Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Eksplorasi Keragaman Media Seni Iwan Gunawan
JSRW (Jurnal Senirupa Warna) Vol. 5 No. 1 (2017): Eksplorasi Keragaman Media Seni
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36806/.v5i1.14

Abstract

Di dunia pendidikan tinggi saat ini, “Jurnal”, menjadi suatu kata yang penting, terutama setelah dikeluarkannya peraturan pemerintah tentang keharusan menulis di jurnal bagi para calon sarjana S2 dan S3. Jurnal Seni Rupa Warna (JSRW) menjadi salah satu satu media yang secara tidak langsung menjadi kanal dari berbagai pendekatan penelitian, khususnya Penelitian Visual.
DI ANTARA EKSPRESI, KOMUNIKASI DAN FUNGSI Iwan Gunawan
JSRW (Jurnal Senirupa Warna) Vol. 6 No. 1 (2018): Di antara Ekspresi, Komunikasi, dan Fungsi
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36806/.v6i1.16

Abstract

Istilah Seni Rupa sudah dianggap masyarakat sebagai suatu konsep yang menaungi kegiatan Seni Murni, Desain dan Kriya. Dalam sistem pendidikan, pembagian bidang seni (rupa) berdasarkan istilah tersebut sudah dilembagakan lewat aturan nomenklatur (penamaan) program studi yang berlaku di Indonesia. Tidak ada klasifikasi yang benar-benar sempurna bisa menggambarkan praktek yang sebenarnya. Seperti kriya misalnya, tetap memiliki sistem produksi yang bertindihan dengan sistem kerja desain, mulai dari penggunaan teknologi tinggi, digital serta dekat dengan sistem produksi yang industrial. Di sisi lain wacana kriya juga bisa melahirkan karya dengan semangat ekspresi yang tinggi sebagaimana halnya yang terjadi di seni murni. Aspek komunikasi juga menjadi titik tarik menarik antara bidang desain dan seni murni. Ada kebutuhan di dalam karya seni murni untuk memperlambat proses komunikasi. Demikian juga dalam desain, walaupun aspek kegunaan (menyampaikan pesan) sangat dipentingkan namun akan ada penilaian lebih ketika suatu pesan diolah dengan sistem encoding yang sedikit rumit dan “tidak biasa”.
Tinjauan Buku: John Lent, Asian Comics, Mississippi Iwan Gunawan
JSRW (Jurnal Senirupa Warna) Vol. 5 No. 1 (2017): Eksplorasi Keragaman Media Seni
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36806/.v5i1.42

Abstract

University Press of Mississippi. ISBN 978-1-62846-158-9 (hardback), 978-1-62846-159-6 (ebook) Buku Asian Comic ini merupakan tulisan John Lent, profesor dari Temple University, Philadelphia, Amerika Serikat. Di buku ini, tertulis hasil penelusuran dan penelitian John Lent atas komik-komik di Asia. Selama 30 tahun ia menjelajah dan mewawancarai para kartunis, komikus, dan peneliti di Asia sejak tahun 1980-an. Dua kali ia sempat berkunjung ke Indonesia, yang terakhir pada tahun 2013, bertemu dan melakukan wawancara dengan komikus Jakarta dan Bandung. John mengakui bahwa kerangka buku ini terbentuk dari tulisan-tulisannya tentang komik di Asia yang dimuat di jurnal dan buku-buku lainnya. Pembahasan tidak terbatas pada media gambar yang bersifat sekuensial, namun juga pada gambar yang terdiri atas satu panel seperti yang dikenal sebagai “kartun” atau “karikatur”.
Media, Kebudayaan dan Identitas Iwan Gunawan
JSRW (Jurnal Senirupa Warna) Vol. 5 No. 2 (2017): Media, Kebudayaan dan Identitas
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36806/.v5i2.44

