Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search
Journal : REKA KARSA

Kajian Tatanan Massa dan Desain Bangunan Hotel Padma Bandung Dwi Kustianingrum; Radita Rahman Perdana; Gesti Septia Suwandi Putri; Wildan Nugraha; Denny Putra Prasetya
REKA KARSA Vol 2, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v2i1.455

Abstract

Abstrak Hotel adalah bangunan komersial dan merupakan investasi yang sangat berkembang di Kota Bandung. Konsep berkelanjutan pada bangunan hotel dapat diterapkan pada desain dan operasional bangunan. Hotel Padma adalah hotel yang memperhatikan lingkungan dan memanfaatkan sumber daya alam ke dalam desain bangunannya. Adapun kajian mengenai Hotel Padma Bandung ini bertujuan untuk menganalisis tatanan massa bangunan, desain bangunan, dan pemanfaatan sumber daya alamnya. Metode yang digunakan adalah deskriptif yang menghasilkan kesimpulan bahwa tatanan massa, desain bangunan, dan pemanfaatan sumber daya alam dapat membantu terciptanya desain bangunan yang berkelanjutan. Hotel Padma Bandung sudah menerapkan sebagian besar aspek ekologi, namun aspek sosial dan ekonomi belum terpenuhi secara maksimal. Kata kunci: desain berkelanjutan, tatanan masa, desain bangunan, sumber daya alam Abstract Hotel is a commercial buildings and is an investment that is growing in Bandung. The concept of sustainable hotel building can be applied to the design of buildings and building operations. Padma Hotel is a hotel that respect the environment and use natural resources into the building design. Study of Padma Hotel aims to analyze the order of the mass of the building, building design, and the utilization of natural resources. The method used is descriptive that concluded that the order of the mass of the building, building design, and utilization of natural resources  impact to create a sustainable building design. Padma Hotel Bandung has already implemented most aspects of the ecology but social and economic aspects have not been entirely fulfilled. Keywords: sustainable design, order of mass, building design, natural resources
Kajian Pola Penataan Massa Dan Tipologi Bentuk Bangunan Kampung Adat Dukuh Di Garut , Jawa Barat Dwi Kustianingrum; Okdytia Sonjaya; Yogi Ginanjar
REKA KARSA Vol 1, No 3
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v1i3.304

Abstract

ABSTRAK Bumi Indonesia merupakan negara kepulauan dengan batas wilayah yang sangat luas dan banyak memiliki kekayaan. Dengan fenomena tersebut negeri ini pun sangat kaya akan suku bangsa,adat istiadat,bahasa,budaya dan sumber daya alam, begitu pula dengan pemukiman tradisional masing-masing daerah.Pemukiman tradisional di Indonesia hingga kini masih mempertahankan dan memegang teguh filosofi serta konsep bentuk tradisional.Sebagai salah satu contohnya wilayah Jawa Barat masih sangat kaya akan kebudayan dan kebiasaan-kebiasaan leluhurnya.Kondisi geologi yang berkontur mempengaruhi pola massa dan bentuk pemukiman tradisional Sunda.Penelitian  mengenai kampung tradisonal Dukuh di garut akan mengunakan metoda studi deskripsi analisis, yaitu memaparkan dan menganalisa filsofi, pola penataan masaa, dan bentuk bangunan tradisional Sunda. Kampung Dukuh yang terletak di Kabupaten Cikelet Garut, merupakan kampung adat tradisional Sunda yang tidak mengalami perubahanbaik dari segi bentuk bangunan maupun bahan bangunan yang dipakai. Kampung ini masih memegang teguh filosofi arsitektur tradisonal sunda seperti Luhur-Handap,Wadah Eusi dan Kaca-Kaca.Kampung Dukuh merupakan kesatuan pemukiman dengan tatanan massa yang mengelompok, terdiri atas puluhan rumah yang berjajar pada kemiringan tanah yang bertingkatterdiri atas 42 rumah dengan bentuk, tatanan massa dan bahan bangunan yang sama dengan jumlah yang tetap.Kampung Dukuh terikat oleh suatu aturan untuk bentuk bangunan dan bahan bangunan yang digunakan. Rumah yang terdapat di Kampung Dukuh berupa rumah panggung yang berbentuk persegi dengan atap suhunan panjang,berdiri pada tatapakan yang didasari oleh batu. Kajian ini akan menelaah konsep arsitektur Sunda, penataan massa, dan tipologi bangunan di kampung tradisional Sunda. Kata kunci : Filosofi Arsitektur Sunda,Pola Penataan Massa,Tipologi Bentuk Bangunan. ABSTRACT Indonesiais an archipelago witha very wideborderswith everythingthe wealthinside.Withthe phenomenonof this countryis veryrich inethnicity, culture, language, culture andnatural resources, as well as thetraditionalsettlementof each region.TraditionalsettlementsinIndonesiais stillmaintainedanduphold thethe philosophyand the concept ofthe traditional forms.As oneexample,West Javaitself isvery rich incultureand customsof their ancestors.Contoured geological conditions affecting the pattern of the mass and shape of traditional Sundanesesettlement.Research on traditional village of Hamlet in arrowroot will use analytical description of the study methods, which describe and analyze filsofi, Masaa arrangement pattern, and Sundanese traditional building forms.Dukuh VillageCikeletGarutdistrict, where thevillageis atraditional Sundanesetraditionalvillagesthathave not changedin terms of bothforms ofthe building andbuilding materials used. In Dukuh Villageconsists of42houseswith the form, structureand materialsof massequal toa fixed amount. Dukuh Villageis boundby aruleforbuilding formsandmaterials used.The house islocatedina stagyDukuh Villagesquareshapedwithlongroof, stoodbased on therock.This study will examine the architectural concept of Sunda, mass structuring, and building typologies in traditional Sundanese village. Keywords: SundaArchitecturePhilosophy, MassOrder, BuildingTypology.
Pola Spasial Permukiman Kampoeng Batik Laweyan, Surakarta Dwi Kustianingrum; Bening Embunpagi; Riska Nur Azizah; Dyah Indraswari
REKA KARSA Vol 3, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v3i1.630

