Wahyu Widyaningsih
universitas ahmad dahlan yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Uji sifat fisik repelan minyak atsiri kombinasi rimpang temulawak dan rimpang jahe basis cold cream fatma fatima; Wahyu Widyaningsih; Azis Ikhsanudin
Pharmaciana Vol 7, No 1 (2017): Pharmaciana
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.757 KB) | DOI: 10.12928/pharmaciana.v7i1.6342

Abstract

Rimpang jahe (Zingiber officinale Roxb. Rhizome) dan rimpang temulawak (Curcuma xanthorrhiza roxb. Rhizome) memiliki kandungan minyak atsiri yang dapat berfungsi sebagai repelan. Guna mengatasi mahalnya rimpang jahe dan sifat iritatif minyak atsiri rimpang jahe, maka dikombinasikan dengan minyak atsiri rimpang temulawak. Basis cold cream memiliki fase minyak yang lebih banyak yang dapat meningkatkan kemampuan pengikatan minyak atsiri. Adanya basis tersebut diharapkan dapat meningkatkan efek repelan. Oleh karenanya, terkait efek repelan perlu dilakukan uji sifat fisik minyak atsiri untuk memastikan kemurnian dan mutunya, kemudian sebelum dilakukan uji efek repelan, perlu dilakukan uji sifat fisik sediaan repelan untuk memperoleh formula terbaik, yaitu formula yang dapat dioleskan dengan mudah dan nyaman jika digunakan.            Minyak atsiri rimpang temulawak dan rimpang jahe diisolasi dengan metode destilasi uap dan air dan diuji sifat fisiknya, yang terdiri dari uji organolepstis, indeks bias dan berat jenis. Repelan dibuat dalam berbagai konsentrasi 2% v/b, 5% v/b, 10% v/b, 15% v/b, 20% v/b, dan 25% v/b, kemudian dilakukan uji daya sebar, daya lekat, dan viskositas            Berdasar hasil uji sifat fisik, minyak atsiri rimpang temulawak dan minyak atisri rimpang jahe telah terbukti kemurniannya. Semakin besar konsentrasi miyak atsiri kombinasi rimpang temulawak dan rimpang jahe pada sediaan repelan dengan basis cold cream, semakin kecil viskositasnya, sehingga daya lekat semakin kecil namun daya sebar semakin besar. Berdasar hasil tersebut, konsentrasi 25%  b/v s(konsentrasi terbesar) adalah sediaan repelan yang paling baik karena paling lunak sehingga mudah diambil, dioleskan karena konsistensinya tidak keras dan paling mudah untuk dibersihkan dengan air
Sub-Chronic Toxicity Test of Solid Self Nanoemulsifying Drug Delivery System (S-Snedds) Hydrochlorothiazide in Male Rats Asep Nurrahman Yulianto; Wahyu Widyaningsih; Iis Wahyuningsih; Ilham Fadilah; Tatang Tajudin
Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product Vol. 8 No. 02 (2025): Indonesian Journal of Pharmacy and Natural Product
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35473/ijpnp.v8i02.4434

Abstract

Hydrochlorothiazide (HCT) is a diuretic thiazide that is commonly used in the treatment of hypertension, although it exhibits has low bioavailability. The development of the Solid Self-Nanoemulsifying Drug Delivery System (S-SNEDDS) is expected to be able to increase the solubility and bioavailability orally administered of HCT. This study aims to evaluate the sub-chronic toxicity of S-SNEDDS HCT formulations by examining biochemical parameters (SGOT, SGPT, BUN, and creatinine), and histopathological analysis of liver, kidney, and heart in male Wistar strain rats. An experimental design with five distinct treatment groups was utilized: negative control (CMC-Na 0,5%), S-SNEDDS base (aerosil), positive control (pure HCT 25 mg/kg BW), S-SNEDDS HCT (25 mg/kg BW), and satellite group (S-SNEDDS HCT 50 mg/kg BW). The treatment spanned for 28-days, followed by a 14-days observation period with no treatment for the satellite group.  The results showed that SGPT, BUN, and creatinine remained normal across all groups, suggesting the absence of liver or kidney damage. Histopathology analysis shows structural changes in the form of degeneration, necrosis, and infiltration of inflammatory cells mainly in the pure HCT and S-SNEDDS HCT groups, however in the satellite group the damage may return to normal when administration is stopped.