Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

The Role of Creative Social Energy in Strengthening Ecological Adaptation Capacity Through Community Empowerment Sumardjo Sumardjo; Adi Firmansyah; Leonard Dharmawan
Jurnal Penyuluhan Vol. 16 No. 2 (2020): Jurnal Penyuluhan
Publisher : Department of Communication and Community Development Sciences and PAPPI (Perhimpunan Ahli Penyuluh Pertanian Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25015/16202028361

Abstract

Investments in large companies engaged in natural resource management have the potential to cause conflict, which requires an alternative model of conflict potential management. This study aims to analyze the development of creative social energy as an alternative to managing potential conflicts through empowering community food security. This study uses a participatory action study method for community empowerment and cybernetic triangulation methods in extracting data. Communities in the company's operational Ring1 area carried out community empowerment efforts by placing extension workers as community assistants. The results of the study show that community empowerment through a participatory extension approach is effective in supporting the realization of community welfare through increased income. Participatory community empowerment is effective in developing creative social energy. There is a close relationship between community empowerment and strengthening creative social energy and increasing the ecological adaptation capacity of society to the dynamics of environmental change. The ecological adaptation capacity of the community develops in line with the level of community empowerment. Community empowerment through effective participatory counseling is a model for managing potential conflicts in CSR programs. Extension workers with participatory community empowerment competencies are a key factor in the success of community empowerment.
Sodality in Peri-Urban Community Empowerment: Perspective of Development Communication and Extension Science Sumardjo Sumardjo; Adi Firmansyah; Leonard Dharmawan
Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan Vol. 9 No. 1 (2021): Sodality Edisi Khusus Tribute to Prof. Dr. SMP. Tjondronegoro
Publisher : Departement of Communication and Community Development Sciences, Faculty of Human Ecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22500/9202135217

Abstract

Tjondronegoro's concept of sodality is gaining momentum to be applied in a broader context. Sodality is relevant to participatory approaches in community development, extension/empowerment, and development communication. This study aims to answer how the role of sodality is in the empowerment of peri-urban communities from communication and extension development sciences. This research method uses a participatory action study by placing the researcher to live with the community. Sodality can be interpreted as the life force of a unique community unit. However, without any family relationship, they are bound by a synergy of interest relations without eliminating the primary relationship. In the context of empowerment, the bonds in sodality are colored more with interest in achieving life necessities among community members. Thus, in peri-urban communities, sodality is closer to the meaning of social capital, which effectively strengthens the community's efforts to live a life together, both with internal and external parties. The Tjondronegoro version of the concept of sodality in the current era is not only for the smallest community unit in the community territory, but it can be strengthened by the meaning of a synergy of interests in meeting the needs of a community.
Komunikasi Inovasi dalam Pemanfaatan Lahan Pekarangan Komunitas Petani untuk Mewujudkan Kemandirian Pangan di Era Digital Leonard Dharmawan; Adi Firmansyah; Tri Susanto
Jurnal Komunikasi Pembangunan Vol. 17 No. 1 (2019): Februari 2019
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (784.877 KB) | DOI: 10.46937/17201926590

