Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENANGANAN PERIOPERATIF ANESTESI PADA RESEKSI FEOKROMOSITOMA Laihad, Mordekhai Leopold
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 3, No 1 (2011): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.3.1.2011.855

Abstract

Abstract: Definitive therapy of pheochromocytoma is a surgical resection. Anesthetic perioperative management toward pheochromocytoma resection plays a very important role in decreasing morbidity and mortality. This management includes preoperative preparations, intraoperative management and postoperative management. The preoperative preparations involving multidiscipline approaches have several objectives: controlling blood pressure, creating an adequate intravascular volume, assessing effects of the disease to end-organs, recognizing conditions pertaining to pheochromocytoma, and controlling blood glucose and electrolyte levels. The intraoperative management is a continuation of the preoperative preparations. Its main objective is to preclude the event of hypertension crisis. The postoperative management is aimed to anticipate important complications which possibly occur in the early postoperative period, such as: hypertension, hypotension, and hypoglycemia. Keywords: pheochromocytoma, anesthesia, management, preoperative, intraoperative, postoperative.   Abstrak: Terapi definitif terhadap feokromositoma adalah reseksi. Penanganan perioperatif anestesi pada reseksi feokromositoma sangat berperan dalam menekan morbiditas dan mortalitas. Penanganan ini meliputi persiapan preoperatif, penangananan intraoperatif dan penanganan pasca bedah. Persiapan preoperatif dilakukan secara multidisiplin dan bertujuan untuk mengendalikan tekanan darah, mencukupi volum intravaskuler, menilai pengaruh penyakit terhadap end-organ, mengenali dampak dari kondisi-kondisi yang terkait dengan feokromositoma, serta normalisasi kadar glukosa dan elektrolit. Penanganan intraoperatif merupakan kesinambungan dari persiapan preoperatif dan bertujuan utama menghindari terjadinya krisis hipertensi. Penanganan pasca bedah bertujuan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya komplikasi penting pada periode pasca bedah dini yakni hipertensi, hipotensi dan hipoglikemi. Kata kunci: feokromositoma, anestesi, penanganan, preoperatif, intraoperatif, pasca bedah.
Profil Length of Stay dan Lama Penggunaan Ventilator Pasien Pneumonia Dengan Diabetes Melitus Tipe 2 di ICU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Bongakaraeng, Tika Yudiyani; Lalenoh, Diana Christine; Laihad, Mordekhai Leopold
Journal of Comprehensive Science Vol. 4 No. 12 (2025): Journal of Comprehensive Science
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jcs.v4i12.3773

Abstract

Latar Belakang dan Tujuan: Pneumonia merupakan infeksi saluran pernapasan bawah dengan dampak mortalitas dan morbiditas yang tinggi. Diabetes melitus tipe 2 menjadi faktor predisposisi penting terhadap infeksi, termasuk pneumonia. Length of Stay (LOS) merupakan indikator efektivitas pelayanan medis, sedangkan ventilator digunakan sebagai alat bantu napas di mana penggunaan berkepanjangan dapat mempengaruhi mortalitas. Penelitian ini bertujuan menggambarkan LOS dan lama penggunaan ventilator pasien pneumonia dengan diabetes melitus tipe 2 di ICU. Metode: Penelitian deskriptif dengan metode observasional secara retrospektif menggunakan data rekam medis. Hasil: Dari total 181 pasien, usia 30-65 tahun (55,8%) dan jenis kelamin perempuan (55,8%) paling dominan. Sebagian besar LOS ?14 hari (80,7%). Semua pasien keluar ICU dengan status meninggal (100%). Pasien lebih sering menggunakan ventilator ?48 jam (87,3%). Distribusi LOS berdasarkan usia didominasi oleh kelompok usia 30-65 tahun (46,4%) dengan LOS ?14 hari. Berdasarkan jenis kelamin, LOS ?14 hari paling banyak pada perempuan (45,3%). Distribusi lama penggunaan ventilator berdasarkan usia menunjukkan kelompok usia 30-65 tahun mendominasi dengan durasi ?48 jam (48,1%), demikian pula jenis kelamin perempuan (48,1%). Distribusi lama penggunaan ventilator berdasarkan LOS menunjukkan LOS ?14 hari dengan durasi ?48 jam (68,0%) dominan. Kesimpulan: Mayoritas pasien berada pada usia 30-65 tahun dan perempuan masing-masing 55,8%. LOS ?14 hari tercatat pada 80,7% pasien dan seluruh pasien keluar ICU dalam keadaan meninggal. Durasi ventilator ?48 jam (87,3%) paling dominan. LOS ?14 hari paling banyak ditemukan pada kelompok usia 30-65 tahun (46,4%) dan perempuan (45,3%). Durasi ventilator ?48 jam paling sering terjadi pada kelompok usia 30-65 tahun (48,1%) dan pada perempuan (48,1%). Penggunaan ventilator tertinggi ditemukan pada pasien dengan LOS ?14 hari dengan durasi ventilator ?48 jam (68,0%).
Profil Pasien Henti Jantung yang Mendapatkan Resusitasi Jantung Paru di ICU Rs R. D. Kandou Periode Januari 2024-Januari 2025 Bialang, Thoriq Pramudya; Posangi, Iddo; Laihad, Mordekhai Leopold
Journal of Comprehensive Science Vol. 4 No. 12 (2025): Journal of Comprehensive Science
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jcs.v4i12.3856

Abstract

Henti jantung merupakan kegawatdaruratan yang sering berujung pada kematian jantung mendadak bila tidak segera ditangani, dengan angka kejadian dan mortalitas yang masih tinggi secara global maupun di Indonesia. Meskipun data internasional sudah banyak melaporkan insidensi serta luaran henti jantung, data epidemiologi yang sistematis dan terbaru mengenai karakteristik pasien henti jantung yang mendapat resusitasi jantung paru (RJP) di ICU, khususnya di Indonesia dan di RS R. D. Kandou, masih terbatas. Untuk mengetahui profil pasien henti jantung yang mendapatkan Resusitasi Jantung Paru (RJP) di ICU RS. R. D. Kandou periode Januari 2024–Januari 2025. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan retrospektif menggunakan data sekunder. Sampel diambil menggunakan metode total sampling Dari 503 pasien henti jantung yang tercatat di ICU, sebanyak 253 pasien memenuhi kriteria inklusi. Median usia pasien adalah 56 tahun, dengan jenis kelamin yang hampir seimbang (laki-laki 50,6% dan perempuan 49,4%). Irama awal tersering adalah asystole (78,2%), dengan luaran ROSC tercapai pada 39,5% pasien, sedangkan 60,5% lainnya tidak mencapai ROSC. Komorbiditas yang paling sering ditemukan adalah hipertensi (26,2%). Sebagian besar pasien henti jantung yang mendapatkan RJP di ICU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou adalah kelompok usia dewasa dengan dominasi laki-laki, komorbid utama hipertensi, irama awal tersering asystole, serta luaran terbanyak non-ROSC. Kelompok non-ROSC cenderung memiliki durasi RJP lebih lama dan membutuhkan total dosis epinefrin lebih tinggi dibandingkan kelompok ROSC.