Sarjito Jokosisworo
Departemen Teknik Perkapalan, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro Jl. Prof. Soedarto, SH, Kampus Undip Tembalang, Semarang, Indonesia 50275

Published : 86 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 62 Documents
Search
Journal : Department of Naval Architecture

ANALISA KEKUATAN TARIK DAN KOMPOSISI BAHAN PADUAN ALUMINIUM LIMBAH AC MOBIL DENGAN METODE METAL CASTING UNTUK BAHAN JENDELA KAPAL Indra Artanto; Sarjito Jokosisworo; Kiryanto Kiryanto
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 3, No 2 (2015): April
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.009 KB)

Abstract

Kota Tegal merupakan pusat industri pengecoran logam. CV Setia Kawan salah satu perusahaan  pengecoran komponen kapal seperti side scuttle,front window dengan menggunakan limbah aluminium. Ketersediaan limbah aluminium menghambat proses produksi, sehingga perlu untuk menguji limbah aluminium baru dengan harga terjangkau dan diharapkan dapat memenuhi Biro Standardisasi Klasifikasi Indonesia ( BKI ) serta dapat menekan biaya produksi tanpa mengurangi kualitas produk . Berdasarkan itu, tesis ini bertujuan untuk menguji kekuatan tarik dan komposisi bahan sebagai referensi CV . Setia Kawan Tegal. Hasil kekuatan tarik paduan aluminium siku dan aluminium limbah drier AC dengan empat variasi paduan yaitu 50% aluminium siku dan 50% aluminium limbah drier AC sampai variasi paduan 80% aluminium siku dan 20% aluminium drier AC tidak menunjukan perbedaan  kekuatan tarik yang signifikan sebesar 15,738 kg/mm2  sampai  14,305 kg/mm2 dan relatif sama baik serta memenuhi standar JIS H4000 seri 5005 sebesar 12-16 kg/mm2 . Hasil uji komposisi bahan paduan aluminium siku dengan aluminium limbah drier AC dengan empat variasi paduan yaitu 50% aluminium siku dengan 50% aluminium limbah drier AC sampai variasi paduan 80% aluminium siku dengan 20% aluminium drier AC tidak menunjukan perbedaan kadar aluminium yang signifikan sebesar 98,35% sampai 97,78% dan relatif sama baik serta memenuhi standar JIS H4000 seri 5005 kadar Al sebesar 98,2% sampai 96,9% dan BKI KI AW-6061 kadar Al sebesar 97,2% sampai 95,84%.
Analisa Perbandingan Kekuatan Tarik, Tekuk, dan Mikrografi Pada Sambungan Las Baja SS 400 Akibat Pengelasan FCAW (Flux-Cored Arc Welding) dengan Variasi Jenis Kampuh dan Posisi Pengelasan Mathews Yose Pratama; Untung Budiarto; Sarjito Jokosisworo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 7, No 4 (2019): Oktober
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1489.814 KB)

Abstract

Baja SS 400 adalah jenis baja karbon rendah yang mempunyai kadar karbon dibawah 0,3%. Pada bidag perkapalan baja karbon rendah merupakan bahan utama untuk pembuatan konstruksi kapal,seperti pada konstruksi lambung kapal. Pengelasan FCAW (Flux-Cored Arc Welding) adalah salah satu teknik pengelasan yang banyak digunakan dalam perindustrian dan rangka konstruksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan hasil kekuatan tarik, tekuk, dan struktur mikrografi dari sambungan las baja SS 400 dengan perbedaan jenis kampuh dan posisi pengelasan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa baja SS 400 dengan jenis kampuh V dan posisi pengelasan 1G memiliki rata-rata kekuatan tarik sebesar 410 MPa, rata-rata regangan sebesar 41,67%, dan rata-rata modulus elastisitas sebesar 6,79 GPa. Dan memiliki tegangan tekuk sebesar 569,41 MPa. Baja SS 400 dengan jenis kampuh V posisi pengelasan 2G memiliki rata-rata kekuatan tarik sebesar 411,66 MPa, rata-rata regangan sebesar 42,66%, dan rata-rata modulus elastisitas sebesar 6,83 GPa. Dan memiliki tegangan tekuk sebesar 541,68 MPa. Baja SS 400 dengan jenis kampuh U posisi pengelasan 1G memiliki rata-rata kekuatan tarik sebesar 377 MPa, rata-rata regangan sebesar 39,33%, dan rata-rata modulus elastisitas sebesar 6,45 GPa. Dan memiliki tegangan tekuk sebesar 558,88 MPa. Sedangkan baja SS 400 dengan jenis kampuh U posisi pengelasan 2G memiliki rata-rata kekuatan tarik sebesar 400,66 MPa, rata-rata regangan sebesar 37,67%, dan rata-rata modulus elastisitas sebesar 7,92 GPa. Dan memiliki tegangan tekuk sebesar 555,53 MPa. RAW material baja SS 400 memiliki rata-rata kekuatan tarik sebesar 391 MPa, rata-rata regangan sebesar 47,66%, dan rata-rata modulus elastisitas sebesar 6,06 GPa. Serta memiliki tegangan tekuk sebesar 515,28 MPa. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa baja SS 400 dengan jenis kampuh V posisi pengelasan 1G memiliki kekuatan yang lebih besar dari jenis variasi lainnya. 
Analisa Pengaruh Variasi Proses Preheating Pada Pengelasan Shielded Metal Arc Welding (SMAW) Terhadap Kekuatan Tarik dan Struktur Mikro Baja ST 60 Farel Mauluvi Akmal Antaqiya; Untung Budiarto; Sarjito Jokosisworo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 7, No 4 (2019): Oktober
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1342.403 KB)