Abstract

Communication innovation is a way of conveying the discovery of new ideas to the community for a social change to occur. Utilization of land is an innovation for rural areas today to achieve food independence. The objectives of this study include: 1) Knowing the adoption process for innovative land use for food resources in Doudo Village. 2) Understand how the community optimizes the yard in Doudo Village. 3) Knowing the digital media that people use in marketing their products. The study was conducted on the people of Doudo Village, Gresik Regency, East Java. From July to October 2017. This study uses descriptive and exploratory methods. Primary data taken by key informants and sources related to activities. The results show that the adoption process of innovation is initiated by change agents by mapping community leaders who have credibility, so that they can influence the community. Comparative and observability advantages are the dominant factors that influence the use of land. The types of plants planted include a) family medicinal plants, b) ornamental plants, c) protective plants, d) vegetables, and e) shade plants. The yield from planting is added value so that it can be sold to increase income. Finally, land use is carried out by community leaders and distributed to other communities.
Pemberdayaan Masyarakat Melalui Program Urban Farming Organik di Kabupaten Bekasi Sebagai Program CSR PT. Pertamina EP Tambun Field Adi Firmansyah
Jurnal Resolusi Konflik, CSR dan Pemberdayaan (CARE) Vol. 3 No. 1 (2018)
Publisher : Center for Alternative Dispute Resolution and Empowerment (Care), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konsep urban farming hadir di tengah upaya membangun kemandirian pangan masyarakat. Kegiatan urban farming muncul sebagai jawaban atas kegelisahan masyarakat menyikapi permasalahan keterbatasan lahan. Kajian ini bertujuan untuk: (1) mengkaji perubahan perilaku pertanian setelah adanya program urban farming yang dinisiasi PT. Pertamina EP Tambun Field; (2) menganalisis kelembagaan urban farming yang dinisiasi PT. Pertamina EP Tambun Field. Kajian menggunakan pendekatan kualitatif deksriptif. Berdasarkan hasil kajian diketahui bahwa inisiasi program urban farming organik oleh Pertamina EP Tambun Field di Kabupaten Bekasi menunjukkan beberapa perubahan antara lain: (1) perubahan perilaku petani dalam teknik budidaya tanaman dari sistem pertanian konvensional menjadi organik,  (2) perubahan dalam interaksi dan relasi aktor, tata aturan, nilai, dan norma yang dibangun, dan pengelolaan sumber daya yang dimanfaatkan. Perubahan-perubahan tersebut mendorong terbangunnya kelembagaan yang berperan untuk memperkuat dan meningkatkan manfaat dari sistem pertanian organik dari aspek sosial, ekonomi, maupun ekologi. Pengorganisasian komunitas dan penerapan teknik sosial menjadi salah satu alternatif dalam rangka penguatan kelembagaan urban farming organik yang berkelanjutan.
Perilaku Prososial dan Social Power Penggerak Pendidikan Dan Kewirausahaan Di Cilamaya Kulon, Kabupaten Karawang Adi Firmansyah
Jurnal Resolusi Konflik, CSR dan Pemberdayaan (CARE) Vol. 3 No. 1 (2018)
Publisher : Center for Alternative Dispute Resolution and Empowerment (Care), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu faktor keberhasilan kegiatan pengembangan masyarakat adalah adanya kader-kader lokal sebagai subjek dan penggerak dalam program tersebut. Heru Saleh merupakan contoh kader lokal dari Kecamatan Cilamaya Kulon Kabupaten Karawang yang aktif melakukan pemberdayaan di bidang pendidikan melalui lembaga PKBM Assolahiyah. Tujuan penulisan makalah ini adalah (1) mengkaji prilaku prososial penggerak pemberdayaan berbasis pendidikan di Cilamaya Kulon; (2) menganalisis social power penggerak pemberdayaan berbasis pendidikan di Cilamaya Kulon. