Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN PADA LIRIK LAGU DANGDUT: PERSPEKTIF SARA MILLS Ummi Nurjamil Baiti Lapiana; Arum Rindu Sekar Kasih
Jurnal Sasindo UNPAM Vol 10, No 1 (2022): Sasindo Unpam
Publisher : Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/sasindo.v10i1.93-105

Abstract

Di  Indonesia,  dangdut  adalah  salah  satu  jenis  musik  yang  digemari oleh masyarakat.  Dangdut dianggap menjadi musik  yang “merakyat” karena  banyak  lagu  dangdut  yang  musiknya  enak  didengar  serta liriknya mudah dicerna sehingga masyarakat mudah menerima musik dangdut.  Pada  sekitar  tahun  2000,  musik  dangdut  semakin berkembang  dengan  munculnya  berbagai  variasi,  seperti  dangdut koplo.  Dangdut  koplo  banyak  berkembang  di  wilayah  pantura, khususnya  wilayah  Jawa  Timur.  Musiknya  yang  enerjik  dan  meriah membuat masyarakat menyukai jenis musik ini. Ditambah pula, lirik pada  lagu-lagu  dangdut  koplo  banyak  yang  bersinggungan  dengan kehidupan  sehari-hari.  Salah  satu  ciri  khas  dari  lirik  lagu  dangdut koplo  adalah  penggunaan  kosakata  “saru”  yang  di  dalamnya sebenarnya menempatkan perempuan sebagai objek. Selain itu, lagulagu  dangdut  koplo  dibawakan  oleh  perempuan  dengan  gaya panggung  yang  cukup  erotis.  Penelitian  ini  menggali  persoalan  lirik lagu  dangdut  koplo  yang  tampak  mengobjetivikasi  perempuan. Dengan  menggunakan  pendekatan  Sara  Mills,  penelitian  ini mengambil  sudut  pandang  feminis  dengan  melihat  sosok  perempuan pada sebuah teks lagu.Kata  Kunci/Keywords:  objektivikasi,  lirik  lagu,  dangdut  koplo, feminis
Perbedaan Fitur Berbahasa Perempuan dan Laki-Laki dalam Berkomentar sebagai Ekspresi Kecantikan: Studi Kasus Akun Instagram @tccandler Arum Rindu Sekar Kasih; Ummi Nurjamil Baiti Lapiana
Jurnal Sasindo UNPAM Vol 10, No 2 (2022): Sasindo Unpam
Publisher : Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/sasindo.v10i2.1-9

Abstract

Instagram merupakan salah satu platform yang cukup banyak diminati oleh masyarakat sebagai media berkomunikasi dan mengekspresikan diri. Melalui fitur-fiturnya instagram menonjolkan konten visual, seperti foto, video/reel  dan Instagram story. Instagram juga memfasilitasi pengguna dan penonton untuk berinteraksi dan mengekspresikan diri melalui berbagai bentuk bahasa melalui caption dan kolom komentar. Akun-akun Instagram bercentang biru atau yang -sudah terverifikasi biasanya mendapatkan cukup banyak- komentar dari warganet. Salah satu akun terverifikasi yang mendapat cukup bahhhnyak follower atau pengikut, yaitu berjumlah 1,2 juta, adalah @tccandler. @tccandler merupakan akun yang mengunggah foto-foto artis papan atas dari berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, yang kemudian setiap tahunnya dibuat susunan peringkat dari nomor 1 sampai 100 berdasarkan kecantikan dan ketampanan dari figur publik tersebut. Tidak ada batasan bagi pengguna instagram, baik laki-laki maupun perempuan bisa memberi komentar pada unggahan yang muncul. Penelitian ini memfokuskan pada perbedaan penggunaan bahasa antara laki-laki dan perempuan dalam memberikan ekspresi kecantikan pada kolom komentar akun instagram @tccandler. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif kualitatif. Data yang diambil berupa komentar dari warganet pada akun @tccandler. Metode yang digunakan untuk menganalisis data adalah metode padan. Penyajian data dalam penelitian ini menggunakan metode formal dan metode informal yaitu dengan perumusan dengan tanda dan lambang-lambangjuga perumusan dengan kata-kata biasa. Perbedaan-perbedaan yang tampak jelas dari komentar yang muncul menunjukan bahwa komentar yang ditulis oleh pengguna perempuan lebih sopan dibanding laki-laki, Perempuan menggunakan bahasa yang lebih standar dibanding laki-laki, perempuan lebih banyak menggunaan sapaan dalam berkomentar dibanding laki-laki, dan perempuan lebih banyak mengekspresikan komentar dengan menggunakan emoji dibandingkan laki-laki.
Si Blorok: Mother Figure as Performer of Islamic Education Values in Dongenge Pitik karo Bebek Arum Rindu Sekar Kasih; Ummi Nurjamil Baiti Lapiana; Ika Oktaviana
Southeast Asian Journal of Islamic Education Vol 5 No 2 (2023): Southeast Asian Journal of Islamic Education, June 2023
Publisher : Faculty of Education and Teacher Training of UINSI Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21093/sajie.v5i2.6077

