Sarjito Jokosisworo
Departemen Teknik Perkapalan, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro Jl. Prof. Soedarto, SH, Kampus Undip Tembalang, Semarang, Indonesia 50275

Published : 86 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 62 Documents
Search
Journal : Department of Naval Architecture

Analisa Keausan dan Kekerasan pada Material Baja SS316 Sebagai Bahan Komponen Crankshaft Mesin Kapal setelah Proses Carburizing Bismika Burhan; Sarjito Jokosisworo; K. Kiryanto
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 6, No 4 (2018): Oktober
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perawatan permesinan pada kapal perlu dilakukan untuk mempertahankan kapal dalam kondisi laik laut, namun hal tersebut memerlukan biaya yang banyak. Pengeluaran biaya perawatan permesinan tersebut dapat berkurang apabila kualitas dari komponen permesinan itu sendiri sangat baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai kekerasan dan keausan dari material baja SS316 baik sebelum dan sesudah melalui proses carburizing. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui apakah baja SS316 baik sebelum dan sesudah melalui proses carburizing tersebut dapat digunakan sebagai bahan material untuk komponen permesinan crankshaft. Penelitian ini menggunakan metode Rockwell untuk pengujian kekerasan dan metode Ogoshi untuk pengujian keausan baja SS316 dan didapatkan hasil nilai kekerasan tertinggi baja SS316 tanpa proses Carburizing adalah 86.03 HRB sedangkan untuk nilai kekerasan tertinggi setelah Carburizing adalah 83.35 HRB, serta nilai keausan spesifik tertinggi baja SS316 tanpa proses Carburizing sebesar 2.143 x 10-8 mm/kgf, sedangkan nilai keausan spesifik tertinggi setelah Carburizing adalah 1.463 x 10-8 mm/kgf. Selain itu penelitian ini juga menggunakan tungku pemanas, karbon aktif serta Soda Abu (Na2CO3) sebagai katalis untuk proses carburizing material. Merujuk pada regulasi Lloyd’s Register yang tidak mengidentifikasikan standar minmal nilai keausan spesifik yang dibutukan, maka material baja SS316 baik dengan ataupun tanpa proses carburizing dapat digunakan sebagai material komponen carnkshaft.
Pengaruh Penambahan Inhibitor CaCO3 Terhadap Laju Korosi Baja SS 400 dalam Larutan Air Laut Buatan Syahrul Mubarak; Sarjito Jokosisworo; Imam Pujo Mulyatno
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 8, No 3 (2020): Juli
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (698.217 KB)

Abstract

Logam baja merupakan salah satu material yang sering digunakan pada industri perkapalan dalam pembangunan dan reparasi kapal. Logam baja merupakan material yang mudah mengalami korosi sehingga perlu adanya kajian penelitian mengenai laju korosi pada baja. Manfaat penelitian ini dapat mengetahui pengaruh penambahan inhibitor CaCO3 terhadap laju korosi Baja SS 400 dalam lingkungan air laut buatan. Penelitian ini bertujuan  untuk mengetahui perlambatan laju korosi yang disebabkan oleh pencampuran inhibitor kalsium karbonat kedalam lingkungan korosif dengan metode kehilangan berat ( Weight Loss ) sesuai dengan ASTM G31-72 dengan variasi waktu dan media kororif 3% NaCl. Spesimen yang diuji adalah Baja SS 400. Berdasarkan data penelitian yang diperoleh nilai laju korosi pada perendaman selama 5 hari tanpa inhibitor sebesar 0,0445 mmpy dengan inhibitor laju korosinya sebesar 0,0379 mmpy. Sehingga efisiensi penggunaan inhibitor sebesar 14,83%. Kemudian nilai laju korosi pada perendaman selama 10 hari tanpa inhibitor sebesar 0,0507 mmpy, dengan inhibitor laju korosinya menjadi 0,0307 mmpy. Sehingga efisiensi penggunaan inhibitor sebesar 39,34%. Kemudian nilai laju korosi pada perendaman selama 15 hari tanpa inhibitor sebesar 0,0514 mmpy, dengan inhibitor laju korosinya menjadi 0,0218 mmpy. Sehingga efisiensi inhibitor sebesar 57,59%. Dari data penelitian yang diperoleh efisiensi laju korosi pada perendaman selama 5 hari, 10 hari dan 15 hari terus mengalami peningkatan sehingga dapat disimpulkan bahwa CaCO3 dapat digunakan untuk menurunkan laju korosi
Pengaruh Suhu Pendinginan Dengan Media Air Terhadap Hasil Pengelasan Pada Kekuatan Tarik, Impak, dan Mikrografi Aluminium 5083 Pengelasan TIG (Tungsten Inert Gas) Akbar Triansyah; Sarjito Jokosisworo; Parlindungan Manik
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 5, No 1 (2017): Januari
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (985.401 KB)

