Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : Jurnal Agro

Pengaruh konsentrasi Si biogenic dan N-total terhadap pertumbuhan dan konsentrasi nitrat tanaman selada hidroponik Salamet Ginandjar; Budy Frasetya Taufik Qurrohman; Panji Rahmatullah
Jurnal Agro Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/11959

Abstract

Tanaman selada merupakan sayuran yang dikonsumsi dalam bentuk segar. Karakteristiknya sebagai tanaman akumulator nitrat perlu diimbangi pemupukan N dan aplikasi Silika (Si) sesuai kebutuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari interaksi ekstrak silika sekam padi (ESSP) dan N-total, serta memperoleh konsentrasi  ESSP dan N-total yang tepat untuk menghasilkan panen selada yang tinggi tetapi aman bagi kesehatan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap Faktorial, faktor pertama adalah konsentrasi ESSP (0 ppm, 30 ppm, 60 ppm, 90 ppm) dan faktor kedua adalah konsentrasi N-total (100 ppm, 200 ppm, 300 ppm), setiap kombinasi perlakuan diulang 3 kali. Parameter yang diamati yaitu tinggi tanaman 35 hari setelah tanam (HST), luas daun, berat kering tanaman, berat segar tanaman, kandungan nitrat pada daun selada. Data dianalisis dengan analisis varians taraf 5% dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf nyata 5%, sedangkan parameter kandungan nitrat dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan hasil analisis varians konsentrasi ESSP dan konsentrasi N-total berinteraksi pada tinggi tanaman dan berpengaruh mandiri terhadap berat kering tanaman dan berat segar tanaman. Aplikasi ekstrak silika sekam padi 30 ppm meningkatkan hasil panen 28% lebih tinggi dan menurunkan 12% kandungan nitrat tanaman selada pada N total 100-300 ppm.AbstractLettuce is a freshly consumed vegetable. Its characteristics as a nitrate accumulator plant need to be balanced with N fertilization and Silica (Si) applications according to the plant required. This research aimed to study the interaction between rice husk silica extract (ESSP) and total N to obtain the right ESSP and total N concentrations to produce high yield lettuce and safely consumed it. This study used a factorial completely randomized design. The first factor was ESSP concentrations (0 ppm, 30 ppm, 60 ppm, 90 ppm) and the second factor was total N concentrations (100 ppm, 200 ppm, 300 ppm). Each treatment combination was repeated 3 times. The parameters observed were plant height in 35 days after planting, leaf area, plant dry weight, fresh plant weight, and nitrat e content in lettuce leaves. The  data  were  analyzed  by analysis of variance at the 5%, and post-test by DMRT at the 5% significant level, the nitrate content used descriptive analysis. Based on the analysis of variance, ESSP concentration and total N concentration interacted on plant height. The ESSP concentration and total N concentration independently affected plant dry weight and fresh plant weight. Application of 30 ppm rice husk silica extract increased 28% higher yield and decreased 12% nitrate content of lettuce plants at N-total of 100-300 ppm.
Pertumbuhan dan Hasil Seledri (Apium graveolens L.) pada Sistem Hidroponik Sumbu dengan Jenis Sumbu dan Media Tanam Berbeda Riana Pradina Embarsari; Ahmad Taofik; Budy Frasetya Taufik Qurrohman
Jurnal Agro Vol 2, No 2 (2015)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/437

