Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Ke Mana Arah Historiografi Indonesia Hari Ini? Utama, Wildan Sena
Lembaran Sejarah Vol 20, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/lembaran-sejarah.97590

Abstract

Indonesiasentris dianggap merupakan pendekatan yang tepat dalam penulisan sejarah Indonesia; ia mendekolonisasi pandangan Eropasentris atau lebih spesifiknya Neerlandosentris yang telah mengakar sebelumnya dengan mengangkat agensi orang-orang Indonesia sebagai subjek utama dalam sejarahnya sendiri. Secara historis, benih-benih dari Indonesiasentris lahir dari kesadaran kritis yang timbul dalam awal abad ke-20 didorong oleh para sarjana Belanda yang terpengaruh oleh ilmu sosiologi dalam merekonstruksi sejarah Indonesia. Dari titik ini embrio Indonesiasentris terkonseptualisasi lebih jelas ketika Indonesia bertransisi dari rezim kekuasaan kolonial menjadi negara baru pascakolonial yang membutuhkan konstruksi identitas yang baru. Desakan terhadap pendekatan Indonesiasentris muncul dalam iklim dekolonisasi di tahun 1950an saat para sarjana, intelektual, dan sejarawan yang saat itu jumlahnya masih terbatas membutuhkan sebuah formulasi yang dapat memayungi penulisan sejarah Indonesia yang ‘baru’, yang mampu membingkai narasi dan merepresentasikan rupa dari sebuah negara-bangsa yang baru muncul. Namun, dekolonisasi untuk menciptakan ‘manusia baru’ seperti yang diungkapkan oleh Frantz Fanon dalam karya klasiknya The Wretched of the Earth belum menciptakan karya tentang sejarah Indonesia seperti yang diharapkan, malahan ia melahirkan ‘mitos-mitos baru’ yang dipengaruhi oleh pandangan nasionalisme yang sempit. Dalam kondisi negara-bangsa yang masih baru dan rentan terkoyak akibat dipenuhi berbagai ragam tantangan, konflik antara pusat dan daerah, ketidakstabilan politik, dan perdebatan yang belum selesai atas sistem politik negara, maka penciptaan mitos-mitos yang dipenuhi oleh semangat nasionalis cenderung dilakukan.
From Brussels to Bogor: Contacts, Networks and the History of the Bandung Conference 1955 Utama, Wildan Sena
Journal of Indonesian Social Sciences and Humanities Vol. 6 No. 1 (2016): Journal of Indonesian Social Sciences and Humanities
Publisher : RMPI-BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article discusses the roots of the Bandung Conference of 1955 by tracing the alliance of Asian and African worldwide internationalism and anti-imperialism that existed since the early twentieth century. It attempts to show that although the conference emerged during the height of the Cold War, the network behind this alliance had gradually developed since the interwar period. The solidarity of this alliance lay in the common history of the colonized people that struggled to become sovereign. Contacts, meetings and conferences that took place in Europe and Asia juxtaposed the anti-imperialist movement of Asian and African countries. This article argues that the Bandung Conference 1955 was the culmination of relationships and connections of an Afro-Asian group who had been long oppressed by colonialism, racism and class superiority.