This Author published in this journals
All Journal Humaniora
Akhmad Nugroho
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Inovasi dalam cerita Ketoprak Anglingdarma Akhmad Nugroho
Humaniora Vol 15, No 2 (2003)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (57.049 KB) | DOI: 10.22146/jh.786

Abstract

Ketoprak, sebagai salah satu jenis teater daerah Jawa, pertama kali muncul di Yogyakarta sekitar tahun 1925. Cerita yang dipentaskan mula-mula bersumber dari dongeng seperti Jaka Tarub, Piti Tumpa, dan Panji, kemudian meningkat ke cerita adaptasi seperti Menak, Sam Pek Ing Tay, dan Si Jin Kui (Harymawan, l993:229). Dari segi cerita itulah, ketoprak menunjukkan adanya perubahan sesuai dengan kreativitas pengarangnya. Kebaruan-kebaruan juga terjadi pada sastra daerah lain di Indonesia ini., seperti dalam sastra daerah Minangkabau, drama Puti Bungsu karya Wisran Hadi adalah resepsi warisan budaya lama Minangkabau yang diciptakan kembali sesuai dengan konteks masa kini (Teeuw, l988:216). Wisran Hadi dalam dramanya itu menggunakan beberapa sumber, pertama-tama tentu saja Malin Kundang, kemudian kedua Malin Deman, dan bahkan mengambil sumber yang ketiga Sangkuriang dari Sunda (Junus, l985:39). Wisran Hadi juga menulis teks sandiwara Cindua Mato yang dapat dihubungkan dengan mitos Minangkabau Cindua Mato, tampak hubungan tradisi dan modernitasnya (Esten, l992).
KODE BUDAYA DALAM PUISI JAWA MODERN Akhmad Nugroho
Humaniora Vol 21, No 2 (2009)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1445.813 KB) | DOI: 10.22146/jh.1330

Abstract

The modern Javanese poem “Wengi ing Pinggir Bengawan” (TheNight in the River Side) is a poem with a background taken from the“wayang” story in the Javanesse culture. That poem is loaded with adialogue between the figures Kunthi, the mother, and Adipati Awangga,the son. This paper explores the meaning of the poem using the culturalcode analysis.
Bangsawan Jawa dalam Struktur Birokrasi di Majapahit Akhmad Nugroho
Humaniora No 3 (1991)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1726.709 KB) | DOI: 10.22146/jh.2075

Abstract

Sastra Indonesia moderen padat dengan peagemis,gelandangan, kere, orang buangan, yang tak bertanah, dan makhluk Tuhan yang papa. Dalam kumpulan Hitam atas Putih yang berisi sandiwara, cerpen, dan  puisi karya Muhammad Ali, H.B. Jassin (1967: 43 - 45) menugusulkan judulLapar karena sebagian besar isinya mengenai lapar dan penndertaan, orang-orang itu tinggal di kolong jembatan, membegal karena lapar, jual anak karena lapar, jual diri karena lapar, bunuh diri karena lapar, bunuh orang lain karena lapar, dan jadi gila karena lapar. Puisi atau karya sastra pada umumnya yang mengandung tema yang dekat dengan manusia pada umumnya misalnya cinta kasih, dengki, cemburu, ajal, Tuhan, penderitaan, dan sebagainya, banyak yang cukup bernilai dan cepat menarik perhatian (Hutagalung, 1975: 39).Dalam khazanah sastra Jawa moderen, gambaran tentang orang-orang yang tersingkir seperti itu tidak jauh berbeda dengan sastra Indonesia moderen. Sastra Jawa bahkan tampak lebih menyolok mengemukakan masalah pedesaan dengan segala keterbelakangan dan kemiskinannya. Bagian berikut dalam tulisan ini akan mengemukakan contoh-contoh karya sastra Jawa, khusus puisi, yang bernada simpati kepada orang-orang yang mengasihankan itu