Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pemanfaatan Potensi Lokal Ubi Jalar dan Labu Kuning untuk Meminimalisasi Penggunaan Tepung Gandum dalam Pembuatan Aneka Kue Andi Nur Faidah Rahman; Mulyati M. Tahir; Jumriah Langkong
Agrokreatif: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 5 No. 3 (2019): Agrokreatif Jurnal Ilmiah Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agrokreatif.5.3.232-238

Abstract

Takalar District is one of the areas in South Sulawesi with its superior product that is sweet potato. Sweet potato production in this area is quite abundant but has not been utilized properly. This activity aimed to utilize the abundant local potential in making various cakes to minimize the use of wheat flour. The method used was counseling and training. The activity was carried out in Tala, Sombalabella Village, Pattalassang Subdistrict, Takalar District. Participants amount are 25 peoples consisting of cake traders and housewives who are not economically productive. The activity was carried out with two sessions, that is material present and practice. Based on the results of participant's questionnaires, there was an increase in the knowledge of the participants up to 80, the participants already knew how to utilize the potential of sweet potatoes and pumpkin in their area to have higher economic value. In addition there was an increase in the skills of the participants up to 92 in processing sweet potatoes and pumpkin into a variety of cakes such as donuts, panada, and fried bread as well as participants skilled in packaging products with vacuum and non-vacuum plastic packaging. Community service activities from the economic side can increase people's income, and from the health side can add the nutritional value of the community from that various cakes produced.
Peningkatan Nilai Tambah Kelapa melalui Produksi Santan Higienis dan Bermutu bagi Kelompok Tani Bonto Pengka, Desa Karassing, Kabupaten Bulukumba A.Hermina Julyaningsih; Febriana Intan Permata Hati; Ibnu Mansyur Hamdani; Andi Nur Faidah Rahman
Abdimas Langkanae Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/jpm.v6i1.772

Abstract

Kelapa dalam merupakan salah satu komoditas perkebunan yang memiliki peran penting dalam perekonomian masyarakat dan menjadi salah satu hasil pertanian unggulan di Kabupaten Bulukumba. Tanaman ini memiliki keunggulan karena dapat diproduksi secara berkelanjutan sepanjang tahun sehingga ketersediaannya relatif terjaga di pasar. Salah satu kelompok yang mengusahakan komoditas tersebut adalah Kelompok Tani Bonto Pengka di Kabupaten Bulukumba, yang menjadikan kelapa dalam sebagai komoditas utama selain kakao dan jagung. Kelompok tani ini mampu menghasilkan sekitar 4 ton kelapa dalam setiap musim panen. Namun demikian, nilai ekonomi yang diterima petani sering kali tidak optimal karena harga jual kelapa sangat dipengaruhi oleh fluktuasi pasar dan ditentukan oleh tengkulak. Pada saat harga mengalami penurunan, kelapa hanya dihargai sekitar Rp2.000 per buah, jauh lebih rendah dibandingkan harga normal yang berkisar antara Rp5.000–Rp6.000 per buah. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan pendapatan petani dan mengurangi keuntungan usaha tani. Oleh karena itu, diperlukan upaya peningkatan nilai tambah melalui pengolahan kelapa menjadi produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan menjualnya dalam bentuk buah segar. Salah satu produk olahan yang berpotensi dikembangkan adalah santan siap pakai karena memiliki permintaan pasar yang cukup tinggi dan dapat memberikan nilai ekonomi yang lebih besar. Pelaksanaan program ini memberikan kontribusi berupa penyaluran alat produksi santan siap pakai dan meningkatkan pemahaman anggota kelompok tani mengenai teknologi pengolahan kelapa menjadi santan bermutu. Hasil program menunjukkan adanya peningkatan kesadaran anggota kelompok tani Bonto Pengka terkait pentingnya pengolahan kelapa dalam meningkatkan nilai jual kelapa. Selain itu, peserta juga memahami bagaimana teknik dan metode pembuatan santan siap pakai yang bermutu dan higienis serta strategi pemasaran kelapa dan santan ketika menghadapi fluktuasi harga kelapa di pasaran.
Pemanfaatan Teknologi Pratanak dalam Pemberdayaan Petani dan Pedagang Beras di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan Andi Nur Faidah Rahman; Jalaluddin Jalaluddin; Mulyati Muhammad Tahir; Jumriah Langkong
Agrokreatif: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 11 No. 3 (2025): Agrokreatif Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agrokreatif.11.3.526-533

