Taufik Eko Nugroho
Department Of Anesthesiology And Intensive Therapy, Faculty Of Medicine, Diponegoro University, Semarang

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

The Effect of Paracetamol and Codeine Analgesic Combination on Creatinine Levels in Male Wistar Rats Vianney Natasaputra; Taufik Eko Nugroho
Diponegoro International Medical Journal Vol 1, No 1 (2020): July
Publisher : Faculty of Medicine, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/dimj.v1i1.7833

Abstract

Background :  Pain is one of the most common complaint in patients. Combination of paracetamol and codeine is an alternative analgesic combination in chronic pain management. They belong to different group of analgesic and have different mechanism of action. Combination of these drugs give a better potential in pain management.  However, these drugs also have potential side effect on the kidney.Methods : An experimental study of post-test only control group design. The sample were 20 Wistar rats, randomized into 4 groups: control group, a group receiving paracetamol 32 mg/kg body weight, a group receiving codeine 1,9 mg/kg body weight, and a group receiving paracetamol 32 mg/kg body weight and codeine 1,9 mg combination, administered 4 times a day orally using gastric instillation for 28 days. At the 29th day, blood is collected from retro orbital vessel to measure the serum creatinine levels. Statistical analysis was conducted using ANOVA TestResult : Obtained from statistical analysis there is no significant difference in serum creatinine levels in Wistar rats given all treatment group (p > 0,05).Conclusion : There is no significant difference in serum creatinine levels between administration of paracetamol and codeine combination compared to the control group.  
Seksio Sesarea pada Wanita G2P1A0 Hamil Aterm dengan Confirmed COVID-19 Disertai Diabetes Mellitus Dalam Terapi Insulin dan HIV Positif Satrio Adi Wicaksono; Taufik Eko Nugroho
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 14, No 3 (2022): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jai.v0i0.48608

Abstract

Latar Belakang: Coronavirus disease 2019 (COVID-19) adalah penyakit sistem pernapasan akut yang disebabkan oleh virus corona jenis baru (SARS-CoV-2) yang pertama kali ditemukan pada bulan Desember 2019 di Wuhan, Provinsi Hubei, China. Beberapa penyakit salah satunya diabetes mellitus, menjadi penyakit predisposisi perjalanan penyakit yang berat dan meningkatkan risiko kematian akibat COVID-19.  Penderita COVID-19, terlebih yang memiliki predisposisi penyakit lain seperti diabetes mellitus dan HIV, menjadi hal yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan perioperatif. Laporan kasus ini akan membahas teknik anestesi yang dipilih pada pasien ini, yang mana pasien dalam kondisi hamil, dengan COVID-19, diabetes mellitus, dan HIV positif.Kasus: Kami melaporkan sebuah kasus, seorang wanita 31 tahun dengan diagnosis G2P1A0 hamil aterm dirujuk ke RSUP Dr. Kariadi dengan HIV positif diabetes mellitus on insulin, bekas seksio sesarea, penderita dalam pengawasan (PDP) COVID-19. Penderita memiliki riwayat diabetes mellitus dengan insulin sejak 6 tahun lalu dan dinyatakan positif HIV sejak tahun 2019. Penderita memiliki keluhan batuk kering sejak 1 bulan yang lalu. Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum penderita tampak baik dengan kesadaran composmentis, tanda vital dalam batas normal. Swab antigen COVID-19 dinyatakan positif. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan keadaan anemia ringan dan hiponatremia. Penderita menjalani operasi seksio sesarea dengan anestesi spinal.Pembahasan: Sebelum operasi, selama operasi dan pascaoperasi seksio sesarea, hemodinamik penderita dalam keadaan stabil, hasil lab gula darah didapatkan hasil normal.  Penderita kemudian dirawat di ruangan dengan perawatan isolasi COVID-19.Kesimpulan: Anestesi regional merupakan pilihan untuk penderita dengan COVID-19 bila memungkinkan. Teknik anestesi regional yang tepat dapat menjaga fungsi pernapasan dan menghindari aerosolisasi untuk mencegah penularan virus COVID-19 dengan tetap memperhatikan level Alat Pelindung Diri dan penggunaan ruangan bertekanan negatif. Obat-obat anestesi umum dapat berbahaya bila berinteraksi dengan obat HIV, maka dari itu, anestesi regional lebih dipilih.