Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM UPAYA PENCEGAHAN PENYEBARAN COVID-19 DENGAN PENERAPAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA DI AREA BERMAIN BALITA LINGKUNGAN RW 014 KELURAHAN SERUA, CIPUTAT Heriani Heriani; Trini Prastati; Rahmad Purnama; Tutisiana Silawati; Faizal Madya; Alfiatun Ni mah
Diseminasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 4 No. 1A (2022)
Publisher : Pusat Pengabdian kepada Masyarakat- LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33830/diseminasiabdimas.v4i1A.2968

Abstract

Memasuki era Kebiasaan Baru (New normal) ini, aktivitas masyarakat perlahan kembali seperti sebelum pandemi dengan syarat protokol kesehatan harus selalu diperhatikan, dijalankan, dan ditaati. Para balita yang sudah mulai bosan bermain di dalam rumah, ingin bermain di luar rumah. Namun lingkungan pemukiman rumah belum mendukung dikarenaka tidak tersedia arena bermain yang dapat menjadi wahana bagi balita untuk bermain sambil belajar, belajar bergaul dengan kawan sebaya, belajar berinteraksi dengan kawan sebaya sambil menggunakan sarana/alat permainan, dan belajar mandiri dalam bermain sambil diawasi Ayah, Bunda, atau Pengasuh. Melalui Program Pengabdian Masyarakat ini, tim mencoba untuk membantu masyarakat mewujudkan kebutuhan akan ruang bermain anak yang dilengkapi dengan fasilitas penunjang protokol Kesehatan untuk mencegah Penyebaran Covid-19 yang ramah lingkungan dan ramah penyandang disabilitas berupa tempat cuci tangan otomatis (Touch less) bertenaga surya. Selain membantu dalam menyediakan alat teknologi tepat guna tersebut, Pengabdian kepada Masyarakat ini juga akan melakukan sosialisasi mengenai protokol kesehatan dan pentingnya waktu bermain kepada anak-anak dan orang tua di lingkungan RW 014 Bukit Nusa Indah, Kelurahan Serua, Ciputat, Kota Tangerang Selatan.
PEMETAAN POTENSI BENCANA PARTISIPATIF DAN PELATIHAN MITIGASI BENCANA BAGI POKDARWIS PAYO NATURE DI KELURAHAN TANAH GARAM, KECAMATAN LUBUK SIKARAH, KOTA SOLOK Retnaningtyas Susanti; Fitriana Syahar; Heriani Heriani; Dewi Ramadhan
Diseminasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 4 No. 1A (2022)
Publisher : Pusat Pengabdian kepada Masyarakat- LPPM Universitas Terbuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33830/diseminasiabdimas.v4i1A.2976

Abstract

Mapping of potential disasters in a participatory manner supported by disaster mitigation training is a service activity that is very useful for Pokdarwis Payo Nature. This service program can improve soft skills and Pokdarwis in mapping potential disasters, and improve hard skills in disaster mitigation. Increasing the skills of Pokdarwis members can help create peace and comfort for people's lives, as well as security for tourists who visit. The method used is participatory training, knowledge transfer from the companion team is carried out by direct practice with Pokdarwis and the community. The activity lasted for 5 months with the offline training method, the service team came directly to the Payo Area service object. Pemetaan potensi bencana secara partisipatif yang didukung dengan pelatihan mitigasi bencana merupakan kegiatan pengabdian yang sangat bermanfaat bagi Pokdarwis Payo Nature. Program pengabdian ini dilakukan untuk meningkatkan soft skill pokdarwis dalam memetakan potensi bencana, dan meningkatkan hard skill dalam melakukan mitigasi bencana. Peningkatan skill pada anggota Pokdarwis tersebut dapat membantu menciptakan ketentraman dan kenyamanan bagi kehidupan masyarakat, sekaligus keamanan bagi wisatawan yang melakukan kunjungan. Metode yang digunakan adalah pelatihan partisipatif, transfer ilmu dari tim pendamping yang dilaksanakan dengan praktek langsung bersama pokdarwis dan masyarakat. Kegiatan berlangsung selama 5 bulan dengan metode pelatihan luar jaringan (luring), tim pengabdi datang secara langsung di objek pengabdian Kawasan Payo. Hasil pengabdian berupa peningkatan kemampuan pokdarwis dalam melakukan mitigasi bencana dan memetakan potensi bencana di wilayahnya. Kemampuan ini tidak hanya dapat dimanfaatkan ketika terjadi bencana, tetapi sepanjang masa, bukan hanya untuk melindungi wisatawan, tetapi juga seluruh masyarakat di Kawasan Payo, Kelurahan Tanah Garam, Kecamatan Lubuk Sikarah, Kota Solok, Provinsi Sumatera Barat.
Pengaruh Penempatan, Kompetensi Pegawai, dan Disiplin Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Dinas Perhubungan Kota Tarakan Hariyanto Sudibyo; Conchita V. Latupapua; Heriani Heriani
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v7i10.13314