Abstract

Abstrak Permukiman merupakan wujud dari kebudayaan manusia untuk hidup, berkembang, dan bertahan hidup. Manusia menciptakan tempat tinggal sesuai kepentingannya dalam suatu lingkungan. Proses pembentukan permukiman dipengaruhi oleh faktor fisik dan non fisik berupa sistem sosial budaya, ekonomi, pemerintahan, pedidikan maupun teknologi. Kelurahan Laweyan, Surakarta, merupakan salah satu permukiman yang dalam proses pembentukannya dipengaruhi oleh faktor-faktor tersebut. Masyarakat Kampoeng Batik Laweyan RW 02 yang sudah menjadi pedagang batik sejak abad ke-15 sehingga membentuk pola spasial permukiman khusus dan membentuk karakteristik yang menarik untuk diteliti dengan metoda deskriptif kualitatif. Area permukiman terbangun dan tidak terbangun membentuk pola permukiman grid-linear. Area permukiman tidak terbangun berfungsi sebagai sirkulasi dan ruang terbuka. Sirkulasi yang terbentuk berupa jalan sempit dan ruang terbuka yang terbentuk berupa ruang terbuka publik pada simpul permukiman dan ruang terbuka privat berada di dalam kavling rumah tinggal. Terdapat pula elemen pembentuk citra kawasan yaitu simpul dan tetenger. Simpul sebagai perpotongan aktivitas masyarakat dan tengaran berupa tugu batik dan Langgar Al-Makmoer. Kata kunci: permukiman, pola spasial, Kampoeng Batik Laweyan Abstract Settlement is an entity from culture and existence of human to live, grow and survive. Man creates house in an environment as they need. Forming process of the settlement affected by physical and non-physical thing, such as social culture system, economy, government, education, or technology. Laweyan Village, Surakarta, is one of settlement which in its forming process affected by these factors. The society that has became batik workers and seller since 15th century form a special spatial pattern and settlement characteristic make it interesting to be researched with qualitative-descriptive method. The built and unbuilt areas of the settlement formed grid-linear settlement pattern. The un built areas are used for circulation as narrow streets or public squares. Public squares in settlement‟s nodes and private squares inside the dwellings kavling. The city image elements are nodes and landmarks. Settlement node as activity intersection. Batik statue and Al-Makmoer mosque as landmarks. Keyword: Settlement, spatial pattern, Kampoeng Batik Laweyan
Kenyamanan Visual ditinjau dari Orientasi Massa Bangunan dan Pengolahan Fasad Apartemen Gateway, Bandung Dwi Kustianingrum; Yudha Ariep Muhamad; M.Rizqika Rahma; Ardi Nasrul Wijaya; Arifin Dwi Pramana
REKA KARSA Vol 4, No 3
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v4i3.1401