Abstract

Baja ST 60 di bidang perkapalan difungsikan sebagai material konstruksi secara umum. Pengelasan SMAW banyak digunakan dalam pembangunan dan reparasi kapal karena metodenya yang fleksibel. Dalam proses pengelasan pada baja biasanya menyebabkan logam disekitar daerah las mengalami siklus termal cepat sehingga terjadi perubahan sifat metalurgi,deformasi dan tegangan termal. Perlakuan proses preheating dilakukan untuk menghindari terjadinya retak las. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan hasil kekuatan tarik dan struktur mikro dari spesimen non preheating, preheat suhu 3000C dan 4000C  pada baja ST 60. Tahapan penelitian : pemotongan plat, pembuatan kampuh Single V, preheating, pengelasan, pembuatan spesimen dan proses pengujian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa spesimen preheat suhu 3000C memiliki nilai rata-rata tegangan tarik terbesar dan spesimen preheat suhu 4000Cmemiliki nilai rata-rata regangan terbesar serta memiliki nilai modulus elastisitas terkecil. Hasil pengujian mikrografi menyatakan bahwa spesimen non preheating memiliki bentuk struktur mikro yang rapat dan memiliki sifat kekerasan yang cukup tinggi. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa spesimen dengan pengelasan SMAW preheat suhu 3000C memiliki nilai rata-rata tegangan tarik tertinggi sedangkan nilai rata-rata regangan tertinggi terjadi pada spesimen preheat suhu 4000C.
Analisa Kekuatan Tarik, Kekuatan Impact, Komposisi dan Cacat Pengecoran Paduan Aluminium Flat Bar dan Limbah Dryer AC dengan Menggunakan Cetakan Pasir dan Cetakan Hirdrolik sebagai Bahan Komponen Jendela Kapal Maftuh Murtiyoso; K Kiryanto; Sarjito Jokosisworo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 5, No 1 (2017): Januari
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (644.496 KB)

Abstract

Aluminium adalah unsur non ferrous yang merupakan logam ringan yang mempunyai sifat yang lebih ringan dari besi dan baja, memiliki ketahanan yang baik terhadap korosi,  dapat menghantarkan listrik dan panas dengan baik, dan merupakan bahan paling berlimpah nomer 3 di dunia. Daur ulang (recycle) adalah proses untuk menjadikan bahan bekas menjadi bahan baru yang bertujuan untuk menghemat energi produksi. Perkembangan otomotif yang semakin meningkat menimbulkan peningkatan limbah dari kendaraan bermotor, salah satunya dryer AC. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat mekanis dan komposisi aluminium paduan limbah dryer AC. Pembuatan spesimen paduan aluminium flat bar dan limbar dryer AC dengan komposisi 50:50 menggunakan cetakan pasir dan cetakan sistem hidrolik. Dari percobaan yang dilakukan spesimen paduan alumiium flat bar dan limbah dryer AC memiliki kadar Al sebesar 81,27%. Untuk hasil kekuatan tarik yang lebih baik berasal dari spesimen dengan cetakan hidrolik dengan nilai rata-rata kekuatan tarik sebesar 16,13 kg/mm2. Untuk kekuatan impact yang lebih baik juga berasal dari cetakan hidrolik dengan nilai rata-rata sebesar 0,58 J/mm2. Dan untuk cacat pengecoran terdapat pada cetakan pasir.
Analisis Teknis Komposit Serat Daun Gebang (Corypha Utan L.) Sebagai Alternatif Bahan Komponen Kapal Ditinjau Dari Kekuatan Tekuk Dan Impak Hanung Bayu Setiawan; Hartono Yudo; Sarjito Jokosisworo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 5, No 2 (2017): APRIL
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1197.078 KB)