Abstract

Tanaman seledri dipergunakan sebagai pelengkap masakan ataupun sebagai obat. Tingginya permintaan seledri dalam bentuk segar oleh masyarakat  Indonesia belum dapat terpenuhi, selain itu tanaman seledri bersifat aditif dalam bahan makanan sehingga dipergunakan dalam jumlah sedikit tetapi penting. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei – Agustus 2014 di Screen House Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat dengan ketinggian sekitar 700-800 m dpl. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial dua faktor. Faktor pertama terdiri dari 2 taraf, yaitu kain sumbu bahan wol dan kain sumbu bahan katun. Faktor ke dua adalah media tanam yang terdiri dari beberapa 5 taraf yaitu media tanam 100% kompos, media tanam 50% kompos + 50% arang sekam, media tanam 25% kompos daun bambu + 75% arang sekam, media tanam 75% kompos daun bambu + 25% arang sekam dan media tanam 100% arang sekam. Sehingga terdapat 10 kombinasi taraf perlakuan yang diulang sebanyak tiga kali.Uji lanjut menggunakan uji jarak berganda Duncan. Parameter utama yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah batang, dan bobot segar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi interaksi antara jenis sumbu dan media tanam pada tinggi tanaman dari umur 3 MST sampai umur 8 MST dengan perlakuan (s2m2), pada jumlah batang terjadi interaksi pada umur 6 dan 8 MST dengan perlakuan (s2m3), bobot segar terjadi interaksi umur 8 MST dengan perlakuan (s2m2). Jenis sumbu dan media tanam yang paling baik pada umur 8 MST terhadap tinggi tanaman dan bobot segar adalah (s2m2) sedangkan pada jumlah batang terdapat pada perlakuan (s2m3). Celery plant is used as a food supplement or as a medicine. The high demand in the form of fresh celery by the people of Indonesia has not been met by supply, besides celery plants are additive in food ingredients also used in small amounts but vital. The experiment was conducted in May until August 2014 at screen house Faculty of Agriculture, University of Padjadjaran, Jatinangor, Sumedang regency, West Java Province, altitude 700-800 m above sea level. This study used a completely randomized design (CRD) factorial of two factors. The first factor composed of 2 levels, s1 = wool fabrics and s2 = cotton fabrics. Second factor was the growing media consisting of 5 levels respectively m1 = 100% of bamboo leaf compost, m2 = 50% of bamboo leaf compost + 50% of rice husk pyrolysis, m3 = 25% of bamboo leaf compost + 75% of rice husk pyrolysis, m4 = 75% of bamboo leaf compost + 25% of rice husk pyrolysis and m5 = 100% of rice husk pyrolysis. So there were 10 combinations level of treatment was repeated three times. Further test used Duncan Multiple Range Test. Parameter observed were plant height, number of stems and fresh weight. The results showed there were interaction between wick types and growing medias on plant height from 3 MST (Week After Planting) until 8 MST (Week After Planting) treatment (s2m2), the number of stems interaction at  6 MST and 8 MST treatment (s2m3), fresh weight interaction at 8 MST (Week After Planting) treatment (s2m2). The best of wick types and growing media at 8 MST on plant height and fresh weight was (s2m2) while the number of stems were in treatment (s2m3).
Eksplorasi dan Karakterisasi Tanaman Genjer (Limnocharis flava (L.) Buch) di Kabupaten Pangandaran Berdasarkan Karakter Morfologi dan Agronomi Liberty Chaidir; Kristi Yuliani; Budy Frasetya Taufik Qurrohman
Jurnal Agro Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/967