Abstract

Kenyamanan Visual ditinjau dari Orientasi Massa Bangunan dan Pengolahan Fasad Apartemen Gateway, Bandung   DWI KUSTIANINGRUM, YUDHA ARIEP MUHAMAD, MUHAMMAD RIZQIKA RAHMA, ARDI NASRUL WIJAYA, ARIFIN DWI PRAMANA Jurusan Teknik Arsitektur – Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Nasional   E-mail : kustianingrumdwie@yahoo.co.id ABSTRAK Bangunan adalah tempat berlindung bagi manusia, selain itu bangunan juga sebagai tempat beraktifitas manusianya. Untuk itu bangunan harus memiliki faktor yang menimbulkan kenyamanan terhadap manusia. Kenyamanan suatu bangunan dapat dikategorikan dalam kenyamanan termal (suhu, penghawaan), visual (penglihatan) dan akustik (kenyamanan suara). Namun kenyamanan itu sendiri lebih bersifat subjektif karena tingkat kenyamanan setiap individu berbeda, tergantung dengan kondisi fisik dan kondisi tempat tinggal atau lingkungan. Adapun untuk faktor kenyamanan visualnya, dapat dilihat dari orientasi bangunan yang terbentuk akibat gubahan massa dan penerapan desain fasad bangunan. Pada kajian ini akan dibahas mengenai kenyamanan visual di Apartemen Gateway Cicadas dengan meneliti orientasi massa bangunan dan pengolahan fasadnya dengan menggunakan metode deskriptif-analitis. Hasildari kajian terkait orientasi massa Apartemen Gatewayadalah cukup baik karena bangunan memanfaatkan orientasi matahari dan sirkulasi angin,tetapipengolahan fasadnya belum memenuhi kebutuhan standar pencahayaan alami. Kata Kunci : Kenyamanan visual, orientasi bangunan, desain fasad.  ABSTRACTA Building is a shelter place for human, except that a building is place for human activity. Therefore a building has a factor who create for human comfort. A comfortable of building can be categorized in the thermal comfort (temperature, air), visualization and acoustic (sound comfort). But a words of comfortable is subjective because an individual comfort levels is different, depending on the physical conditions and dwelling a conditions or an environment. Therefore, factor of visualization comfort in terms from building orientation  which that establish a mass composition and an application of the building façade design. In this study will be discussing about visual comfort in Cicadas Gateway Apartment by an examine the building mass orientation and its facade processing using a descriptive-analytic method. The result of Gateway Apartement is good enough because the building abuse a sun orientation and wind circulation, but the façade processing is not satisfy standard needed of natural lightning. Keywords : a visualization comfort, building orientation, facade design. 
Penerapan Tema Arsitektur Biomimikri pada Rancangan Museum Arkeologi Kawasan Goa Pawon Bandung Barat Bagaskara, M; Kustianingrum, Dwi
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 10, No 2
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v10i2.7473

Abstract

ABSTRAKMuseum sebagai alat yang ampuh untuk mendukung proses penelitian atau pembelajaran, karena memberikan bukti nyata yang dapat kita saksikan secara langsung untuk memajukan pemahaman kita tentang bentuk-bentuk gambar kuno untuk melengkapi pemahaman kita. Bandung Barat saat ini sedang berada di tahap pengembangan kawasan salah satunya kawasan Goa Pawon yang penuh dengan sejarah arkeolog. Saat ini, sedang dilakukan pengembangan terhadap Cagar Budaya guna meningkatkan kualitas perkembangan Kawasan Goa Pawon dan juga Bandung Barat. Kegiatan ini yang menjadi dasar pemilihan lokasi perancangan Museum Arkeolog. Perancangan Museum di Kawasan Cagar Budaya dapat mempengaruhi aspek perkembangan sarana prasaran dalam informasi, edukasi, dan komunikasi, yang dapat bermanfaat bagi generasi yang akan datang. Pada kawasan ini dilengkapi fasilitas lain sebagai penunjang museum seperti, visitor center, amphitheater, dan guest house. Bangunan mengusung tema Arsitektur Biomimikri yang merupakan sebuah konsep arsitektur yang meniru bentuk, proses, dan sistem yang terinspirasi dari makhluk hidup. Desain bangunan Museum meniru bentuk dari kura-kura dan diterapkan pada bentuk massa, fasad, penataan ruang dalam, skylight pada atap, dan juga pada tatanan ruang luarnya.Kata kunci: Eco Haritage, Goa Pawon, Biomimikri, Edukasi, Arsitektur  ABSTRACTMuseums as a powerful tool to support the research or learning process, because they provide tangible evidence that we can see firsthand to advance our understanding of ancient image forms to complement our understanding. West Bandung is currently in the development stage of the area, one of which is the Pawon Cave area which is full of archeological history. Currently, the development of the Cultural Conservation is being carried out to improve the quality of the development of the Goa Pawon area and also West Bandung. This activity is the basis for choosing the location for the design of the Archaeological Museum. The design of the Museum in the Cultural Conservation Area can affect aspects of the development of infrastructure facilities in information, education, and communication, which can be useful for future generations. This area is equipped with other facilities to support the museum, such as a visitor center, amphitheater, and guest house. The building carries the theme of Biomimicry Architecture which is an architectural concept that imitates forms, processes, and systems inspired by living things. The design of the Museum building imitates the shape of a turtle and is applied to the shape of the mass, the facade, the arrangement of the interior space, the skylights on the roof, and also to the layout of the outer space. Keywords: Eco Haritage, Goa Pawon, Biomimikri, Education, Architecture
Penerapan Konsep Desain Iklusif Dalam Perancangan Rumah Susun Laseta Zulkarnaen, Deden Hanif Iskandar; Kustianingrum, Dwi; Karnita, Rosa
Reka Karsa: Jurnal Arsitektur Vol 13, No 1
Publisher : Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v13i1.13443