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Sumber data penelitian berasal dari berita online dan video terpilih. Data dianalisis secara kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa perilaku prososial Heru Saleh yaitu membantu masyarakat Cilamaya Kulon untuk meningkatkan kualitas hidup mereka melalui pendidikan gratis. Banyaknya kelompok rentan yang enggan bersekolah menjadi salah satu motif mengapa Heru Saleh mendirikan PKBM Assolahiyah. Heru Saleh melalui PKBM Assolahiyah telah berhasil merubah persepsi dan perilaku masyarakat tentang pendidikan. Awalnya masyarakat menganggap pendidikan adalah sesuatu yang tidak penting, saat ini pandangan tersebut telah berubah dan masyarakat Desa Cilamaya Kulon lebih berminat untuk melanjutkan pendidikan. Heru Saleh memiliki social power (kekuasaan sosial). Sumber-sumber social power seorang Heru Saleh adalah reward, experd dan informational (Wiggin et. Al, 1994). Dari sisi reward, masyarakat mendapat imbalan berupa jasa pelayanan pendidikan. Selain itu, masyarakat juga mendapatkan nilai ekonomi berupa hasil penjualan dari usaha terasi. Dari sisi experd, kompetensi, keterampilan dan keahlian sebagai seorang pendidik (sesuai dengan program ini). Kata kunci: pemberdayaan, PKBM Assolahiyah, prososial, social power
Pemberdayaan Masyarakat Pesisir melalui Inovasi Budidaya Rumput Laut Polikultur untuk Pengentasan Kemiskinan Adi Firmansyah; Nadia Rasyina
Jurnal Resolusi Konflik, CSR dan Pemberdayaan (CARE) Vol. 3 No. 1 (2018)
Publisher : Center for Alternative Dispute Resolution and Empowerment (Care), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemiskinan merupakan fenomena sosial yang sering terjadi, ditandai dengan keterbelakangan, ketertinggalan, rendahnya produktivitas, serta rendahnya pendapatan. Salah satu komunitas yang teridentifikasi sebagai golongan miskin saat ini adalah masyarakat pesesir. Data BPS tahun 2015 menunjukkan bahwa sekitar 25% atau sekitar 7,87 juta orang miskin adalah masyarakat pesisir dimana nelayan merupakan pekerjaan utamanya. Namun dalam konteks penyediaan pangan, 80% konsumsi perikanan dalam negeri, di penuhi oleh perikanan skala kecil (maritimnews.com, 2017). PT Pertamina EP Tambun Field secara berkelanjutan mendampingi masyarakat pesisir di Pantai Utara Kabupaten Karawang Jawa Barat melalui program pendampingan budidaya rumput laut polikultur sebagai upaya turut serta dalam program pengentasan kemiskinan. Tulisan ini bertujuan: (1) Menganalisis pola pemberdayaanmasyarakat pesisir di Pantura Jawa Barat, dan (2) Menganalisis dampak pemberdayaan masyarakat pesisir di Pantura Jawa Barat dalam rangka pengentasan kemiskinan. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah studi kasus. Lokasi penelitian di Tambaksari, salah satu desa di Pantai Utara Jawa Barat yang menghadapi permasalahan degradasi sumberdaya alam pesisir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ternyata program pemberdayaan berdampak pada keberlanjutan usaha tambak di Pantai Utara Jawa Barat, yaitu dilihat dari: (1) manfaat ekonomi (profit), (2) manfaat sosial (people), dan manfaat lingkungan (planet). Inovasi pengelolaan tambak rumput laut polikultur ternyata berdampak pada keberlanjutan usaha tambak di Pantai Utara Jawa Barat, yaitu dilihat dari: (1) manfaat ekonomi (profit), (2) manfaat sosial (people), dan (3) manfaat lingkungan (planet). Manfaat ekonomi yang didapatkan dari budidaya tambak polikultur adalah adanya peningkatan pendapatan masyarakat petambak. Manfaat lingkungan secara ekologis berupa absorbsi cemaran tambak yang dilakukan rumput laut sehingga kualitas air tambak akan lebih baik dan kondisi lingkungan kawasan tambak akan tetap terjaga kelestariaannya. Manfaat sosial, budidaya tambak polikultur ternyata efektif untuk penciptaan lapangan pekerjaan yang luas bagi masyarakat sekitar sehingga dapat mengurangi pengangguran.Kata kunci: keberlanjutan, rumput laut, pemberdayaan masyarakat, pengentasan kemiskinan
ANALISIS STAKEHOLDERS PADA DINAMIKA KONFLIK SOSIAL DI PULAU PADANG Adi Firmansyah
Jurnal Resolusi Konflik, CSR dan Pemberdayaan (CARE) Vol. 4 No. 1 (2019)
Publisher : Center for Alternative Dispute Resolution and Empowerment (Care), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.363 KB)

