Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENENTUAN TINGKAT KLIERENS LIMBAH RADIOAKTIF HASIL SEMENTASI KONSENTRAT EVAPORASI DAN TINJAUAN KESELAMATAN PEMBUANGANNYA Suhartono, Suhartono; Kundari, Noor Anis; Romli, Moch.; Sumarbagiono, Sumarbagiono
GANENDRA Majalah IPTEK Nuklir Volume 26 Nomor 1, 2023
Publisher : Website

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/gnd.2023.6839

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk mengukur tingkat klierens 14 unit shell beton 950 L milik Instalasi Pengelolaan Limbah Radioaktif, Direktorat Pengelolaan Fasilitas Ketenaganukliran, Badan Riset dan Inovasi Nasional (IPLR-DPFK BRIN). Shell-shell beton tersebut merupakan paket hasil olahan konsentrat evaporasi limbah radioaktif cair yang dikondisioning dengan teknik sementasi. Jika telah memenuhi tingkat klierens, maka shell-shell beton tersebut dapat dibebaskan dari pengawasan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) melalui mekanisme klierens sehingga pada akhirnya dapat menambah ruang kosong di gedung penyimpanan sementara limbah radioaktif. Penelitian dilakukan dengan mengukur laju dosis radiasi, tingkat kontaminasi permukaan, dan konsentrasi aktivitas radionuklida pemancar α, β, dan ϒ untuk menentukan tingkat klierens. Dari penelitian yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa laju dosis tertinggi 0,15 µSv/jam, tingkat kontaminasi permukaan tertinggi sebesar 0,0148 Bq/cm2 untuk radionuklida pemancar α dan 0,0935 Bq/cm2 untuk radionuklida pemancar β. Nilai tingkat klierens radioaktivitas unit shell beton 950 L yang diuji berkisar antara 0,47020 – 0,66730. Mengacu pada Peraturan Kepala BAPETEN Nomor 16/2012 tentang Tingkat Klierens, kandungan radionuklida dalam shell-shell beton 950 L yang diuji telah mencapai tingkat klierens. Pembuangan klierens terhadap 14 unit shell beton tersebut sangat mungkin untuk dilakukan karena shell-shell beton tersebut tidak mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3). Perkiraan dosis radiasi yang akan diterima oleh kelompok kritis, tidak akan melebihi 10 µSv per tahun.     
ANALISIS KESELAMATAN UNTUK MENCEGAH KECELAKAAN PADA PROSES EVAPORASI DI INSTALASI ELEMEN BAKAR EKSPERIMENTAL DENGAN METODE HAZOPS Oktavianto, Putra; Kundari, Noor Anis; Saputra, Ade; Abdurrosyid, Imam; Saputra, Andri
GANENDRA Majalah IPTEK Nuklir Volume 26 Nomor 1, 2023
Publisher : Website

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/gnd.2023.6844

Abstract

Instalasi elemen bakar eksperimental (IEBE) DPFK – BRIN telah menerapkan standar keselamatan sebagai acuan keselamatannya yang dalam penerapannya menggunakan Hazard Identification Risk Assesment Determining Control (HIRADC). Metode HIRADC mempunyai beberapa kekurangan sehingga dalam penerapannya masih belum maksimal. Sebagai pelengkap dari metode HIRADC, maka dalam penelitian ini akan dilakukan analisis risiko menggunakan metode lain yaitu Hazard and Operability Study (HAZOPS). Pada proses evaporasi larutan uranil nitrat yang akan diidentifikasi potensi bahayanya adalah tangki evaporator E-601. Metode HAZOPS dilakukan berdasarkan diagram proses dan instrumentasi (P&ID) yang ada untuk menentukan potensi bahaya yang mungkin terjadi selama proses evaporasi dilakukan. Metode HAZOPS dilakukan dengan menentukan titik kajian (node) dan parameter, menganalisis penyimpangan atau potensi bahaya dari setiap node, melakukan analisis kemungkinan penyebab penyimpangan dan konsekuensinya, menentukan skala likelihood serta menentukan tingkat risiko dan membuat rekomendasi. Dari penilaian yang telah dilakukan, didapatkan 6 node dan kemudian menghasilkan 11 penyimpangan yang disebabkan oleh 13 kerusakan atau kegagalan peralatan. Penilaian risiko terhadap 13 kerusakan menghasilkan 1 potensi risiko bahaya rendah dan 12 potensi risiko bahaya sedang. Kategori risiko bahaya rendah dapat diatasi dengan penanganan rutin seperti melakukan pemeliharaan preventif dan kalibrasi alat secara berkala. Untuk kategori risiko bahaya sedang, selain memerlukan rekomendasi seperti bahaya rendah, juga diperlukan rekomendasi lain dalam mengatasi penyimpangan yang mungkin terjadi sesuai dengan jenis penyimpangannya. Dari hasil analisis keselamatan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan juga bahwa HAZOPS dapat melengkapi HIRADC untuk memastikan keselamatan terjaga saat dilakukan proses.
Analysis of Cs-137 Diffusion in Clay Soil and Kaolin from West Kalimantan with Groundwater Saturation Kurniawan, Muhammad Haidar; Kundari, Noor Anis; Ekaningrum, Nurul Efri
Journal La Lifesci Vol. 6 No. 4 (2025): Journal La Lifesci
Publisher : Newinera Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37899/journallalifesci.v6i4.2660

Abstract

Electricity demand in Indonesia is increasing along with economic and population growth. The plan to build a nuclear power plant (NPP) in Kalimantan needs to be accompanied by support facilities such as disposal. Research on disposal facilities in West Kalimantan is crucial because of its proximity to the planned NPP, and using local materials like kaolin and clay will be more economical. In this study, compacted clay and kaolin layers were used as part of the engineered barrier at the disposal site. The goal is to prevent the release of Cs-137 from the facility into the unsaturated zone. XRD, XRF, and ICP-OES were used to characterize the clay and kaolin studied. Analysis revealed many absorbent minerals suitable for the engineered barrier at the disposal site.To evaluate the diffusion coefficient (Da) of Cs-137 in compacted clay and kaolin samples, a vertical diffusion model was employed. The diffusion coefficient was measured in a diffusion column unit with varying times and densities. Fick's law equation was used to calculate the Da value for the samples. The results showed that the diffusion coefficient for kaolin ranged from 2.75 x 10-12 to 3.96 x 10-12 m²/s, and for clay from 1.62 x 10-12 to 2.92 x 10-12 m²/s. In clay and kaolin samples, density affected the diffusion rate; higher density resulted in a lower Da value. However, time did not impact the Da value. The diffusion coefficient in kaolin was twice as fast as in clay samples.In the safety assessment experiment with RESRAD Offsite, a 0.2 m kaolin layer was sufficient.