Abstract

Budaya, diperdebatkan, bukanlah (sekedar) sekumpulan hal - novel-novel, lukisan-lukisan, atau program-program TV, atau komik-komik - sekumpulan praktek-praktek yang berproses. Utamanya, kebudayaan berkaitan dengan produksi dan perputaran makna - “give and take” dari makna - antara anggota masyarakat atau kelompok... Jadi kebudayaan sangat bergantung pada para partisipan dalam menginterpretasikan makna dari apa yang ada di sekitarnya, dan membuat dunia menjadi ‘masuk akal’ dalam cara yang sama. (Stuart Hall, dalam Representation: Cultural Representations and Signifying Practices, 1997:2) Media, apapun teknologinya, menjadi bagian penting dari pergerakan kebudayaan. Yang dimaksud dengan “Media” di sini bukan hanya berarti media massa. Media adalah segala wahana yang digunakan orang untuk menyampaikan ekspresi dan gagasannya. Media dan Kebudayaan akan saling berhubungan. Dengan olahan media, suatu proses penyebaran kebudayaan bisa lebih cepat diterima dan kemudian bisa saling mengubah perilaku masing-masing dan juga kelompok masyarakat yang lain. Kebudayaan bisa bergeser karena merupakan sesuatu yang dipelajari. Kebudayaan juga memiliki sifat dinamis tergantung pada situasi. Disadari atau tidak, pergeseran kebudayaan yang berpengaruh pada masyarakatnya ini akan turut mempengaruhi identitas budaya. Apa yang diciptakan dan yang dikonsumsi masyarakat menjadi aspek yang membangun identitas masyarakat itu.
SENI DAN TRANSFORMASI Iwan Gunawan
JSRW (Jurnal Senirupa Warna) Vol. 6 No. 2 (2018): Seni dan Transformasi
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36806/.v6i2.65

Abstract

Transformasi atau perubahan yang menyeluruh, mutlak terjadi pada apapun; manusia, budaya, termasuk seni, dan kesenian. Manusia dan kesenian biasa mengubah sesuatu benda menjadi lebih bermakna, sejak zaman prasejarah, manusia gua mengolah dinding kosong menjadi memiliki narasi, meninggalkan sesuatu buat kita memahami mereka. Sebaliknya, tanpa keberadaan aspek transformasi, tidak ada pembaruan atau tidak ada pemaknaan baru apakah bisa disebut seni yang baik? Seni dan proses berkesenian akan terus mengubah material menjadi objek baru atau gambar baru yang pada gilirannya dapat menghasilkan transformasi pada masyarakat, baik pengetahuan pemahaman atau kesadaran. Transformasi juga selalu terjadi dalam semua proses kreatif, tehnik membuat karya, wacana dan regulasi dunia kesenian serta dunia pendidikan yang jelas melakukan program untuk mengubah siswa kearah yang lebih baik. Bahkan dalam lingkungan komersial, perubahan kearah yang lebih baik tetap dilakukan. Seni pada akhirnya tidak bisa dilepaskan dari fungsi sosial dan budaya serta menjadi mekanisme untuk bertransformasi.
Perupa: Syahrinur Prinka Iwan Gunawan
JSRW (Jurnal Senirupa Warna) Vol. 4 No. 2 (2015): Membaca Modernitas
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36806/.v4i2.70

Abstract

Syahrinur Prinka merupakan salah seorang pengajar Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa IKJ. Lulusan Seni Grafis Fakultas Seni Rupa ITB ini pernah bekerja untuk majalah TEMPO dan kemudian mengembangkan program studi Desain Grafis di LPKJ-IKJ
Kriya Indonesia, Menyikapi Industri Budaya Iwan Gunawan
JSRW (Jurnal Senirupa Warna) Vol. 7 No. 1 (2019): Kriya Indonesia, Menyikapi Industri Budaya
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36806/.v7i1.102

Abstract

Bagi sebagian masyarakat Indonesia, kata "kriya" masih belum sepenuhnya menghadirkan pemahaman yang sesuai. Kriya atau kerajinan dalam bahasa Inggris disebut "craft". Kata "kriya" atau "craft" merujuk pada pemahaman seputar seni "kerajinan" atau suatu kegiatan yang terkait penggunaan tangan dalam pembuatannya. Secara resmi, lembaga pemerintah menamai lembaga yang menaungi kegiatan terkait kriya dengan "Kerajinan Indonesia"; yang diatur dalam Keputusan Bersama Menteri Perindustrian dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 85/M/SK/3/1980 dan Nomor 072b/P/1980 tanggal 3 Maret 1980 tentang Pembentukan Dewan Kerajinan Nasional (Dekaranas). Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekaranasda) kemudian dibentuk atas dasar Surat Keputusan Bersama tersebut. Pengertian "Kerajinan" memiliki implikasi makna.
Gentrifikasi dan Kota: Kasus Kawasan Cikini-Kalipasir-Gondangdia Sonya Indiati Sondakh; Iwan Gunawan
JSRW (Jurnal Senirupa Warna) Vol. 7 No. 2 (2019): Makna Ruang untuk Masyaarakat Urban
Publisher : Fakultas Seni Rupa - Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36806/.v7i2.114