Abstract

ABSTRAK Ubanisasi di Kota Bandung semakin meningkat menjadikan kebutuhan hunian turut meningkat, terutama di area kawasan padat penduduk. Rumah susun vertikal menjadi solusi, namun sering kali mengabaikan kebutuhan kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas. Oleh karena itu, penerapan prinsip desain inklusif diperlukan untuk memastikan aksesibilitas dan kenyamanan bagi semua penghuni. Dalam merancang rumah susun Laseta di jalan Seokarno-Hatta Kota Bandung, dirancang dengan konsep desain inklusif. lokasi site terpotong oleh jalan umum jalan Sumber Sari selebar 5 meter. Komplek rumah susun ini di rancang dalam dua massa bangunan utama yang dapat menampung 2.500 orang. Rumah susun ini terdiri dari dua menara yang masing-masing memiliki ketinggian sembilan dan tujuh lantai, dua podium, dan satu basement semi-basement. Di dalamnya terdapat fasilitas apotek, tempat pengasuh anak, minimarket, dan area komersial. Metode perancangan mengutamakan analisis peraturan desain inklusif diantaranya adalah memenuhi kriteria jalur navigasi yang jelas, ramp yang memadai, dan elevator yang mudah diakses untuk meningkatkan kenyamanan pengguna. Dengan menggabungkan podium dengan area komersial dengan fasilitas umum diharapkan ekonomi dan kebutuhan masyarakat diperhatikan. Melalui perancangan rumah susun Laseta diharapkan dapat menjadi tempat tinggal yang inklusif  yang menerima berbagai kebutuhan hidup penghuninya baik yang umum maupun berkebutuhan khusus. Kata kunci: aksesibilitas, desain inklusif, rumah susun, penyandang disabilitas  ABSTRACT Urbanization in the city of Bandung is increasing, leading to a rise in housing demand, especially in densely populated areas.  Vertical apartment buildings become a solution, but often neglect the needs of vulnerable groups, including people with disabilities.  Therefore, the application of inclusive design principles is necessary to ensure accessibility and comfort for all residents.In designing the Laseta apartment complex on Seokarno-Hatta Street in Bandung City, it was conceived with an inclusive design concept.  The site location is cut by the public road Sumber Sari, which is 5 meters wide.  This apartment complex is designed with two main building masses that can accommodate 2,500 people.  This apartment complex consists of two towers, each with a height of nine and seven floors respectively, two podiums, and one semi-basement.  Inside, there are pharmacy facilities, a childcare center, a minimarket, and commercial areas.The design method prioritizes the analysis of inclusive design regulations, including meeting the criteria for clear navigation paths, adequate ramps, and easily accessible elevators to enhance user comfort.  By combining the podium with commercial areas and public facilities, it is hoped that the economy and the needs of the community will be taken into account. Through the design of the Laseta apartment complex, it is hoped to become an inclusive living space that accommodates the various needs of its residents, both general and special needs.. Keywords: apartment buildings, inclusive design, accessibility, people with disabilities