Abstract

A fairy tale is a media parents use to instill good values ​​in children. In fairy tales, children can learn values embedded to strengthen their value education. One of the figures who often has a vital role in conveying values and becomes a role model is a mother figure. The mother figure in children’s stories or fairy tales can inspire parents in the family or teachers at school by providing an example of good behavior to the children. This study focused on Islamic education values in the character of Si Blorok, portrayed as a mother figure. This study used a qualitative descriptive approach by analyzing the character of Si Blorok. The data source was a fairy tale entitled "Dongenge Pitik karo Bebek" written by Impian Nopitasarihe data is the character of Si Blorok as a mother figure presenting Islamic education values through sentences or dialogues in the fairy tale. Another character in Dongenge Pitik karo Bebek became supporting data in analyzing the Islamic education values performed by Si Blorok. The data were analyzed by applying Menderop’s theories (2005), namely telling and showing methods to explore the character in the fairy tale. The results show that Si Blorok is regarded as a happy, loving and caring, loyal and patient, fair, active, and wise mother. Therefore, from an Islamic perspective, the figure mother, Si Blorok, has reflected as the first teacher to teach good values to children.
Adaptation of Popular Names of Ornamental Plants in Indonesia Harum Munazharoh; Arum Rindu Sekar Kasih; Gulita Evapraja
MOZAIK HUMANIORA Vol. 23 No. 1 (2023): MOZAIK HUMANIORA VOL. 23 NO. 1
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mozaik.v23i1.36309

Abstract

This article explores the phenomenon of popular names for ornamental plants in Indonesia, emphasizing their role as both identifiers and representations of economic value. The popularity of these names is categorized based on their alignment (or lack thereof) with different parts of the ornamental plants. Employing a descriptive linguistic approach, the reference attributes of popular names are systematically grouped, followed by an image search and identification of their biological counterparts. The study also traces the elements contributing to the formation of names and their lexical meanings, incorporating both internal and external equivalents. Interviews with traders and collectors further support the meaning search, employing directional techniques and documenting substantive ethnographic patterns. A total of 85 names were collected from ornamental plant traders and collectors, supplemented by data from specialized YouTube channels. These popular names are further classified into nine categories based on plant attributes, such as structure (stalks, leaves, stems, and flowers), time, character, place, sound, and direction. The diversity in plant naming correlates with a complexity that extends beyond language, namely social class, selling price, and aesthetic considerations. Additionally, the naming process revolves around human preferences for convenience, practicality, and cultural phenomena. Changes in the naming of ornamental plants in Indonesia have substantial implications for shifting trends in people's preferences, as evidenced by the dimming landscape of post-pandemic YouTube channels and the ornamental plant market.
Transformasi Ruang Publik Digital: Studi Kasus Komentar Netizen dalam Akun Curhat Sekar Kasih, Arum Rindu; Maharani, Tisa
Kajian Linguistik dan Sastra Vol. 9 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/kls.v9i1.5068

Abstract

   In the current era of digital technology, the various digital platforms available in the form of social media mean that anyone can express as many things as they wish. Social media seems to be a personal "journal" but can be connected to the virtual world community or netizens so that netizens can also monitor the social media activities of each individual. One of the uses of social media by netizens is as a place to "talk" and respond to each other. These netizens do not know each other personally in the digital space. Uniquely, they do not hesitate to express personal experiences, then netizens respond ideally when the speaker and the interlocutor communicate directly. Cermin Lelaki's Instagram account presents a social media concept that is used as a forum for receiving men's conversations with various life problems. The story was then shared with the public and received many comments from netizens. Using the method of observing the language interactions of netizen comments on the Cermin Lelaki account, this research aims to explore netizen comments in response to venting and explore the extent to which the existence of digital public space can shape configurations or patterns of language activity from netizen comments. Language activities in netizen interactions are influenced by many underlying factors. 
OBJEKTIVIKASI PEREMPUAN PADA LIRIK LAGU DANGDUT: PERSPEKTIF SARA MILLS Lapiana, Ummi Nurjamil Baiti; Kasih, Arum Rindu Sekar
Jurnal Sasindo UNPAM Vol. 10 No. 1 (2022): Jurnal Sasindo UNPAM
Publisher : Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/sasindo.v10i1.93-105

