Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

QUR’ᾹNIC DᾹʻῙ (In Search of His Qualification) Jafar, Iftitah
Tabligh Vol 13, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract; Makalah ini mencoba mencermati kualifikasi dai yang dicanangkan Al-Qur’an. Kualifikasi ini sangat penting dan menentukan kredibilitas seorang dai dalam menapaki tugasnya di tengah-tengah masyarakat. Sebagai komunikator, seorang dai memang seharusnya memenuhi standar atau kualifikasi tersendiri agar pelaksanaan dakwahnya dapat berhasil sebagaimana diharapkan. Al-Qur’an sebagai pedoman dakwah menyediakan berbagai kualifikasi yang selayaknya menjadi modal dasar bagi seorang dai. Al-Qur’an mensyaratkan misalnya bahwa seorang dai hendaknya dari kalangan kaumnya sendiri mengingat adanya kedekatan dan persamaan: bahasa, kultur dan kecenderungan. Terma-terma bi lughati qawmih, akhᾱhum dan minhum merefleksikan kedekatan tersebut. Konsep ini lebih diperkuat dengan penekanan kesamaan bahasa antara dai dan mad’unya. Di samping itu kualitas pesan sangat ditekankan Al-Qur’an yang antara lain tercermin dalam konsep berdakwah alᾱ bashῑrah yakni materi ceramah diperkuat dengan pembuktian-pembuktian, misalnya, hasil penelitian para ahli di laboratorium. Termasuk concern Al-Qur’an adalah kualitas pribadi seorang dai yang terrefleksi dalam kefasihan berbicara, posisinya sebagai teladan dan panutan dalam ilmu dan amal yang disimbolkan dengan konsep khayra ummah. Selain itu posisinya sebagai figur moderat baik dalam pandangan keagamaan maupun sikap dan prilakunya yang dilukiskan dengan konsep ummatan wasathan. Perpaduan aplikasi konsep-konsep tersebut dalam diri seorang dai akan menambah kredibilitasnya di mata masyarakat sebagai obyek dakwahnya. Sekaligus tentunya sebagai modal dasar kesuksesannya dalam mengemban dakwah di tengah-tengah masyarakat. Kata Kunci: Qur’an, Dᾱʻῑ, Kualifikasi This paper tries to examine the qualifications of dᾱʻῑ proclaimed by the Quran. It is really essential and determines the credibility of dᾱʻῑ in treading duties in the middle of society. As a communicator, a dᾱʻῑ is supposed to meet its own standards or qualifications in order to be successful implementation of his Dakwah as expected. Quran as guidelines provide a wide range of qualifications that should be the basis for a dᾱʻῑ. The Quran requires such that a preacher should be from among his own people in view of the proximities and similarities: language, culture and trends. The terms of bi lughati qawmih, akhᾱhum, and minhum reflect the closeness. This concept is reinforced by the suppression of common language between dᾱʻῑ and its madu . In addition, the quality of the message is emphasized from the Quran that is reflected in the concept of alᾱ bashῑrah which is the lecture material is reinforced with proofs, for example, research’s outcome from experts in the laboratory. Following to the Quran indicates the personal qualities of the dᾱʻῑ that is reflected in eloquence, his position as a role model, and science and charity symbolized by the concept of khayra ummah. Furthermore, his position as moderate figure either in a habit and attitude of religious that is depicted in ummatan wasathan concept.The combination of the application of these concepts of the dᾱʻῑ will contirbute to its credibility in the public as an object message. At the same time, it can be also a capital for its success in doing Dakwah in the middle of society. Key Words: Qur’an, dᾱʻῑ, qualification
WAWASAN BARU DALAM PEMBACAAN AYAT-AYAT MEDIA DAKWAH Jafar, Iftitah
Tabligh Vol 14, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract; Media dakwah adalah satu elemen penting dalam dakwah. Media ini menentukan keberhasilan pelaksanaan dakwah, karena medialah yang membuat pesan-pesan dakwah sampai ke masyarakat. Fungsi dakwah ini terbagi dua, yaitu bersifat universal dan yang bersifat khusus. Fungsi pertama secara inheren melekat pada kode etiknya dan konsisten dalam membina dan menjaga moral dan etika masyarakat. Fungsi kedua, yang berisi pesan islami pada media massa, dapat dilakukan dengan mendirikan media massa: pers, film, radio dan televisi. Fungsi dan peranan media dakwah Islam sangat penting bagi suatu komunitas. Mereka harus menyiapkan kepada khalayak pengetahuan tentang Islam melalui program penyampaian informasi mengenai Islam. Mereka dapat mendidik masyarakat di samping dapat menghilangkan semua kesalahfahaman berkenaan dengan Islam. Peranan media dakwah yang paling penting adalah untuk mempromosikan harmonisasi sekte-sekte keagamaan di tengah-tengah masyarakat dengan menunjukkan berbagai program dan mengajak ulama untuk mendidik masyarakat. Ayat-ayat media dakwah dalam Al-Qur’an memang senantiasa memerlukan pengkajian dan penafsiran ulang untuk mendapatkan wawasan baru. Pemahaman akan ayat-ayat alam berdasarkan temuan-temuan baru dari para ahli akan lebih memaksimalkan peran alam sebagai media dakwah. Hasil-hasil temuan baru ini pertama-tama harus diujicobakan dalam memahami terma-terma sains tentang alam dalam Al-Qur’an. Karenanya para dai seyogyanya juga terdorog untuk menggunakan media dakwah aktual. Pembacaan media dakwah para Rasul tidak dimaksudkan hanya untuk mengenang peristiwa historis di masa lalu melainkan hendaknya menghasilkan suatu gagasan baru untuk lebih memahami dan menyadari perlunya penggunaan media terbaru dalam aktivitas dakwah di berbagai lini. Kata Kunci: Wawasan, Pembacaan, Media dakwah Media of da’wa is an important element in the da’wa. This media determines the success of da’wa, because the media that make da’wa messages to the public. Da’wa function is divided into two, namely the universal and the particular nature. The first function is inherently attached to their code of ethics and consistent in fostering and maintaining moral and ethical society. The second function, which contains the Islamic message to the mass media, can be done by setting the mass media: press, films, radio and television. The function and role of media da’wa that Islam is very important for a community. They must be prepared to public knowledge about Islam through the delivery of information about Islam. They can educate the public on the side can eliminate all misunderstanding with regard to Islam. The role of the media propaganda of the most important is to promote the harmonization of religious sects in the midst of society by showing a variety of programs and invites scholars to educate the public. Media of da’wa verses in the Quran is always require review and reinterpretation to gain new insights. Understanding of the verses of nature based on new findings of the experts will be to maximize the natural role as a medium of da’wa. The results of these new findings should first be tested in understanding these terms of natural science in the Quran. Therefore preachers should also pushed to use actual media of da’wa. Reading of da’wa media the Apostles is not intended only to commemorate historical events in the past, but should generate a new idea to better understand and realize the need to use the latest media in da’wa activity in the various lines. Key Words: Insight, Recitation, Media da’wa
QUR’ᾹNIC DᾹʻῙ (In Search of His Qualification) Iftitah Jafar
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 13 No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v13i2.303