Abstract

Takalar Regency is a region in South Sulawesi Province where rice is the leading agricultural commodity, surpassing other crops such as corn, tubers, and legumes. Along with the rising incidence of degenerative diseases particularly diabetes mellitus (DM), which is suspected to be linked to excessive consumption of high glycemic rice public awareness of choosing healthier rice options has increased. One of the innovations currently being developed to address this issue is parboiling technology, which can reduce the glycemic index (GI) of rice. In addition to its health benefits, parboiled rice also holds high economic value and has the potential to empower local rice farmers and traders. This activity aimed to educate the community on the benefits of consuming parboiled rice and to provide hands-on training in its production. The method used involved both counseling and practical training sessions, conducted in Tala Village, Sombalabella Subdistrict, Pattalassang District, Takalar Regency. The participants consisted of 40 women who are farmers and rice traders, economically unproductive at the time. The program was delivered in two sessions: a material presentation and practical training. Based on the participants’ questionnaire responses, knowledge about parboiled rice increased significantly from only 47% awareness before the activity to 100% afterward. In terms of skills, none of the participants initially knew how to make parboiled rice, but after the training, 90% were able to do it independently. The conclusion of this activity is that the counseling and training on the utilization of parboiling technology can broaden the community's knowledge and enhance their skills in producing parboiled rice.
Focus Group Discussion (FGD) Analisis Pasar dan Strategi Pemasaran UMKM Radja Nanas Bantaeng, Dampang, Kel. Gantarangkeke, Kec. Gantarangkeke, Kab. Bantaeng A.Hermina Julyaningsih; Wiwin Reski Windarsari; Ibnu Mansyur Hamdani; Andi Nur Faidah Rahman
Abdimas Langkanae Vol. 5 No. 2 (2025): September-Desember 2025
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/jpm.v5i2.579

Abstract

UMKM Radja Nanas Bantaeng merupakan salah satu KUB (Kelompok Usaha Bersama) yang bergerak di sektor pertanian utamanya komunitas buah nanas madu. UMKM ini mampu membudidayakan buah nanas secara kontinu sepanjang tahun sehingga dapat menjaga stock buah nanas tetap tersedia. Namun, sebagian besar profit yang diperoleh UMKM Radja Nanas Bantaeng ini berasal dari penjualan buah nanas segar semata, padahal dengan menjual produk olahan buah nanas dapat meningkatkan harga jual dan mendapatkan keutungan yang lebih besar. Walaupun UMKM Radja Nanas Bantaeng telah mulai mengolah buah nanasnya menjadi sari buah dan selai, tetapi metode pemasaran yang kurang tepat mengakibatkan angka penjualan produk-produk tersebut belum maksimal. Berdasarkan hal tersebut, UMKM Radja Nanas Bantaeng perlu melakukan analisis pasar terlebih dahulu sehingga dapat merumuskan strategi pemasaran yang tepat dan sesuai bagi kondisi UMKM Radja Nanas Bantaeng. Hasil FGD (Focus Group Discussion) yang dilakukan merumuskan beberapa strategi pemasaran yang sesuai untuk mitra yaitu: (1) menetapkan segmentasi dan target pasar berdasarkan preferensi konsumen terhadap produk berbasis buah lokal; (2) menguatkan brand positioning UMKM Radja Nanas melalui perbaikan kemasan dan narasi produk; (3) mengoptimalkan strategi harga berdasarkan struktur biaya dan harga pesaing (4) meningkatkan promosi digital melalui media sosial dan e-commerce; serta (5) melakukan diversifikasi saluran distribusi salah satunya membangun kemitraan dengan toko oleh-oleh dan pasar modern. Hasil FGD ini menjadi dasar penyusunan business plan UMKM Radja Nanas dan menjadi landasan penting dalam merancang intervensi tahap berikutnya.