Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Keanekaragaman Hayati Di Kawasan Cagar Alam Gunung Burangrang Sebagai Program Konservasi Satwa Langka Jurnal CARE CARE; Wulan Tresnasari Gantini; Adi Setiadi; Muhammad Rifky Afqari; Muhammad Rezky Fadillah; Adi Firmansyah
Jurnal Resolusi Konflik, CSR dan Pemberdayaan (CARE) Vol. 7 No. 1 (2022): Inovasi Sosial Pada Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Center for Alternative Dispute Resolution and Empowerment (Care), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keanekaragaman jenis primata dan jenis tanaman yang ada di Kawasan Cagar Alam Gunung Burangrang (CAGB) yang merupakan lokasi program keanekaragaman hayati PT Pertamina EP Asset 3 Tambun Field. Kajian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan deskriptif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode pembuatan jalur pengamatan (Transek) untuk data primata dan metode jalur transek dan petak kuadrat untuk data vegetasi. Berdasarkan hasil studi ditemukan 5 jenis primata di Kawasan Cagar Alam Gunung Burangrang dengan jenis yang mendominasi adalah Surili (Presbytis Comata) sebanyak 52 ekor. Berdasarkan Red-list IUCN terdapat jenis dengan kategori Endangered (EN) yaitu surili (Presbytis Comata), Owa Jawa (Hylobates Moloch) dan Lutung Jawa (Trachypithecus Auratus). Sedangkan berdasarkan SK Menteri Pertanian No. 247/Kpts/Um/1979 serta berdasarkan UU No. 5 tahun 1990 dan tertuang dalam lampiran PP No. 7 tahun 1999, Surili adalah salah satu jenis primata endemik Jawa yang telah masuk ke dalam daftar satwa dilindungi sejak 5 April 1979. Hasil perhitungan Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener (H’) dan Indeks Kemerataan (E) pada kategori pohon di wilayah ini termasuk sedang dengan angka H sebesar 1. Maka dapat dikatakan potensi regenerasi pohon yang menjadi pohon pakan primata wilayah survei cukup baik, dimana sebanyak 15 spesies (35,71%) pohon memiliki sebaran strata pertumbuhan yang lengkap mulai dari semai, pancang tiang dan pohon. Dengan kondisi ini asumsi regenerasi hutan di wilayah survei masih berlangsung baik. Kata Kunci: surili, keanekaragaman hayati, cagar alam gunung burangrang
Monitoring Keanekaragaman Tumbuhan Di Hutan Kota Ranggawulung Jurnal CARE CARE; Tiara Rahmawati; Adi Firmansyah; Widya Yulastri; Aufan Asidqi; Valianto Rojulun Afif
Jurnal Resolusi Konflik, CSR dan Pemberdayaan (CARE) Vol. 7 No. 1 (2022): Inovasi Sosial Pada Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Center for Alternative Dispute Resolution and Empowerment (Care), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembangunan hutan kota pada dasarnya dilakukan untuk kelestarian, keserasian dan keseimbangan ekosistem perkotaan. Sedangkan berdasarkan fungsinya, diharapkan hutan kota dapat memperbaiki dan menjaga iklim mikro, memiliki nilai estetika untuk kegiatan wisata masyarakat, daerah resapan air, menciptakan keseimbangan dan keserasian lingkungan fisik kota serta mendukung pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia. Hutan Kota Ranggawulung memiliki potensi yang besar dari sektor wisata untuk pengembangan ekonomi lokal, mengingat lokasinya yang strategis dan potensi keanekaragaman yang ada. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menginventarisasi keanekaragaman jenis tumbuhan yang ada di Hutan Kota Ranggawulung (HKR). Penelitian dilakukan pada bulan Agustus 2022 dengan jumlah untuk pengambilan data tumbuhan (flora). Metode pengambilan data menggunakan metode transek garis berpetak. Analisis vegetasi pada lokasi HKR menunjukan Nilai Indeks Keanekaragaman (H’) semai dan tumbuhan bawah sebesar 3,39 dan pohon sebesar 2,97. Hasil tersebut menunjukkan kestabilan keanekaragaman flora pada semai dan tumbuhan bawah serta penurunan keanekaragaman pohon di Blok HKR. Kondisi indeks keanekaragaman hayati di Blok Buper Ranggawulung pada tahun 2022 menjadi 3,54 untuk semai dan tumbuhan bawah yang artinya meningkat dan 2,63 untuk tingkat pertumbuhan pohon yang artinya menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Hasil eksplorasi menunjukkan terdapat 81 jenis yang terdapat di Blok HKR dan 71 jenis yang terdapat di Blok Buper Ranggawulung. Hasil analisis vegetasi menunjukkan secara umum terdapat 120 jenis tumbuhan di kawasan HKR. Beberapa jenis yang memiliki status konservasi penting antara lain angsana (Pterocarpus indicus) memiliki status terancam punah (Endangered), serta mahoni daun lebar (Swietenia macrophylla), dan mahoni daun kecil (Swietenia mahagoni) memiliki status Appendix II. Kata Kunci : Berkelanjutan, Keanekaragaman hayati, Hutan Kota Ranggawulung
Peran Sistem Biocyclo Farming Pada Program Kerja Tani Berdikari Dan Tahan Pangan Jurnal CARE CARE; Yulia Puspadewi Wulandari; Adi Firmansyah; Isyfi Syaufi Nafilah
