Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Nilai Nilai–nilai tradisi budaya Cap Go Meh pada masyarakat Cina Benteng di Tangerang sebagai sumber pembelajaran di sekolah Ivan Sanjaya; Suswandari Suswandari; Rudy Gunawan
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 6 No. 2 (2022): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v6i2.23163

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara multikultural terbesar di dunia yang memiliki struktur masyarakat yang beragam, mulai dari adat, tradisi, budaya, bahasa, agama, etnis dan sebagainya. Salah satu golongan etnis yang ada di Indonesia ialah etnis Tionghoa. Salah satu budaya Tionghoa yang masih dilestarikan sampai saat ini pada masyarakat Tangerang Cina Benteng adalah tradisi Cap Go Meh yang dirayakan lima belas hari setelah tahun baru Imlex atau yang disebut dengan penanggalan Cap Go – Jia Gwee. Masyarakat Cina Benteng di Tangerang setiap tahun merayakan tradisi Cap Go Meh di berbagai tempat salah satu nya di Klenteng Tjo Soe Kong yang terletak di Pesisir Utara Tangerang. Konsep multikuluralisme tradisi budaya dalam setiap Etnis mampu membentuk rasa kebersamaan pada suatu tatanan kehidupan bermasyarakat di tengah-tengah perbedaan yang ada. Tahapan yang dilakukan peneliti dalam melakukan penelitian dimulai dengan mencari teori-teori yang relevan sebagai dasar teori dan mengikuti rangkaian perayaan Cap Go Meh serta metode yang di gunakan ialah Metode Kualitatif Etnografi yang dikembangkan oleh James P. Spradley. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat nilai-nilai esensial yang  sejalan dengan konsep keilmuan multikultular di Indonesia yang terintegrasi ke dalam Ilmu Sosial sebagai salah satu ilmu yang meng interpratasikan nilai budaya. Nilai tradisi budaya Cap Go Meh mampu membentuk siswa menjadi manusia yang toleran dan berintegrasi tinggi dalam memamahi Kebhinnekaan di Indonesia.    Indonesia is one of the largest multicultural countries in the world that has a diverse community structure, ranging from customs, traditions, culture, language, religion, ethnicity and so on. One of the ethnic groups in Indonesia is the Chinese. One of the Chinese cultures that is still preserved today in the Tangerang Cina Benteng community is the Cap Go Meh tradition which is celebrated fifteen days after the Imlex New Year or what is known as the Cap Go – Jia Gwee calendar. The Chinese Benteng community in Tangerang annually celebrates the Cap Go Meh tradition in various places, one of which is the Tjo Soe Kong Temple located on the North Coast of Tangerang. The concept of multiculturalism of cultural traditions in each ethnic group is able to form a sense of togetherness in an order of social life in the midst of existing differences. The stages carried out by researchers in conducting research are starting by looking for relevant theories as a theoretical basis and following a series of Cap Go Meh celebrations and the method used is the Qualitative Ethnographic Method developed by James P. Spradley. The results of the study show that there are essential values ​​that are in line with the concept of multicultural science in Indonesia which is integrated into Social Sciences as one of the sciences that interprets cultural values. The values ​​of Cap Go Meh's cultural traditions are able to shape students into tolerant and highly integrated human beings in understanding Diversity in Indonesia.
Kegiatan Tumpek Wariga Dalam Tradisi Hindu Di Desa Penatih Bali Rifqi Setiyawan Pradnya; Suswandari Suswandari
Purwadita : Jurnal Agama dan Budaya Vol 6, No 2 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55115/purwadita.v6i2.1880

Abstract

Human civilization is formed in various ways, both from nature and from humans themselves. From these two elements a belief can be formed between human beings so that mass belief or religion is created. In Bali itself, the Tumpek Wariga activity is a form of community religious ritual with cultural and spiritual values as a religious person. Tumpek wariga itself is a tradition of Hindu religion offering to God Almighty for the natural wealth given. By expressing this gratitude, the Hindu community in Penatih Bali village conducts religious activities simultaneously by carrying out various kinds of activities with the same goal of increasing spiritual values as a religious community. By using ethnographic research methods as well as literature studies and interviews with the community in Penatih Bali village, where the results of this study aim to introduce one of the local wisdoms that exist in Indonesia, how this cultural activity is still preserved by the community
Pembelajaran Sejarah dalam Perspektif Generasi Z: Studi Kasus Pembelajaran Sejarah di SMA Negeri 42 Jakarta Humar Sidik; Suswandari Suswandari
Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 11 No 1 (2022): JPS - Jurnal Pendidikan Sejarah, Volume 11 Nomor 1 Tahun 2022
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Pascasarjana UNJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembelajaran sejarah sering dipandang sebelah mata dan menjadi sorotan tajam karena tidak memberikan manfaat secara langsung layaknya ilmu-ilmu pasti. Bahkan dalam beberapa literatur dipaparkan secara eksplisit bahwa sejarah itu membosankan, padahal di masa sekarang terjadi begitu banyak perubahan sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa sudut pandang seseorang terhadap ilmu sejarah juga dapat berubah. Generasi Z yang lahir pada kisaran waktu antara tahun 1995 sampai dengan 2010 dan memiliki kedekatan tinggi dengan teknologi, sehingga membuat mereka lebih mudah dalam mengakses berbagai macam informasi, tidak terkecuali dalam permasalahan ini yaitu sejarah. Mengacu pada problematika tersebut, maka penelitian ini lahir untuk mengkaji lebih mendalam terkait dengan pandangan generasi Z terhadap pembelajaran sejarah. Dalam peneltian ini sampel yang diambil berupa siswa di SMA Negeri 42 Jakarta, dikarenakan siswa di sekolah ini memenuhi berbagai macam kriteria yang dibutuhkan untuk melaksanakan penelitian. Dengan menggunakan metode kualitatif pendekatan studi kasus dan mengambil model milik Robert K. Yin, penelitian ini dilaksanakan. Proses pengumpulan data menggunakan studi pustaka, observasi dan wawancara. Penelitian ini menghasilkan beberapa temuan, yaitu: (1) Generasi Z di SMA Negeri 42 Jakarta; (2) Problematika Pembelajaran Sejarah di SMA Negeri 42 Jakarta; (3) Model dan Media Pembelajaran Sejarah yang diterapkan di SMA Negeri 42 Jakarta; (4) Pandangan Generasi Z terhadap Pembelajaran Sejarah di SMA Negeri 42 Jakarta. Kesimpulannya, pembelajaran sejarah di kalangan generasi Z, khususnya SMA Negeri 42 Jakarta mengalami perkembangan yang baik, terbukti dari pandangan generasi ini yang sadar akan pentingnya nilai sejarah.