Abstract

Di  Indonesia,  dangdut  adalah  salah  satu  jenis  musik  yang  digemari oleh masyarakat.  Dangdut dianggap menjadi musik  yang “merakyat” karena  banyak  lagu  dangdut  yang  musiknya  enak  didengar  serta liriknya mudah dicerna sehingga masyarakat mudah menerima musik dangdut.  Pada  sekitar  tahun  2000,  musik  dangdut  semakin berkembang  dengan  munculnya  berbagai  variasi,  seperti  dangdut koplo.  Dangdut  koplo  banyak  berkembang  di  wilayah  pantura, khususnya  wilayah  Jawa  Timur.  Musiknya  yang  enerjik  dan  meriah membuat masyarakat menyukai jenis musik ini. Ditambah pula, lirik pada  lagu-lagu  dangdut  koplo  banyak  yang  bersinggungan  dengan kehidupan  sehari-hari.  Salah  satu  ciri  khas  dari  lirik  lagu  dangdut koplo  adalah  penggunaan  kosakata  “saru”  yang  di  dalamnya sebenarnya menempatkan perempuan sebagai objek. Selain itu, lagulagu  dangdut  koplo  dibawakan  oleh  perempuan  dengan  gaya panggung  yang  cukup  erotis.  Penelitian  ini  menggali  persoalan  lirik lagu  dangdut  koplo  yang  tampak  mengobjetivikasi  perempuan. Dengan  menggunakan  pendekatan  Sara  Mills,  penelitian  ini mengambil  sudut  pandang  feminis  dengan  melihat  sosok  perempuan pada sebuah teks lagu.Kata  Kunci/Keywords:  objektivikasi,  lirik  lagu,  dangdut  koplo, feminis
Perbedaan Fitur Berbahasa Perempuan dan Laki-Laki dalam Berkomentar sebagai Ekspresi Kecantikan: Studi Kasus Akun Instagram @tccandler Kasih, Arum Rindu Sekar; Lapiana, Ummi Nurjamil Baiti
Jurnal Sasindo UNPAM Vol. 10 No. 2 (2022): Jurnal Sasindo UNPAM
Publisher : Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/sasindo.v10i2.1-9

Abstract

Instagram merupakan salah satu platform yang cukup banyak diminati oleh masyarakat sebagai media berkomunikasi dan mengekspresikan diri. Melalui fitur-fiturnya instagram menonjolkan konten visual, seperti foto, video/reel  dan Instagram story. Instagram juga memfasilitasi pengguna dan penonton untuk berinteraksi dan mengekspresikan diri melalui berbagai bentuk bahasa melalui caption dan kolom komentar. Akun-akun Instagram bercentang biru atau yang -sudah terverifikasi biasanya mendapatkan cukup banyak- komentar dari warganet. Salah satu akun terverifikasi yang mendapat cukup bahhhnyak follower atau pengikut, yaitu berjumlah 1,2 juta, adalah @tccandler. @tccandler merupakan akun yang mengunggah foto-foto artis papan atas dari berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, yang kemudian setiap tahunnya dibuat susunan peringkat dari nomor 1 sampai 100 berdasarkan kecantikan dan ketampanan dari figur publik tersebut. Tidak ada batasan bagi pengguna instagram, baik laki-laki maupun perempuan bisa memberi komentar pada unggahan yang muncul. Penelitian ini memfokuskan pada perbedaan penggunaan bahasa antara laki-laki dan perempuan dalam memberikan ekspresi kecantikan pada kolom komentar akun instagram @tccandler. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif kualitatif. Data yang diambil berupa komentar dari warganet pada akun @tccandler. Metode yang digunakan untuk menganalisis data adalah metode padan. Penyajian data dalam penelitian ini menggunakan metode formal dan metode informal yaitu dengan perumusan dengan tanda dan lambang-lambangjuga perumusan dengan kata-kata biasa. Perbedaan-perbedaan yang tampak jelas dari komentar yang muncul menunjukan bahwa komentar yang ditulis oleh pengguna perempuan lebih sopan dibanding laki-laki, Perempuan menggunakan bahasa yang lebih standar dibanding laki-laki, perempuan lebih banyak menggunaan sapaan dalam berkomentar dibanding laki-laki, dan perempuan lebih banyak mengekspresikan komentar dengan menggunakan emoji dibandingkan laki-laki.
City Nicknames on the Island of Java for Strengthening Urban Identity: Study of Toponymy Oktaviana, Ika; Baiti Lapiana, Ummi Nurjamil; Sekar Kasih, Arum Rindu
MIMESIS Vol. 7 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/mms.v7i1.14476