Abstract

Abstract; Makalah ini mencoba mencermati kualifikasi dai yang dicanangkan Al-Qur’an. Kualifikasi ini sangat penting dan menentukan kredibilitas seorang dai dalam menapaki tugasnya di tengah-tengah masyarakat. Sebagai komunikator, seorang dai memang seharusnya memenuhi standar atau kualifikasi tersendiri agar pelaksanaan dakwahnya dapat berhasil sebagaimana diharapkan. Al-Qur’an sebagai pedoman dakwah menyediakan berbagai kualifikasi yang selayaknya menjadi modal dasar bagi seorang dai. Al-Qur’an mensyaratkan misalnya bahwa seorang dai hendaknya dari kalangan kaumnya sendiri mengingat adanya kedekatan dan persamaan: bahasa, kultur dan kecenderungan. Terma-terma bi lughati qawmih, akhᾱhum dan minhum merefleksikan kedekatan tersebut. Konsep ini lebih diperkuat dengan penekanan kesamaan bahasa antara dai dan mad’unya. Di samping itu kualitas pesan sangat ditekankan Al-Qur’an yang antara lain tercermin dalam konsep berdakwah alᾱ bashῑrah yakni materi ceramah diperkuat dengan pembuktian-pembuktian, misalnya, hasil penelitian para ahli di laboratorium. Termasuk concern Al-Qur’an adalah kualitas pribadi seorang dai yang terrefleksi dalam kefasihan berbicara, posisinya sebagai teladan dan panutan dalam ilmu dan amal yang disimbolkan dengan konsep khayra ummah. Selain itu posisinya sebagai figur moderat baik dalam pandangan keagamaan maupun sikap dan prilakunya yang dilukiskan dengan konsep ummatan wasathan. Perpaduan aplikasi konsep-konsep tersebut dalam diri seorang dai akan menambah kredibilitasnya di mata masyarakat sebagai obyek dakwahnya. Sekaligus tentunya sebagai modal dasar kesuksesannya dalam mengemban dakwah di tengah-tengah masyarakat. Kata Kunci: Qur’an, Dᾱʻῑ, Kualifikasi This paper tries to examine the qualifications of dᾱʻῑ proclaimed by the Qur'an. It is really essential and determines the credibility of dᾱʻῑ in treading duties in the middle of society. As a communicator, a dᾱʻῑ is supposed to meet its own standards or qualifications in order to be successful implementation of his Dakwah as expected. Qur'an as guidelines provide a wide range of qualifications that should be the basis for a dᾱʻῑ. The Qur'an requires such that a preacher should be from among his own people in view of the proximities and similarities: language, culture and trends. The terms of bi lughati qawmih, akhᾱhum, and minhum reflect the closeness. This concept is reinforced by the suppression of common language between dᾱʻῑ and its mad'u . In addition, the quality of the message is emphasized from the Qur'an that is reflected in the concept of alᾱ bashῑrah which is the lecture material is reinforced with proofs, for example, research’s outcome from experts in the laboratory. Following to the Qur'an indicates the personal qualities of the dᾱʻῑ that is reflected in eloquence, his position as a role model, and science and charity symbolized by the concept of khayra ummah. Furthermore, his position as moderate figure either in a habit and attitude of religious that is depicted in ummatan wasathan concept.The combination of the application of these concepts of the dᾱʻῑ will contirbute to its credibility in the public as an object message. At the same time, it can be also a capital for its success in doing Dakwah in the middle of society. Key Words: Qur’an, dᾱʻῑ, qualification
WAWASAN BARU DALAM PEMBACAAN AYAT-AYAT MEDIA DAKWAH Iftitah Jafar
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 14 No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v14i1.313

Abstract

