Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

THE EFFECT OF EL-NINO 2015 ON THE RUBBER PLANT (HEVEA BRASILIENSIS) GROWTH IN THE EXPERIMENTAL FIELD SEMBAWA RESEARCH CENTRE Jamin Saputra; Charlos Togi Stevanus; Andi Nur Cahyo
Widyariset Vol 2, No 1 (2016): Widyariset
Publisher : Pusbindiklat - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (899.137 KB) | DOI: 10.14203/widyariset.2.1.2016.37-46

Abstract

Dry season is a fator affecting plant growth. If climate anomaly El-Nino that causing prolonged dry season happens, the effect on the plant growth will be bigger. On 2015, El-Nino is happening. The presence of climate anomaly like La-Nina and El-Nino can be predicted by SOI (South Oscilation Index) released by Australian Bureau of Meteorology. Continued positive SOI value indicates symptomps of La-Nina climate anomaly and continued negative SOI value indicates symptomps of El-Nino climate anomaly. This research was aimed to determine the effect of El-Nino climate anomaly that causing prolonged dry season on the growth of PB 260 clone in Sembawa Research Centre Experimental Field. This research was conducted by comparing the growth of PB 260 clone during wet season and prolonged dry season. The result shows that under condition of 2015 El-Nino phenomenon, the growth rate of PB260 clone was decreased until 75%. The attemps to minimalize the effect of El-Nino on the growth of rubber clone was by selecting appropriate clone and location where the clone was planted, water conservation, and K fertilization with double dosage.
HUBUNGAN ANTARA NERACA AIR LAHAN TERHADAP PRODUKSI KARET KLON BPM24 Sahuri Sahuri; Andi Nur Cahyo
Widyariset Vol 4, No 2 (2018): Widyariset
Publisher : Pusbindiklat - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (554.028 KB) | DOI: 10.14203/widyariset.4.2.2018.163-172

Abstract

Secara umum produksi karet dipengaruhi oleh fluktuasi curah hujan setiap bulan. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh curah hujan, evapotranspirasi, dan ketersediaan air lahan terhadap produksi karet klon BPM 24. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Sembawa, Sumatera Selatan dari tahun 2013 – 2015. Plot penelitian yang digunakan adalah tanaman menghasilkan klon BPM 24 tahun tanam 2002 berumur 14 tahun dengan tekstur tanah clay loam. Penelitian ini dilakukan dengan cara membandingkan produksi tanaman karet pada saat musim hujan dan musim kemarau dari tahun 2013-2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air tanah merupakan parameter yang paling berpengaruh terhadap hasil lateks tanaman karet klon BPM 24 dibandingkan dengan parameter curah hujan dan evapotranspirasi. Hasil lateks menurun dengan berkurangnya kandungan air tanah pada periode bulan kering. Kurangnya air pada bulan kering menjadi faktor pembatas untuk hasil karet yang optimal. Ketika kadar air tanah turun hingga di bawah 100 mm, hasil lateks maksimal yang dapat dicapai oleh tanaman karet adalah sebesar 20 g/p/s.
DINAMIKA GUGUR DAUN DAN PRODUKSI BERBAGAI KLON KARET KAITANNYA DENGAN KANDUNGAN AIR TANAH Risal Ardika; Andi Nur Cahyo; Thomas Wijaya
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 29, Nomor 2, Tahun 2011
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v29i2.242

Abstract

Curah hujan berpengaruh terhadap ketersediaan air tanah. Pada waktu musim kemarau curah hujan menurun sehingga air menjadi faktor pembatas bagi pertumbuhan tanaman karet. Dengan adanya keterbatasan air pada waktu musim kemarau tersebut tanaman karet melakukan adaptasi untuk mengurangi transpirasi dengan cara menggugurkan daunnya. Beberapa jenis klon karet memiliki tipe yang berbeda-beda dalam menggugurkan daunnya karena adanya defisit air dalam tanah, yaitu klon karet yang serentak maupun yang bertahap dalam menggugurkan daunnya pada waktu musim kemarau. Oleh karena itu perlu diadakan suatu penelitian tentang dinamika gugur daun berbagai klon karet kaitannya dengan kandungan air tanah dan produksi pada daerah selatan khatulistiwa. Bahan yang dipakai dalam penelitian ini adalah tanaman karet klon BPM 24, GT 1, RRIC 100 dan PB 260 tahun tanam 2000. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat pengukur kadar air tanah Troxler Sentry 200 AP, oven, dan pipa pralon. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Sembawa. Penelitian dilaksanakan dengan cara menanam pipa pralon ke dalam tanah sepanjang 1,5 m di dalam barisan tanaman dan di dalam gawangan tanaman karet. Parameter yang diamati meliputi kadar air tanah, produksi, waktu terjadinya gugur daun, luas daun spesifik, dan indeks luas daun (ILD). Data hasil penelitian menunjukkan bahwa klon PB 260 lebih dahulu menggugurkan daunnya dibandingkan dengan klon BPM 24, RRIC 100, dan GT 1. Produksi karet mulai menurun saat ILD mencapai angka sekitar 1 atau menurun sebesar 40%. Konsumsi air klon GT 1 relatif lebih tinggi dibandingkan dengan klon BPM 24, RRIC 100 dan PB 260.    Diterima : 25 Januari 2011; Disetujui : 1 Juni 2011How to Cite : Ardika, R., Cahyo, A.N., & Wijaya, T. (2011). Dinamika gugur daun dan produksi berbagai klon karet kaitannya dengan kandungan air tanah. Jurnal Penelitian Karet, 29(2), 102-109. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/242
KONSUMSI AIR DAN PRODUKSI KARET PADA BERBAGAI SISTEM PENGATURAN JARAK TANAM DALAM KAITANNYA DENGAN KANDUNGAN AIR TANAH Andi Nur Cahyo; Risal Ardika; Thomas Wijaya
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 29, Nomor 2, Tahun 2011
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/ppk.jpk.v29i2.243

