Edi Wibowo Kushartono
Program Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro Kampus Tembalang, Semarang 50275 Telp/Fax. 024-7474698

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Pemberian Pakan Pada Tukik Penyu Hijau (Chelonia mydas Linnaeus, 1758) Di Konservasi Pulau Bangka Edi Wibowo Kushartono; Raden Ario; Rini Pramesti; Tiurma S; Alfi Satriadi
Buletin Oseanografi Marina Vol 6, No 2 (2017): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.02 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v6i2.16557

Abstract

Tingkat keberhasilan hidup tukik menuju dewasa dapat ditentukan dengan pemberian pakan. Rumput laut sebagai pakan tukik telah diujikan pada tukik Penyu Hijau (Chelonia mydas). Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui pengaruh pemberian rumput laut sebagai pakan yang berbeda terhadap pertumbuhan tukik Penyu Hijau (C. mydas) selama masa pemeliharaan 4 minggu. Penelitian ini menggunakan Metode eksperimen laboratorium dengan materi tukik usia 4 bulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa tukik yang diberi kombinasi pakan Udang ebi dan Rumput laut Sargassum sp. menunjukkan rerata laju pertumbuhan1,56 ± 0,11 gram lebih besar dari tukik yang diberi kombinasi Pelet dan Rumput laut sebesar 1,47 ± 0,14 gram dan kontrol 0,51 ± 0,57 gram. Perlakuan kombinasi tambahan rumput laut terhadap pakan tukik menunjukan hasil yang signifikan (P 0,05) pada laju pertumbuhan. The existence of turtles on the island of Bangka already slowly becomes extinct as the result of increasing mining activity. Feeding can for the survival of adulthood. The purpose of this study is to determine the affect of combinations of different feed on the growth of Green Turtle (Chelonia mydas) period of 4 weeks. This study use laboratory experimental method with the material used was the green turtle hatchlings around the age of 4 months and was conducted in Bangka Beach, Bangka. Result from the study showed that were given a combination of shrimp and Sargassum sp. show that specific growth rate on average 1,56 ± 0,11 gram bigger than that were given a combination of pellets and Sargassum sp. namely 1,47 ± 0,14 gram and 0,51 ± 0,57 gram control. Specific growth rate feeding treated with different combinations shows 17,17 F count > F table 0,05 and 0,01. It is claimed that the two highly significant treatment on a significant 0,05 and 0,01. 
Analisis Kelayakan Investasi Pada Budidaya Karamba Jala Apung (KJA) Ikan Kerapu Di Kepulauan Karimunjawa Kabupaten Jepara Suryono Suryono; Ria Azizah; Edi Wibowo Kushartono; Raden Ario; Gentur Handoyo
Buletin Oseanografi Marina Vol 6, No 2 (2017): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.461 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v6i2.16558