Abstract; Media dakwah adalah satu elemen penting dalam dakwah. Media ini menentukan keberhasilan pelaksanaan dakwah, karena medialah yang membuat pesan-pesan dakwah sampai ke masyarakat. Fungsi dakwah ini terbagi dua, yaitu bersifat universal dan yang bersifat khusus. Fungsi pertama secara inheren melekat pada kode etiknya dan konsisten dalam membina dan menjaga moral dan etika masyarakat. Fungsi kedua, yang berisi pesan islami pada media massa, dapat dilakukan dengan mendirikan media massa: pers, film, radio dan televisi. Fungsi dan peranan media dakwah Islam sangat penting bagi suatu komunitas. Mereka harus menyiapkan kepada khalayak pengetahuan tentang Islam melalui program penyampaian informasi mengenai Islam. Mereka dapat mendidik masyarakat di samping dapat menghilangkan semua kesalahfahaman berkenaan dengan Islam. Peranan media dakwah yang paling penting adalah untuk mempromosikan harmonisasi sekte-sekte keagamaan di tengah-tengah masyarakat dengan menunjukkan berbagai program dan mengajak ulama untuk mendidik masyarakat. Ayat-ayat media dakwah dalam Al-Qur’an memang senantiasa memerlukan pengkajian dan penafsiran ulang untuk mendapatkan wawasan baru. Pemahaman akan ayat-ayat alam berdasarkan temuan-temuan baru dari para ahli akan lebih memaksimalkan peran alam sebagai media dakwah. Hasil-hasil temuan baru ini pertama-tama harus diujicobakan dalam memahami terma-terma sains tentang alam dalam Al-Qur’an. Karenanya para dai seyogyanya juga terdorog untuk menggunakan media dakwah aktual. Pembacaan media dakwah para Rasul tidak dimaksudkan hanya untuk mengenang peristiwa historis di masa lalu melainkan hendaknya menghasilkan suatu gagasan baru untuk lebih memahami dan menyadari perlunya penggunaan media terbaru dalam aktivitas dakwah di berbagai lini. Kata Kunci: Wawasan, Pembacaan, Media dakwah Media of da’wa is an important element in the da’wa. This media determines the success of da’wa, because the media that make da’wa messages to the public. Da’wa function is divided into two, namely the universal and the particular nature. The first function is inherently attached to their code of ethics and consistent in fostering and maintaining moral and ethical society. The second function, which contains the Islamic message to the mass media, can be done by setting the mass media: press, films, radio and television. The function and role of media da’wa that Islam is very important for a community. They must be prepared to public knowledge about Islam through the delivery of information about Islam. They can educate the public on the side can eliminate all misunderstanding with regard to Islam. The role of the media propaganda of the most important is to promote the harmonization of religious sects in the midst of society by showing a variety of programs and invites scholars to educate the public. Media of da’wa verses in the Qur'an is always require review and reinterpretation to gain new insights. Understanding of the verses of nature based on new findings of the experts will be to maximize the natural role as a medium of da’wa. The results of these new findings should first be tested in understanding these terms of natural science in the Qur'an. Therefore preachers should also pushed to use actual media of da’wa. Reading of da’wa media the Apostles is not intended only to commemorate historical events in the past, but should generate a new idea to better understand and realize the need to use the latest media in da’wa activity in the various lines. Key Words: Insight, Recitation, Media da’wa
DAKWAH RELASI AGAMA (STUDI PRELIMINARI BERBASIS Al-QUR’AN) Iftitah Jafar; Mudzhira Nur Amrullah
Jurnal Dakwah Tabligh Vol 20 No 1 (2019)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdt.v20i1.9609