Abstract

Genjer merupakan tanaman yang tumbuh liar di area persawahan, rawa, atau sungai yang keberadaannya sering dianggap sebagai gulma. Tanaman genjer memiliki banyak manfaat, diantaranya sebagai bahan penyerap logam berat dalam tanah dan sebagai obat yang memiliki banyak kandungan gizi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi karakter morfologi dan karakter agronomi untuk mengetahui hubungan kekerabatan tanaman genjer antar daerah di Kabupaten Pangandaran. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Pangandaran pada Mei sampai Oktober 2015. Metode yang digunakan adalah metode eksplorasi purposive sampling pada 77 aksesi genjer yang diambil dari Kabupaten Pangandaran. Hasil penelitian menunjukkan terdapat keragaman fenotipik yang luas pada karakter morfologi ujung daun, warna batang, tekstur daun, warna daun, panjang lekukan bawah daun, warna kelopak bunga dan warna bunga. Karakter agronomi yang mempunyai keragaman yang luas ialah tinggi tanaman, jumlah batang per rumpun, panjang daun, lebar daun, jumlah daun, jumlah bunga dan diameter batang. Tanaman genjer di Kabupaten Pangandaran memiliki kekerabatan yang jauh dengan rentang jarak Euclidian 0,48 sampai 10,17. Aksesi yang memiliki hubungan kekerabatan paling jauh yaitu Ciakar (001) dengan jarak Euclidian 10,17, sedangkan yang memiliki hubungan kekerabatan paling dekat yaitu Cikalong (003) dan Cikalong (004) dengan jarak Euclidian 0,48. Genjer or Yellow velvetleaf is a plant that grows wild in lowland area, swamp or river which existence is considered as a weed. Genjer has a lot of benefits, such as material absorbent for heavy metals in the soil and medicine that has a lot of nutrition. This study aimed to determine the variety of morphological and agronomic characters of Genjer in Pangandaran Regency and to determine the genetic relationship of genjer between regions in Pangandaran. The research was conducted in the Pangandaran Regency on May to October 2015. The method used purposive sampling exploration method in 77 accession genjer collected from Pangandaran Regency. The results showed there were extensively phenotypic variation in tip of leaf, stem color, leaf texture, leaf color, length curve of bottom leaf, petal color and flower color. While agronomic characters for plant height, stem amount, leaf length, leaf width, leaf amount, flower amount and diameter of the stem had wide variation. Relationship between genjer in Pangandaran Regency had Euclidean distance with a range of 0.48 to 10.17. The accession which had the farthest distance was Ciakar (001) with Euclidean distance of 10.17, while those with the closest relationship were Cikalong (003) and Cikalong (004) with Euclidean distance of 0.48.
Analisis Potensi Kerusakan Tanah untuk Produksi Ubi Kayu (Manihot utilisima) pada Lahan Kering di Kecamatan Tanjungsiang, Kabupaten Subang Budy Frasetya Taufik Qurrohman; Abraham Suriadikusuma; Rachmat Haryanto
Jurnal Agro Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/78

Abstract

Penggunaan lahan kering untuk produksi ubi kayu secara intensif tanpa menerapkan teknik budidaya ubi kayu secara lestari dan berkelanjutan di Kecamatan Tanjungsiang berpotensi menyebabkan kerusakan tanah. Penetapan Potensi Kerusakan Tanah dan Status Kerusakan Tanah telah diatur oleh pemerintah pusat melalui Peraturan Pemerintah Nomor 150 Tahun 2000, Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Tahun 2006 Tentang Tata Cara Pengukuran Kriteria Baku Kerusakan Tanah untuk Produksi Biomassa. Metode penelitian yang digunakan adalah survei deskriptif dengan tahapan penetapan peta potensi kerusakan tanah hasil overlay peta tematik dan penetapan status kerusakan tanah menggunakan metode matching dan skor frekuensi relatif. Hasil penelitian diperoleh luas lahan kering di Kecamatan Tanjungsiang yang berpotensi rusak sedang 846,07 hektar dan potensi kerusakan tinggi 431,86 hektar setelah dilakukan survei dan analisis laboratorium contoh tanah pada lokasi tersebut diperoleh hasil bahwa Status Kerusakan Tanah pada lokasi dengan potensi kerusakan sedang dan tinggi termasuk kategori Rusak Ringan (R.I) dengan nilai skor frekuensi relatif masing-masing 8. Luas wilayah yang termasuk rusak ringan 1.277,93 hektar (19,02%) parameter yang termasuk Rusak Berat yaitu Kecepatan Infiltrasi dan Potensial Redoks, sedangkan parameter lainnya termasuk kategori Tidak Rusak (N). Intensively land use of dry land for cassava productions without applying sustainable and sustained cassava farming technique in District Tanjungsiang potentially causes soil degradation. Determination of soil potential degradation and soil degradation status has been set by the central government through Government Regulation No. 150 year 2000, Regulation of the Minister of Environment in year 2006 on the Procedures for Measuring Soil degradation Standard Criteria for Biomass Production. The research method used was a descriptive survey with a stage-setting soil potential degradation by overlay thematic maps and the determination of the status of soil degradation using matching methods and relative frequency score. Results obtained in the dry land area of the District Tanjungsiang potentially medium degradation 846,07 hectares and 431,86 hectares of high potential degradation after survey and laboratory analysis of soil samples at the site that results obtained degradation status of land on the location of the degradation potential  to medium and high soil degradation categorized light (R.I) with a score relative frequency of each 8. Total area that included minor damage 1277,93 hectares (19,02%), parameters included Heavy Damage namely Infiltration Rate and Redox Potential, while the other parameters included on Not Damaged (N) category.
Pengaruh dosis bokashi jerami padi sebagai sumber silika (Si) terhadap pertumbuhan dan hasil tiga varietas padi sawah (Oryza sativa L.) Suryaman Birnadi; Budy Frasetya; Eko Prastio Sundawa
Jurnal Agro Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/4817