Abstract

The Island of Java is an island of diverse range of cities, each with its own unique characteristics that are embedded in various aspects of daily life. One fascinating aspect of these cities is their distinct nicknames, which serve as a reflection of their individual identities. The study aims to delve into the origin-based meanings of these nicknames, investigating the historical, cultural, geographical, and social factors that have contributed to their formation. This qualitative descriptive research aims to delve into the intricate factors that contribute to the formation of these city nicknames on the Island of Java.  The data for this study consists of nicknames for cities on the Island of Java that is taken from the book sources which were then analyzed by the theory of naming and referent. The study discovers a multitude of contributing elements, including culinary, natural resources, human resources, historical significance, climatic conditions, industrial prowess, and artistic expressions. The study findings illuminate that these city nicknames are forged from the most remarkable and exceptional attributes that set them apart from other cities. This exceptionalism plays a pivotal role in forging the city's identity, thus drawing people to explore its culinary delights, appreciate its natural allure, and delve into its rich history and arts. Consequently, these diverse elements collectively weave a tapestry of vibrant and multifaceted identities for Java’s cities.
Religious Linguistics Code in the Sharenting Content of Muslim Momfluencers on Social Media Arum Rindu Sekar Kasih; Suhandano Suhandano; Aprillia Firmonasari
Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, dan Budaya Vol 16, No 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan dan Humaniora (FIPH), Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/lensa.16.1.2026.103-126

Abstract

Sharenting among Muslim momfluencers has emerged as a significant social phenomenon, often blending parenting documentation with Islamic values through religious linguistic codes. This study analyzes the use of terms, phrases, and symbols rooted in Islamic teachings within sharenting content on Instagram. Using a sociolinguistic approach, the research explores how verbal elements construct religious identity while simultaneously engaging a digital audience. Data were collected via digital observation of a Muslim momfluencer’s Instagram content, focusing on the intersection of religious values, motherhood, and daily life. The analysis examines captions containing Quranic verses, hadiths, prayers, and Islamic terminology to identify how these codes are delivered and influenced by socio-cultural contexts. The findings reveal that religious linguistic codes are used strategically to convey Islamic values, establish emotional connections, and enhance the influencer’s religious persona. Beyond mere expression, these codes serve as an effective branding method to attract like-minded Muslim audiences. Complemented by visual cues such as syar'i attire and symbols of worship, sharenting becomes a performative medium for promoting religious narratives and generating social capital. This research provides critical insights into the evolving relationship between language, religion, and parenting in the social media era.
Variasi Pola Unsur Fungsional Judul Cerpen dalam Surat Kabar Kompas: Kajian Sintaksis: Linguistik Arum Rindu Sekar Kasih
ALFABETA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya Vol. 5 No. 1 (2022): ALFABETA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya
Publisher : Universitas Insan Budi Utomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/alfabeta.v5i1.1198

Abstract

The title of the short story is a representation from the contents of the short story. The patterns in the short story titles can beviewed from a syntax. This study takes several short stories in the Kompas daily newspaper and then describes the functionalelements. The functional element is the position of a unified sentence, each of which occupies a function. From the research that has been done, the patterns found in this study, among others, are in the form of a pattern of S-P (subject-predicate), P-O (object-predicate), S-P-K (subject-predicate-description), S-P-O (subject-predicate-description). ), P-S-O (predicate-subject- object), and the actual order sentence pattern. Each of the existing patterns can actually show that in giving the title to the short story, the author has his own style which he uses as a characteristic.