The speech delivered by K.H. Hasan Abdullah Sahal at the centenary celebration of Pondok Modern Darussalam Gontor articulates the importance of upholding moral values and pesantren independence amid changing social conditions. This study examines how moral criticism and pesantren independence are constructed in the speech. Employing a descriptive qualitative approach and qualitative content analysis, the study analyzes data drawn from the speech video and its transcript. The analysis is guided by Peter L. Berger’s social construction of reality perspective, focusing on the concepts of externalization and objectivation. The findings reveal that moral criticism is constructed through the affirmation of sincerity, dedication, self-improvement, leadership responsibility, and criticism of self-interest-oriented attitudes. Meanwhile, pesantren independence is constructed through steadfastness in determining educational direction, maintaining institutional identity, freeing the institution from dependency, and contributing to the Muslim community and the nation. These two constructions are interconnected, suggesting that institutional independence must be grounded in moral values and a commitment to service. This study contributes to Islamic Communication and Broadcasting scholarship by demonstrating how a pesantren leader’s speech functions as a da’wah communication text through which moral values are articulated and institutional independence is affirmed. Pidato K.H. Hasan Abdullah Sahal dalam peringatan satu abad Pondok Modern Darussalam Gontor memuat pesan tentang pentingnya menjaga nilai-nilai moral dan kemandirian pesantren di tengah perubahan zaman. Penelitian ini bertujuan menganalisis konstruksi kritik moral dan kemandirian pesantren dalam pidato tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis isi kualitatif. Data penelitian berupa video dan transkrip pidato yang dianalisis menggunakan perspektif konstruksi sosial Peter L. Berger, khususnya konsep eksternalisasi dan objektivasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kritik moral dikonstruksikan melalui penegasan nilai keikhlasan, pengabdian, perbaikan diri, tanggung jawab kepemimpinan, serta kritik terhadap sikap yang berorientasi pada kepentingan pribadi. Sementara itu, kemandirian pesantren dikonstruksikan melalui keteguhan dalam menentukan arah pendidikan, mempertahankan identitas kelembagaan, membebaskan diri dari ketergantungan, serta memberikan kontribusi bagi umat Islam dan bangsa. Kedua pesan tersebut saling berkaitan, yang menunjukkan bahwa kemandirian kelembagaan pesantren harus berlandaskan nilai-nilai moral dan komitmen pengabdian. Penelitian ini berkontribusi pada kajian Komunikasi dan Penyiaran Islam dengan menunjukkan bahwa pidato pemimpin pesantren dapat berfungsi sebagai teks komunikasi dakwah yang menyampaikan nilai-nilai moral sekaligus menegaskan prinsip kemandirian kelembagaan.