Abstract

Serat daun gebang merupakan penguat komposit alami yang memiliki struktur serat yang kontinyu kuat, tidak membahayakan kesehatan, murah, tersedia melimpah karena belum temanfaatkan dengan baik serta dapat mengurangi polusi lingkungan. Pembuatan komposit serat daun gebang pada penelitian ini menggunakan metode hand layup dengan arah orientasi serat lurus, fraksi volume 70% matriks polyester dan 30% serat daun gebang dengan perlakuan alkali (NaOH) selama 4 jam. Hasil pengujian komposit berpenguat serat daun gebang didapatkan nilai uji bending tertinggi dimiliki oleh komposit dengan arah sudut 22,5° dengan nilai rata – rata 1048 Newton,  rata-rata kekuatan tekuk sebesar 27,905 N/mm² dan rata-rata nilai modulus elastisitas sebesar 27,905 Kg/mm2, nilai uji impact tertinggi pada sudut 22,5°  mempunyai  energi impak rata-rata sebesar 1,36 joule dengan nilai keuletan rata-rata  0,0078 joule/mm2 dan berdasarkan hasil pengujian bending dan impak yang didapat, semakin kecil sudut arah serat maka semakin besar kekuatan yang mempengaruhi hasil pengujian. Hasil pengujian menunjukan bahwa kekuatan tarik,  modulus elastisitas dan kekuatan uji bending tertinggi dari komposit berpenguat serat daun gebang belum dapat memenuhi ketentuan peraturan kekuatan tarik dan modulus elastisitas dari BKI yang mempunyai nilai modulus elastisitas 6860 N/mm²  dan kekuatan bending 150 N/mm².
ANALISA KEKUATAN TARIK DAN KOMPOSISI BAHAN PADUAN ALUMINIUM LIMBAH PISTON DENGAN METODE METAL CASTING UNTUK BAHAN JENDELA KAPAL Ade Purnawan; Sarjito Jokosisworo; Hartono Yudo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 4, No 4 (2016): OKTOBER
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.292 KB)

Abstract

Metal Casting adalah metode Pengecoran (membuat komponen dengan cara menuangkan bahan yang dicairkan ke dalam cetakan ) menggunakan Cetakan jenis logam biasanya dipakai untuk industri-industri besar yang jumlah produksinya sangat banyak, sehingga sekali membuat cetakan dapat dipakai untuk selamanya. Cetakan logam harus terbuat dari bahan yang lebih baik dan lebih kuat dari logam coran, karena dengan adanya bahan yang lebih kuat maka cetakan tidak akan terkikis oleh logam coran yang akan di tuang.             Bahan yang digunakan adalah Siku Aluminium dan Aluminium Limbah Piston. Bahan-bahan harus melewati beberapa proses sebelum diuji, proses pencairan, proses pengecoran dari penggalian dari cetakan dengan pengecoran penggunaan logam. Setelah itu proses selanjutnya yang dilakukan adalah uji tensil. Disamping tensil materi tes juga lulus tes komposisi bahan.kekuatan tarik dari empat spesimen paduan  AluminiumSiku  dan Aluminium Limbah Piston dengan empat variasi paduan memiliki hasil tes kekuatan tarik sama-sama baik dan sesuai JIS dan standar SNI. Pada  paduan 40: 60 memiliki kakuatan tarik 11,232 kg/mm²  perpanjangan 1%, 30 : 70 sebesar 10,873 kg/mm² perpanjangan 0,75 %, 20: 80 sebesar 10,006 kg/mm² perpanjangan 0,71% dan 100 prosen Limbah Piston sebesar 9,401 kg/mm²  perpanjangan 0,558%. Hasil uji komposisi bahan setelah bergabung dengan empat variasi proporsi yang dilakukan menunjukkan hasil yang sama baik dan memenuhi JIS dan SNI standar. Paduan 40: 60 Al dari 88,79%, 30: 70 Al 88,58%, 20: 80 Al 86,92% dan paduan 100 prosen Piston  Al 86,73%. komposisi bahan tanpa peleburan dan paduan memiliki hasil komposisi yang baik. Aluminium Siku Al 98,51% dan limbah aluminium Piston 84,65%.
PENGARUH ARUS LISTRIK DAN TEMPERATUR TERHADAP KEKUATAN TARIK DAN IMPACT ALUMUNIUM 5083 PENGELASAN GMAW (GAS METAL ARC WELDING) Rizky Perdana Putra; Sarjito Jokosisworo; Kiryanto Kiryanto
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 4, No 1 (2016): JANUARI
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.42 KB)