Abstract

Dalam penelitian ini penyelenggaran organisasi pemerintah khususnya kinerja organisasi pegawai Dinas Perhubungan Kota Tarakan, mengalami penurunan kinerja. Dari permasalahan ini maka penulis akan menguji dan mengumpulan data survei dengan pendekatan kuantitatif terhadap kinerja pegawai, Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui seberapa besar hubungan pengaruh penempatan, kompetensi pegawai dan disiplin kerja pegawai terhadap kinerja berdasarkan target kinerja yang tidak tercapainya pada Dinas Perhubungan Kota Tarakan pada Tahun 2022, Penelitian ini juga mengunakan eksplanatif penelitian yang dilakukan survey penyebaran kuesioner kemudian mengolah dan mengalisis data yang diproleh mengunakan metode statistik dalam rangka menunjang bahasan dalam penelitian, untuk menjawab dan memecahkan inti persoalan.Berdasarkan hasil penelitian observasi. pengumpulan data dilakukan dengan beberapa daftar pertanyaan (questionnaire) dan studi dokumentasi.Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan responden penelitian berjumlah 53 responden, Pengolahan data menggunakan perangkat lunak SPSS versi 23, Adapun teknik analisis data dengan menggunakan uji validitas, uji reabilitas, uji asumsi klasik, analisis regresi linier berganda, pengujian hipotesis, serta koefisien determinasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan penempatan, kompetensi pegawai, dan disiplin kerja berpengaruh terhadap kinerja pegawai, Secara parsial variabel penempatan, lebih dominan dari variable kompetensi pegawai,dan variabel disiplin kerja pegawai karena nilai koefisen regresi (0.421) lebih besar dari kompetensi pegawai (0.305) dan disiplin kerja pegawai (0.143).
MENAVIGASI KINERJA DALAM PELATIHAN PENERBANGAN: HUBUNGAN ANTARA KOMPETENSI, BUDAYA KERJA, DAN EFISIENSI ORGANISASI Aji Akhidah Dihargi; Isti Fadah; Heriani Heriani
Journal of Economic, Bussines and Accounting (COSTING) Vol. 7 No. 6 (2024): COSTING : Journal of Economic, Bussines and Accounting
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/costing.v7i6.14481

Abstract

Kinerja karyawan adalah penentu penting dari keberhasilan organisasi, terutama di bidang yang sangat teknis seperti pelatihan penerbangan. Penelitian ini menyelidiki dampak dari lingkungan kerja dan kompetensi terhadap kinerja karyawan, dengan budaya kerja sebagai variabel mediasi, pada divisi simulator di sebuah lembaga pelatihan penerbangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah budaya kerja memperkuat hubungan kompetensi-kinerja dan apakah lingkungan kerja secara signifikan mempengaruhi kinerja. Pendekatan penelitian kuantitatif digunakan, dengan menggunakan data survei dari 40 karyawan di divisi simulator. Analisis jalur dilakukan untuk menilai hubungan langsung dan hubungan mediasi antar variabel. Instrumen pengukuran divalidasi melalui uji reliabilitas Cronbach's alpha, dan analisis statistik dilakukan dengan menggunakan SPSS 25. Analisis regresi digunakan untuk menguji pengaruh langsung, sementara model mediasi Baron dan Kenny diterapkan untuk mengevaluasi peran budaya kerja sebagai variabel mediasi. Temuan menunjukkan bahwa kompetensi memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap kinerja karyawan, yang menegaskan bahwa karyawan yang terlatih dengan baik menunjukkan efisiensi dan akurasi operasional yang lebih tinggi. Namun, lingkungan kerja tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja karyawan, yang menunjukkan bahwa prosedur operasional yang terstruktur dan kompetensi memainkan peran yang lebih dominan. Selain itu, studi ini menemukan bahwa budaya kerja secara signifikan memediasi hubungan antara kompetensi dan kinerja, menyoroti pentingnya budaya kerja sebagai mekanisme penguat. Hasil ini sejalan dengan literatur HRM yang ada, yang menunjukkan bahwa budaya organisasi memperkuat manfaat kompetensi tenaga kerja. Temuan ini memiliki implikasi teoritis dan praktis. Secara teoritis, penelitian ini memperluas kerangka kerja manajemen sumber daya manusia dengan memberikan bukti empiris tentang peran mediasi budaya kerja dalam model kinerja berbasis kompetensi. Secara praktis, penelitian ini memberikan rekomendasi strategis bagi lembaga pelatihan penerbangan, dengan menekankan integrasi program pengembangan budaya kerja dengan pelatihan kompetensi untuk mengoptimalkan efisiensi tenaga kerja. Penelitian di masa depan harus mengeksplorasi faktor moderasi tambahan seperti gaya kepemimpinan dan kemajuan teknologi untuk lebih menyempurnakan strategi optimalisasi tenaga kerja di industri penerbangan dan industri terstruktur serupa.
The Effect of Work Environment and Competencies on Employee Performance at the Class III Port Administration Office in Barus, Central Tapanuli Chairul Chairul; Anita Maharani; Heriani Heriani
Journal of Social Research Vol. 5 No. 5 (2026): Journal of Social Research
Publisher : International Journal Labs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55324/josr.v5i5.3149