Abstract

Proses pengelasan dilakukan pada material aluminium 5083 yang banyak digunakan dalam industri perkapalan khususnya sebagai material konstruksi kapal aluminium. Penelitian ini bertujuan membandingkan hasil kekuatan tarik dari variasi pendinginan agar di dapatkan pendinginan dengan media air pada suhu yang optimal. Pengelasan aluminium 5083 dilakukan dengan proses pengelasan TIG (Tungsten Inert Gas) dan jenis sambungan pengelasan double v-butt joint dengan sudut 60°. Variable proses pendinginan yang di lakukan menggunakan media air adalah 10o C, 25o C, 50o C, 90o C, dan tanpa pendinginan dengan media air. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa faktor pendinginan dengan media air dalam proses pengelasan sangat berpengaruh dalam menentukan kualitas hasil pengelasan ditinjau dari kekuatannya., terlihat dari grafik variasi pendinginan dengan media air tersebut memiliki nilai naik dari hasil las yang tidak dilakukan proses pendinginan. Pada suhu 95o C  didapatkan keadaan yang optimal atau paling baik memberikan kekuatan tarik dan nilai regangan tertinggi diantara arus dan kecepatan lainnya, yaitu sebesar 130,18 N/mm2 dan regangan sebesar 2,91%. Lalu untuk kekuatan impak di dapatkan kekuatan impak terbesar pada suhu pendinginan dengan media air 10o C yaitu dengan nilai kekuatan impaknya 0.26 J/mm2. Dari hasil pengujian tarik dan impak di dapatkan nilai terendah yaitu pada material las yang tidak dilakukan proses pendinginan dengan media air.
Analisa Pengaruh Holding Time Tempering Terhadap Kekerasan, Keuletan, Ketangguhan dan Struktur Mikro Pada Baja ST 70 Dwi Joko Purnomo; Sarjito Jokosisworo; Untung Budiarto
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 7, No 1 (2019): Januari
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1280.355 KB)

Abstract

Baja karbon sering digunakan dalam industri perkapalan dan memiliki aplikasi yang luas karena mempunyai kemampuan work hardening dan ketahanan destruktif yang baik setelah menerima perlakuan panas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai kekerasan, nilai tarik, kuat impact (ketangguhan) dan perubahan struktur mikro pada baja jenis medium carbon steel ST 70 setelah perlakuan panas tempering, sehingga hasilnya dapat diaplikasikan dilapangan. Metode yang digunakan yaitu baja diberi perlakuan panas quenching pada suhu +850o C ditahan 30 menit kemudian dilanjutkan dengan tempering pada suhu +450o C ditahan selama 1 jam, 2 jam dan 3 jam. Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai kekerasan tertinggi terdapat pada baja ST 70 perlakuan panas tempering 1 jam dengan kenaikan nilai kekerasan sebesar 25,85% dari baja ST 70 tanpa perlakuan panas, nilai tarik tertinggi terdapat pada baja ST 70 perlakuan panas tempering 3 jam dengan kenaikan nilai tarik sebesar 38,60% dari baja ST 70 tanpa perlakuan panas, nilai impact tertinggi terdapat pada baja ST 70 perlakuan panas tempering 2 jam dengan penurunan nilai impact sebesar 45,01% dari baja ST 70 tanpa perlakuan panas.
Analisa Kekuatan Tarik, Kekuatan Lentur Putar dan Kekuatan Puntir Baja ST 41 sebagai Bahan Poros Baling-baling Kapal (Propeller Shaft) setelah Proses Quenching Ali Mustofa; Sarjito Jokosisworo; Ari Wibawa Budi Santosa
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 6, No 1 (2018): Januari
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (879.683 KB)