Abstract

Penurunan ketersediaan unsur silikon (Si) di dalam tanah berdampak terhadap produktivitas padi, padahal jerami padi merupakan sumber pupuk Si yang memiliki kandungan silika 5-6%. Respons pemupukan silika pada setiap varietas padi berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi dan dosis rekomendasi bokashi jerami padi untuk setiap jenis varietas padi yang diteliti. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial dua faktor dengan tiga ulangan. Faktor pertama yaitu dosis bokashi jerami (J) terdiri dari 4 taraf yaitu: j0=tanpa bokashi jerami, j1= 7,5 t ha-1 bokashi jerami padi (Si=961,5 kg ha-1), j2=15 t ha-1 bokashi jerami padi (Si=1923 kg ha-1), j3=22,5 t ha-1 bokashi jerami padi (Si=2884,5 kg ha-1). Faktor kedua varietas padi (V) yaitu: v1= Inpari 19, v2= Inpari 13 dan v3= Ciherang. Parameter yang diamati: tinggi tanaman, jumlah anakan, berat gabah 1000 butir, berat gabah per rumpun dan berat gabah per hektar. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis varians pada taraf 5%, dilanjutkan dengan uji beda jarak Duncan pada taraf 5%. Hasil analisis varians menunjukkan terdapat interaksi antara dosis bokashi jerami padi dengan jenis varietas padi pada berat gabah 1000 butir dan pengaruh mandiri terhadap parameter lainnya. Aplikasi bokashi jerami 15 t ha-1 meningkatkan produktivitas tiga varietas padi.ABSTRACTDeclining silicon availability in the soil affects paddy productivity, meanwhile paddy straw as a source of silica contains 5-6% silica. Response of application silica fertilizer is different for each paddy cultivar. This study aimed to determine the interaction and dosage recommendations of paddy straw bokashi for each type of paddy varieties observed. This study used a factorial randomized block design two factors with three replications. The first factor was bokashi paddy straw dose (J) consisted of 4 levels, namely: j0 = without bokashi straw, j1 = 7.5 t ha-1 bokashi rice straw (Si = 961.5 kg ha-1), j2 = 15 t ha- 1 bokashi straw rice (Si = 1923 kg ha-1), j3 = 22.5 t ha-1 bokashi rice straw (Si = 2884.5 kg ha-1). The second factor was paddy cultivar (V), i.e: v1 = Inpari 19, v2 = Inpari 13 and v3 = Ciherang. Parameters observed were plant height, number of tillers, 1000 grains weight, weight of grain per clump, and weight of grain per hectare. The data were analyzed with analysis of variance at the significance level of 5%  than continued with Duncan multiple range test at a significant level of 5%. The results showed that there was an interaction between the bokashi doses of paddy straw and the rice varieties on the grain weight of 1000 grains, yet independent effects occured on the other parameters. The application of 15 t ha-1 bokashi straw increases the productivity of three rice varieties.
Evaluasi variasi nilai electrical conductivity terhadap pertumbuhan tanaman selada (Lactuca sativa L.) pada sistem hidroponik NFT Budy Frasetya; Ahmad Taofik; Riki K. Firdaus
Jurnal Agro Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/2966