Abstract

This paper reveals da‘wa of interfaith relation based on the Qur’an. It is a qualitative preliminary research. The study analyzes  Qur’anic verses on da‘wa through the implementation of thematic approach. The results showed that: 1.  This form of da‘wa is designed based on six considerations: 1. Islam is a universal religion (Q.21:107), 2. Islam promotes international communication (Q.49:13), 3. Islam acknowledges religious disparities (Q.5:48) and (Q.11:118), 4. Islam strongly emphasizes in respecting religious differences (Q.17:70). 5. Islam encourages people to live competitively (Q.5:48). 6. Qur’an encourages Muslims to be fair towards other religious followers (Q.5:8). The aim of  da‘wa as follows: 1. Communities understand the Qur’anic concept of interfaith relation, 2. Communities acknowledge the existence of other religions, 3. Communities may live peacefully and harmoniously. In addition,  the methods of da‘wa of interfaith relation, namely: 1. Religious counseling, 2. Religious dialogue, 3. Da‘wa of action, and 4. Da‘wa of assistance.
Bentuk-Bentuk Pesan Dakwah dalam Kajian Al-Qur’an Jafar, Iftitah; Amrullah, Mudzhira Nur
Jurnal Komunikasi Islam Vol. 8 No. 1 (2018): June
Publisher : Departement of Islami Comuunication and Broadcasting, Faculty of Da'wah and Communication, State Islamic University of Sunan Ampel (UINSA) Surabaya Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.992 KB) | DOI: 10.15642/jki.2018.8.1.41-66

Abstract

This paper aims to examine the form of da’wa mes­­­­­­­­­­­sa­­ge in the al-Qur’an. It argues that the forms of pro­selytizing (da’wa) message in the Qur’an encompass; Qur’­anic verses, prophetic tradition, scholar’s opinions, research results, stories, and news. The Qur’anic verses play a major role in regard with da’wa message due to its dis­tinctive func­tions, namely as guidance or humankind, crite­rion between right and wrong, evaluation standards for other holy scrip­tures, and as a medium of enlightenment. ?ad?th of the Prophet Muhammad, Saw., also consi­dered as form of da’wa message because it interpret some verses or make clarifications of ambiguities which hide in some verses. While ulema roles is as a refe­rence for religious studies as well as stories and news constitute the proselytizing message.
Al-Qur’an Dalam Debat Lintas Agama: Respon atas Kritik Pdt. Pangeran Manurung Terhadap Al-Qur’an Jafar, Iftitah; Hamiruddin
Mutawatir : Jurnal Keilmuan Tafsir Hadith Vol. 12 No. 1 (2022): JUNI
Publisher : Department of Qur'an dan Hadith Faculty of Ushuluddin and Philosophy UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/mutawatir.2022.12.1.109-133