Abstract

Dalam penelitian ini akan dilakukan uji komposisi, uji tarik, uji lentur putar, uji puntir, dan uji metalografi untuk material baja karbon ST41 guna untuk bahan poros baling-baling kapal setelah proses quenching. Tujuannya untuk mengetahui apakah baja ST41 memenuhi persyaratan BKI ditinjau dari aspek kekuatan tarik dan komposisi materialnya. Sedangkan untuk uji puntir dan lentur putar adalah untuk menganalisa kelelahan material. Poros baling-baling (propeller shaft) adalah salah satu komponen kapal yang berfungsi untuk  memindahkan/menyalurkan daya dari mesin induk ke baling-baling menjadi gaya dorong untuk menggerakkan sebuah kapal. Dalam berputarnya/bekerjanya poros baling-baling untuk menghasilkan gaya dorong, poros tersebut menanggung berbagai jenis beban akibat dari kombinasi berbagai bentuk gaya. Beban tersebut diantaranya adalah beban tarik, beban lentur putar dan beban puntir, dimana beban-beban tersebut terjadi secara berulang-ulang yang akhirnya akan mengakibatkan kegagalan  lelah (fatigue failure) pada material. Untuk mendapatkan ketahanan destruktif yang tinggi dan  kekuatan material yang baik perlu dilakukan proses perlakuaan panas (heat treatment). Pada penelitian ini  dilakukan proses perlakuan panas quenching dengan menggunakan media pendingin pelumas Mesran SAE 20W – 50. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik tarik, lentur putar, puntir dan struktur metalografi pada material baja ST 41 setelah proses quenching. Hasil penelitian ini berupa nilai kekuatan material yang kemudian dibandingkan dengan nilai minimum persyaratan rules BKI. Beberapa hasil penelitian seperti penampang patahan juga dapat mewakili karakter keuletan material.  Hasil penelitian menunjukan bahwa baja ST 41 perlakuan panas quenching memiliki kekuatan tarik 393 Mpa, kekuatan puntir 448,65 Mpa dan untuk uji lentur putar diperoleh nilai batas aman 149,14 Mpa dengan 2074300 siklus.
Analisa Kekuatan Tekuk, Impak dan Mikrografi Baja St 40 Pengelasan SMAW (Shielded Metal Arc Welding) Dengan Media Pendingin Air Garam dan Oli Gusti Mirza; Sarjito Jokosisworo; Kiryanto Kiryanto
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 6, No 4 (2018): Oktober
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Baja St 40 tergolong baja karbon rendah, dimana baja karbon rendah merupakan bahan baku utama untuk pembuatan kontruksi kapal. Dalam pembuatan kontruksi kapal jenis pengelasan sangat diperhatikan agar dihasilkan sambungan las yang baik. Las SMAW( Shielded Metal Arc Welding) adalah salah satu teknik pengelasan yang banyak digunakan dalam perindustrian kapal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan tekuk, impak dan perubahan struktur mikro pada sambungan las sebelum dan sesudah diquenching. Pengelasan baja St 40 menggunakan las SMAW( Shielded Metal Arc Welding) dengan sambungan las double v-butt joint dengan sudut 600. Perlakuan pendinginan menggunakan air garam, oli dan tanpa pendingin. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor pendinginan pada hasil pengelasan mempengaruhi kualitas sambungan ditinjau dari kekuatannya. Pada pengelasan tanpa pendinginan didapatkan nilai tertinggi pada  kekuatan bending  yaitu sebesar 492,66 Mpa dan terendah berturut-turut air garam 467,92 Mpa dan oli  380,01 Mpa. Sedangkan untuk kekuatan impak didapatkan nilai tertinggi pada  pendinginan menggunakan media oli, yaitu sebesar 0,537 J/mm2 dan terendah berturut-turut air garam  0,450 J/mm2 dan tanpa pendinginan 0,381 J/mm2.. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa nilai kekuatan bending tertinggi didapatkan dari spesimen tanpa quenching, sedangkan harga impak tertinggi didapatkan dari spesimen yang menggunakan pendingin oli
PERANCANGAN KAPAL SPOB PENGANGKUT MINYAK SAWIT DI KAPUAS Wendi Riyandi; Berlian Arswendo Adietya; Sarjito Jokosisworo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 2, No 3 (2014): Agustus
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.249 KB)