Abstract

Besar arus listrik dalam proses pengelasan sangat berpengaruh dalam menentukan kualitas hasil pengelasan ditinjau dari kekuatannya dan temperatur/suhu merupakan faktor yang sangat berpengaruh pada ketangguhan suatu material dimana semakin rendah temperatur material maka semakin rendah pula ketangguhannya mulai dari rapuh yaitu suhu yang sangat rendah dimana butir-butir material akan sangat rapat. Proses pengelasan dilakukan pada material aluminium 5083 yang banyak digunakan dalam industri perkapalan khususnya sebagai material konstruksi kapal aluminium. Penelitian ini bertujuan membandingkan hasil kekuatan tarik dan impact dari variasi pengelasan yaitu besaran arus listrik dan temperatur, sehingga dapat diketahui besar arus dan temperatur yang optimal. Pengelasan aluminium 5083 dilakukan dengan proses pengelasan GMAW (gas metal arc welding) dan jenis sambungan pengelasan double v-butt joint dengan sudut 60°. Variable arus  pada pengujian tarik dan impact menggunakan arus 130 Amp, 150 Amp, 170 Amp, dan 200 Amp, sedangkan pada pengujian impact di tambahkan variasi temperatur 20ºC, 0ºC, - 20ºC.Dari hasil pengujian tarik didapatkan kekuatan tarik tertinggi sebesar 193,28N/mm2dan regangan tertinggi sebesar 0,86%, yaitu pada arus 130 Amp dan hasil pengujian impact di dapatkan kekuatan tertingi sebesar 0,17 J/mm2pada arus 130 amp dengan suhu 20oC amp. Maka, pengelasan GMAW pada bahan aluminium 5083 keadaan yang optimal atau paling baik memberikan kekuatan tarik yang besar yaitu pada arus 130 Amp. Sedangkan untuk pengujian impact diambil keadaan yang optimal dan paling baik memberikan kekuatan impact tertinggi yang dihasilkan pada suhu 20oC dengan kuat arus 130 amp sebesar 0,17J/mm2.Selain pengujian lapangan, juga dilakukan analisa menggunakan solver metode elemen hingga, untuk pengujian tarik dengan hasil tegangan spesimen 1960000000 pa atau 196N/mm2untuk beban tarik maksimum 24160 N yang terjadi pada sambungan las dan untuk pengujian impact dengan hasil kuat impact 0,178 J/mm2 pada suhu 20oC yang patah pada sambungan las.
Analisa Perbandingan Kekuatan Tarik, Impak, dan Mikrografi Pada Sambungan Las Baja SS 400 Pengelasan SMAW (Shielded Metal Arc Welding) Akibat dengan Variasi Jenis Kampuh dan Posisi Pengelasan Luthfi Isna Saputra; Untung Budiarto; Sarjito Jokosisworo
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 7, No 4 (2019): Oktober
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1354.066 KB)