Jurnal Resolusi Konflik, CSR dan Pemberdayaan (CARE) Vol. 7 No. 1 (2022): Inovasi Sosial Pada Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Center for Alternative Dispute Resolution and Empowerment (Care), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Selama turun temurun usaha pertanian padi sawah dan budidaya komoditas hortikultura menjadi tumpuan hidup petani Desa Cidenok dan Bongas Wetan. Pengenalan biocyclo farming system ditujukan memperkenalkan masyarakat pada usaha pertanian yang berorientasi bisnis dan ramah lingkungan. Kajian ini bertujuan 1) memberikan gambaran inovasi bicyclo farming dalam program Kerja Tani Berdikari dan Tahan Pangan (Jari Tangan), 2) mengukur dampak inovasi biocyclo farming, 3) memberikan rekomendasi pengembangan program Jari Tangan. Metode analisis yang ddilakukan meliputi aspek kebaruan inovasi, core competency, status inovasi dan dampak yang diberikan. Hasil kajian menunjukkan implementasi bicyclo farming pada program jari tangan dilakukan melalui pemanfaatan limbah pertanian dan sampah rumah tangga menjadi input pertanian, optimalisasi pemanfaatan lahan kosong, pengembangan sistem pertanian berorientasi bisnis. Dampak ekonomi dari program antara lain diashilkannya beberapa produk organik yang membuka peluang tambahan bagi kelompok sebesar Rp 30,086,850. Dampak sosial program dapat diukur melalui terbentuknya kelembagaan baru, temabahan ilmu pengetahuan dan keterampilan, meningkatnya kohesivitas masyarakat. Dampak lingkungan yang dirasakan berupa pemanfaatan limbah pertanian dan sampah rumah tangga serta optimalisasi pemanfaatan lahan kosong. Kata Kunci : pertanian, biocyclo farming, Bongas Wetan, Cidenok
Pemberdayaan Masyarakat Melalui Inovasi Madu Sari Alam Di Desa Tanah Datar, Muara Badak, Kutai Kartanegara Jurnal CARE CARE; Adi Firmansyah; Naomi Shinta Pasila; Husnawati Djabbar
Jurnal Resolusi Konflik, CSR dan Pemberdayaan (CARE) Vol. 7 No. 1 (2022): Inovasi Sosial Pada Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Center for Alternative Dispute Resolution and Empowerment (Care), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian ini bertujuan untuk menganalisis dampak dari program pemberdayaan masyarakat melalui inovasi Madu Sari Alam di Desa Tanah Datar, Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara ini bagi kehidupan masyarakat sekitar, baik dari aspek sosial, ekonomi dan ekologi. Waktu pelaksanaan kajian pada bulan Agustus-September 2022. Pelaksanaan penelitian dilakukan di lokasi pelaksanaan program di Desa Tanah Datar, Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Penelitian ini mempergunakan metode penelitian kualitatif (deskriptif). Ada dua jenis data yang digunakan yaitu data primer dan sekunder. Data primer yang digunakan diperoleh melalui observasi lapang, dan wawancara. Hasil kajian menunjukkan bahwa program pemberdayaan berbasis inovasi madu sari alam ternyata telah memberikan manfaat, baik dari aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Dampak ekonomi dapat dilihat dari tambahan pendapatan yang diperoleh anggota kelompok. Peningkatan pendapatan kelompok berasal dari hasil penjualan madu, baik secara online maupun offline. Dampak sosial terlihat dari penguatan kapasitas kelembagaan kelompok, peningkatan kohesivitas kelompok dan kontribusi dalam pengurangan kemiskinan. Manfaat sosial lainnya adalah dalam hal kontribusi pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat karena penyediaan pangan sehat/madu. Dampak lingkungan dapat dilihat dari penanaman pohon sehingga mampu mengurangi emisi. Faktor keberhasilan program ini terletak pada pemberdayaan secara partisipatif baik dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Pendekatan dialog untuk membangun kesadaran pada komunitas juga menjadi pendorong kemandirian kelompok. Kata kunci: inovasi, lebah kelulut, madu sari alam
Village Head Competence in Gender-Responsive Village Fund Management: A Systematic Literature Review Andri; Anna Fatchiya; Siti Amanah; Sumardjo; Adi Firmansyah
International Journal of Science and Society Vol 8 No 2 (2026): International Journal of Science and Society (IJSOC)
Publisher : GoAcademica Research & Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/ijsoc.v8i2.1686

Abstract

Gender-responsive village fund management remains a governance challenge in decentralized systems across developing countries, particularly Indonesia. Village heads, as primary actors in local development, are expected to integrate gender perspectives into budget planning, implementation, and evaluation. However, limited competence in gender-responsive budgeting (GRB) and persistent structural barriers continue to constrain equitable fund distribution. This study aims to synthesize existing literature on village head competence dimensions required for effective GRB implementation at the village level. A systematic literature review was conducted using databases including Scopus, Web of Science, and other indexed sources, resulting in the analysis of 45 relevant studies published between 2020 and 2026. Thematic synthesis identified four core competency dimensions: technical and financial management, leadership and communication, gender sensitivity, and strategic planning and coordination. Findings reveal that while technical competence receives the most policy attention, gender sensitivity and participatory leadership are equally critical yet underemphasized. Women's participation in village fund decision-making remains constrained by patriarchal norms, legal ambiguities, and limited access to governance forums. Institutional frameworks, including the Village Consultative Body (BPD), monitoring mechanisms, and digital governance tools, significantly shape GRB prospects. Effective capacity-building strategies must integrate technical training, institutional reform, and community engagement. This study contributes to the governance literature by synthesizing multidimensional competency requirements for gender-responsive village leadership and identifying priority areas for policy intervention.