Abstract

Kajian Investasi budidaya ikan kerapu di Karimunjawa adalah salah satu usaha guna menumbuhkan promosi investasi di wilayah studi. Kajian ini akan membuat peluang investasi menjadi lebih fokus dan tajam baik dari segi sektor maupun lokasinya, sehingga akan memudahkan investor guna merealisasikan rencana bisnisnya. Studi ini akan memberikan detail informasi kepada investor tentang peluang bisnis pada budidaya ikan kerapu yang sangat layak dilakukan sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir dan wilayah kabupaten Jepara pada umumnya. Metode yang digunakan adalah metode survei. Peluang Investasi dianalisa secara deskriptif. Hasil kajian menunjukan bahwa berdasakan potensi alam, fasilitas infrastruktur produksi, nilai ekonomi serta aspek financial maka kelayakan investasi adalah sangat prospektif dan berpeluang untuk sukses. Analisis financial menunjukan bahwa investasi pada budidaya ikan kerapu di Karimunjawa adalah sangat layak untukdirealisasikan bagi investor. Budidaya ikan kerapu Tikus (Cromileptis altivelis)adalah paling prospektif, dimana nilai Net Present Value (NPV)> 0,yaitu  1,772,764,729,  dan  Profitability Index  (PI) lebih besar dari  1, yaitu 5,543291036.  Payback Periodadalah  2.82 tahun, jika tidak mempertimbangkan nilai uang (Discount Factors) dan 3.65 tahun  jika mempertimbangkan nilai uang. Sedangkan untuk budidaya ikan kerapu bebek(Ephinephelus fuscoguttatus), Net Present Value (NPV)> 0 yaitu  69,938,924, - dan Profitability Index (PI) lebih besar dari 1, yaitu 1,20558783.  (Pay Back Period) adalah  4,13tahun apabila tidak mempertimbangkan nilai uang (Discount Factor), sedangkan apabila mempertimbangkan nilai uang maka menjadi  and 4.64 tahun. Dari analisis yang dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa meskipun kedua spesies ikan kerapu layak investasi, tetapi ikan kerapu tikuspaling layak investasi, sedangkan ikan kerapu macansebagai produk sampingan investasi, yaitu dengan memanfaatkan sisa pakan yang tidak digunakan dalam budidaya ikan kerapu tikus, sehingga hasilnya akan dapat maksimal. Keseluruhan aspek yang dikaji menunjukan bahwa budiddaya ikan kerapu di Kepulauan Karimunjawa adalah layak investasi. The study of feasibility floating cage culture of grouper fish investment in Karimunjawa is one of the efforts for investment promotion in the studied region. This study will make the investment opportunities become more focus and sharp, both sectoral and location, so it will be easier for investors to execute their investment interest. The purpose of this study, is to provide initial information for investors about business opportunities of grouper fish farming as a very feasible investment opportunities so that can boost the economy of the region and the society of Jepara Regency. The method used in this study was survey  method, descriptive analysiswas conducted to see a of investment opportunities. Based on potential natural resources, location, infrastructure facilities, production, economy value, and financial aspect, the  results of study concluded  that the overall investment is highly prospective and has a fairly high chance to success. The financial analysis showed that investment in grouper fish cultivation in jepara regency is very feasible as a business investment for the investors. Humpback or Polka dot grouper (Cromileptis altivelis) culture is highly prospective and has a fairly high chance. This can be seen from the Net Present Value (NPV) > 0 is equal to 1,772,764,729,  and Profitability Index  (PI) value greater than 1, which is 5,543291036.  While the longer the period the funds invested will return (Payback Period) is 2.82 years if the without considering the time value of money (Discount Factors) and 3.65 years when considering the time value of money. Whereas,  for Brown marbled grouper (Ephinephelus fuscoguttatus), the Net Present Value (NPV) > 0 is equal to  69,938,924, - and Profitability Index (PI) greater than 1, which is 1,20558783. While the longer  period the funds invested will return (Pay Back Period) are 4,13 year if without considering the time value of money (Discount Factors) and 4.64 years when considering the time value of money. From the analysis it can be concluded that all these choices on the investment plan is feasible to run and prospective advantageous. While the best option is an investment plan on investments Humback or Polka Dot grouper (Cromileptis altivelis) cultivation, Brown marbled grouper (Ephinephelus fuscoguttatus) culture whereas it is only a sideline activity and only utilize food wastes are left, so the whole will be able to deliver optimal results in grouper culture.All examined aspects of Grouper cultivation in karimunjawa  gave results that investment activity  is able to be executed. The financial analysis shows that investment in grouper fish cultivation in jepara regency is very feasible to be a business investment for the investors.
Keberhasilan Penetasan Telur Penyu Hijau (Chelonia mydas) Dalam Sarang Semi – Alami Dengan Kedalaman Yang Berbeda Di Pantai Sukamade, Banyuwangi, Jawa Timur Edi Wibowo Kushartono; CB. Ronaldi Chandra E; Retno Hartati
Jurnal Kelautan Tropis Vol 19, No 2 (2016): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.312 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v19i2.839

Abstract

One of the conservation efforts undertaken to protect the green turtle (C. mydas L.) is by relocation of the nest where the eggs are removed from natural to semi-natural hatchery. The depth of proper needed to achieve the maximum level of hatching and emergence success.The purpose of this research that is to know the level of hatching catch and the emergence success of a nest at a different depth. The methods that used is an experimental research. Treatment that given is the different depth of nest with the green turtle as repetition. The depth of treatment is in 40 cm, 60 cm, and 80 cm, the amount of eggs is 30 eggs in each nest. Measurement and observation environmental conditions carried out during the incubation period. Observation the emergence of hatchlings started in day 50 of the incubation. Nest destruction was conducted on the 66th day incubation then eggs that failed to hatch were manually disected. The results showed that the levels of different depths does not effect the temperature inside the nest and hatching success, but the effect on the success rate of appearance. hatching success at all depths ranging between 93,33% - 94.44% (the same height), but increasingly in the depth of the nest success rate of appearance tends to decrease. Figures shown good appearance at a depth of 40 cm (86.67%), followed by 60 and 80 cm depth is 64.44% and 48.89% (sequential). The results of visual observations of the morphometry and performance lokomotori, hatchlings hatched at a depth of 60 and 80 cm better than hatchlings hatched at a depth of 40 cm both in the size and aggressiveness lokomotori swing flipper.  Salah satu usaha konservasi yang dilakukan untuk melindungi Penyu hijau (Chelonia mydas L.) yaitu dengan tindakan relokasi yang mana telur dipindahkan dari sarang alami ke tempat penetasan semi alami. Kedalaman yang tepat dibutuhkan untuk mendapatkan tingkat penetasan dan keberhasilan kemunculan yang maksimal. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui tingkat keberhasilan penetasan dan keberhasilan kemunculan pada kedalaman sarang yang berbeda. Metode yang dipakai dalam penelitian adalah experimental research dengan 3 perlakuan yaitu penanaman telur penyu hijau pada kedalaman 40, 60 dan 80 cm, dengan kepadatan 30 butir telur setiap sarang. Pengukuran dan pengamatan kondisi lingkungan juga dilakukan selama masa inkubasi. Pengamatan munculnya tukik mulai dilakukan pada hari ke 50 masa inkubasi.  Pembongkaran sarang dilakukan pada hari ke 66 masa inkubasi kemudian dilakukan pembedahan secara manual untuk mengamati telur yang gagal menetas. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa tingkat kedalaman yang berbeda tidak berpengaruh terhadap suhu dalam sarang dan keberhasilan penetasan, tetapi berpengaruh terhadap tingkat keberhasilan kemunculan. Angka keberhasilan penetasan pada semua kedalaman berkisar antara 93,33% - 94,44% (sama-sama tinggi), namun semakin dalam tingkat kedalaman sarang tingkat keberhasilan kemunculan cenderung mengalami penurunan. Angka kemunculan yang baik ditunjukkan pada kedalaman 40 cm (86,67%), diikuti kedalaman 60 dan 80 cm yaitu 64,44% dan 48,89% (secara berurut). Hasil pengamatan secara visual terhadap morfometri dan performa lokomotori, tukik yang ditetaskan pada kedalaman 60 dan 80 cm lebih baik dibandingkan tukik yang ditetaskan pada kedalaman 40 cm baik dari ukuran maupun lokomotori agresifitas ayunan  flipper.   
PENGEMBANGAN DESA MANDIRI MELALUI PENGELOLAAN BADAN USAHA MILIK DESA (BUMDes) Edy Yusuf Agunggunanto; Fitrie Arianti; Edi Wibowo Kushartono; Darwanto Darwanto
Jurnal Dinamika Ekonomi & Bisnis Vol 13, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34001/jdeb.v13i1.395