Abstract

Kabupaten Kapuas terletak di antara 0o8'48" sampai dengan 3o27'00" Lintang Selatan dan 112o2'36" sampai dengan 114o44'00" terletak di Garis Khatulistiwa. Dan merupakan salah satu kota penghasil CPO (Crude Palm Oil) terbesar di indonesia. Prospek pasar CPO (Crude Palm Oil) di masa mendatang terlihat sangat baik untuk domestik maupun untuk ekspor, berapa ukuran utama kapal pengangkut minyak sawit yang optimal dan bias memenuhi kebutuhan yang ada di perusaan di kapuas, bagaimana proses pengangkutan minyak sawit di Kapuas.Dalam melaksanakan penelitian ini di lakukan beberapa tahapan  perancangan kapal pengangkut minyak sawit yaitu komputerisasi yang menggunakan bantuan computer untuk perhitungan dari kapal perancangan pengangkut minyak sawit ini, dan penambahan software maxsurf dan delsfhip untuk menentukan ukuran utama, membuat rencana garis, rencana umum,analisa hydrostatic,stabilitas kapal dan analisa olah gerak kapal pengangkut minyak sawit pemilihan peralatan kapal minyak sawit dan mesin induk berdasarkan hasil perhitungan daya sesuai dengan hambatan yang di alami kapal.Ukuran utama yang di hasilkan dari perhitungan adalah LOA : 29.160 m, LWL : 29,157 m,B: 7,5 m H: 3.00 m, T: 2.40 m. dari hasil hydrostatic, kapal pengangkut minyak sawit ini mempunyai displacement 399,78ton, CB 0.73 LCB 14,35 m. pada tinjauan stabilitas,hasil menujukan kapal stabil,karena titik M di atas titik G. pada tinjauan  olah gerak kapal ini memiliki olah gerak yang baik terbikti tidak terjadi deck weeknes. Pada tinjauan gambar rencana umum, kapal memiliki space yang sukup untuk kapal monohull dan untuk mempermudah proses bongkar muat kapal pengangkut minyak kelapa sawit ini menggunakan satu buah tenaga penggerak berupa mesin induk dengan daya yang di hasilkan sebesar 276.86HP. dengan kapal ini pengangkutan tiga ( 3) perusahaan bias di lakukan selama lima (5) hari
KAJIAN TEKNIS DAN EKONOMIS KAPAL IKAN TRADISIONAL 10 GT DIPERAIRAN KENDAL Arif Rahman; Ari Wibawa Budi Santosa; sarjito jokosisworo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 2, No 4 (2014): Oktober
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (549.917 KB)