Abstract

Dinamika hubungan sosial antara perusahaan dengan masyarakat di beberapa tempat pada saat ini  semakin  kompleks yang dapat berujung pada konflik. Salah satu konflik sosial yang cukup menyedot perhatian publik adalah konflik sosial di Pulau Padang, Kabupaten Meranti. Terkait konflik tersebut, maka penting untuk mencari solusi atas konflik yang terjadi. Salah satu tahapan untuk menuju kesana adalah dengan melakukan analisis stakeholders pihak-pihak yang terlibat dalam konflik di atas. Tujuan tulisan ini adalah menganalisis stakeholders yang terlibat dalam konflik di Pulau Padang. Lokasi  kegiatan penelitian adalah di Pulau Padang, Kecamatan Merbau, Kabupaten Meranti yang notabene merupakan desa sekitar hutan konsesi PT. RAPP.  Data yang digunakan dalam makalah ini merupakan data sekunder yang bersumber dari artikel  internet  dan  hasil  penelitian  terkait.  Konflik  di  Pulau  Padang  melibatkan  unsur-unsur perusahaan  (RAPP),  LSM,  seperti  STR  dan  Pemerintah,  baik pemerintah  lokal  hingga  nasional. Berdasarkan hasil penelitian diketahui ada 47 tokoh yang cukup intens menaruh perhatian atau terkait dalam peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengan dinamika kasus Pulau Padang. Selanjutnya ke-47 tokoh tersebut dianalisis dengan menggunakan Metode Power-Interest Grid (IFC, 2007). Diantara 47 stakeholder yang teridentifikasi, terdapat   36,17 persen termasuk kategori manage closly (MC), 8,51 persen termasuk kategori keep satisfied (KS), 21,28 persen termasuk kategori keep informed (KI) dan 34,04 persen kategori monitor (M). Diantara 47 stakeholder terdapat 8,51 persen (golongan KS) yang secara murni dapat digunakan pengaruhnya untuk membantu menyelesaikan konflik, karena mereka memiliki pengaruh yang besar tetapi kepentingan pribadinya rendah.Golongan  ini  diharapkan  dapat  menetralisir  pertarungan  kekuasaan  dan  kepentingan golongan MC.
Private Extensionists’ Role in an Effort to Achieve SDGs through Peri-Urban Community Empowerment Sumardjo; Adi Firmansyah; Leonard Dharmawan
Jurnal Penyuluhan Vol. 18 No. 02 (2022): Jurnal Penyuluhan
Publisher : Department of Communication and Community Development Sciences and PAPPI (Perhimpunan Ahli Penyuluhan Pembangunan Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25015/18202240906

