Marty Mawarpury
Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Stres akademik pembelajaran daring selama pandemi Covid-19 pada mahasiswa Luthfi Rahman; Asri Ananda Putri; Mhd. Fikri Ramadhan; Siti Muntiah; Marty Mawarpury
Jurnal Psikologi Terapan dan Pendidikan Vol 3, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26555/jptp.v3i2.22121

Abstract

Sektor pendidikan merupakan salah satu yang terdampak Pandemi Covid-19. Melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pemerintah menginstruksikan Perguruan Tinggi untuk menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh dalam skema dalam jaringan (online) yang dinilai menjadi solusi efektif untuk menunjang pembelajaran ditengah pandemi. Namun, sejumlah tantangan yang dihadapi mahasiswa selama pembelajaran daring menyebabkan tekanan psikologis, seperti stres akademik. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat stres mahasiswa selama pembelajaran daring. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif, menggunakan skala academic stress inventory dalam pengumpulan data terhadap 100 mahasiswa yang mengikuti pembelajaran daring melalui teknik accidental sampling. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebanyak 91% mahasiswa memiliki tingkat stres akademik dalam kategori sedang selama mengikuti pembelajaran daring di masa pandemi Covid-19, sedangkan sebanyak 8% dalam kategori tinggi dan hanya sebanyak 1% yang mengalami stres akademik dalam kategori rendah. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa secara dominan mahasiswa mengalami stres, namun pada tataran yang cukup ringan (sedang).
Menyoal Kaitan Impostor Phenomenon dan Resiliensi Pada Mahasiswa Zakiratul Ula; Marty Mawarpury; Kartika Sari; Maya Khairani
Seurune : Jurnal Psikologi Unsyiah Vol 6, No 2: Juli 2023
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/s-jpu.v6i2.33526

Abstract

Pencapaian prestasi dalam bidang akademik tidak hanya memberikan kepuasan dan meningkatnya rasa percaya diri bagi mahasiswa, namun pencapaian tersebut juga dapat memunculkan perasaan tidak layak akan keberhasilan, kondisi ini disebut dengan impostor phenomenon. Fenomena impostor dapat menimbulkan kecemasan, stress dan bahkan depresi jika terus menerus terjadi. Oleh karena itu, mahasiswa membutuhkan resiliensi agar mampu menyelesaikan masalah ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara resiliensi dengan impostor phenomenon pada mahasiswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 297 mahasiswa. Teknik pengumpulan data menggunakan convenience sampling, data penelitian dikumpulkan menggunakan Clance Impostor Phenomenon Scale dan Brief Resilience Scale. Analisis data menggunakan teknik korelasi Pearson menunjukkan nilai koefisien korelasi r=-0.249 dengan nilai signifikansi p=0.000 (p0.05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara resiliensi dengan impostor phenomenon pada mahasiswa, artinya semakin tinggi kemampuan resiliensi maka semakin rendah impostor phenomenon dan sebaliknya.
RESILIENSI DENGAN KOMPETENSI INTERKULTURAL PADA MAHASISWA MANCANEGARA (STUDI KASUS DI BANDA ACEH Lidra Pratiwi Tanjung; Marty Mawarpury; Intan Dewi Kumala
Seurune : Jurnal Psikologi Unsyiah Vol 5, No 1: Januari 2022
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/s-jpu.v5i1.25151

Abstract

Mahasiswa mancanegara yang memilih untuk melanjutkan studi di Indonesia akan menghadapi berbagai jenis perubahan dalam berbagai aspek kehidupan mereka. salah satunya karena adanya perbedaan budaya. Sebagai mahasiswa internasional, mahasiswa yang tinggal di luar negeri biasanya dituntut untuk memiliki resiliensi dan kompetensi interkultural karena mereka mengalami berbagai masalah dan tantangan di tahun pertama mereka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan resiliensi dengan kompetensi interkultural. Sebanyak 30 mahasiswa internasional yang belajar di Universitas di Banda Aceh berpasrtisipasi dalam penelitian ini dan dipilih dengan menggunakan brief resilience scale (α=0.141) untuk mengukur resiliensi dan wesleyan intercultural competence scale (α=0.819-0.978) untuk mengukur kompetensi interkultural. Analisis data dengan metode korelasi rank spearman memberikan nilai signifikansi p=0.325 (0.05), artinya tidak ada hubungan antara resiliensi dengan kompetensi interkultural pada mahasiswa mancanegara Banda Aceh.
Resiliensi Penyintas Bencana Gempa Bumi di Pidie Jaya Ditinjau dari Jenis Kelamin dan Usia Ferry Ramadhan; Marty Mawarpury
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 2, No 1 (2024)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v2i1.7612