Abstract

Abstract: This article describes the criticism of Pdt. Manurung towards the Qur’an as well as providing a critical response to it. Manurung, in one case, appreciated the Qur’an in terms of the process of revelation, but questioned its codification and contents which are claimed as problematic. By using a historical approach to the Qur’an, analysis of thematic interpretations and cross-biblical interpretations, this article concludes that some of Pdt. Manurung towards the Koran include: 1) the Qur’an is not final and incomplete, and the manuscripts are not uniform; 2) Several stories in the Qur’an are not in accordance with historical facts. 3) The contents of the Qur’an are inconsistent and uniform. In this case, we argue that some of these criticisms are genealogically quite popular, originating from orientalists, evangelists and Christian debaters. However, these criticisms have lack and poor argumentation as they are not engaged with the discourse of Qur’anic sciences, particularly on the history of the Qur’an and the thematic unity. Abstrak: Artikel ini menjelaskan tentang kritikan Pdt. Manurung terhadap al-Qur’an sekaligus memberikan respon kritis terhadapnya. Manurung, dalam satu kasus, mengapresiasi al-Qur’an dalam aspek proses pewahyuan, namun mempertanyakan kodifikasinya dan isinya yang diklaim bermasalah. Dengan menggunakan pendekatan sejarah al-Qur’an, analisis tafsir tematik dan interpretasi lintas kitab suci, artikel ini menyimpulkan bahwa beberapa krtikan Pdt. Manurung terhadap al-Qur’an di antaranya adalah 1) al-Qur’an belum final dan tidak lengkap, serta mushafnya tidak seragam. 2) Beberapa kisah dalam al-Qur’an tidak sesuai dengan fakta sejarah. 3) Isi al-Qur’an tidak konsisten dan seragam. Penulis berargumen bahwa secara genealogis, beberapa kritikan ini sudah cukup populer berasal dari para orientalis, penginjil dan pendebat Kristen. Hanya saja, kritik tersebut tidak cukup kuat dan argumentatif karena tidak familiar dengan diskursus keilmuan al-Qur’an, khususnya tentang sejarah al-Qur’an dan kesatuan tematik al-Qur’an.
KONSEP DAKWAH LINTAS AGAMA DALAM PERSPEKTIF AL-QURAN Jafar, Iftitah; Nur Amrullah, Mudzhira; Muh. Anwar
Jurnal Al-Khitabah Vol 10 No 2 (2024)
Publisher : Jurnal Al-Khitabah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dakwah antar agama diteakkan di atas landasan yang kokoh dari konsep Al-Qur'an. QS. al-Baqarah (2): 62, misalnya, menekankan perlunya pengakuan terhadp komunitas agama lain. Pengakuan ini sangat penting untuk memulai implementasi dakwah lintas agama. Agak sulit untuk berdakwah kepada pengikut agama lain jika seorang dai bertolak dari penolakan dan kecurigaan. Pengakuan ini menandai kesamaan antara komunikator dan komunikan, baik dalam kerangka acuan maupun pengalaman lapangan. Penelitian ini mencoba mengeksplorasi konsep dakwah lintas agama dalam Al-Qur'an, khususnya metode dan tujuannya. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan pendekatan tematik kontekstual. Pendekatan tematik menempuh beberapa langkah sebagai berikut: 1. Meneliti dan mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur'an tentang dakwah antaragama, 2. Mengelompokkan ayat-ayat tersebut ke dalam klasifikasi metode dakwah antaragama dan tujuan dakwah antaragama. 3. Menganalisis ayat-ayat dalam kedua klasifikasi dengan berkonsultasi dengan karya-karya tafsir. 4. Menghubungkan analisis dengan dakwah para rasul dan konteks dakwah saat ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa metode dakwah lintas agama adalah: debat, pendekatan dakwah struktural, pendekatan dakwah kultural, kemitraan dan kolaborasi. Dakwah lintas agama sendiri bertujuan antara lain: 1. Memerkenalkan ajaran Islam, 2. Meluruskan kesalahpahaman tentang Islam, 3. Mewujudkan rasa peduli pada keprihatinan bersama, dan 4. Mendorong kehidupan yang lebih kompetitif.