Abstract

Perairan  laut  di Kabupaten  Kendal  mempunyai  kekayaan sumber daya jenis ikan dengan hasil tangkapan yang  dominan  dan  bernilai  ekonomis  tinggi salah satunya   Teri. Kebanyakan para nelayan Kendal terutama di Desa Sendangsikucing, Kecamatan Rowosari dan Kabupaten Kendal menggunakan kapal ikan 10 GT beralat tangkap mini waring. Dalam penelitian ini dimulai dengan tahapan pencarian data ukuran utama kapal yang dijadikan model untuk menghitung stabilitas kapal dan olah gerak kapal. Tahapan selanjutnya yaitu dengan mencari data biaya investasi yang meliputi biaya pembangunan kapal, biaya operasional kapal dan biaya pendapatan kapal untuk perhitungan BEP (break event point). Untuk perhitungan stabilitas yang mengacu pada aturan IMO dengan Code A.749(18) secara keseluruhan menunjukan bahwa stabilitas dari model kapal ikan ketiganya telah memenuhi standart kriteria yang ditetapkan oleh IMO. Untuk analisa Olah Gerak dari ketiga kapal tersebut yang mengalami deckwetness hanya satu  yaitu  pada kondisi rolling dengan sudut 900 nilai amplitudo paling besar.  Untuk perhitungan ekonomis biaya investasi dalam pembuatan kapal KMN.Sido Waras sebesar Rp 422.132.000,- . Keuntungan  bersih pemilik kapal pada tahun pertama 2012 Rp 317.880.000,00 dan pada tahun kedua 2013 Rp 430.000.000,-. Sehingga dapat disimpulkan BEP (modal akan kembali) pada trip ke 220 atau tahun ke 2 bulan ke 3.
Pengaruh Normalizing Terhadap Kekuatan Tarik, Impak, Dan Mikrografi Pada Sambungan Las Baja A36 pengelasan Shielded Metal Arc Welding (SMAW) dengan Variasi 2 Waktu Pemanasan Muhammad Dikwan; Sarjito Jokosisworo; Ahmad Fauzan Zakki
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 7, No 4 (2019): Oktober
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1329.484 KB)

Abstract

Proses perlakuan normalizing pada baja A36 jenis baja dengan karbon rendah yang digunakan dalam reparasi maupun konstruksi pembangunan kapal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan hasil kekuatan tarik, impak, dan struktur mikrografi pada sambungan las baja A36 setelah dilakukan pengelasan SMAW yang kemudian diberi perlakuan panas  normalizing pada suhu 880° dengan variasi 2 waktu penahanan selama 20 menit dan 40 menit. Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor perlakuan normalizing pada hasil pengelasan mempengaruhi kualitas sambungan ditinjau dari kekuatannya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa baja A36 dengan perlakuan normalizing dengan waktu penahanan 20 menit memiliki rata-rata kekuatan tarik sebesar 363,005 MPa, rata-rata regangan luluh sebesar 2,63%, dan rata-rata modulus elastisitas sebesar 154,73 GPa. Serta memiliki harga impak lebih tinggi dari pemanasan 40 menit dengan rata-rata sebesar 1,595 J/mm². dan Baja A36 dengan diberi perlakuan normalizing dengan waktu penahanan 40 menit  memiliki rata-rata kekuatan tarik sebesar 273,44 MPa, dengan rata-rata regangan lebih kecil dari waktu penahanan 20 menit yaitu sebesar 2,43%, tetapi memiliki rata-rata modulus elastisitas tertinggi sebesar 183,55 GPa. Serta memiliki harga impak dengan nilai rata-rata sebesar 1,56 J/mm². Sedangkan struktur mikrografi menunjukan fasa ferrite lebih dominan pada spesimen dengan perlakuan normalizing waktu penahanan 40 menit yang berarti memiliki kekuatan yang lebh rendah dibandingkan dengan waktu penahanan 20 menit. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa baja A36 dengan diberi perlakuan normalizing dengan waktu penahanan 20 menit  memiliki kekuatan yang lebih besar dibandingkan  specimen yang diberi perlakuan normalizing dengan waktu penahanan 40 menit.
ANALISA FATIGUE KONTRUKSI MAIN DECK SEBAGAI PENUMPU TOWING HOOK AKIBAT BEBAN TARIK PADA KAPAL TUG BOAT 2 x 800 HP DENGAN METODE ELEMEN HINGGA Arif Putra Rizky; Imam Pujo Mulyatno; Sarjito Jokosisworo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 4, No 1 (2016): JANUARI
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (736.472 KB)

