Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : JURNAL BIOMEDIK

GAMBARAN GANGGUAN KADAR NATRIUM SERUM PADA PASIEN STROKE DI RSUP PROF. DR. R.D. KANDOU MANADO Kembuan, Mieke A. H. N.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 5, No 2 (2013): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.5.2.2013.2589

Abstract

Abstract: World-wide, stroke is a main public health problem. It is one of the leading causes of chronic disability and death. Both hyponatremia and hypernatremia have a negative influence on the outcome of strokes. Hyponatremia is associated with increased mortality and complication rate, meanwhile hypernatremia is often found in the treatment of cerebral oedema in strokes. There are scarce data about natrium level disorders in acute strokes, especially from developing countries. This study aimed to describe the incidence of natrium disorders among acute stroke patients, and the difference of means of natrium based on the severity of the stroke and on GCS at admission. This was a hospital-based cross-sectional study. Samples consisted of 82 patients that met the inclusion criteria. The data of natrium levels were obtained from the hospital medical records. The results showed that the incidence of natrium disorders among acute stroke victims was 30%. The mean natrium level was 138.01 Meq/L (95% CI, 135.83-140.20). The incidence of hyponatremia was 28% while hypernatremia was 2%. There was no difference of mean-natrium-levels based on the severity of strokes (P > 0.05) and of GCS (P > 0.05). Conclusion: The incidence of natrium disorders among acute stroke patients was high but there was no difference between mean natrium levels based on the severity of strokes and of GCS. Keywords: natrium, natrium level disorders, acute stroke.     Abstrak: Stroke termasuk dalam masalah kesehatan utama di masyarakat dan merupakan penyebab utama kecacatan kronik dengan angka mortalitas tertinggi ke-2 di seluruh dunia. Baik hiponatremia maupun hipernatremia memberikan pengaruh negatif terhadap keluaran stroke. Hiponatremia meningkatkan angka kematian dan komplikasi, sedangkan hipernatremia sering terdeteksi bersamaan dengan penanganan edema serebral pada stroke. Data mengenai insidens gangguan kadar natrium pada stroke akut masih sangat kurang, terutama dari negara-negara berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan insidens gangguan kadar natrium pada pasien stroke akut dan deskripsi perbedaan rerata kadar natrium pada berbagai derajat defisit neurologi dan GCS saat masuk rumah sakit. Penelitian ini bersifat potong lintang berbasis rumah sakit dengan jumlah sampel sebanyak 82 dan kriteri inklusi tertentu. Hasil penelitian memperlihatkan angka insidens gangguan kadar natrium pada stroke akut sebesar 30%. Rerata kadar natrium 138.01 Meq/L (95% CI, 135,83-140,20). Hiponatremia didapatkan pada 28% kasus sedangkan hipernatremia pada 2% kasus stroke akut. Tidak terdapat perbedaan bermakna antara rerata kadar natrium berdasarkan beratnya stroke dan GCS (P > 0,05). Simpulan: Insidens gangguan kadar natrium pada stroke akut tinggi. Tidak terdapat perbedaan bermakna antara rerata kadar natrium berdasarkan beratnya stroke dan GCS. Kata kunci: natrium, gangguan kadar natrium, stroke akut.
Sidroma neuroleptik maligna patofisiologi, diagnosis, dan terapi Kembuan, Mieke A. H. N.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 8, No 2 (2016): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.8.2.2016.12675

Abstract

Abstract: Neuroleptic malignant syndrome (NMS) is an uncommon, neurological emergency, with a high mortality rate. This syndrome is related with neuroleptic drug consumption. It is potential to bring about fatal complication with physical findings such as fever, movement disorder, rigidity, altered mental status, and autonomic dysfunction. A retrospective study in India showed an incidence rate of 0.14%, while in United States it reached 0.2-1.9%. NMS is related to the disturbance of dopamine receptor due to unknown mechanism. Most people with NMS died from heart, lung, or kidney complications. Early diagnosis, halting the usage of offending drugs, best supportive medical treatment, and specific pharmacotherapy for 14-21 days can give a good clinical outcomeKeywords: NMS, neuroleptic drugsAbstrak: Sindroma neuroleptik maligna (SNM) jarang terjadi namun merupakan suatu kegawatdaruratan neurologi yang berpotensi mengancam nyawa. Sindroma ini berkaitan dengan penggunaan obat-obatan neuroleptik. SNM berpotensi menyebabkan komplikasi fatal yang diakibatkan oleh penggunaan obat-obat antipsikotik dengan gejala klinis berupa demam, gangguan gerak, rigiditas, perubahan kesadaran, dan disfungsi otonom. Suatu penelitian retrospektif di India menunjukkan angka insidens SNM 0,14%, sedangkan di Amerika Serikat angka insidens tersebut mencapai 0,2-1,9%. Patofisiologi sindroma ini berhubungan dengan jalur reseptor dopamin di otak dengan mekanisme yang belum jelas. Morbiditas dan mortalitas pada SNM sering merupakan akibat sekunder dari komplikasi jantung, paru-paru, dan ginjal. Keberhasilan tatalaksana SNM dapat dicapai melalui diagnosis dini yang tepat, penghentian obat-obat neuroleptik, perawatan medis suportif, dan farmakoterapi spesifik selama 14 sampai dengan 21 hari diikuti dengan perbaikan klinis.Kata kunci: SNM, obat-obat neuroleptik