Abstract

Abstrak: Jakarta sudah melewati ratusan tahun perkembangan dalam segala aspek. Wilayah-wilayah elite di Jakarta seperti Menteng dan Kebayoran sudah berubah, apalagi wilayah yang baru berkembang belakangan. Jakarta telah berkembang hampir tak terkendali menjadi kota besar dengan segala permasalahannya. Wilayah Menteng, Jakarta Pusat adalah wilayah yang dibangun oleh kolonial Belanda pada awal abad ke-20. Wilayah ini sejak awal sudah dimaksudkan sebagai wilayah elite. Wilayah elite ini memelihara sejumlah situs bersejarah dan pemukiman yang tertata baik. Bagi generasi-generasi yang hidup dan bersekolah di Menteng pada 1960an dan 1970an wilayah ini merupakan menjadi semacam ruang nostalgia bagi memori kolektif generasi yang masa kecilnya hidup di Menteng, khususnya di wilayah Cikini-Kalipasir-Gondangdia. Ketiga tempat ini saling berdekatan tetapi memiliki ciri khas masing-masing. Pengamatan atas tiga wilayah di Menteng ini akan didekati dengan konsep gentrifikasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Abstract: Jakarta has seen hundreds of years of development in all aspects. The districts in Jakarta such as Menteng and Kebayoran have experienced changes since their establishment, not to mention the areas that were developed afterward. The development of Jakarta is so fast making it uncontrollable with all its problems. Menteng, in Central Jakarta, is an area planned and developed by the Dutch colonial in early twentieth century. From the very beginning this area was meant to become an elite area. In its development this area clearly secures its historical sites and its houses are well maintained. For the generations who have lived and went to school in Menteng in the 1960s and 1970s this area is part of the collective memory they shared with many people, especially those lived in Cikini-Kalipasir-Gondangdia. These three areas are adjacent to each other but, interestingly, they develop quite differently. The observation of these three areas will be approached using the gentrification concept in urban area. This research uses descriptive qualitative method with ethnographic approach.
Gerakan “Tjergam Medan” dalam Wacana “ Kepribadian Nasional” Iwan Gunawan
Jurnal Seni Nasional Cikini Vol 7 No 2 (2021): Jurnal Seni Nasional Cikini Vol. 7 No. 2
Publisher : Riset, inovasi dan PKM - Institut Kesenian Jakarta, DKI Jakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsnc.v7i2.138

Abstract

Komik Indonesia di tahun 1950-an disebut dengan istilah “Tjergam” (Cergam). Pada masa itu, industri cergam menjanjikan suatu keuntungan yang besar. Secara umum, baik penerbitan cergam, baik di Medan maupun Jawa Barat, bersiasat memanfaatkan genre yang populer di dunia. Tekanan pemerintah, visi Presiden Soekarno tentang nasionalisme dalam kebudayaan Indonesia membuat penerbit mencari lokalitas. Mengadaptasi cergam-cergam bergenre “universal” dengan mengganti tokoh-tokoh dan latar dengan karakter dan nuansa Indonesia, dirasa belum cukup. Penerbitan Medan kemudian menerbitkan cergam-cergam, yang bukan hanya mengadaptasi cerita rakyat, namun cerita-cerita baru roman, petualangan, dan aksi yang dibungkus dengan latar serta tokoh yang mengesankan suatu cerita rakyat. Mereka secara naluriah mengikuti kecenderungan genre universal, yang akan memudahkan menjadi populer. Sementara itu, pemerintah menciptakan suatu arah kebijakan yang justru membuat para kreator Cergam Medan menjadi lebih kreatif, menjiwai semangat nasionalisme yang saat itu meliputi Indonesia, dengan mendeklarasikan istilah “Tjergam” (Cergam) sebagai istilah untuk identitas Komik Indonesia, dan menjadikannya sebagai titik bertahan dari budaya asing.