Joevarian Joevarian
Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia Kampus Baru UI - Depok 16424, Indonesia

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Moral Values That Thwart Intergroup Interactions: An Investigation on the Interaction Between Indonesian Moslems and Chinese-Indonesian Christians Hudiyana, Joevarian; Muluk, Hamdi; Milla, Mirra Noor
Makara Human Behavior Studies in Asia Vol. 21, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

As one of the most established theories, the contact hypothesis has been well-researched throughout decades of investigations. However, there have been few attempts to investigate individual factors that may influence interaction processes that may lower prejudice. The present study attempts to find the individual factors that can moderate the contact – prejudice effect, that is, individual moral values. Previous researches have noted that individuals with high moral loyalty, authority, and sanctity may resist interacting with outgroups. Consequently, these individuals may possess higher prejudice. Thus, we hypothesize that individuals with higher levels of those three moral values may experience the contact effect more profoundly, in which there is stronger contact – prejudice effect. 594 Moslem participants participated in the online survey we administered. We found that moral authority and purity can moderate the contact – prejudice effect, consistent with our hypotheses. These patterns were found only for the contact – subtle prejudice effect. However, moral loyalty cannot moderate this effect. We discuss the implications by examining the Indonesian current sociopolitical conditions and how the three moral values influence the dynamics of intergroup contact.
Menjadi seorang berkeyakinan sekuler di Indonesia: Efek secular beliefs terhadap significance loss yang dimediasi oleh kesepian Norberta Fauko Firdiani; Joevarian Hudiyana
Jurnal Psikologi Sosial Vol 21 No 1 (2023): February
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Ikatan Psikologi Sosial-HIMPSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jps.2023.05

Abstract

Perkembangan pemikiran dan ilmu pengetahuan manusia diyakini menyebabkan pudarnya peran agama di dunia. Meskipun begitu, pernyataan ini menuai berbagai perdebatan. Berbagai temuan menunjukkan bahwa penurunan peran agama tidak dapat digeneralisasikan pada semua konteks. Peran agama cenderung bertahan dan terus menguat pada negara yang rentan, meskipun terdapat pengecualian pada sebagian negara maju. Pada konteks Indonesia, agama berperan besar dan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, Indonesia sebagai negara religius menolak nilai-nilai sekularisme. Sebagian besar penelitian terdahulu berfokus membahas tentang tren perkembangan sekularisme di berbagai budaya. Penelitian ini berusaha untuk melampaui fokus penelitian terdahulu dengan mempertimbangkan konteks penelitian yaitu dampak menjadi seorang sekuler di negara religius. Lebih spesifiknya, peneliti akan menguji secular beliefs memprediksi significance loss yang dijelaskan oleh kesepian. Terdapat 554 partisipan (perempuan = 73,3%, laki-laki = 25,6%, dan lainnya = 1,1%) yang merupakan WNI berusia 18 tahun ke atas (M = 25,62 dan SD = 8,427). Hasil analisis mediasi menunjukkan hasil yang bervariasi pada tiga dimensi secular beliefs. Pada dimensi 1 (menolak penjelasan supernatural) dan dimensi 3 (dukungan terhadap rasionalisasi manusia) secara signifikan memprediksi significance loss yang dimediasi oleh kesepian. Artinya, semakin tinggi kecenderungan orang pada dua dimensi tersebut maka semakin merasa tidak berharga yang disebabkan oleh kesepian. Mengingat Indonesia merupakan negara yang mengutamakan agama dan mengakui adanya entitas transendental maka orang sekuler dianggap menyimpang dari norma umum masyarakat dan mengalami eksklusi sosial dan penilaian negatif – yang pada gilirannya menyebabkan significance loss. Sedangkan pada dimensi 2 yaitu pemisahan agama dan negara dinilai lazim karena Indonesia bukan negara teokrasi yang bersumber dari hukum agama.
Catatan dari Managing Editor: Persilangan psikologi sosial dengan bidang kesehatan mental Joevarian Hudiyana
Jurnal Psikologi Sosial Vol 21 No 1 (2023): February
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Ikatan Psikologi Sosial-HIMPSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jps.2023.01