Abstract

Resiliensi merupakan kualitas individu yang memungkinkannya untuk menyesuaikan diri dengan stres yang ekstrem dan traumatis, kemudian akan kembali ke kondisi sebelumnya dan tampak kebal dari peristiwa-peristiwa kehidupan yang negatif. Resiliensi dapat dikaji berdasarkan faktor yang memengaruhinya seperti jenis kelamin dan usia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan resiliensi pada penyintas bencana gempa bumi di Pidie Jaya ditinjau dari jenis kelamin dan usia. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel purposive. Subjek dalam penelitian ini terdiri dari 163 laki-laki dan 163 subjek perempuan dan kelompok usia terdiri dari 76 subjek remaja, dan 88 subjek dewasa madya. Pengumpulan data menggunakan Connor Davidson Resilience Scale. Hasil analisis menggunakan Mann Whitney U Test menunjukkan nilai signifikasi 0,002 (p0,05) untuk kelompok jenis kelamin dan nilai signifikansi 0,000 (p0,05) untuk kelompok usia, artinya terdapat perbedaan resiliensi ditinjau dari jenis kelamin dan usia. Hasil ini menunjukkan berdasarkan jenis kelamin laki-laki lebih resilien dari pada perempuan dan pada kelompok usia, remaja lebih resilien dari pada dewasa madya.Resilience is a quality of a person that allows him/her to adapt to extreme and traumatic stress, then return to his/her previous condition and appear immunity from negative life events. Resilience can be studied based on influencing factors such as gender and age. This study aims to determine differences in resilience in earthquake survivors in Pidie Jaya in terms of gender and age. This research uses quantitative methods with purposive sampling techniques. Tthe subjects in this study consisted of 163 male and 163 female subjects and the age group consisted of 76 adolescents, and 88 middle adults. Data collection using the Connor Davidson Resilience Scale. The results of the analysis using the Mann Whitney U Test showed a significance value of 0.002 (p0.05) for the gender group and 0.000 (p0.05) for the age group, this means that there are differences in resilience in terms of gender and age.The results indicate that based on gender, men are more resilient than women and in the age group, adolescents are more resilient than middle adults.
Karakteristik Kepribadian Ditinjau Dari Preferensi Musik Pada Mahasiswa Di Banda Aceh Sarbulis Sarbulis; Afriani Afriani; Marty Mawarpury; Syarifah Faradina
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 1, No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v1i2.28435

