Aprilia Firmonasari
Universitas Gadjah Mada

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PELIYANAN TERHADAP PEREMPUAN DUNIA KETIGA PADA RUANG SEKSUAL DALAM NOVEL PLATEFORME KARYA MICHEL HOUELLEBECQ Kafana Fityah Kayla Taqiyya; Wening Udasmoro; Aprilia Firmonasari
LITERA Vol 19, No 3: LITERA NOVEMBER 2020
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v19i3.34256

Abstract

Peliyanan merupakan salah satu permasalahan yang kerap muncul di dalam sebuah novel. Pada novel Prancis berjudul Plateforme karya Michel Houellebecq, peliyanan tidak hanya terjadi di ruang publik seperti pada umumnya, namun juga pada ruang privat, yakni ruang seksual. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan membahas bentuk-bentuk peliyanan pada ruang seksual yang terjadi di dalam novel Plateforme sehingga memisahkan Dunia Pertama dengan Dunia Ketiga. Penelitian ini menggunakan metode analisis isi cerita. Aspek-aspek isi cerita yang dilihat difokuskan pada aspek-aspek peliyanan yang terdapat di dalam novel. Cara koleksi data dilakukan dengan menyeleksi kata, kalimat dan paragraf yang memuat aspek peliyanan tersebut. Data dimasukkan di dalam tabel data yang berisi aspek peliyanan secara umum. Data pada tabel data pertama yang terkumpul selanjutnya diidentifikasi dan dikategorisasi sesuai dengan bentuk peliyanannya masing-masing. Data yang telah dikategorisasi tersebut kemudian dianalisis dengan didialogkan dengan konsep subaltern dari Gayatri C. Spivak. Analisis terhadap data menghasilkan temuan bahwa terjadi tiga bentuk peliyanan pada ruang seksual di dalam novel Plateforme. Tiga bentuk tersebut adalah pertama objektivikasi terhadap perempuan, kedua adalah pembungkaman suara perempuan dan ketiga adalah eksploitasi terhadap tubuh perempuan Dunia Ketiga. Kata Kunci: Peliyanan, Subaltern, Ruang Seksual, Pascakolonial THE OTHERING TO THIRD WORLD WOMWEN IN SEXUAL SPACE IN PLATEFORME NOVEL’S BY MICHEL HOUELLEBECQAbstractOne of the most issues addressed in a novel is othering. In a French novel titled Plateforme by Michel Houellebecq, othering is not only happening in the public space, but also in the very private space, the sexual or intimate space. This article attempts to describe and reveal the forms of othering in the sexual space of Plateforme that separates the First World from the Third World. This research uses the story content analysis as a method. The aspects of the stories are focussed on the othering process in the novel. The data are collected from the novel based on the wordings, sentences and paragraphes containing the othering aspects. The date are listed in the table that contains general aspects of othering process. The data collected are then categorized according to each form of othering. The categorized data are then analyzed using the subaltern theory of Gayatri C. Spivak. The result reveals three forms of othering in Plateforme. Those three forms of othering are objectification, silencing attempt through representation and the exploitation of Third World women’s body. Keywords: Othering, Subaltern, Sexual Space, Postcolonialism
The Linguistic Practice in the Construction of the Image of a Muslim Mother on Instagram Arum Rindu Sekar Kasih; Suhandano; Aprilia Firmonasari; Nurdiyana Binti Abd. Ghani
Tabasa: Jurnal Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pengajarannya Vol. 6 No. 02 (2025)
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/tabasa.v6i02.12789

Abstract

In the era of social media, public figures do not merely share their personal lives but also construct self-image through linguistic practices that reflect social and religious identities. One such practice is sharenting, the act of sharing content about children or family life accompanied by specific narratives. Linguistic practices on social media, particularly sharenting by public figures, serve as a means of constructing and expressing intertwined social and religious identities. This study explores how language choices in the image captions of sharenting content posted by Oki Setiana Dewi, a Muslim celebrity known as both a preacher and a mother, reflect the construction of a Muslim mother identity in digital spaces. The research employs a qualitative sociolinguistic approach to analyze the language choices in the captions. The analysis reveals that the use of religious diction, prayerful expressions, and spiritual narratives serves as a linguistic strategy to affirm the mother's role as a moral educator and guardian of Islamic values within the family. Language functions not only as a means of conveying information but also as a tool for establishing social relations, constructing a religious self-image, and expressing the speaker's ideological position. Linguistic practices on social media can be understood as a means of representing Islamic identity while simultaneously reinforcing social credibility as a Muslim female public figure.   Di era media sosial, figur publik tidak hanya membagikan kehidupan pribadi, tetapi juga membangun citra diri melalui praktik kebahasaan yang mencerminkan identitas sosial dan religius. Salah satu bentuknya adalah konten sharenting, yakni aktivitas membagikan kehidupan anak atau keluarga yang disertai narasi tertentu. Kajian ini berfokus pada takarir gambar (caption) dalam konten sharenting yang diunggah oleh Oki Setiana Dewi, seorang selebritas Muslimah yang dikenal sebagai pendakwah dan ibu. Dengan menggunakan pendekatan sosiolinguistik secara kualitatif, penelitian ini menelaah bagaimana pilihan bahasa dalam caption mencerminkan konstruksi identitas sebagai ibu Muslimah di ruang digital. Analisis menunjukkan bahwa penggunaan diksi religius, ungkapan doa, serta narasi spiritual menjadi strategi kebahasaan yang menegaskan peran ibu sebagai pendidik moral dan penjaga nilai-nilai Islam dalam keluarga. Bahasa tidak hanya berfungsi untuk menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk relasi sosial, membangun citra diri religius, dan menunjukkan posisi ideologis pembicara. Dengan demikian, praktik kebahasaan dalam media sosial dapat dipahami sebagai sarana representasi identitas keislaman sekaligus upaya membangun kredibilitas sosial sebagai figur publik Muslimah.