolic elements of the performance. The findings show that Badud contains agrarian symbols related to hopes for fertility, protection of crops, and expressions of gratitude for the harvest. The music of dog-dog, angklung, and kempul creates a ritual atmosphere believed to repel pests, while the animal costumes represent the dynamics of nature and the relationship between humans and cosmological forces. Overall, Badud functions as both a ritual medium and a cultural identity that reflects the spiritual values and everyday life of the Margacinta community.
Transformasi Rinding Gumbeng Gunungkidul Dalam Acara HUT RI Ke-77 Di Istana Negara Jakarta Arya Prabu; Krismus Purba; Cepi Irawan
SELONDING Vol 22, No 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/sl.v22i1.15477

Abstract

Rinding Gumbeng dusun Duren Kalurahan Beji, Kapanewon Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, dalam konteks penampilannya pada perayaan HUT Republik Indonesia ke-77 di Istana Negara Jakarta. Rinding Gumbeng, sebagai salah satu warisan tradisional agraris, awalnya hadir dalam konteks ritual dan kehidupan masyarakat pedesaan, terutama sebagai rasa syukur atas hasil panen. Namun, ketika dipentaskan di ruang kenegaraan yang formal dan terstruktur, kesenian ini mengalami sejumlah perubahan bentuk dan penyajian. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui bentuk penyajian Rinding Gumbeng dalam acara HUT RI ke-77 serta bagaimana transformasi musik tradisional ini mempertahankan esensinya ketika dipindahkan ke ruang pertunjukan formal. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif dan pendekatan etnomusikologis, data diperoleh melalui observasi langsung, wawancara mendalam dengan pelaku seni, dan dokumentasi pertunjukan. Teori Garap Rahayu Supanggah dan Transformasi oleh Umar Kayam sebagai landasan teori untuk membedah permasalahan yang ada. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat penyesuaian unsur musikal dan struktur penyajian agar sesuai dengan format acara kenegaraan, namun transformasi ini tetap menjaga esensi budaya dan identitas lokal yang melekat pada Rinding Gumbeng. Penampilan di Istana Negara mendapat apresiasi dari tamu undangan VVIP yang melintas di depan panggung Rinding Gumbeng, bahkan ada beberapa menteri yang ikut berjoged seiring lagu yang disajikan.