Pengaruh Dukungan Sosial dan Penggunaan Media Sosial terhadap Perilaku Pengelolaan Sampah Domestik Adi Firmansyah; Sumardjo Sumardjo
JURNAL PENDIDIKAN IPS Vol. 16 No. 4 (2026): JURNAL PENDIDIKAN IPS
Publisher : STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpi.v16i4.4774

Abstract

Pengelolaan sampah rumah tangga merupakan tantangan lingkungan yang membutuhkan pendekatan komunitas. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh dukungan sosial dan penggunaan media sosial terhadap perilaku pengelolaan sampah rumah tangga. Penelitian dirancang secara kuantitatif dan dilaksanakan di sembilan desa di Jawa Barat dan Jawa Timur yang merupakan lokasi program pendampingan pengelolaan sampah berbasis Corporate Social Responsibility (CSR). Responden berjumlah 245 orang, dipilih dengan metode sensus. Analisis data menggunakan Partial Least Square-Structural Equation Model (PLS-SEM) dengan SmartPLS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial berpengaruh signifikan dan positif terhadap perilaku pengelolaan sampah (β = 0,483; p = 0,000), demikian pula penggunaan media sosial (β = 0,225; p = 0,008). Model menjelaskan 45,2% variansi perilaku pengelolaan sampah (R² = 0,452). Dukungan sosial memberikan effect size yang lebih besar (f² = 0,173) dibandingkan media sosial (f² = 0,038). Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan jejaring sosial dan pemanfaatan media digital dalam mendorong transformasi perilaku pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga.
WhatsApp sebagai Ekosistem Pembelajaran Sosial Digital untuk Difusi Inovasi dan Peningkatan Kapasitas Petani: Studi Netnografi pada Komunitas Petani Sayur Adi Firmansyah; Ulfah Mubarokah
Edutik : Jurnal Pendidikan Teknologi Informasi dan Komunikasi Vol. 6 No. 1 (2026): EduTIK : Februari 2026
Publisher : Jurusan PTIK Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini menganalisis bagaimana grup WhatsApp “Petani Sayur” berfungsi sebagai ekosistem pembelajaran sosial digital yang mendukung difusi inovasi dan peningkatan kapasitas petani sayur. Transformasi komunikasi digital telah menggeser pola penyuluhan dari model satu arah menuju pembelajaran kolaboratif berbasis komunitas. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif netnografi dengan menganalisis percakapan digital selama tiga bulan (Juli–September 2025) menggunakan perangkat lunak NVivo 14. Kerangka teori yang digunakan meliputi Social Learning Theory, Community of Practice, dan Diffusion of Innovation, dengan dukungan konsep literasi digital dan modal sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa WhatsApp berfungsi sebagai ruang ko-kreasi pengetahuan di mana proses observasi, eksperimen, dan validasi sejawat terjadi secara horizontal. Struktur jejaring komunikasi memperlihatkan adanya distributed leadership dengan peran penyuluh sebagai fasilitator dan validator pengetahuan. Analisis sentimen menunjukkan dominasi interaksi positif yang memperkuat kepercayaan dan kohesi sosial. Literasi digital meningkatkan kemampuan petani dalam mengevaluasi dan mengadaptasi informasi, sementara modal sosial memperkuat kolaborasi komunitas. Sinergi keduanya melahirkan inovasi sosial yang meningkatkan kapasitas teknis, kognitif, dan kolektif petani. Secara teoretis, penelitian ini memperluas penerapan teori pembelajaran sosial dan difusi inovasi dalam konteks komunikasi digital pertanian. Secara praktis, hasilnya merekomendasikan integrasi WhatsApp sebagai bagian dari sistem penyuluhan digital berbasis komunitas.