Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENGEMBANGAN FORMULA ES KRIM TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza) SEBAGAI SEDIAAN PANGAN FUNGSIONAL MELALUI SUBSTITUSI LEMAK SANTAN KELAPA Ismiyati Ismiyati; Ana Mardiyaningsih; Sri Purwanti
Media Farmasi: Jurnal Ilmu Farmasi Vol 16, No 1: Maret 2019
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.399 KB) | DOI: 10.12928/mf.v16i1.13265

Abstract

Lemak yang digunakan dalam pembuatan es krim umumnya adalah lemak susu. Penggunaan santan kelapa diharapkan dapat menjadi substitusi penggunaan lemak susu pada pembuatan es krim. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah santan kelapa dapat digunakan sebagai pengganti susu sapi, bagaimana pengaruhnya pada karakteristik fisik (viskositas, overrun, waktu leleh) serta bagaimana penilaian panelis terhadap perubahan organoleptis (rasa, tekstur dan warna) es krim temulawak. Jenis penelitian ini adalah true experiment dengan rancangan post test only control group design. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah jenis lemak dari santan kelapa dan susu sapi UHT dan variabel terikat adalah karakteristik fisik dan organoleptis pada es krim temulawak yang dinilai oleh responden berdasarkan uji kesukaan. Pengujian karakteristik fisik menggunakan perbandingan data yang diperoleh dari kedua jenis lemak tersebut. Pengujian organoleptis dianalisis dengan metode statistika non parametrik Mann Whitney.Hasil penelitian menunjukkan bahwa santan kelapa dapat dipakai sebagai pengganti susu sapi pada sediaan es krim temulawak karena menghasilkan karakteristik  fisik  yang lebih  baik. Es krim dengan bahan santan kelapa memiliki nilai viskositas lebih tinggi,overrunlebih rendah, serta waktu leleh yang lebih lama.Es krim temulawak dengan bahan susu sapi relatif lebih disukai oleh masyarakat dibandingkan es krim dari santan kelapa, namun secara statistik tidak berbeda signifikan.
Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Kayu Secang (Caesalpinia sappan) terhadap Karakteristik Fisik Sediaan Sabun Cair Cholidatul Jumadiyah; Ismiyati Ismiyati; Andita Eltivitasari
Sinteza Vol. 4 No. 1 (2024): February
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/sinteza.v4i1.25258

Abstract

Tanaman kayu secang (Caesalpinia sappan L) banyak ditemukan di Indonesia. Kayu secang mempunyai berbagai senyawa bioaktif, termasuk brazilin, brazilein, sappan chalcone, dan protosappanin A. Brazilin adalah pigmen yang memberikan warna merah pada tanaman kayu secang.  Sabun cair mempunyai manfaat untuk membersihkan tubuh sebagai antiseptik dan antibakteri, serta membantu untuk membuat kulit menjadi sehat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi ekstrak kayu secang (C. sappan) terhadap uji karakteristik fisik sabun cair. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Teknik ekstraksi yang digunakan adalah maserasi dengan menggunakan pelarut etanol 96%.  Variasi konsentrasi ekstrak 0,25%, 0,5%, dan 1%. Uji karakteristik yang dilakukan adalah uji organoleptik, uji pH, uji homogenitas, uji stabilitas busa, uji tinggi busa, uji iritasi dan uji kesukaan.  Pada sediaan sabun cair dari ekstrak kayu secang pada formula I (0,25%)  formula II (0,5%) dan formula III (1%) telah memenuhi syarat uji organoleptis, homogenitas, uji pH, uji tinggi busa, stabilitas tinggi busa, uji iritasi dan uji kesukaan. Konsentrasi  formula terbaik sabun cair ekstrak kayu secang (C. sappan L) yang disukai responden dari segi organoleptisnya yakni pada formula I (0,25%). Pada konsentrasi ini terlihat dihasilkan  karakteristik  sediaan  sabun  cair  paling  baik  dari  semua uji yang dilakukan. Perbedaan konsentrasi pada formulasi sabun cair ekstrak kayu secang memberikan pengaruh pada karakteristik fisik sediaannya.
Gambaran Penggunaan Obat Bahan Alam dan Potensi Interaksinya pada Pasien Hipertensi dan Diabetes Melitus Peserta PROLANIS di Kota Yogyakarta Artha Woro Utami; Trilestari Trilestari; Ismiyati Ismiyati; Gita Mayasari; Muhammad Senoaji Wibowo; Restu Istya Ambari Putra; Rygyna Selkly Prihatin; Senlia Nur Eka Saputri; Sherly Amelia; Triyani Triyani
Sinteza Vol. 6 No. 2 (2026): August
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/sinteza.v6i2.36112

Abstract

Hypertension and diabetes mellitus are the non-communicable diseases with the highest prevalence in the Special Region of Yogyakarta. The use of herbal medicines (obat bahan alam, OBA) as complementary therapy has grown among chronic disease patients, including in Program Pengelolaan Penyakit Kronis (PROLANIS) participants, yet OBA profiles and their potential drug interactions remain poorly characterized in this population. This study described OBA use profiles among hypertensive and diabetic PROLANIS participants at primary health centers in Yogyakarta City. A descriptive cross-sectional study was conducted at five primary health centers (Puskesmas) in Yogyakarta City from January to May 2025. A total of 160 respondents (hypertension n=115, diabetes mellitus n=45) were enrolled through consecutive sampling, and data were collected via structured face-to-face interviews and analyzed descriptively. Respondents were predominantly female (70.0%), aged 65 years or older (48.8%), and housewives (52.5%). In the hypertension group, the most commonly used OBAs were kunyit asam (28.7%), beras kencur (20.9%), and ginger (20.0%); in the diabetes mellitus group, kunyit asam (26.7%), turmeric (22.2%), and jahe (20.0%) predominated. Most OBAs were taken as liquid preparations (80.0%), sourced from tukang jamu (45.0%) or prepared at home (44.4%). Friends and relatives were the primary information source (68.1%), while only 3.1% of respondents received information from healthcare providers. Cross-tabulation of the 47 respondents currently using OBA revealed amlodipine combined with kunyit (turmeric) as the most frequent drug-herb combination, with pharmacokinetic interaction potential via CYP3A4 inhibition. Perceived therapeutic benefit was reported by 75.6% of respondents, and 77.5% intended to continue using OBA. OBA use is widespread among PROLANIS participants, and combinations carrying pharmacokinetic interaction risk, notably kunyit with amlodipine or angiotensin receptor blockers, and hypoglycemic OBAs with sulfonylureas and insulin, warrant systematic monitoring. Pharmacist-led OBA counselling at primary health facilities should be strengthened.