Abstract

Kekurangan air pada saat musim kemarau menyebabkan tanaman karet menggugurkan daunnya sebagai upaya adaptasi untuk mengurangi kebutuhan air. Tujuan penelitian adalah diperoleh sistem pengaturan jarak tanam yang paling efisien dalam hubungannya dengan ekstraksi air tanah, sehingga pada saat musim kemarau kompetisi air tanah dapat dikurangi. Perlakuan dalam penelitian ini ialah monokultur dengan jarak tanam normal (A), monokultur dengan jarak tanam ganda (B), dan tumpangsari (jarak tanam ganda + klon RRIC 100) (C). Perlakuan tersebut disusun dalam rancangan acak kelompok dengan 4 ulangan. Pengamatan dilakukan terhadap parameter kadar air tanah, produksi karet, waktu terjadinya gugur daun, luas daun spesifik, dan indeks luas daun. Pengamatan terhadap kadar air tanah menunjukkan bahwa tidak terdapat beda nyata antara kadar air tanah pada semua perlakuan karena curah hujan total yang tinggi, namun pada musim kemarau terjadi perbedaan pola ekstraksi air yaitu perlakuan C mengkonsumsi air lebih cepat karena ILD yang tinggi. Produksi karet kering perlakuan C nyata lebih rendah daripada perlakuan yang lain, sedangkan perlakuan A adalah yang tertinggi. Rendahnya produksi karet kering perlakuan C disebabkan karena luas daun per pohon perlakuan C hanya sekitar 50% dari luas daun perlakuan yang lainnya. Rendahnya luas daun per pohon untuk perlakuan C ini diduga disebabkan karena terlalu tingginya kerapatan tanam perlakuan C yang mencapai lebih dari dua kali kerapatan tanam perlakuan A dan B.  Diterima : 24 Agustus 2011; Disetujui : 29 November 2011How to Cite : Cahyo, A.N., Ardika, R., & Wijaya, T. (2011). Konsumsi air dan produksi karet pada berbagai sistem pengaturan jarak tanam dalam kaitannya dengan kandungan air tanah. Jurnal Penelitian Karet, 29(2), 110-117. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/243
THE EFFECT OF EL-NINO 2015 ON THE RUBBER PLANT (HEVEA BRASILIENSIS) GROWTH IN THE EXPERIMENTAL FIELD SEMBAWA RESEARCH CENTRE Jamin Saputra; Charlos Togi Stevanus; Andi Nur Cahyo
Widyariset Vol 2, No 1 (2016): Widyariset
Publisher : Pusbindiklat - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.869 KB) | DOI: 10.14203/widyariset.2.1.2016.37-46

Abstract

Dry season is a fator affecting plant growth. If climate anomaly El-Nino that causing prolonged dry season happens, the effect on the plant growth will be bigger. On 2015, El-Nino is happening. The presence of climate anomaly like La-Nina and El-Nino can be predicted by SOI (South Oscilation Index) released by Australian Bureau of Meteorology. Continued positive SOI value indicates symptomps of La-Nina climate anomaly and continued negative SOI value indicates symptomps of El-Nino climate anomaly. This research was aimed to determine the effect of El-Nino climate anomaly that causing prolonged dry season on the growth of PB 260 clone in Sembawa Research Centre Experimental Field. This research was conducted by comparing the growth of PB 260 clone during wet season and prolonged dry season. The result shows that under condition of 2015 El-Nino phenomenon, the growth rate of PB260 clone was decreased until 75%. The attemps to minimalize the effect of El-Nino on the growth of rubber clone was by selecting appropriate clone and location where the clone was planted, water conservation, and K fertilization with double dosage.
HUBUNGAN ANTARA NERACA AIR LAHAN TERHADAP PRODUKSI KARET KLON BPM24 Sahuri Sahuri; Andi Nur Cahyo
Widyariset Vol 4, No 2 (2018): Widyariset
Publisher : Pusbindiklat - LIPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (554.028 KB) | DOI: 10.14203/widyariset.4.2.2018.163-172

Abstract

Secara umum produksi karet dipengaruhi oleh fluktuasi curah hujan setiap bulan. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh curah hujan, evapotranspirasi, dan ketersediaan air lahan terhadap produksi karet klon BPM 24. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Sembawa, Sumatera Selatan dari tahun 2013 – 2015. Plot penelitian yang digunakan adalah tanaman menghasilkan klon BPM 24 tahun tanam 2002 berumur 14 tahun dengan tekstur tanah clay loam. Penelitian ini dilakukan dengan cara membandingkan produksi tanaman karet pada saat musim hujan dan musim kemarau dari tahun 2013-2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air tanah merupakan parameter yang paling berpengaruh terhadap hasil lateks tanaman karet klon BPM 24 dibandingkan dengan parameter curah hujan dan evapotranspirasi. Hasil lateks menurun dengan berkurangnya kandungan air tanah pada periode bulan kering. Kurangnya air pada bulan kering menjadi faktor pembatas untuk hasil karet yang optimal. Ketika kadar air tanah turun hingga di bawah 100 mm, hasil lateks maksimal yang dapat dicapai oleh tanaman karet adalah sebesar 20 g/p/s.