Abstract

Musik adalah salah satu bentuk seni yang sangat dekat dengan keseharian manusia. Preferensi musik yang dimiliki seseorang dapat digunakan untuk mengungkapkan karakteristik-karakteristik dari kepribadiannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana hubungan antara preferensi musik dengan kepribadian pada mahasiswa di kota Banda Aceh. Sampel penelitian ini adalah 352 mahasiswa (18-25 tahun) di kota Banda Aceh yang dipilih menggunakan teknik cluster dan proportionate stratified random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan skala Short Test of Music Preference (STOMP) untuk mengukur preferensi musik dan skala Ten Item Personality Inventory (TIPI) untuk mengukur kepribadian. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan antara preferensi musik upbeat and conventional (r=0,10, p0,05), energetic and rhythmic (r=0,11, p0,05), intense and rebellious (r=0,16, p0,01) dengan trait kepribadian extraversion; preferensi musik upbeat and conventional dengan trait kepribadian agreeableness (r=0,14, p0,01); preferensi musik upbeat and conventional (r=0,15, p0,01) dengan trait kepribadian conscientiousness; preferensi musik reflective and complex (r=0,12, p0,05), upbeat and conventional (r=0,14, p0,01), intense and rebellious (r=0,11, p0,05) dengan trait kepribadian emotional stability; preferensi musik reflective and complex (r=0,11, p0,05), upbeat and conventional (r=0,11, p0,05), intense and rebellious (r=0,12, p0,05) dengan trait kepribadian openess to experience. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa preferensi musik berkaitan dengan karakteristik kepribadian seseorang.Music is one of art that very near to everyday human life. A person's music preference can be used to reveal the characteristics of his personality. The aimed of this study was to determine the relationship between music preferences with personality among students in Banda Aceh. The sample were 352 students (18-25 years old) in Banda Aceh that selected using cluster technique and proportionate stratified random sampling. The data were measured using Short Test of Music Preference (STOMP) to measure the music preferences and Ten Item Personality Inventory (TIPI) to measure the personality. The results of analysis found that there were significant relationships between upbeat and conventional (r=0,10, p0,05), energetic and rhythmic (r=0,11, p0,05) intense and rebellious (r=0,16, p0,05) music preferences with extraversion personality trait; upbeat and conventional music preference (r=0,14, p0,05) with agreeableness personality trait; upbeat and conventional music preference (r=0,15, p0,05) with conscientiousness personality trait; reflective and complex (r=0,12, p0,05), upbeat and conventional (r=0,14, p0,05), intense and rebellious (r=0,11, p0,05) music preferences with emotional stability personality trait; reflective and complex (r=0,11, p0,05), upbeat and conventional (r=0,11, p0,05), intense and rebellious (r=0,12, p0,05) music preferences with openess to experience personality trait. In conclusion, the study showed that music preferences are related to ones personality.
Grit dan Work Life Balance Pada Mahasiswa Berstatus Menikah Nida Afifah; Eka Dian Aprilia; Lely Safrina; Marty Mawarpury
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 1, No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v1i2.28434

Abstract

Mahasiswa berstatus menikah memiliki peran sebagai mahasiswa, pendamping dan orangtua, oleh karena adanya peran dan tanggung jawab yang harus dijalani dalam satu waktu mahasiswa harus memiliki semangat dan konsistensi tinggi sehingga mampu menyeimbangkan waktu dan tanggung jawab di kedua peran tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan grit dengan work life balance pada mahasiswa yang berstatus menikah di Banda Aceh. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode non probability sampling dan teknik purposive sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah 60 mahasiswa yang berstatus menikah di Banda Aceh. Pengambilan data menggunakan alat ukur grit-s (=0.782) dan work life balance scale (=0.880) menggunakan analisis korelasi Spearman-Brown Formula. Hasil menunjukkan koefisien r=0,040 (p=0,759, p0,05) yang berarti tidak terdapat hubungan antara grit dan work life balance pada mahasiswa berstatus menikah, dengan tinjauan kategorisasi grit berada pada tingkat sedang (48%) dan work life balance berada pada tingkat rendah (75%). Hal ini dapat terjadi karena berbagai faktor yang dialami oleh mahasiswa berstatus menikah.Married students have roles as students, companions and parents, because there are roles and responsibilities that must be carried out at one time, students must have high enthusiasm and consistency so that they are able to balance time and responsibility in both roles. The purpose of this study was to see the relationship with the work life balance of students who are married in Banda Aceh. Using an approach with non-probability sampling methods and purposive sampling techniques. The sample in this study were 60 married students in Banda Aceh. Retrieval of data using a measuring instrument, grit-s (=0.782) and a work life balance scale (=0.880) and using the Spearman-Brown Formula feature analysis. The results show the coefficient of r=0.040 (p=0.759, p0.05), which means that there is no relationship between grit and work life balance in married students, with a review of the grit categorization being at a moderate level (48%) and the work life balance being at a low level (75%). This can occur due to various factors that support married students.