Abstract

AbstrakPembentukan BUMDes merupakan cara untuk memanfaatkan Undang-Undang yang memberikan kewenangan kepada pemerintah desa untuk melakukan inovasi dalam pembangunan desa, terutama meningkatkan perekonomian desa dan kesejahteraan bagi masyarakat desa. Kenyataannya banyak desa yang gagal menjalankan BUMDes dikarenakan kurang siapnya desa dan potensi yang minim dari desa. Tujuan penelitian ini mengetahui kondisi dan tata kelola BUMDes yang sedang berkembang. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan kondisi BUMDes di Kabupaten Jepara sudah berjalan sesuai dengan tujuan pembentukan BUMDes dan mampu membantu meningkatkan perekonomian desa. Namun masih terdapat kendala dalam pengelolaan BUMDes di beberapa daerah seperti jenis usaha yang dijalankan masih terbatas, keterbatasan sumber daya manusia yang mengelola BUMDes dan partisipasi masyarakat yang rendah karena masih rendahnya pengetahuan mereka. Abstract The establishment of Institutional village enterprises (BUMDes) is a way to utilize the constitution that authorizes the local government for doing innovation in rural development, especially to increase rural economy and Welfare for Rural Communities. In fact, many villages that failed to run BUMDes due to lack of readiness and village potential. This research aims to explain the condition and governance of developing BUMDes. This research used qualitative methods. The result of this research shows that the condition of BUMDes in Jepara has been running in accordance with the purpose of forming BUMDes and able to help increase the rural economy. However, there are still problems in the management of BUMDes in some areas such as the type of business that carried on still limited, limited human resources that manage BUMDes and the participation of rural community are low due the lack of knowledge.
STUDI KARAKTERISTIK BIOFISIK HABITAT PENELURAN PENYU HIJAU (Chelonia mydas) DI PANTAI PALOH, SAMBAS, KALIMANTAN BARAT Bima Anggara Putra; Edi Wibowo Kushartono; Sri Rejeki
Journal of Marine Research Vol 3, No 3 (2014): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.89 KB) | DOI: 10.14710/jmr.v3i3.5988

Abstract

Penyu hjau (Chelonia mydas) merupakan salah satu fauna yang dilindungi karena populasinya yang terancam punah.Reptil laut ini mampu bermigrasi dalam jarak yang jauh di sepanjang kawasan Samudera Hindia, Samudera Pasifik dan Asia Tenggara.Pantai Paloh merupakan pantai peneluran penyu hijau terpanjang yang ada di Indonesia, dengan total panjang pantai 63 km. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik Pantai Paloh sebagai habitat peneluran penyu hijau. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi langsung di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa panjang pantai lokasi penelitian adalah 15,1 km. Lebar total Pantai Paloh rata – rata 30,12 m (berkisar antara 13 – 40,4 m) dan lebar supratidal 15,27 m (berkisar antara 5,1 – 23,1 m). Kemiringan rata – rata 6,81° (berkisar antara 2,98° - 14,26°). Jenis substrat didominasi oleh jenis pasir sebesar 93,38% dan sisanya debu 5,36% dan liat1,26%. Hasil identifikasi vegetasi tingkat semai di lokasi penelitian ditemukan 9 spesies yakni Ipomoea pes-caprae, Acanthus ilicifolius , Derris trifoliate, Clerodendrominerma, Cyperus rotundus, Scaevola taccada, Pandanus tectorius, Calotropis gigantean, Casuarina equisetifolia. Ukuran panjang karapas rata-rata 97,47 cm (n=19) dengan kisaran antara 88 – 113 cm dan lebar karapas rata – rata 86,68 cm (n=19) yang berkisar antara 77 – 100 cm.