Abstract

Kapal TugBoat adalah sebuah kapal yang fungsinya menarik atau mendorong kapal lainnya. Pada dasarnya TugBoat digunakan untuk melayani kapal-kapal besar yang akan bersandar di pelabuhan ataupun dari bersandar di pelabuhan yang akan berlabuh dan juga melayani kapal-kapal pengangkut hasil tambang. Adanya beban tarik terhadap towing hook mengakibatkan terjadinya distribusi tegangan terjadi pada daerah sekitar towing bolder dan juga konstruksi dibawahnya. Gerakan menarik yang dilakukan kapal Tugboat ini dapat menimbulkan kelelahan dan banyak masalah lainnya. Analisa fatigue digunakan untuk meninjau daerah hotspot stress yang rawan terjadi crack pada suatu material. Hasil analisa fatigue diambil nilai stress terbesar dan diambil nilai siklus terpendek pada setiap variasi pembebanan. Pada penelitian ini menggunakan bantuan soft ware MSC Nastran Patran dan MSC Fatigue yang dipergunakan untuk membantu memperoleh hasil tegangan dan damage dari suatu konstruksi main deck dan penumpu towing hook. Setelah proses running dan perhitungan diperoleh hasil umur konstruksi yaitu, kondisi full loads didapatkan nilai strees sebesar  147 Mpa terletak pada frame nomor 17 serta siklus sebanyak 0,973x108 cycle memiliki umur 19,61 tahun. Kondisi shagging didapat nilai stress sebesar 146 Mpa terletak pada frame nomor 17 serta siklus sebesar 0,973x108 cycle memiliki umur 19,61 tahun.Kondisi Hogging didapat nilai strees sebesar 149 Mpa terletak pada frame nomor 17 serta siklus sebesar 0,973x108 cycle memiliki umur 19,61 tahun.
Co-Authors A.F. Zakki Abizar, Muhammad Affan Ade Purnawan Aditya Rio Prabowo Adnan Septi Hadi Romadlon Ahmad Fauzan Zakki Ahmad Naufal Akbar Triansyah Akhmad Rosihan Adam Ali Mustofa Aminuyati Amru, Syafiq Nada Anas Sebtu Prawira Andhyka Cakrabuana Adhitama Ari Wibawa Budi Santosa Arif Putra Rizky Arif Rahman Aziz Mukhsin Berlian Arswendo Adietya Bernadi Ramazini Bismika Burhan Biwa Abi Laksana Brata Wahyu Setya Budi Deddy Chrismianto Dennis Oscha Cholik Dhony Catur Pamungkas Dwi Joko Purnomo Edwin Wijaya Egi Juniawan Eko Sasmito Hadi Eli Akim Sipayung Enggal Noor Laksono Fachrurrozi Setiawan Farel Mauluvi Akmal Antaqiya Gema Mar'ie Habibie Good Rindo Gusti Mirza Hafizh Bahtiar Hanung Bayu Setiawan Hartono Yudo Hartono Yudo Huda, Muhammad Hafid Imam Pujo Mulyatno Imam Pujo Mulyatno Indra Artanto Jajang Sebastian Jonathan, Mario K Kiryanto K. Kiryanto Khusnul Khotimah Kiryanto Kiryanto Kiryanto Kiryanto Kiryanto Kiryanto Lukman Gewa Nurhakim Luthfi Isna Saputra M. Idam Titahgusti Maftuh Murtiyoso Mathews Yose Pratama Mawahib, M Zaenal Maxwell Pradolin Muchammad, Rizky Muhammad Dikwan Muhammad Jordi Noormansyah, Faridz Aditya Nurhafid, Aji Parlindungan Manik Parlindungan Manik Pratiwi, Ovin Ranica Putra, Ridwan Redi Reka Purnawati Rendy Kastanto Ridwan Redi Putra Rio Leksa Muchtiwibowo Rismawan Rismawan Rizka Azhari Yulistiawan Faruq Rizka Cholif Arrahman Rizky Cahya Kusuma Rizky Perdana Putra Sadewo, Guntur Samuel Samuel Sukanto Jatmiko Syahrul Mubarak Tambunan, Govinda Daniel Parasian Teguh Sulistyo Hadi, Teguh Sulistyo Untung Budiarto Valentino Pasalbessy Vicky Bhaskara Sardi Wendi Riyandi Widyanto Widyanto Wilma Amiruddin