Abstract

Baja SS 400 tergolong baja karbon rendah, dimana baja karbon rendah merupakan jenis baja yang banyak digunakan sebagai bahan konstruksi dalam berbagai bidang industri. Jenis pengelasan yang tepat sangat dibutuhkan agar sambungan las yang dihasilkan dapat maksimal. Pengelasan SMAW (Shielded Metal Arc Welding) adalah salah satu teknik pengelasan yang banyak digunakan dalam perindustrian dan rangka konstruksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan hasil kekuatan tarik, impak, dan struktur mikrografi dari sambungan las jenis double V-butt joint 60° dan single U –butt joint serta perbedaan posisi pengelasan pada baja SS 400 yaitu posisi 1G (Down Hand) dan posisi 2G (Horizontal). Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor sambungan las dan posisi pengelasan mempengaruhi kualitas sambungan ditinjau dari kekuatannya. Hasil penelitian menunjukkan RAW material baja SS 400 memiliki rata-rata kekuatan tarik sebesar 391,02 MPa, rata-rata regangan sebesar 47,71%, rata-rata modulus elastisitas sebesar 6,16 GPa dan harga impak sebesar 2,75 J/mm2. Pengelasan dengan kampuh double V-butt joint dan posisi pengelasan 1G memiliki rata-rata kekuatan tarik sebesar 403,26 MPa, rata-rata regangan sebesar 44,93%, rata-rata modulus elastisitas sebesar 6,71 GPa dan memiliki harga impak sebesar 2,39 J/mm2. Pengelasan dengan kampuh single U-butt joint dan posisi pengelasan 1G memiliki rata-rata kekuatan tarik sebesar 402,19 MPa, rata-rata regangan sebesar 45,29%, rata-rata modulus elastisitas sebesar 6,42 GPa dan memiliki harga impak sebesar 1,38 J/mm2. Pengelasan dengan kampuh double V-butt joint dan posisi pengelasan 2G memiliki rata-rata kekuatan tarik sebesar 403,75 MPa, rata-rata regangan sebesar 42,71%, rata-rata modulus elastisitas sebesar 7,23 GPa dan memiliki harga impak sebesar 2,27 J/mm2. Sedangkan pengelasan dengan kampuh single U-butt joint dan posisi pengelasan 2G memiliki rata-rata kekuatan tarik sebesar 401,55 MPa, rata-rata regangan sebesar 45,15%, rata-rata modulus elastisitas sebesar 6,68 GPa dan memiliki harga impak sebesar 1,30 J/mm2. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa baja SS 400 dengan kampuh double V-butt joint posisi pengelasan 2G memiliki kekuatan tarik terbesar dari jenis variasi lainnya. Sedangkan kampuh double V-butt joint posisi pengelasan 1G memiliki harga impak terbesar dari jenis variasi lainnya.
PENGARUH KUAT ARUS LISTRIK DAN SUDUT KAMPUH V TERHADAP KEKUATAN TARIK DAN TEKUK ALUMINIUM 5083 PENGELASAN GTAW Ahmad Naufal; Sarjito Jokosisworo; Samuel Samuel
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 4, No 1 (2016): JANUARI
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (869.55 KB)

