Abdul Munir Mulkhan
Universitas Muhammadiyah Surakarta

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Maarif

Harmonisasi Islam dan Tradisi Lokal dalam Kehidupan Warga Muhammadiyah di Pedesaan Abdul Munir Mulkhan
MAARIF Vol 16 No 1 (2021): Muhammadiyah dan Moderasi Islam
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47651/mrf.v16i1.132

Abstract

Perkembangan kehidupan masyarakat di era revolusi teknologi 4.0, membuat lembaga ekonomi dan sosial banyak yang mengalami kebangkrutan ditinggalkan warga. Nasib serupa suatu saat bisa saja dialami Muhammadiyah di masa depan. Di saat demikian itulah perkembangan Muhammadiyah dengan pengalaman aktivis gerakan berdialog dengan tradisi lokal di desa Kerto Yogyakarta, Plompong Brebers, Wuluhan Jember, Sendang Ayu Lampung, Jatinom Klaten Jawa Tengah, menarik untuk dikembangkan sebagai model dan pola dialog kreatif dan kritis semacam “ijtihad” lokal menjawab pertanyaan tentang peran dan fungsi Muhammadiyah dalam kehidupan masyarakat yang sedang berubah. Masa depan gerakan ini banyak ditentukan oleh kemampuan memaknai ulang jargon kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah secara kreatif dan substantif agar tidak terjebak pada pemaknaan harfiah yang kaku dan beku. Karena itu harmonisasi tradisi lokal dengan fatwa tarjih melalui media dialog kritis dan kreatif menjadi agenda masa depan yang perlu menjadi fokus perhatian para aktivis gerakan ini untuk memelihara elan-vital gerakan pembaruan sosial-budaya di era abad kedua sejarahnya.
Harmonisasi Islam dan Tradisi Lokal dalam Kehidupan Warga Muhammadiyah di Pedesaan Abdul Munir Mulkhan
MAARIF Vol 16 No 1 (2021): Muhammadiyah dan Moderasi Islam
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47651/mrf.v16i1.132

Abstract

Perkembangan kehidupan masyarakat di era revolusi teknologi 4.0, membuat lembaga ekonomi dan sosial banyak yang mengalami kebangkrutan ditinggalkan warga. Nasib serupa suatu saat bisa saja dialami Muhammadiyah di masa depan. Di saat demikian itulah perkembangan Muhammadiyah dengan pengalaman aktivis gerakan berdialog dengan tradisi lokal di desa Kerto Yogyakarta, Plompong Brebers, Wuluhan Jember, Sendang Ayu Lampung, Jatinom Klaten Jawa Tengah, menarik untuk dikembangkan sebagai model dan pola dialog kreatif dan kritis semacam “ijtihad” lokal menjawab pertanyaan tentang peran dan fungsi Muhammadiyah dalam kehidupan masyarakat yang sedang berubah. Masa depan gerakan ini banyak ditentukan oleh kemampuan memaknai ulang jargon kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah secara kreatif dan substantif agar tidak terjebak pada pemaknaan harfiah yang kaku dan beku. Karena itu harmonisasi tradisi lokal dengan fatwa tarjih melalui media dialog kritis dan kreatif menjadi agenda masa depan yang perlu menjadi fokus perhatian para aktivis gerakan ini untuk memelihara elan-vital gerakan pembaruan sosial-budaya di era abad kedua sejarahnya.