Abstract

Infrastructure development has forced the transformation of rural farming communities to peri-urban communities and impacted community unreadiness. In Presidential Decree No. 59/2017, the Sustainable Development Goals (SDGs) have been set as indicators of Indonesia's development. Private extensionists have a fundamental role in community empowerment as the implementation of Corporate Social Responsibility (CSR) in large companies. This research has built an alternative concept of private extensionists in the SDGs. The research objectives are to analyze the role of private extensionists in community empowerment through self-social engineering and to analyze the impact of community empowerment on the SDGs' achievement. The research method used is participatory action research supported by a cybernetic approach: participant-observer, triangulation techniques, and focus group discussion (FGD). The results showed that private extensionists' implementing the concept of self-social engineering effectively empowered the community. This effectiveness occurs by placing the community as the subject of creative social energy in empowerment. This is in line with the application of the participatory communication paradigm and dialogue, which causes a communication convergence between participants. The peri-urban community empowerment approach in organic farming development positively impacts the achievement of SDGs.
Karawang Berseri: Program Pengembangan Masyarakat Untuk Peningkatan Keberdayaan Perempuan Dan Anak Di Kabupaten Karawang Jurnal CARE CARE; Wazirul Luthfi; Anggun Intan Permata Sari; Alya Putri Mulyani; Adi Firmansyah
Jurnal Resolusi Konflik, CSR dan Pemberdayaan (CARE) Vol. 7 No. 1 (2022): Inovasi Sosial Pada Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Center for Alternative Dispute Resolution and Empowerment (Care), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT masih banyak terjadi pada banyak rumah tangga di Indonesia, baik di perkotaan maupun pedesaan, termasuk di Karawang. Atas dasar tersebut PT Pertamina EP Tambun Field menginisasi program Karawang Berseri. Kajian ini bertujuan untuk: (1) Menganalisis peran yang dilakukan perusahaan dalam meminimalisasi KDRT melalui Program Karawang Berseri; (2) Menganalisis dampak Program Karawang Berseri, baik dari aspek sosial, ekonomi dan ekologi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data primer yang digunakan diperoleh melalui observasi lapang, dan wawancara. Data sekunder berupa laporan kegiatan dan publikasi terkait program. Waktu pelaksanan kajian pada bulan Agustus 2022. Pelaksanaan penelitian dilakukan di lokasi pelaksanaan program di Kelurahan Karawang Kulon, Kecamatan Karawang Barat, Kabupaten Karawang. Berdasarkan hasil kajian, program ini telah memberikan manfaat, baik dari aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Dampak ekonomi dapat dilihat dari tambahan pendapatan yang diperoleh komunitas. Peningkatan pendapatan kelompok berasal dari hasil penjualan sampah, reseller dan budidaya hidroponik dalam kurun waktu satu tahun untuk menunjang pembiayaan penanganan perempuan dan anak korban kekerasan. Dampak sosial terlihat dari penguatan kapasitas kelembagaan satgas Karawang Berseri. Dampak lingkungan dapat dilihat dari kegiatan pengelolaan sampah melalui Sedekah Sampah yang dilakukan Kelompok Satgas Karawang Berseri. Kunci keberhasilan program ini terletak pada model pemberdayaan partisipatif baik dalam perencanaan, pelaksanaan, implementasi, maupun monitoring dan evaluasinya. Pendekatan dialog untuk membangun kesadaran pada komunitas juga menjadi pendorong keberlanjutan program Karawang Berseri. Kata kunci: CSR, Karawang Berseri, pemberdayaan masyarakat
Pesona Subang: Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pemanfaatan Serat Daun Nanas Untuk Mendukung Zero Waste Farming Jurnal CARE CARE; Wazirul Luthfi; K. Hendra Permana; Adi Firmansyah
Jurnal Resolusi Konflik, CSR dan Pemberdayaan (CARE) Vol. 7 No. 1 (2022): Inovasi Sosial Pada Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Center for Alternative Dispute Resolution and Empowerment (Care), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Subang dikenal sebagai daerah penghasil nanas terbesar di Jawa Barat, atau sekitar 92% total produksi nanas Provinsi Jawa Barat. Subang memiliki lahan nanas produktif seluas 1.630 Ha dan mencatatkan hasil produksi sebesar 187.448,2 ton (BPS 2021). Besarnya produksi komoditas nanas yang dihasilkan di Subang, selain memunculkan dampak positif, juga menimbulkan dampak negatif berupa limbah daun nanas yang jumlahnya besar. Kajian ini bertujuan untuk mengkaji program pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan serat daun nanas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data primer yang digunakan diperoleh melalui observasi lapang, dan wawancara. Data sekunder berupa laporan kegiatan dan publikasi terkait program. Waktu pelaksanaan kajian pada bulan Juli-Agustus 2022. Pelaksanaan penelitian dilakukan di Desa Cikadu Kecamatan Cijambe. Berdasarkan hasil kajian, program ini telah memberikan manfaat, baik dari aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Dampak ekonomi dapat dilihat dari tambahan pendapatan yang diperoleh masyarakat. Peningkatan pendapatan kelompok berasal dari hasil penjualan hasil pengolahan daun nanas. Dampak sosial terlihat dari penguatan kapasitas kelembagaan kelompok. Dampak lingkungan dapat dilihat dari jumlah limbah daun nanas yang terkelola. Kunci keberhasilan program ini terletak pada model pemberdayaan partisipatif baik dalam perencanaan, pelaksanaan, implementasi, maupun monitoring dan evaluasinya. Kata kunci: daun nanas, partisipatif, pemberdayaan masyarakat