Abstract

This study examines the influence of work environment and employee competence on employee performance at the Class III Port Administration Office in Barus, Central Tapanuli. The research is motivated by the declining performance of employees, as indicated by low service satisfaction among port users, which highlights the importance of improving organizational factors that support employee productivity. The objective of this study is to analyze both the partial and simultaneous effects of work environment and competence on employee performance. A quantitative associative approach with an explanatory design was employed, involving 32 employees selected using total sampling. Data were collected through questionnaires and interviews and analyzed using multiple linear regression with SPSS. The results show that competence (? = 0.401; t = 5.405; p < 0.05) and work environment (? = 0.328; t = 4.220; p < 0.05) have a positive and significant effect on employee performance. Simultaneously, both variables significantly influence performance (F = 31.247; p < 0.05) with a coefficient of determination (R²) of 0.679, indicating that 67.9% of performance variation is explained by the model. The study concludes that improving employee competence and creating a conducive work environment are essential strategies to enhance employee performance and service quality
Economic Empowerment and Community Resilience through the Development of Lejja Tourism Villages: Impact Analysis, Participation, and Sustainability Heriani Heriani; Andy Mulyana; Retnaningtyas Susanti; Yusrafiddin Yusrafiddin; Rinda Novianti; Rahmad Purnama
Electronic Journal of Education, Social Economics and Technology Vol 7, No 1 (2026)
Publisher : SAINTIS Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33122/ejeset.v7i1.1147

Abstract

This study aims to analyze the economic impact, level of community participation, and sustainability challenges in the development of Lejja Tourism Village, Soppeng Regency, as a community-based tourism model. The approach used is qualitative with data collection techniques through in-depth interviews, participatory observations, and documentation studies. Data were analyzed using open coding methods to identify key themes emerging from the experiences of communities and local stakeholders. The results of the study show that tourism development in Lejja has a positive economic impact in the form of income diversification, the growth of local culinary and handicraft businesses, and the increasing role of village institutions such as BUMDes. However, these economic benefits have not been evenly distributed due to limited access to capital and differences in geographical positions between village areas. The level of community participation is still dominant at the implementation stage, while involvement in strategic decision-making is still low due to the top-down governance model. In addition, sustainability challenges arise such as increasing waste volume and decreasing hot water discharge that demand the application of the triple bottom line principle in environmental governance. On the other hand, communities show high adaptive capacity through social solidarity and local business innovation that can maintain economic resilience during times of crisis. This study concludes that the development of Lejja Tourism Village can be an instrument for economic empowerment and community resilience if managed through collaborative governance, strengthening human resource capacity, and inclusive and sustainable tourism policies. These findings enrich the literature on community-based tourism in rural Indonesia’s context and provide practical recommendations for local governments and village institutions in strengthening local economies based on sustainable tourism.
Empowering Through Energy: A Renewable Energy-Based Model of Community Empowerment in Agrarian Villages of Aceh Tamiang Rahmad Purnama; Zulfahmi Zulfahmi; Firmansyah Firmansyah; Rini Febrianti; Maya Maria; Heriani Heriani
Electronic Journal of Education, Social Economics and Technology Vol 7, No 1 (2026)
Publisher : SAINTIS Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33122/ejeset.v7i1.1156

Abstract

Inequality in access to renewable energy presents a significant challenge to achieving sustainable development in agrarian villages throughout Indonesia. This research investigates the dynamics of community empowerment in the uptake of renewable energy within rural agricultural contexts, specifically focusing on Aceh Tamiang Regency. Utilizing a grounded theory methodology, the study operates within the framework of critical constructivism, positing that energy is not solely a technological instrument, but a socio-cultural construct influenced by local knowledge, governance, and collaborative institutional frameworks. The research methodology encompasses a range of qualitative approaches, including in-depth interviews, focus group discussions, participatory observations, and document analysis, engaging various stakeholders such as farmers, village officials, extension workers, and institutions. The analysis employed open coding, axial coding, and selective coding techniques, resulting in a conceptual model reflecting three interconnected pillars: (1) energy literacy and community empowerment, (2) adaptive village governance aligned with the Sustainable Development Goals (SDGs), and (3) multi-stakeholder institutional synergy. Key findings indicate that the effectiveness of renewable energy initiatives hinges not only on technological advancements and financial resources but also on essential collective values such as cooperation, social learning, and trust within the community. In extending Zimmerman’s empowerment framework, this study incorporates local cultural dimensions, enriching Geels’ socio-technical systems theory by emphasizing moral and spiritual influences and enhancing Rhodes' network governance theory through the integration of trust and social capital. This research contributes to the discourse on energy transition by offering a bottom-up, socially grounded theoretical model that reconceptualizes renewable energy as both a catalyst for rural empowerment and a mechanism for socio-institutional transformation. It highlights that the path towards sustainable energy development in rural areas necessitates a harmonious interplay of community engagement, inclusive governance, and cooperative institutions. Consequently, energy emerges not merely as an economic asset but as a vital social force promoting justice, dignity, and resilience in agrarian lifestyles.