Abstract

Teknologi pengelasan merupakan salah satu bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam teknologi manufaktur. Pada proses penyambungan dengan menggunakan pengelasan banyak tahapan yang harus diperhatikan untuk mendapatkan hasil yang optimal, mulai dari tahapan desain sampai tahapan pengerjaan. Tahapan desain yang dimulai dari pemilihan jenis pengelasan, sampai pada pemilihan sudut kampuh yang digunakan. Sedangkan pada tahapan pengerjaan akan dipilih kuat arus yang sesuai sampai pada posisi pengerjaan. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa faktor arus listrik dan sudut kampuh las dalam proses pengelasan sangat berpengaruh dalam menentukan kualitas hasil pengelasan ditinjau dari kekuatannya. Pada arus 130 Amp dengan sudut kampuh 80º didapatkan keadaan yang optimal atau paling baik memberikan kekuatan tarik dan nilai regangan tertinggi diantara arus dan sudut kampuh lainnya, yaitu sebesar 150,4 N/mm2 dan regangan sebesar 0,70% begitu pula dengan kekuatan tekuk sebesar 591,38 N/mm². Selain pengujian, juga dilakukan analisa menggunakan software Ansys LS-Dyna dengan hasil kekuatan tarik spesimen 139000000 pa atau 139 N/mm2 untuk beban tarik maksimum 17893,33 N yang terjadi pada sambungan las. Pada beban tarik maksimum 18800 N hasil kekuatan tarik spesimen 153000000 pa atau 153 N/mm2. Untuk pengujian tekuk didapatkan hasil kekuatan tekuk spesimen 528000000 pa atau 528 N/mm2 untuk beban tekuk maksimum 3619 N yang terjadi pada sambungan las. Pada beban tekuk maksimum 4435,33 N hasil kekuatan tekuk spesimen 595000000 pa atau 595 N/mm2
Analisa Perbandingan Kekuatan Tarik, Impak, dan Mikrografi Pada Sambungan Las Aluminium 6061 Terhadap Pengelasan TIG (Tungsten Inert Gas) dan MIG (Metal Inert Gas) M. Idam Titahgusti; Sarjito Jokosisworo; Untung Budiarto
Jurnal Teknik Perkapalan Vol 6, No 3 (2018): Juli
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aluminium 6061 merupakan jenis logam paduan yang banyak digunakan sebagai bahan konstruksi dalam berbagai bidang industri, termasuk dalam industri perkapalan sebagai rangka konstruksi. Jenis pengelasan yang tepat sangat dibutuhkan agar hasil sambungan las yang dihasilkan dapat maksimal. Pengelasan TIG (Tungsten Inert Gas) dan MIG (Metal Inert Gas) adalah jenis pengelasan yang sering digunakan dalam penyambungan aluminium karena memiliki berbagai kelebihan dibandingkan jenis pengelasan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan hasil kekuatan tarik, impak, dan mikrografi pada aluminium 6061 setelah pengelasan menggunakan las TIG dan MIG dengan jenis sambungan double v-butt joint 60°. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sambungan las dari pengelasan MIG memiliki kekuatan tarik serta regangan rata-rata sebesar 109.16 MPa dan 8.27%, yang lebih baik daripada sambungan las pengelasan TIG, yaitu sebesar 73.61 MPa dan 7.93%. Sedangkan kekuatan impak rata-rata yang dihasilkan dari sambungan las menggunakan pengelasan TIG memiliki kekuatan impak sebesar 0.063 J/mm2 yang lebih baik daripada sambungan las menggunakan pengelasan MIG yaitu sebesar 0.056 J/mm2. Perubahan struktur mikro dari sambungan las menggunakan pengelasan MIG memiliki tingkat kerapatan yang lebih baik dibandingkan pengelasan TIG, karena struktur mikro yang dihasilkan pada las MIG terlihat lebih menyatu dan dapat bersubtitusi yang terlihat pada daerah HAZ (Heat Afected Zone).
Co-Authors A.F. Zakki Abizar, Muhammad Affan Ade Purnawan Aditya Rio Prabowo Adnan Septi Hadi Romadlon Ahmad Fauzan Zakki Ahmad Naufal Akbar Triansyah Akhmad Rosihan Adam Ali Mustofa Aminuyati Amru, Syafiq Nada Anas Sebtu Prawira Andhyka Cakrabuana Adhitama Ari Wibawa Budi Santosa Arif Putra Rizky Arif Rahman Aziz Mukhsin Berlian Arswendo Adietya Bernadi Ramazini Bismika Burhan Biwa Abi Laksana Brata Wahyu Setya Budi Deddy Chrismianto Dennis Oscha Cholik Dhony Catur Pamungkas Dwi Joko Purnomo Edwin Wijaya Egi Juniawan Eko Sasmito Hadi Eli Akim Sipayung Enggal Noor Laksono Fachrurrozi Setiawan Farel Mauluvi Akmal Antaqiya Gema Mar'ie Habibie Good Rindo Gusti Mirza Hafizh Bahtiar Hanung Bayu Setiawan Hartono Yudo Hartono Yudo Huda, Muhammad Hafid Imam Pujo Mulyatno Imam Pujo Mulyatno Indra Artanto Jajang Sebastian Jonathan, Mario K Kiryanto K. Kiryanto Khusnul Khotimah Kiryanto Kiryanto Kiryanto Kiryanto Kiryanto Kiryanto Lukman Gewa Nurhakim Luthfi Isna Saputra M. Idam Titahgusti Maftuh Murtiyoso Mathews Yose Pratama Mawahib, M Zaenal Maxwell Pradolin Muchammad, Rizky Muhammad Dikwan Muhammad Jordi Noormansyah, Faridz Aditya Nurhafid, Aji Parlindungan Manik Parlindungan Manik Pratiwi, Ovin Ranica Putra, Ridwan Redi Reka Purnawati Rendy Kastanto Ridwan Redi Putra Rio Leksa Muchtiwibowo Rismawan Rismawan Rizka Azhari Yulistiawan Faruq Rizka Cholif Arrahman Rizky Cahya Kusuma Rizky Perdana Putra Sadewo, Guntur Samuel Samuel Sukanto Jatmiko Syahrul Mubarak Tambunan, Govinda Daniel Parasian Teguh Sulistyo Hadi, Teguh Sulistyo Untung Budiarto Valentino Pasalbessy Vicky Bhaskara Sardi Wendi Riyandi Widyanto Widyanto Wilma Amiruddin