Abstract

Dalam bukunya yang berjudul “The Social Cure: Identity, Health, and Well-Being”, Jetten dkk. (2012) menekankan pentingnya keterkaitan antara bidang kesehatan mental dan bidang psikologi sosial. Dalam permasalahan kesehatan baik itu kesehatan fisik maupun mental, faktor identitas sosial dan jejaring sosial penting untuk diperhatikan. Lebih dari sepuluh tahun sejak buku ini diterbitkan, berbagai riset telah memperkuat pandangan tersebut – terlebih di masa pandemi yang berlangsung dalam beberapa tahun terakhir.
Peran Mindfulness Dalam Menurunkan Kecemasan pada Mahasiswa Dimoderasi Oleh Gender Nabilla Nathania; Ratna Djuwita; Joevarian Hudiyana
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.065 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v7i12.11318

Abstract

Kecemasan adalah salah satu masalah kesehatan mental yang penting untuk diperhatikan pada mahasiswa. Dari studi kepustakaan diketahui bahwa salah satu cara yang dapat menurunkan tingkat kecemasan adalah mindfulness. Namun dari penelitian terdahulu ditemukan adanya ketidakkonsistenan hubungan antara mindfulness dengan gender. Oleh dari itu penulis ingin mengetahui apakah gender dapat memoderasi mindfulness dalam menurunkan tingkat kecemasan pada mahasiswa. Metode sampling yang digunakan adalah convenience sampling, dengan jumlah partisipan 272 mahasiswa. Uji analisis yang digunakan adalah uji regresi dengan hasil p value 0.179 (p>0.05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak adanya efek moderasi gender terhadap mindfulness dalam menurunkan tingkat kecemasan pada mahasiswa.
There’s no battle, coz we’ve already won! Peranan kebermaknaan aktivis pada aksi kolektif melalui identitas kelompok sebagai mediator dalam konteks aksi lingkungan Yuthika Jusfayana; Joevarian Hudiyana
Jurnal Psikologi Sosial Vol 21 No 2 (2023): August
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Ikatan Psikologi Sosial-HIMPSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jps.2023.14

Abstract

Aksi kolektif seperti demonstrasi dan protes adalah bagian dari proses demokrasi untuk menyampaikan aspirasi untuk mengubah keadaan yang lebih berkeadilan. Terdapat berbagai kerangka teoretis yang menjelaskan demonstrasi dan protes yang merupakan bagian dari aksi kolektif. Namun demikian, masih jarang yang membahas bagaimana aktivis yang terlibat dalam aksi tersebut memiliki motivasi berupa kebermaknaan dan keberhargaan. Teori quest for significance dapat menjelaskan proses kebermaknaan yang dialami aktivis melalui proses identifikasinya dengan kelompok. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan proses kebermaknaan membuat seseorang memiliki keinginan untuk melibatkan dirinya dalam suatu aksi kolektif peduli lingkungan (normatif maupun non normatif), via identifikasi kelompok. Penelitian dilakukan secara survey pada WNI berusia 18 tahun keatas, didapatkan sebanyak 308 partisipan, 71.75% perempuan dan 28.25% laki-lak). Peneliti melakukan analisis pengaruh kebermaknaan pada identifikasi kelompok menunjukkan hasil yang signifikan yaitu b= 0.278, p<0.05. Namun pengaruh langsung kebermaknaan pada aksi kolektif tidak signifikan (b= 0.074, p= 0.315; b2=0.093, p= 0.121.),. Lalu analisis mediasi membuktikan bahwa kebermaknaan via identifikasi kelompok pada aksi kolektif baik aksi damai maupun aksi radikal menunjukkan hasil yang signifikan (m1 = 0.112, p < 0,05 ; m2 = 0,073, p < 0,05) sehingga hasil analisis menunjukkan model full mediation. Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat proses kebermaknaan dalam identifikasi kelompok dan juga perluasan teori quest for significance yang bisa digunakan dalam konteks aksi damai.