Abstract

Tanaman selada di Indonesia umumnya dikonsumsi dalam bentuk segar. Evaluasi pengaturan nilai electrical conductivity (EC) sesuai umur tanaman selada diperlukan sebagai upaya menjaga kualitas produk (berat segar, tampilan visual) dan meningkatkan efisiensi penggunaan nutrisi. Penelitian ini dilakasanakan pada September-Oktober 2017 bertempat di Kecamatan Banjaran. Percobaan yang dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap terdiri dari 4 taraf dan diulang 6 kali. Perlakuan yang diberikan merupakan kombinasi nilai  EC fase vegetatif awal (VI) dan fase vegetatif akhir (VII)  perlakuan A=(VI = 1,5; VII = 2,0); B=(VI = 1,6; VII = 2,2);C=(VI = 1,7; VII = 2,4);D=(VI = 1,8; VII = 2,6) mS cm-1. Aplikasi nilai  EC (VI = 1,7; VII = 2,4) mS cm-1 memberikan pertumbuhan tertinggi (tinggi tanaman, luas daun, bobot segar tanaman). Berdasarkan hasil berat segar tanaman pengaturan nilai EC dapat meningkatkan efisiensi penggunaan nutrisi hidroponik. Lettuce is commonly consuming as a fresh vegetable in Indonesia. The evaluation of electrical conductivity adjustment by lettuce plant age is an effort to achieve quality product (fresh weight, visual appearance) and improve nutrient efficiency. This research conducted in September-October 2017 at Banjaran District. This experiment used a completely randomized design with 4 level treatments and replicated six times. Application of combination EC value phase vegetative I and vegetative II, respectively: A=(VI = 1.5; VII = 2.0); B=(VI = 1.6; VII = 2.2);C=(VI = 1.7; VII = 2.4);D=(VI = 1.8; VII = 2.6) mS cm-1. This research showed that application nutrient with EC value (VI = 1.7; VII = 2.4) mS cm-1 affect plant growth higher (plant height, leaf area, fresh weight). Based on the results of the plant’s fresh weight parameter EC value improved the efficiency of using hydroponic nutrient.
Pengaruh aplikasi silika terhadap produktivitas tanaman padi pada tanah sawah dengan status silika berbeda Frasetya, Budy; Suriadikusumah, Abraham; Joy, Benny; Sudirja, Rija
Jurnal AGRO Vol. 12 No. 2 (2025)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/j.agro.49997

Abstract

Tanaman padi (Oryza sativa L.) merupakan komoditas strategis dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Berbagai upaya dilakukan agar hasil panen tanaman padi terus meningkat. Aplikasi silika (Si) pada tanaman padi masih jarang dilakukan oleh petani sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas tanaman padi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi terbaik aplikasi Si pada setiap status Si tanah sawah terhadap produktivitas tanaman padi. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan ulangan tidak sama. Terdiri dari sembilan perlakuan yang merupakan kombinasi antara status Si tersedia (rendah, sedang dan tinggi) dan aplikasi Si (tanpa pemupukan, ekstrak silika sekam padi 20 dan 40 mL L-1. Variabel penelitian yang diamati yaitu jumlah malai umur 84 dan 98 hari setelah tanam, berat kering biomassa jerami, berat gabah per 1000 butir, berat gabah per rumpun dan berat gabah konversi per hektar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi optimum aplikasi Si berbeda-beda bergantung pada status Si dalam tanah. Level optimum aplikasi Si diperoleh konsentrasi 11 dan 28 mL L-1 untuk Si tersedia sedang dan tinggi. ABSTRACT Rice is a strategic commodity for maintaining national food security. Various efforts are being made to increase rice yields. Application of silica (Si) on rice plants is still rarely carried out by farmers as an effort to increase rice productivity. This study aims to determine the optimal concentration of Si application at each Si status of paddy soil for rice plant productivity. The method used in this study is an experimental method using a completely randomized design with unequal replications. Consisting of nine treatments, a combination of available Si status (low, medium and high) and Si application (no fertilization, rice husk silica extract 20 and 40 mL L-1). The research parameters observed were the number of panicles at 84 and 98 days after planting, dry weight of straw biomass, grain weight per 1000 grains, grain weight per clump and converted grain weight per hectare. The results indicated that the optimal Si application concentration varied according to the soil Si status. The optimum Si application was at concentration of 11 mL L-1 of 28 mL L-1 in paddy soil with a medium and high available Si status, respectively.